Takdir Yang Belum Berakhir S.2

Takdir Yang Belum Berakhir S.2
First Kiss


__ADS_3

Lin Zi terlihat tengah siap pergi dengan mengenakan sweater turtle neck warna putih dan bawahan celana pendek sepaha warna cream bersepatu wedges senada ditambah sebuah sling bag warna kuning muda.


"Kau mau kemana?" tanya Li Tian dengan ketus.


"Bukan urusanmu!" sahut Lin Zi sibuk berkaca dan membenahi rambutnya yang dibiarkan terurai.


"Aku membayarmu 1 juta yuan bukan untuk pergi berkencan"


Mendengar kata kata itu, Lin Zi langsung menatap Li Tian dengan tajam.


"Jam kerjaku hanya sampai 22.30 kan, sekarang pukul 23.00 jadi aku boleh pergi"


"Tidak boleh" sahut Li Tian.


"Tidak boleh? Apakah ini kerja paksa?" balas Lin Zi tak terima.


"Benar! Kau menyetujuinya kan? 1 juta yuan dalam 2 bulan"


"Apa?! Kau..."


Lin Zi belum sempat melanjutkan perkataannya namun Li Tian menutup pintu kamar dengan cepat dan menguncinya dari luar. Lin Zi berusaha membuka pintunya dari dalam tapi usahanya sia sia.


Brak brak brak


Lin Zi menggebraki pintunya dengan keras.


"Li Tian! Buka pintunya! Hei Jie Li Tian!!!"


Li Tian tidak menjawabnya dan malah meninggalkan Lin Zi yang terkunci dikamarnya. Cemburu, mungkin itu perkataan yang tepat untuk menggambarkan perasaan Li Tian. Namun karena gengsi dan ego tingginya, ia bahkan tidak menyadari hal itu.


Ding dong ding dong


Li Tian berjalan dan terlihat menekan sebuah tombol dari alat yang tertempel di dinding tak jauh dari pintu. Sebuah wajah muncul di layar yang besarnya 3x5 inch. Wajah yang sangat dikenalnya sekaligus wajah yang tak ingin dilihatnya. Dengan malas Li Tian membuka pintu.


"Lin Zi tidak bisa pergi" ucap Li Tian dari celah pintu yang terbuka selebar 30°


"Tidak mungkin, aku baru menelfonnya dan dia bilang siap pergi"


"Tiba tiba dia sakit dan sekarang sedang istirahat dikamarnya"


Li Tian kembali menutup pintu namun Yuan menahannya, keduanya sempat beradu kekuatan untuk sesaat.

__ADS_1


"Tunggu dulu, kalau begitu aku hanya akan menjenguknya" ucap Yuan yang masih berusaha menahan pintu agar tidak tertutup.


"Dia sudah tidur! Jangan mengganggunya!" ucap Li Tian yang juga masih mengerahkan seluruh tenaganya.


Klekk


Pintu itu berhasil ditutup rapat. Yuan menekan bel beberapa kali namun tak ada jawaban.


"Sstttt Yuan! Jing Yuan!"


Yuan mencari asal suara setengah berbisik itu. Kemudian dilihatnya seorang wanita muncul dari samping kanan rumah.


"Lin Zi! Bukankah kau sakit? Tadi kata Li Tian kau...."


"Ssstttttt!"


Lin Zi memberi isyarat agar Yuan tidak berbicara dengan kencang. Gadis itu segera menarik tangan Yuan untuk menjauh. Mereka berdua pun masuk kedalam mobil Hongqi milik Yuan, dan kini mobil itu mulai melaju.


Sementara itu Li Tian yang merasa usahanya untuk melarang Lin Zi berkencan dengan Yuan telah berhasil, membuka kembali pintu kamar Lin Zi. Namun ia hanya mendapati jendela kamar yang terbuka lebar dan jelas Lin Zi tak ada disana membuat pria itu mendengus kesal, ya iya lah kan Lin Zi sama Yuan-.


"Lin Zi, apakah terjadi sesuatu antara kau dan Li Tian?" tanya Yuan membuka percakapan.


"Jangan membicarakan orang aneh itu! Dia melarangku pergi dan mengunciku dikamar"


"Menyukaiku? Dia hanya tidak mau uangnya terbuang sia sia! Dasar manusia pelit!"


***


Lin Zi sengaja tidak menyalakan lampu dan berjalan dengan mengendap endap agar Li Tian tidak menyadarinya. Dengan perlahan gadis itu membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampu. Namun gadis itu sangat terkejut melihat seseorang menempati tempat tidurnya. Perlahan Lin Zi mendekati seorang pria yang matanya masih terpejam itu.


Orang aneh ini kenapa tidur disini? Tapi kalau diperhatikan, wajahnya sangat tampan dan polos. Meskipun wajahnya dengan Jing Xuan sama, tapi aku tidak pernah melihat Jing Xuan seperti ini.


"Apakah kau sudah puas mengamati ketampananku?" ucap Li Tian tanpa membuka matanya.


"Ka..kau belum tidur?" tanya Lin Zi terbata merasa gugup karena Li Tian telah menangkap basah dirinya.


