Takdir Yang Belum Berakhir S.2

Takdir Yang Belum Berakhir S.2
Klarifikasi


__ADS_3

Seluruh temannya saling berbisik menggunjingkan Lin Zi sambil terus menatap sinis padanya. Ia pun mengambil ponsel dari sakunya dan membuka akun weibo nya. Kedua matanya terbelalak melihat sesuatu yang di post oleh sebuah akun fake disana. Sebuah video berdurasi 3 menit itu menunjukkan saat Lin Zi berhadapan dan kemudian memasuki mobil Li Tian dengan keterangan -Xiu Lin Zi memasuki mobil Li Tian. Apakah mereka berkencan diam diam?-


Banyak komentar tercantum disana. Dan seluruh isi komentarnya merupakan cemoohan dan sindiran. Tidak ada yang setuju jika Li Tian benar benar berkencan dengan Lin Zi. Secara, Li Tian bagaikan seorang pangeran berkuda putih, sementara Lin Zi hanya seorang gadis biasa. Ia bahkan bukan seorang cinderella, atas dasar apa mengharapkan cinta Li Tian.


2 hari telah berlalu, namun Lin Zi masih saja dirundung oleh teman teman yang tidak menyukainya. Lokernya penuh sampah, lacinya penuh dengan sobekan sobekan kertas. Saat pulang kemarin bahkan ban sepedanya dikempeskan hingga ia terpaksa menuntunnya sampai menemukan bengkel.


Lin Zi kini berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Ia melihat kerumunan didepan papan pengumuman. Terlihat seorang pria yang dikenalnya berada ditengah kerumunan itu. Karena penasaran Lin Zi ikut bergabung dengan kerumunan itu.


"Aku akan mengumumkan sesuatu" ucap pria ditengah kerumunan dengan agak keras.


Bola mata pria itu berputar mencari diantara kerumunan. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Lin Zi yang berdiri dibelakang dan menarik lengan bajunya menuju tengah kerumunan.


"Aku hanya ingin mengumumkan bahwa Lin Zi adalah pelayan dirumahku! Dia mencari pekerjaan dan kebetulan dirumahku membutuhkan seorang pelayan, jadi dia bekerja disana"


"Jadi hanya seorang pelayan?!"


"Dia anak yatim piatu"


"Li Tian sangat baik ya"


"Sudah kuduga. Selera Li Tian tentu tidak seburuk itu"


Temannya kembali menggunjingkan pekerjaannya yang dianggap rendah dimata teman temannya yang kaya. Gadis itu melihat Li Tian dengan tajam. Kedua tangannya mengepal dan ia memutuskan untuk pergi dari kerumunan itu.


Di sepanjang Lin Zi berjalan, setiap siswa yang berpapasan dengannya menggunjing pekerjaannya sebagai pelayan Li Tian dengan tatapan yang merendahkan. Wuhan High School memang sekolah elite untuk orang orang kaya. Ia bisa bersekolah disini juga karena beasiswa. Tanpa itu, ia tak akan pernah mampu untuk menginjakkan kaki di sekolah ini.


Sepulang sekolah, Ming Yue menghentikan langkah Lin Zi.


"Lin Zi, maafkan aku. Kupikir kau benar benar berkencan dengan Li Tian tanpa memberitahuku" ucap Ming Yue.


"Tidak apa apa"


"Harusnya aku percaya padamu" gumam Ming Yue menundukkan kepala. "Tapi.. Lin Zi.. jika nanti kau benar benar menyukai Li Tian, kau harus memberitahuku, ok? Tidak masalah kau berkencan dengannya, aku hanya ingin kau tidak menyembunyikan apapun dariku. Lelaki diluar sana sangat banyak, tapi sahabatku hanya kau Lin Zi" tambah Ming Yue yang kemudian memeluk sahabatnya.


***


"Kempes lagi.." gumam Lin Zi melihat ban sepedanya di parkiran.


