
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu mengejutkan Lin Zi yang masih melamun. Ia bergegas membukakan pintu sebelum mendapat komplain dari tetangga yang cerewet. Namun ia sangat terkejut melihat siapa yang bertamu kerumahnya malam malam begini.
"Jiang Wu?" gumam Lin Zi melihat laki laki berusia 15 tahun itu.
"Kakak, tolong ibu.. aku mohon tolong ibu" ucap Jiang Wu sambil menangis memegangi tangan Lin Zi.
"Masuklah dulu, kita bicara didalam"
Jiang Wu adalah putra dari Jiang Cu Huai yang merupakan adik dari ibu Lin Zi. Sejak dulu, Jiang Wu selalu menjadi teman Lin Zi karena rumah mereka yang bersebelahan. Sepeninggal orang tua Lin Zi, ibu Jiang Wu menjual rumah Lin Zi dan menggunakan uang itu untuk membiayai kehidupannya sehari hari karena uang hasil mengajar taekwondo tidaklah cukup.
"Minumlah dulu" ucap Lin Zi mengulurkan secangkir teh hangat.
Jiang Wu meraih cangkir itu dan meminumnya. Airmatanya juga telah mengering dan kini ia duduk di kursi ruang tamu yang sempit.
"Apakah telah terjadi sesuatu?" tanya Lin Zi ketika Jiang Wu sudah terlihat tenang.
"Ibu dibawa oleh rentenir" gumam Jiang Wu dengan suara parau.
"Rentenir? Bagaimana bisa?"
"Sejak ayah meninggal, setiap malam ibu pergi berjudi. Dan pulang dengan keadaan mabuk. Tadi rentenir itu datang dan menagih hutang, tapi karena kami tidak memiliki uang.. mereka membawa ibu pergi.."
"Berapa hutang ibumu?"
"1 juta yuan"
"Sa satu juta yuan????" ucap Lin Zi terperangah.
Jika dirupiahkan, 1 juta yuan setara dengan 1,2 milyar. Lin Zi menghela nafas berat. Kepalanya mulai terasa pusing.
"Darimana aku bisa mendapat uang sebanyak itu??" gumam Lin Zi tak habis pikir.
Bahkan jika aku bekerja seumur hidup juga belum tentu aku bisa mendapatkannya.
"Kakak, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika mereka menjual ibu?"
"Tidurlah. Aku akan memikirkannya" putus Lin Zi.
Lin Zi pun berbaring di sofa sementara Jiang Wu tidur di kamar. Ia berusaha memejamkan matanya tapi pikirannya membuatnya tak bisa tidur.
Kringggg kringgggg kringggg
Dering jam waker membangunkan Lin Zi. Ia duduk sambil mengusap usap matanya.
__ADS_1
"Siapa yang meletakkan jam waker disini?" gumam Lin Zi yang masih berusaha membuka matanya.
Ia melihat jam waker yang diletakkan di meja didekatnya. Kedua matanya terbelalak lebar melihat jam yang telah menunjukkan pukul 06.00.
"Jiang Wu, cepat bangun!" ucap Lin Zi seraya membuka pintu kamar.
"Eh sudah tidak ada, apa sudah berangkat ya?" gumam Lin Zi mendapati kamarnya yang kosong.
Lin Zi pun bergegas untuk bersiap dan segera menaiki sepedanya dengan kencang. Tak lama kemudian ia telah tiba di parkiran sekolah. Setelah memarkirkan sepedanya ia berlari menuju kelasnya karena hanya tinggal 5 menit sebelum bel berbunyi.
"Lin Zi" panggil Ming Yue menghampiri Lin Zi yang baru masuk kelas dan berjalan ke mejanya.
Lin Zi meletakkan tas warna hitamnya di meja dan menenggelamkan wajahnya diatasnya. Beberapa kali ia menghela nafas panjang.
"Lin Zi, apa terjadi sesuatu?" tanya Ming Yue.
Lin Zi mengangkat kepalanya dan metatap gadis yang berdiri disampingnya.
"Ming Yue.." kata kata Lin Zi terputus.
Meskipun ayah Ming Yue seorang dokter, tapi meminjam 1 juta yuan sepertinya sangat banyak sekali. Mungkin dia tidak memilikinya.
"Lin Zi, ada apa? Jangan bicara setengah setengah" desak Ming Yue.
"Duduk duduk, semuanya duduk" ucap guru yang baru saja memasuki kelas.
Semua murid kembali ke tempat duduknya dan pelajaran bahasa inggris dimulai. Namun Lin Zi terlihat sedang tidak berkonsentrasi dengan menahan kantuknya. Beberapa kali kepalanya hampir terjatuh namun ia berusaha untuk tetap fokus.
