
"Jing Yuan!" gumam Lin Zi menatap pria dengan model rambut spiky itu.
"Bagaimana kau bisa tau namaku?" tanya pria berseragam warna abu abu.
"Dari.... nama dadamu" sahut Lin Zi membuat alasan.
Tentu tidak akan mudah baginya untuk menceritakan apa yang dialaminya sebelumnya. Terlebih, orang lain pasti tak akan mempercayainya dan malah sebaliknya. Mereka akan menganggapnya gila.
"Ohh, kupikir kau mengenalku. Tapi apakah kita pernah bertemu? Wajahmu terlihat sangat familiar" tanya Yuan yang kini mengamati wajah Lin Zi membuat gadis itu jadi salah tingkah.
"I..ini pertama kalinya aku bertemu denganmu"
"Hei, bukankah kau akan kembali ke sekolahmu?" ucap Li Tian menyenggol tangan Yuan dengan sikunya.
Yuan melihat jam tangan limited edition dipergelangan tangan kanannya.
"Oh benar! Aku akan terlambat! Oh ya, kita akan berkenalan saat kita bertemu lagi" ucap Yuan pada Lin Zi sebelum pergi.
"Kau mengenalnya?" tanya Li Tian setelah Yuan terlihat sudah jauh.
"Tidak.. Aku tidak mengenalnya"
"Lalu bagaimana kau mengetahui namanya?"
"Bukankah sudah kubilang aku melihat nama dadanya" ucap Lin Zi terbata karena gugup.
"Kau tidak melihatnya. Saat kami datang kau terus menatap wajahnya" pergok Li Tian.
"Lihat itu, apakah mereka dekat?"
"Sepertinya mereka memiliki hubungan"
"Mungkin mereka hanya berteman"
Beberapa kata diatas adalah kata kata yang digunjingkan oleh siswa yang melihat mereka.
Lin Zi menatap kearah siswa siswi yang berjalan melewati mereka dengan terus menggunjingkannya. Ia merasa tak nyaman dengan keadaan itu.
"Su sudahlah" putus Lin Zi yang kemudian masuk ke kelasnya.
"Oh iya, ATM.nya!" gumam Lin Zi mengingat sesuatu.
Ia kembali keluar kelas dan melihat Li Tian yang sudah masuk kelas 2-A yang berjarak 1 kelas dari kelasnya. Ia pun mengurungkan niatnya karena banyak mata yang masih memandanginya.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas dan kembali kerumahnya masing masing. Sementara Lin Zi baru menyaut tasnya dan menuju parkiran sepeda.
"Astaga!" ucap Lin Zi yang terkejut melihat seorang pria yang tiba tiba muncul dihadapannya.
"Apa kau hantu? Kenapa muncul begitu tiba tiba?" gerutu Lin Zi.
"Hantu? Kau yang terus berjalan menunduk dan tidak melihat jalan!"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lin Zi pada pria itu.
__ADS_1
"Kau tidak lupa dengan perjanjian kita bukan?"
"Oh iya, maaf.. aku hampir melupakannya, hehehe"
"Ikut aku" ucap Li Tian yang mulai beranjak.
"Sepedaku?" ucap Lin Zi agak keras.
"Tinggalkan saja! Aku akan minta orang membawanya"
Lin Zi pun mengikuti langkah Li Tian memasuki mobil Hongqi.nya dan menyalakannya. Sementara Lin Zi duduk dikursi belakang.
"Kau pikir aku supirmu?" ucap Li Tian membuat Lin Zi berdecak kesal.
Lin Zi pindah duduk didepan agar tak perlu mendengar ocehan Li Tian. Mobil Hongqi silver itu pun melaju dengan kecepatan sedang dijalanan yang mulai terlihat ramai. Selang 20 menitan, mobil itu memasuki sebuah pelataran yang luas.