Lin Zi kembali menuntun sepedanya sampai sebuah mobil Hongqi H7 berhenti tepat disampingnya.


"Masuklah" ucap seorang pria dari dalam mobil dengan kaca mobil yang terbuka.


Lin Zi memalingkan wajahnya dan kembali menuntun sepedanya. Marah, malu, merasa direndahkan, itulah yang dirasakan gadis yang dahinya telah basah karena keringat. Li Tian keluar dari mobilnya, mengejar langkah Lin Zi. Pria itu kini telah berada tepat didepan sepeda Lin Zi dan Lin Zi hampir menubruknya.

__ADS_1


"Apa lagi yang ingin kau lakukan kali ini? Apa masih belum cukup mempermalukanku?" ucap Lin Zi dengan sinis.


"Aku tidak bermaksud seperti itu"


Bingung, entah apa yang harus dikatakan Li Tian agar gadis dihadapannya bisa memahami maksudnya. Ia hanya ingin membantu Lin Zi, hanya saja caranya melakukan hal itu tampak salah dimata Lin Zi.


"Aku hanya..." kata kata Li Tian terputus karena Lin Zi segera menyahutnya.


"Jangan mengatakan apapun lagi. Aku hanya pelayanmu, aku tidak berhak menuntut penjelasan. Apakah kau bisa membiarkanku pergi sekarang?" sahut Lin Zi dengan suara parau.


Li Tian memandangi gadis yang bahkan tidak membalas pandangannya. Gadis itu berusaha menghindari kontak mata dengan Li Tian. Entah kenapa saat mata mereka bertemu, rasanya malah semakin menyakitkan bagi Lin Zi. Mungkin karena perasaannya dengan Jing Xuan atau mungkin karena Li Tian yang telah menghancurkan pertahanannya.


Li Tian tak mampu berkata kata lagi. Mulutnya seolah telah di lem dengan lem terkuat. Ia melangkahkan kakinya, mundur memberi ruang untuk Lin Zi agar bisa lewat. Ia kembali menatap punggung Lin Zi yang terus menjauh. Entah kenapa dadanya merasa sesak, seperti ada yang mengganjal. Seperti ada sesuatu yang tidak benar. Apakah harusnya ia tetap menjelaskan maksudnya? Apakah harusnya ia menarik tangannya? Jika saja Li Tian tidak bungkam, mungkin Lin Zi tak perlu sekecewa itu padanya.


***


Malam ini suasananya sangat tenang. Tak ada bunyi sirine yang memekakkan telinga. Tak ada perintah perintah konyol.


Li Tian terus memandangi layar ponselnya. Membuka sebuah ruang obrolan dengan akun bernama Million_Pains. Ia mengetikkan beberapa kata kemudian menghapusnya. Mengetiknya lagi dan menghapusnya lagi. Ia tak tau bagaimana memulai obrolan dengan akun itu. Kemudian ia beralih melihat profil akun. Menscroll foto dan video yang dipost oleh akun itu. Tak banyak, hanya ada sekitar belasan post dan tak ada satupun foto asli pemilik akun.


"Kenapa Lin Zi tidak mempost fotonya sendiri ya?" gumam Li Tian lirih.


Diam diam Li Tian mulai penasaran pada gadis itu. Didunia ini ada orang yang mengabaikannya, seorang pria yang tampan dan kaya. Berbeda dengan gadis pada umumnya yang langsung mengejarnya atau sekedar mencari perhatian. Lin Zi tampak cuek dan seadanya. Tidak pernah berusaha tampak cantik atau tampak unggul.


Ding dong ding dong


"Oh gadis peramal!" sapa seorang pria begitu melihat wajah Lin Zi.


"Ga... gadis peramal?" gumam Lin Zi memutar otak.


"Saat itu kau mengetahui namaku bahkan sebelum aku memperkenalkan diri. Kau seperti seorang peramal" sambung Yuan memberi penjelasan.