Pletakkk
Sebuah kertas yang diremas remas hingga berbentuk bulat menghantam kepala Lin Zi. Ia melihat kearah datangnya kertas itu, dan dilihatnya Ming Yue yang tengah memberi isyarat padanya untuk tetap memperhatikan pelajaran Bu Bai yang killer.
Waktu berlalu dan kini tiba jam istirahat. Seluruh murid berhamburan keluar kelas. Namun Lin Zi terlihat masih berdiam di mejanya dengan melipat kedua tangannya di perut.
Bbzzzztttt (suara getar hp)
Lin Zi mengambil ponselnya dimeja dan membuka kuncinya. Terlihat sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya.
Mau kerja mudah dan pendapatan tinggi setiap harinya? Klik link dibawah ini
www.sensor.com
Lin Zi tampak berpikir sejenak. Ia masih seorang anak SMA dan itu adalah pekerjaan untuk orang dewasa. Tapi jika ia tak melakukannya, dari mana lagi ia bisa mendapat uang dengan cepat?
Lin Zi pun menekan link itu dan ia masuk ke ruang obrolan sebuah akun wechat dengan nama yang disamarkan menjadi Langit Biru.
__ADS_1
"Kirimkan fotomu" pesan dari akun Langit Biru.
Lin Zi membuka galerinya dan mengirimkan beberapa foto.
"Aku akan memajangnya, jika ada yang berminat aku akan menghubungimu" balasan dari Langit Biru.
Lin Zi meletakkan ponselnya dimeja. Ia menghela nafas yang berat dan panjang. Hal ini benar benar tak pernah terpikirkan olehnya.
Saat pelajaran kembali dimulai, Lin Zi mendapat sebuah pesan di ponselnya.
Bar Elite, kamar nomor 22 pukul 9 malam. Kode reservasi 9422.
***
Pukul 8 malam, terlihat Li Tian yang tengah mengendarai mobil Hongqi H7. Mobil berwarna silver itu melaju kencang di jalanan yang tidak terlalu ramai. Setelah ia selesai berbicara dengan seseorang menggunakan earphone nya, ia kemudian membelokkan mobilnya ke arah kiri dan berhenti didepan sebuah bar.
Bar Elite, adalah sebuah bar untuk orang orang elite yang memiliki banyak uang. Di lantai 1, terlihat seperti bar pada umumnya. Ada tempat bermain billiard, ada banyak meja untuk orang yang ingin memesan makan atau minum, ada tempat dansa. Di lantai 2, ada tempat karaoke. Lantai 3 dan 4, ada banyak kamar untuk orang orang yang ingin menginap atau sekedar bermain dengan perempuan. Dan dilantai paling atas ada bar dengan kolam renang luas dengan balkon berpagar kaca yang elegan.
Li Tian memasuki bar itu dan duduk didepan bartender.
"Berikan aku segelas wiski" ucap Li Tian pada seorang bartender didepannya.
Tak lama kemudian segelas wiski dengan 3 kotak kecil es batu telah terhidang didepan Li Tian. Ia meminumnya seteguk dan seteguk lagi.
"Apakah kau sendirian?" ucap seorang wanita berpakaian seksi menghampiri Li Tian yang duduk sendirian.
Li Tian tidak mengindahkan wanita itu dan malah mengabaikannya. Wajahnya terlihat seperti orang yang sedang marah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah meja meja yang telah ramai pengunjung. Lalu ia melihat Lin Zi yang berjalan memasuki sebuah lift. Li Tian meletakkan minumannya dan mengikuti gadis itu.
***
Lin Zi kini telah berdiri didepan sebuah kamar yang tertulis nomor 22 di pintunya. Ia memakai dress selutut berwarna putih dengan make up tipis.
Ia terlihat sedang gugup dan beberapa kali menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Dia bahkan tidak pernah memiliki pacar sebelumnya, setidaknya didunia ini. Ia beberapa kali menggigit bibirnya dan telapak tangannya mulai berkeringat.
Apakah aku benar benar harus melakukan ini? Tapi jika aku tidak melakukannya, mungkin bibi dan Jiang Wu tidak akan selamat. Tidak ada cara lain lagi. Lin Zi, kemana rasa percaya dirimu yang selalu setinggi langit itu?
"Aku tidak bisa melakukannya" gumam Lin Zi yang membalikkan tubuhnya.
"Tidak! Aku harus melakukannya. Semua itu akan segera berlalu. Hanya perlu melakukannya sebentar dan aku akan mendapat uang!" gumam Lin Zi yang kembali membalikkan tubuhnya menghadap pintu.
Tangan kanannya perlahan memegang gagang pintu itu. Ia menghela nafas panjang mempersiapkan dirinya.
●●●~~●●●
Mohon kritik dan sarannya, terimakasih🤗
__ADS_1