
Tangan kanan Lin Zi perlahan memegang gagang pintu itu. Ia menghela nafas panjang mempersiapkan dirinya. Jantungnya berdetak dengan kencang, ia memejamkan matanya. Saat itu tangan seorang pria menariknya menjauh dari kamar itu. Lin Zi berusaha untuk meronta namun genggaman tangan itu terlalu kuat.
"Lepaskan aku! Apa yang sedang kau lakukan!" ronta Lin Zi yang mulai marah.
Pria itu melepaskan tangan Lin Zi dengan agak kasar. Li Tian terlihat marah karena sikap Lin Zi. Namun yang membingungkannya adalah, kenapa? Padahal ia dan Lin Zi baru bertemu beberapa hari lalu.
Benar, apa yang sedang kulakukan? (suara hati Li Tian)
"Hei! Apa kau mendengarku?" ulang Lin Zi.
"Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau sudah gila?" ucap Li Tian meninggikan suara.
"Bukan urusanmu!"
Lin Zi mulai beranjak dan Li Tian kembali menarik tangannya. Lin Zi masih meronta agar Li Tian melepaskan tangannya.
"Aku butuh uang!!!" ucap Lin Zi meninggikan suara.
Nafasnya mulai tak teratur. Matanya memerah dan agak berkaca kaca.
"Uang? Kau hanya murid SMA!"
"Benar! Karena aku hanya murid SMA, sangat sulit bagiku untuk mendapatkannya. Karena itu aku terpaksa melakukan ini" ucap Lin Zi yang kemudian mengalihkan pandangan.
"Uang? Kau butuh uang kan? Berapa? Aku akan memberimu berapapun yang kau minta" ucap Li Tian menantang.
"Apa katamu?"
"Kenapa? Bukankah lebih mudah melakukannya dengan orang yang kau kenal?! Kau tau aku sangat kaya raya, berapapun yang kau minta, aku bisa memberikannya!"
"Dasar gila!" gumam Lin Zi.
Lin Zi kembali beranjak, namun Li Tian tak menyerah. Ia menarik tangan Lin Zi dengan kuat. Membawa gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar kosong bernomor 31. Li Tian membanting pintu dengan keras. Ia melemparkan tubuh Lin Zi keatas ranjang dan menimpanya dengan tubuhnya. Kedua tangan Li Tian mengunci tangan Lin Zi disisi kanan dan kiri.
"Apa yang akan kau lakukan!" ucap Lin Zi tidak terima.
"Bukannya kau bilang butuh uang? Apa bedanya melakukannya dengan pria lain atau denganku? Bukankah sama sama menghasilkan uang?"
Li Tian kini mengunci kedua tangan Lin Zi diatas kepala dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya tengah membuka kancing kemeja berwarna hitam yang tengah dipakainya. Tiga buah kancing telah terbuka. Lin Zi berusaha meronta, namun tenaga Li Tian jauh lebih kuat darinya. Matanya mulai berkaca kaca. Li Tian berusaha mencium bibir Lin Zi namun Lin Zi terus memalingkan wajahnya menghindari ciuman Li Tian. Li Tian terus memaksa Lin Zi, dengan mencium leher Lin Zi yang meninggalkan bekas merah di leher itu. Lin Zi memejamkan matanya dan air matanya mulai menetes.
Li Tian tersenyum merendahkan Lin Zi.
__ADS_1
"Kau bahkan sangat ketakutan saat aku baru menciummu. Dan kau akan melakukan hubungan sex dengan lelaki hidung belang disana itu?"
Li Tian melepaskan Lin Zi, dan kini ia duduk ditepi ranjang dengan badcover warna putih. Li Tian merogoh saku celana jeansnya dan membuka dompet hitam bermerek Burberry. Ia mengambil sebuah kartu debit berwarna hitam dari dalam dompetnya dan melemparkannya pada Lin Zi yang kini tengah duduk sambil mengusap airmatanya.
"Ada lebih dari 10 juta yuan disana. Kau bisa mengambil berapapun yang kau butuhkan!" ucap Li Tian sembari mengancingkan kembali kemejanya.
"Aku tidak butuh uangmu!" sahut Lin Zi dengan ketus membuat Li Tian tertawa.
"Kau pikir aku memberikannya dengan cuma cuma? Jangan bercanda!"
"Lalu?"
"Jangan banyak tanya! Ambil saja uangnya dan besok aku akan memberimu pekerjaan. Tentunya bukan pekerjaan seperti ini"
Setelah mengatakannya, Li Tian pun keluar. Dalam hatinya, ia bahkan tak tau kenapa ia membantu Lin Zi. Hanya saja Lin Zi terlihat polos dimatanya. Melihat Lin Zi melakukan pekerjaan wanita dewasa ini membuat harga dirinya sedikit terluka.
Pukul 11 malam Lin Zi berdiri didepan sebuah tempat judi. Ia memasuki tempat itu dan memanggil manggil nama Bos Ding. Seorang pria paruh baya botak yang dikawal dengan 4 orang pria berotot pun keluar menyambutnya.
