
Wiuwiuwiuwiuwiuw
Sirine yang Lin Zi letakkan diatas meja berbunyi menimbulkan sinar warna merah dan biru berputar mewarnai kamar yang gelap itu. Lin Zi membuka kedua matanya dan bergegas menuju kamar Li Tian.
"Ambilkan aku minum" ucap Li Tian mendapati Lin Zi yang telah memasuki kamarnya.
"Bukankah disampingmu ada air" balas Lin Zi menunjukkan segelas air di meja yang ada disamping ranjang Li Tian.
Li Tian melihat ke meja yang dipandang Lin Zi. Ada segelas air putih disana. Ia kembali memutar otaknya.
"Jeruk! Aku mau jus jeruk, bukan air putih" ucap Li Tian meralat permintaannya.
"Ada kulkas disana" sahut Lin Zi sambil memandang kearah kulkas berukuran 50x60 cm yang ada disamping meja.
Li Tian memandang kulkas itu dan kembali memutar otaknya.
"Aku tidak mau yang dingin" ralat Li Tian untuk kesekian kalinya.
Lin Zi hanya berdecak kesal dan tak lagi membalas perkataan Li Tian. Ia kembali menuruni tangga dan mengambilkan segelas jus jeruk di dapur. Setelah itu ia kembali menaiki tangga dan memberikan jus itu pada pria yang kini duduk di meja belajarnya. Li Tian meraih gelas yang diletakkan Lin Zi dimejanya dan meminumnya. Ekspresinya tiba tiba berubah ketika air berwarna kuning pekat itu memasuki rongga mulutnya.
"Masam sekali" komen Li Tian dengan mengernyit.
"Namanya juga jus jeruk" balas Lin Zi yang masih berdiri disamping Li Tian.
"Aku mau susu saja! Buang ini!" ucap Li Tian meletakkan kembali gelas itu dimeja.
Lin Zi menghembuskan nafas kesal. Ia berusaha menahan amarahnya.
Tak lama kemudian Lin Zi kembali memasuki kamar itu dengan membawakan segelas susu.
"Nikmatilah susumu tuan muda" ucap Lin Zi bernada sarkasme.
Li Tian meraih gelas yang diulurkan Lin Zi dihadapannya dan meminum susu itu.
"Lumayan" gumam Li Tian yang kemudian meminum susu itu sampai habis.
"Apakah ada yang kau butuhkan lagi?" tanya Lin Zi yang kini sukses mengontrol amarahnya.
"Tidak, tidak ada. Kembalilah ke kamarmu"
Lin Zi pun beranjak dan kembali ke kamarnya. Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya dikasur empuknya.
Wiuwiuwiuwiuwiuw
Bunyi sirine itu kembali mengejutkan Lin Zi yang mulai memejamkan matanya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan menaiki tangga dengan menghentakkan kakinya.
"Bukankah tadi kau bilang sudah tidak ada yang dibutuhkan?" ucap Lin Zi dengan senyum paksa menutupi wajahnya yang memerah karena amarah.
"Ambilkan aku remot tv" perintah pria yang kini duduk bersandar di ranjangnya dengan membalik balik halaman majalah.
Lin Zi melihat kearah tv lcd besar yang letaknya tak jauh dari pintu. Bahkan jarak tv dengan ranjang Li Tian hanya 3 meter.
"Remot tv itu ada disana, apakah kau tidak bisa mengambilnya sendiri?!" ucap Lin Zi sambil menunjuk remot yang ada di meja panjang dibawah tv yang menempel di dinding.
"Aku membayarmu dengan sangat mahal" ucap Li Tian yang masih melihat majalahnya.
__ADS_1
"Ini bahkan diluar jam kerjaku!" sahut gadis berpakaian piyama itu.
"Kalau begitu kau bisa bekerja padaku selama sisa umurmu, bagaimana?" balas Li Tian tak mau kalah.
Lin Zi kembali menghembuskan nafas kesal. Tangan kanannya meraih remot. Gadis itu berjalan dengan malas menuju ranjang Li Tian yang berukuran 2x2,5 meter.
"Ini remotmu tuan muda" ucap Lin Zi mengulurkan remot dengan senyum yang masih ia paksakan.
Li Tian meletakkan majalah yang sejak tadi hanya dibolak baliknya dan meraih remot tv. Telunjuknya menekan tombol merah yang ada diujung remot dan tv itu menyala.