Lin Zi membuka pintu mobil dan segera keluar mengikuti Li Tian yang mulai berjalan. Namun langkah Lin Zi terhenti didepan sebuah rumah besar.
Uuwaaahhhh apakah ini istana? Rumahnya besar sekali...
Lin Zi merasa sangat takjub melihat rumah yang sangat besar bak istana itu. Sebuah rumah dengan cat warna cream dan dekorasi yang elegan.
"Kau tidak mau masuk?" ucap Li Tian menahan pintu.
Lin Zi tersadar dari ketakjubannya dan segera masuk mengikuti Li Tian. Ia kembali merasa takjub melihat semua furnitur bermerek luar negeri yang harganya sangat mahal. Bahkan semua perabotannya sangat berkelas.
"Apa kau sudah puas melihat lihat?" ucap Li Tian membuyarkan lamunan Lin Zi.
"Ikut aku" sambung Li Tian.
Klekkk
Pintu yang tadinya masih sedikit terbuka itu, kini tertutup rapat - maklum lah pintu mahal otomatis nutup sendiri kalo kebuka dikit doang. Li Tian melemparkan tas hitamnya, membuka jas sekolahnya dan melepaskan dasi yang mengikat lehernya. aaahhh begini jadi lebih lega, pikirnya. Ia membuka kancing kerah kemeja sekolahnya membuat dada putihnya terlihat seksi. Kemudian ia berbalik dan menghampiri Lin Zi yang masih berdiri. Namun lain dengan Lin Zi, gadis itu memandang Li Tian seolah Li Tian akan menerkamnya. Ia mundur selangkah demi selangkah hingga langkahnya habis. Ia tak bisa mundur lagi karena kini punggungnya telah menyentuh pintu. Li Tian semakin mendekat dan mendekat membuat rona merah di pipi Lin Zi semakin kentara.
"A...apa yang akan kau lakukan?" tanya Lin Zi terbata karena gugup.
Namun Li Tian tak menghiraukan pertanyaan Lin Zi dan terlihat asik melakukan keinginannya. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada Lin Zi. Dan entah kenapa gadis itu memejamkan matanya. Bibir mungilnya tertutup rapat dan degup jantungnya terdengar semakin cepat. Tangan kanan Li Tian menjulur melewati tubuh Lin Zi dan mengambil baju yang digantung di gagang pintu.
"Dasar mesum!" ejek Li Tian sembari melemparkan baju itu ke muka Lin Zi.
Lin Zi mengambil baju itu dari wajahnya dan mengamatinya dengan seksama.
"Bukankah ini baju pelayan?" tanya Lin Zi yang masih melihat lihat baju pelayan ala jepang bercorak hitam putih itu
"Kenapa? Kau tidak mau jadi pelayan?" Li Tian melemparkan tubuhnya ke kasur empuk nan mahalnya. Ia berbaring disana dengan bersandar pada 2 bantal yang ditumpuk.
"Jika kau tidak mau jadi pelayan... kurasa kau bisa berada disini bersamaku.. Yaaahhh kau tau 1 juta yuan bukan uang yang sedikit dan aku tidak mau menyia nyiakannya"
Lin Zi membalas perkataan Li Tian hanya dengan decakan kesal. Dia pikir Li Tian akan ikhlas membantu tapi yaahhh dia terlalu banyak berharap pada pria itu.
"Mulai sekarang kau akan menjadi pelayan pribadiku. Dan kau akan tinggal disini sampai kau bisa melunasi hutangmu"
"Tinggal disini?" tanya Lin Zi yang bingung dengan maksud perkataan itu.
__ADS_1
"Jadi? emm 2 bulan! Hanya 2 bulan dan aku akan menganggap hutangmu lunas, bagaimana? Menguntungkan bukan?"
Lin Zi mulai memikirkannya. 1 juta yuan hanya dalam 2 bulan, yaahhh itu memang cukup menguntungkannya, tidak, itu sangat sangat menguntungkannya. Bahkan gaji seorang guru tidak akan sampai 10 ribu yuan tiap bulannya.