"Gadis kecil, kenapa kau mencariku?" ucap pria paruh baya itu.
Lin Zi melempar sebuah amplop agak besar yang berisi beberapa gepok uang. Pria itu mengintip isinya.
"Itu uang 1 juta yuanmu! Sekarang lepaskan bibi Yun!" ucap Lin Zi dengan nada keras.
Pria botak itu memberi isyarat pada anak buahnya dan tak lama kemudian seorang anak buahnya melempar seorang wanita berumur 40 tahunan hingga tersungkur dihadapan Lin Zi.
"Bibi, bibi tidak apa apa?" tanya Lin Zi.
Bibinya tidak menjawab, namun keadaannya terlihat dari wajahnya yang lebam lebam dan berdarah.
"Kau beruntung memiliki keponakan yang perhatian! Sekarang pergilah, jangan membuat keributan di tempatku lagi!"
Lin Zi membawa bibinya pulang ke kostnya.
"Ibu" ucap seorang lelaki yang memeluk Mu Ya begitu memasuki rumah.
"Jiang Wu" gumam Mu Ya yang kembali memeluk Jiang Wu dengan erat.
Lin Zi pun pergi memasak sementara Jiang Wu mengobati luka ibunya. Tak lama kemudian, 3 piring nasi goreng dengan telur mata sapi terhidang dimeja. Bibinya terlihat agak ragu dan malu, namun perutnya yang kelaparan membuatnya makan dengan lahap.
"Lin Zi, maafkan aku" ucap Mu Ya dengan tertunduk.
__ADS_1
"Tidak apa apa" sahut Lin Zi.
"Padahal selama ini aku sering bersikap kasar padamu. Tapi kau masih mau menolongku"
"Saat orang tuaku meninggal, bibi yang merawatku. Meskipun bibi keras, tapi aku sangat bersyukur karena bibi mau merawatku"
"Lin Zi, apakah aku boleh meminta sesuatu lagi darimu?" ucap Mu Ya yang kini menatap Lin Zi.
"Apa itu?"
"Ijinkan kami tinggal disini untuk sementara. Setelah aku memiliki cukup uang untuk sewa rumah, kami akan segera pergi. Rentenir itu sudah menyita rumah kecil kami, jadi untuk saat ini kami tidak memiliki tempat tinggal lagi"
"Bibi bisa tinggal disini selama yang bibi mau, tapi rumah yang kusewa ini agak kecil, aku takut jika bibi nanti merasa tidak nyaman"
"Tidak apa apa! Terima kasih Lin Zi, bibi akan bekerja keras dan membayar kembali uangmu"
"Jangan kawatir bibi, tidak perlu memikirkan uang itu"
Jiang Wu mengusap usap bahu ibunya yang mulai menangis karena merasa sangat bersyukur.
Keesokan paginya Lin Zi bangun pukul 5 pagi. Ia keluar dari kamarnya dan melihat alas tidur didepan tv telah dilipat rapi. Ia pun berjalan menuju dapur dan dilihatnya bibinya yang sedang menyiapkan makanan di meja.
"Lin Zi, cepatlah mandi. Aku sudah memasak untukmu" ucap Mu Ya seraya meletakkan beberapa piring berisi masakannya dimeja.
"Kakak, aku sudah selesai. Mandilah" ucap Jiang Wu yang baru keluar dari kamar mandi mengenakan handuk.
Lin Zi merasa terharu dengan keadaan ini. Rasanya sudah lama ia tak mendapatkan kehangatan seperti ini. Kehangatan saat seorang ibu menyambut anaknya yang baru bangun. Kehangatan ketika makan bersama keluarga.
Tak lama kemudian Lin Zi telah bersiap dengan seragamnya dan kini duduk disamping Jiang Wu yang telah menunggunya untuk makan bersama. Lin Zi pun mengambil sumpitnya dan mencicipi masakan Mu Ya. Ia makan dengan lahap.
"Jika sudah selesai, letakkan saja piring kotor di wastafel. Aku akan mencucinya nanti" ucap Mu Ya yang telah selesai makan.
"Bibi mau kemana?" tanya Lin Zi melihat bibinya yang telah rapi.
"Mencari kerja. Jika tidak kerja, bagaimana aku bisa mendapat uang? Tentu aku tidak ingin terus terusan merepotkanmu"
Kata kata itu membuat Lin Zi dan Jiang Wu tersenyum. Ternyata insiden ini bisa membuatnya berubah menjadi lebih baik.
Pukul 5.50 Lin Zi telah berada disekolahnya. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Rambutnya yang terurai diarahkan kekiri untuk menutupi bekas merah di lehernya.
Didepan kelasnya, ia berpapasan dengan Li Tian dan seorang temannya yang memakai seragam berbeda. Lin Zi menghentikan langkahnya, tertegun melihat seseorang yang tengah berdiri disamping Li Tian.
__ADS_1
"Jing Yuan!" gumam Lin Zi menatap pria dengan model rambut spiky itu.
●●●~~●●●