"Apakah aku sudah bisa kembali ke kamarku tuan muda?" Lin Zi tak henti memaksakan senyumnya.
Li Tian tidak menjawabnya dan hanya memberi isyarat dengan tangannya yang artinya Lin Zi boleh pergi. Lin Zi pun kembali menuruni tangga menuju kamarnya. Ia duduk dengan lemas di ranjangnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam dan ia masih belum tidur. Padahal besok ia harus bangun pagi pagi sekali untuk menyiapkan keperluan Li Tian.
Wiuwiuwiuwiuwiuw
Sirine itu kembali berbunyi membuat Lin Zi tak bisa berkata kata lagi. Sekarang ia tau kenapa ia dibayar mahal untuk ini. Gadis itu melangkah dengan lemas menaiki tangga. Yaahh mungkin sudah tak terhitung berapa kali ia melewati tangga itu naik dan turun. Permintaan Li Tian selalu aneh aneh dan terlihat dengan jelas bahwa pria itu hanya mempermainkan Lin Zi. Gadis yang malang..
"Kenapa lama sekali datangnya?" sindir Li Tian pada gadis yang baru memasuki kamarnya.
"Apa lagi yang kau inginkan?" ucap Lin Zi dengan lemas.
"Ambilkan piyamaku" perintah pria yang masih memakai hoddie warna putih dengan celana jeans hitam.
Lin Zi kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat baju baju Li Tian disimpan. Matanya yang terlihat sayu itu kini terbuka lebar melihat sebuah ruangan yang baru dimasukinya.
Uuwaaahhhh apakah ini yang dinamakan berkelas? Bajunya banyak sekali!
Lin Zi semakin memasuki ruangan itu. Ada 2 buah lemari besar dengan baju baju yang digantung disana, 1 lemari besar khusus tas pria bermerk, kemudian ada sebuah lemari besar khusus sepatu sepatu dengan model yang berbeda beda. Lalu sebuah meja kaca dengan berbagai model jam tangan bermerk didalam lacinya yang terlihat jelas. Dilaci kedua pada meja itu terdapat banyak dasi yang ditata rapi. Di dinding disamping lemari sepatu ada sebuah papan besar tempat topi topi digantungkan. Ditambah 1 buah meja rias dengan peralatan dan perlengkapan yang sangat lengkap.
Gadis itu melihat sebuah pintu yang ada disamping lemari baju. Ia membukanya dan kedua matanya kembali berkilauan.
Sebuah kamar mandi yang luas dengan perabotan lengkap nan mahal.
"Kamar orang ini bahkan jauh lebih besar dari rumah sewaku" gumam Lin Zi tak henti terkagum kagum.
"Lin Zi! Mana piyamaku?" ucap Li Tian dengan keras membuyarkan lamunan Lin Zi.
Gadis itu bergegas menyaut sebuah piyama berwarna hitam dan melemparkannya pada Li Tian yang masih duduk bersandar di ranjangnya sambil menonton tv. Li Tian hanya memandangi setiap gerak gadis itu. Lin Zi tidak mengatakan apa apa dan kembali ke kamarnya. Matanya semakin sayu dan mulai terpejam di ranjang empuknya.
Wiuwiuwiuwiuwiuw
Sirine itu kembali berbunyi membuatnya tak bisa tidur.
"Benda ini sangat kecil tapi kenapa suaranya kencang sekali??!!!" ucap Lin Zi meluapkan amarahnya sambil merengek.
Gadis itu meraih sirine dimejanya dan meletakkannya dibawah bantal kemudian ditindihnya dengan kedua tangannya.
"Aku bisa gila!!"
***
Malam telah berlalu. Lin Zi keluar dari kamarnya dengan mata yang masih sulit dibuka. Langkahnya terlihat sempoyongan sambil mengucek matanya menghilangkan sisa kotoran di matanya. Sekarang masih pukul 4.30 pagi tapi sudah banyak pelayan berlalu lalang melakukan tugas masing masing. Lin Zi kemudian duduk. Semakin lama kepalanya terasa semakin berat dan ia meletakkan kepalanya di meja makan. Matanya mulai terpejam sampai akhirnya kembali terlelap.
Suara sirine yang terus berbunyi di kamar Lin Zi tak lagi mampu membangunkan gadis itu.
__ADS_1
Prakkkk
Li Tian menjatuhkan tas nya di meja makan. Suara resleting yang menghantam meja marmer itu terdengar cukup keras hingga membangunkan Lin Zi.