"Baiklah! Sepakat, hanya 2 bulan!" jawab Lin Zi tanpa pikir panjang lagi.
Li Tian mengambil ponsel di saku celananya dan mulai memainkan jari jarinya. Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita paruh baya mengetuk lalu membuka pintu kamar.
"Ikut denganku" ucap wanita yang kemudian pergi meninggalkan kamar itu bersama Lin Zi.
Lin Zi mengikutinya menuruni tangga. Wanita itu memimpin jalan Lin Zi dan menjelaskan apa saja tugas tugas yang perlu dilakukannya. Kini langkah mereka telah terhenti didepan sebuah pintu berwarna putih.
"Ini adalah kamarmu" ucap bibi Tang menunjukkan kamar tunggal. "Jika kau mencariku, kamarku ada dibelakang sana" tambahnya sambil menunjuk kearah kamarnya yang berjarak 10 meter.an dari kamar Lin Zi.
"Baiklah, aku mengerti" balas Lin Zi.
"Masuklah dan ganti bajumu"
Lin Zi pun membuka pintu kamarnya dan memasukinya. Ia berjalan menuju kasurnya dengan mata yang tak henti berputar melihat lihat ruangan kamarnya.
"Hanya kamar pelayan tapi sebesar ini.. ini bahkan jauh lebih luas dibandingkan kamarku di rumah sewa itu" gumam Lin Zi.
Gadis itu menjatuhkan bokongnya di kasur yang akan menjadi tempatnya mengistirahatkan badan.
Bahkan kasurnya sangat empuk.. Apakah ini benar benar kamar pelayan?
Yaahhh kamar itu memang cukup luas dengan ukuran 5x5 meter. Dan dikamar seluas ini hanya ada 1 ranjang, 1 lemari dan 1 meja dengan kursi. Ini seperti membadzirkan ruangan bukan? Yaah namanya juga kamar pelayan, pasti tak akan ada perabotan mahal penghias kamar.
Tak lama kemudian Lin Zi telah mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan. Ia memandangi dirinya di cermin yang ada di pintu lemari. Ia memutar tubuhnya melihat bagian belakang dan memutar lagi. Sepertinya baju itu memang cocok ditubuhnya.
Klekkk
"Astaga!" ucap Lin Zi dengan spontan ketika mendengar pintu kamarnya terbuka.
"Lumayan" komen Li Tian dengan tangan kanannya yang masih memegang gagang pintu.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?" ucap Lin Zi yang mulai kesal.
"Ini rumahku!" sahut Li Tian menunjukkan kepemilikannya.
Benar juga, ini memang rumahnya. Tapi tetap saja Lin Zi merasa kesal. Bagaimanapun juga ia adalah lelaki dan Lin Zi seorang perempuan, tidak pantas.
"Apa maumu?" tanya Lin Zi ketus.
Li Tian melemparkan sebuah sirine yang hanya berukuran sama dengan jempol kaki. Dengan spontan Lin Zi menangkapnya dengan kedua tangannya.
"Apa ini?" gumam Lin Zi mengamati benda ditangannya.
Li Tian tidak menjawabnya. Ia malah mengeluarkan sebuah remot kontrol hitam kecil dengan 1 tombol berwarna merah ditengahnya. Ia menekannya dan sirine yang ada ditangan Lin Zi berbunyi dengan keras membuat gadis itu terkejut.
"Jika sirine itu berbunyi, kau harus datang dengan cepat" jelas Li Tian secara singkat.
"Kau pikir aku flash yang bisa berlari secepat kilat??!" sindir Lin Zi.
__ADS_1
Li Tian hanya memberikan isyarat gerakan bahu yang berarti ia tak tau. Ia pun meninggalkan Lin Zi yang kembali mengamati sirine ditangannya.
Bersambung....