"Dari mana saja jam segini baru pulang?" todong Li Tian sembari membangunkan tubuhnya untuk duduk.


"Nonton film!" sahut Lin Zi seraya menguncir kuda rambutnya.


"Hanya nonton film? Sampai jam 3 lebih?" tanya Li Tian tak henti mengintrogasi.

__ADS_1


"Aku juga tidak tau kalau durasinya sepanjang itu. Lagipula kenapa kau cerewet sekali!"


"Cerewet kau bilang?"


"Kau tidak mau keluar? Aku mau ganti baju" usir Lin Zi.


Li Tian pun berdiri dan mendekati Lin Zi yang kini tengah berdiri didepan lemari. Lin Zi yang menyadari langkah Li Tian pun membalikkan badannya mencari tau apa yang akan dilakukan Li Tian. Namun terkejutnya ia mendapati posisi Li Tian yang sangat dekat dengannya hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Rona merah di pipi Lin Zi tak dapat ditutupi ketika Li Tian semakin mendekatinya hingga punggung Lin Zi menyentuh lemari. Li Tian semakin mendekatkan wajahnya dan mulai memejamkan matanya ketika bibirnya hampir mencapai ujung bibir peach Lin Zi. Lin Zi merasa sangat gugup hingga kesulitan mengatur nafasnya. Gimana enggak, pria setampan Li Tian akan menciumnya, apalagi itu ciuman pertamanya. Yaahhh pertama, itulah yang dipikirkannya. Kejadian di kerajaan Jing hanya dianggapnya sebagai mimpi, lagipula dikehidupannya sekarang ia juga belum pernah berpacaran. Toh Jing Xuan ataupun Li Tian memiliki wajah yang sama.


Lin Zi memalingkan wajahnya. Bagaimanapun juga masih ada banyak keraguan dihatinya. Untuk sesaat, ingatan menyedihkannya selama di kerajaan Jing membuatnya tak bisa berkata kata. Bayangan Jing Xuan masih tergambar jelas di benaknya dan untuk sesaat ia memandang Li Tian sebagai Jing Xuan. Ia merasa bukan hal benar jika ia melampiaskan kerinduannya pada Li Tian sementara dihatinya masih tersimpan sosok Jing Xuan. Yahh meskipun itu hanya seperti mimpi tapi perasaannya terasa nyata.


Li Tian kembali membuka matanya ketika ia menyadari Lin Zi menghindari ciumannya. Li Tian menghela nafas panjang dan menegakkan kembali posisi tubuhnya.


"Aku mau tidur, pergilah" ucap Lin Zi dengan suara parau.


Li Tian memandangnya sesaat kemudian melangkahkan kakinya. Namun setelah beberapa langkah, Li Tian kembali menghampiri Lin Zi dengan langkah cepat. Tangan kirinya meraih pinggang Lin Zi dan tangan kanannya mengunci gerahang Lin Zi agar gadis itu tidak bisa memalingkan wajahnya lagi. Dengan cepat bibirnya melahap bibir peach Lin Zi membuat gadis itu membuka lebar kedua matanya. Lin Zi sangat terkejut dengan tindakan tiba tiba itu. Ia menutup rapat bibirnya agar Li Tian tidak melakukan lebih. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Li Tian menjauh darinya, namun tubuh Lin Zi sudah dikunci dengan posisi itu. Li Tian tetap sibuk melancarkan aksinya. Ia berusaha membuka bibir Lin Zi dengan gerakan lincah bibirnya. Air ludahnya sudah memenuhi sekeliling bibir Lin Zi. Sementara Lin Zi masih berusaha menjauhkan tubuh Li Tian, lebih dan lebih kuat lagi hingga ciuman Li Tian terlepas.


Plaakkkkk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Li Tian meninggalkan bekas memerah disana. Tindakannya membuat nafasnya jadi terengah. Kedua matanya terlihat memerah dan berkaca kaca.


"Apa yang kau lakukan!" ucap Lin Zi berusaha mengontrol amarahnya.


"Maaf" gumam Li Tian menyadari perbuatannya.


"Maaf?" balas Lin Zi meminta penjelasan.


Maksudmu ciuman itu hanya sebuah kesalahan bagimu?


"Semua itu terjadi tiba tiba, aku tidak bermaksud untuk...."


"Keluar!!!" potong Lin Zi.


"Lin Zi, aku..."


"Kubilang KELUAR!!!" potong Lin Zi dengan suara meninggi.


"Maaf" gumam Li Tian sebelum beranjak.


Lagi lagi Li Tian tak tau bagaimana harus menjelaskannya. Ia bahkan tak tau kenapa ia melakukannya. Karena marah, cemburu, atau hanya karena hormon.


Lin Zi menutup pintunya dengan kencang. Tangan kirinya yang masih memegangi gagang pintu perlahan mulai melemas. Gadis itu kini menyandarkan punggungnya pada pintu. -Maaf- kata kata itu kembali terngiang membuat gadis itu mengusap bibirnya dengan kasar. Perlahan air matanya mulai menetes, lagi dan lagi. Suara sesenggukannya mulai terdengar oleh Li Tian yang masih berdiri didepan pintu kamar Lin Zi.

__ADS_1


●●●~~●●●


Tbc-


__ADS_2