"Bangun!" ucap Li Tian pada gadis yang masih berusaha membuka matanya itu.
Lin Zi melihat Li Tian yang telah siap dengan seragamnya. Sepertinya ia tertidur cukup lama.
"Jam berapa sekarang?" tanya Lin Zi dengan nada yang terdengar malas.
"5.50" jawab Li Tian dengan singkat.
Mendengar jawaban itu, mata Lin Zi langsung terbuka lebar. Sementara Li Tian berjalan menuju ujung meja. Kursinya memang ada diujung. Ia selalu makan sendirian disana. Sendirian... yaahhh dia seorang anak tunggal sementara ayah dan ibunya selalu sibuk mengurus bisnis dan lebih sering berada diluar negeri. Saat ini ayahnya juga masih sakit dan dirawat disebuah rumah sakit besar di Australia.
Lin Zi bergegas untuk bersiap, waktunya sudah sangat mepet.
20 menit kemudian Lin Zi telah siap dengan seragamnya dan berlari keluar. Ia melihat Li Tian yang tengah berjalan menuju mobilnya. Dengan segera gadis itu menyamakan langkahnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Li Tian yang kini tangan kanannya tengah memegang pegangan pintu mobil.
"Aku pakai seragam, tentu saja pergi sekolah" sahut Lin Zi.
"Berangkat sekolah? Denganku? Jangan bercanda!"
"Jadi?"
Li Tian mengarahkan matanya ke belakang mobil. Lin Zi mengikuti arah pandangan Li Tian dan mendapati sebuah sepeda mini warna pink miliknya. Li Tian memasuki mobilnya dan segera mengendarainya dengan kencang.
"Li Tian!! Dasar pelitt!" ucap Lin Zi dengan keras meskipun suaranya tetap tak akan terdengar.
"Lin Zi.." panggil seorang wanita paruh baya menghampiri Lin Zi.
"Bibi Tang..." sapa Lin Zi.
"Jangan terlalu dekat dengan tuan muda. Jika nyonya besar kembali, dia pasti tidak akan suka. Selama ini teman teman tuan muda sudah dipilih oleh ibunya. Semua jalannya sudah disiapkan sejak ia terlahir" ucap bibi Tang memberitahu cerita Li Tian.
"Aku mengerti bibi, terima kasih" jawab Lin Zi dengan ramah. "Kalau begitu aku pergi sekolah dulu, sampai jumpa lagi bibi"
Gadis itu menaiki sepedanya dan mulai mengayuhnya. Waktunya sudah mepet, ia mencari jalan pincas agar bisa segera sampai. Alhasil usahanya tidak sia sia. Ia berhasil memasuki kelasnya sebelum pelajaran dimulai. Namun ada yang tampak aneh disana. Hampir seluruh siswa memegangi ponsel mereka sambil menatap sinis kearah Lin Zi.
"Ming Yue!" panggil Lin Zi pada gadis yang duduk didepan bangkunya.
Ming Yue tak memberi balasan. Mungkin ia tidak mendengar. Lin Zi pun mengulurkan tangannya dan menepuk bahu kanan Ming Yue.
"Ming Yue!" panggil Lin Zi lagi.
Namun Ming Yue malah menepis tangannya dan meminta teman didepannya agar mau bertukar bangku dengannya. Gadis didepannya setuju dan keduanya merapikan peralatan kemudian bertukar tempat duduk. Lin Zi tak terpikirkan apapun. Ia juga tak tau kenapa sahabatnya tiba tiba mengabaikannya. Ia yakin tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa?
Lin Zi mencoba untuk tidak memikirkannya dahulu. Tangannya merogoh laci meja untuk mencari buku yang selalu ia tinggal disana. Namun yang ia dapatkan bukanlah sebuah buku. Melainkan sobek sobekan kertas berisi tulisan tulisan ancaman dan cemoohan. Ia kembali memandangi teman teman disekelilingnya. Seluruh temannya saling berbisik menggunjingkan Lin Zi sambil terus menatap sinis padanya. Ia pun mengambil ponsel dari sakunya dan membuka akun weibo nya. Kedua matanya terbelalak melihat sesuatu yang di post oleh sebuah akun fake disana.
●●●~~●●●
Jangan lupa tekan 👍 nya yaaa, yang udah tekan 👍 author doain puasanya lancar terus dan barokah, amin..
Terimakasih dukungannya🤗
__ADS_1