Lin Zi hanya tersenyum kaku. Yuan disini sangat berbeda dengan Yuan di ingatannya.


"Karena kita bertemu lagi, bagaimana jika memperkenalkan diri?" ucap Yuan mengulurkan tangannya.


Lin Zi menatap tangan Yuan sesaat sampai akhirnya ia menjabatnya.


"Namaku Xiu Lin Zi" ucap Lin Zi memperkenalkan dirinya.


"Kenapa tidak menelfonku jika mau datang?" ucap seorang pria dari belakang Lin Zi.


Yuan segera menarik tangannya dan beralih mendekati pria itu. Ia tertawa ramah dengan merangkul pundak Li Tian.

__ADS_1


"Kita sudah berteman sejak kecil, apakah aku perlu melakukan itu?"


"Jangan terlalu dekat, aku bukan gay" ucap Li Tian dengan ketus dan menepis tangan Yuan.


Pria yang memakai kaos hitam polos dengan celana chinos pendek berwarna cream itu beralih untuk duduk di sofa sembari mengembil sebuah majalah di meja.


"Apakah kau akan terus berdiri?" ucap Li Tian pada Yuan yang masih mematung.


Yuan memandang keheranan. Ia menatap Lin Zi kemudian beralih menatap Li Tian. Seolah ada badai besar yang tengah terjadi. Suasana terasa canggung. Yuan pun menghampiri Li Tian dan duduk disampingnya.


"Li Tian..." Yuan belum menyelesaikan lata katanya.


"Apakah kau masih mau berdiri disana? Tidakkah kau lihat ada tamu?" ucap Li Tian dengan ketus meminta Lin Zi untuk segera membuatkan minum.


Lin Zi tidak mengatakan apapun dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum.


"Dia hanya seorang wanita, jangan terlalu keras padanya" ucap Yuan menasehati.


"Dia hanya seorang pelayan, kenapa kau peduli aku keras atau tidak?!" balas Li Tian yang masih melihat lihat isi majalah.


Lin Zi pun datang dengan membawa segelas jus jeruk dingin. Ia meletakkan gelas itu dimeja dan hampir menumpahkannya. Untung saja tangan Yuan sigap hingga air dalam gelas itu tetap aman. Suasana jadi semakin canggung ketika tangan Yuan tidak sengaja menyentuh tangan Lin Zi yang memegangi gelas. Yuan yang menyadarinya segera menarik tangannya kembali. Li Tian tampak kesal melihatnya. Ia melemparkan majalah yang dipegangnya keatas meja dan segera naik ke kamarnya.


"Sepertinya moodnya sedang kurang baik. Jangan memasukkannya kedalam hati" ucap Yuan memberi pengertian.


Lin Zi hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan Yuan.


"O iya Lin Zi, apakah aku boleh minta wechatmu?"


Lin Zi mengangguk dan keduanya saling bertukar wechat dengan menggoyangkan ponsel mereka.


"Sudah, aku akan mengirimimu pesan nanti. Sekarang aku mau berbicara dengan si pemarah itu dulu"


Yuan pun berlalu dan menaiki tangga menuju kamar Li Tian sementara Lin Zi kembali ke kamarnya karena semua tugas untuk hari ini sudah selesai.


Yuan membuka pintu kamar Li Tian dan menghampiri pria yang kini tengah duduk bersandar di ranjangnya sambil menonton acara talkshow.


"Apa kau sedang ada masalah?" tanya Yuan seraya duduk disamping Li Tian.


"Tidak" jawab Li Tian dengan ketus tanpa mengalihkan pandangan.


"Kalau begitu apa kau menyukainya?" tanya Yuan kembali.


Pertanyaan secara tiba tiba itu membuat Li Tian tak mampu berpikir. Otaknya seolah kosong dan ia merasa begitu kesulitan untuk mencari jawabannya.

__ADS_1


●●●~~●●●


To be continued -->


__ADS_2