Takdir Yang Belum Berakhir S.2

Takdir Yang Belum Berakhir S.2
Gengsi


__ADS_3

"Kalau begitu apa kau menyukainya?" tanya Yuan kembali.


Pertanyaan secara tiba tiba itu membuat Li Tian tak mampu berpikir. Otaknya seolah kosong dan ia merasa begitu kesulitan untuk mencari jawabannya. Padahal ia hanya perlu menjawab iya atau tidak.


"Jangan bercanda! Mana mungkin aku menyukainya" rasa gengsi menyelimuti hati Li Tian.


Ia hanya gengsi untuk mengakui bahwa ia mulai memperhatikan Lin Zi. Bukan karena Lin Zi berbeda. Tapi karena sesuatu yang sudah ada didalam hatinya sejak pertama kali ia bertemu gadis itu. Mungkin hal itu juga yang menggerakkan hatinya untuk membantu Lin Zi.


"Kalau begitu apa tidak apa apa jika aku mengejarnya?" ucap Yuan meminta ijin karena bagaimanapun Li Tian yang bertemu Lin Zi lebih dulu.


"Jika kau suka, kejar saja! Apa hubungannya denganku?" ucap Li Tian menutupi gengsinya.


"Benarkah? Jangan tarik kata katamu, ok?"


"Iya iya, cerewet sekali"


Sangat wajar ketika seseorang dikalahkan oleh gengsi. Egonya yang tinggi membuatnya tak bisa mengerti dengan perasaannya sendiri. Tanpa sadar ia mendorong wanita yang disukainya kedalam pelukan orang lain, sahabatnya sendiri.


Bzzztttt bzzttt


Getar ponsel membangunkan Lin Zi dari tidur pulasnya. Kedua matanya masih sulit dibuka. Tangannya menjulur meraba raba kasurnya untuk mencari dimana ponselnya diletakkan semalam. Setelah ia mendapatkan ponselnya, ia berusaha membuka kedua matanya, menguceknya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya ponselnya.


Ia membuka sebuah pesan di akun wechatnya. Wajahnya terlihat masih malas, entah apa isi pesan itu tapi Lin Zi tidak membalasnya dan meletakkan kembali ponselnya. Ia membangunkan tubuhnya. Dengan telanjang kaki ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian ia telah siap seragam sekolahnya. Tubuhnya terasa segar dan ia memulai aktivitasnya, menyiapkan sarapan untuk Li Tian. Sebuah roti tawar yang telah diolesi selai rasa cokelat kesukaan Li Tian telah terhidang di meja makan. Ditambah segelas susu putih dan beberapa potong roti tawar lagi di piring lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.15 pagi namun Li Tian masih belum turun. Lin Zi pun melupakan masalahnya dengan Li Tian sementara, ia naik mencoba membangunkan Li Tian yang mungkin masih tidur.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban. Lin Zi pun membuka pintu yang tidak dikunci itu. Namun dilihatnya tempat tidur Li Tian sudah kosong. Ia pun mendekat dan merapikan tempat tidur Li Tian yang berantakan. Kemudian ia merapikan baju baju yang berserakan didekat lemari pakaian Li Tian. Tiba tiba sesuatu membuatnya menghentikan aktivitasnya. Kedua matanya terbelalak melihat seseorang yang baru keluar dari kamar mandi.


Aaaaaarrrgggghhhhhhhh


Teriakan Lin Zi terdengar sangat keras. Lin Zi mendapati Li Tian tanpa sehelai pakaian ditubuhnya. Dengan reflek gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangnnya. Sementara Li Tian terkejut melihat Lin Zi ternyata ada dikamarnya. Dengan cepat Li Tian segera masuk kembali ke kamar mandi.

__ADS_1


"A... apa yang kau lakukan dikamarku?!!" ucap Li Tian terbata karena malu dan gugup.


"Ka.. kau sendiri kenapa keluar tanpa baju?!" jawab Lin Zi yang tak kalah gugup.


"Su..sudahlah! Ambilkan jubah mandiku, aku lupa membawanya!"


Lin Zi mengambil sebuah jubah mandi warna putih dan mengulurkannya melalui pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Dengan cepat Li Tian menyautnya dan segera memakainya.


"Anu... itu.. Lin Zi.. apakah kau melihatnya?" tanya Li Tian yang baru keluar dari kamar mandi.


Lin Zi terlihat masih sibuk mengambil gantungan baju yang sudah kosong di lemari Li Tian.


"Lihat" jawab Lin Zi dengan singkat.


"Benarkah? Kau melihatnya?" ulang Li Tian yang merasa urat malunya sudah putus gara gara Lin Zi.


"Kau sebesar ini sudah pasti aku lihat! Kecuali jika kau sudah menjadi hantu"


"Bukan itu maksudku... maksudku adalah..." Li Tian kebingungan mencari kata agar Lin Zi bisa mengerti maksudnya tanpa ia harus mengatakan dengan detail.


"Aku sudah menyiapkan seragam dan sarapanmu. Cepatlah turun" ucap Lin Zi memutus percakapan.


Gadis itu bergegas keluar dari kamar Li Tian karena rona merah di pipinya hampir tak bisa disembunyikan lagi. Ia mengerti apa yang dimaksud Li Tian, tapi akan tampak memalukan jika ia mengatakan bahwa ia telah melihat junior Li Tian meskipun hanya sekilas.


Pukul 5.50 terlihat Li Tian yang tengah memakan rotinya dengan santai sampai ia melihat Lin Zi yang berjalan keluar. Ia segera meminum susunya dan menyaut tasnya kemudian bergegas mengejar langkah Lin Zi yang belum terlalu jauh.


"Lin Zi, tunggu dulu.. apakah kau benar benar tidak melihatnya?" Li Tian masih penasaran apakah Lin Zi melihatnya atau tidak. Menurut logika harusnya Lin Zi sudah melihatnya, tapi Lin Zi mengatakan tidak melihatnya.


"Lihat apa? Cabai rawit itu? Aku tidak melihatnya!" jawab Lin Zi tanpa menghentikan langkahnya.


"Apa? Ca..cabai rawit? Itu terong, terong!!" ucap Li Tian yang tidak terima juniornya dikatakan cabai rawit. "Tunggu dulu.. berarti dia melihatnya?! Hei tunggu dulu!!" ucap Li Tian sembari mengejar langkah gadis yang semakin menjauh.

__ADS_1


"Kau melihatnya kan! Benar kan!" ucap Li Tian yang terus mendesak Lin Zi.


Lin Zi terus berjalan dan berusaha mengabaikan Li Tian karena membuatnya merasa semakin malu.


"Oh, Jing Yuan!" panggil Lin Zi pada pria yang membalas panggilannya dengan melambaikan tangan.


Lin Zi segera menghampiri Yuan yang berdiri bersandar pada mobil Hongqi H7 warna hitam. Mau tidak mau Li Tian berhenti membicarakan hal memalukan itu dan kembali bersikap seperti biasanya.


"Sudah kubilang, telfon dulu kalau mau datang" ucap Li Tian.


"Aku datang untuk menjeput Lin Zi bukan untuk bertemu denganmu"


"Apakah Eternal High School memiliki banyak waktu luang?" sindir Li Tian dengan halus.


"Kenapa? Apakah kau tidak punya waktu lagi? Kalau begitu bergegaslah! Lin Zi, cepat masuk" ucap Yuan membukakan pintu depan mobilnya.


Lin Zi pun masuk dan Yuan menutup kembali pintunya. Ia berjalan dan menduduki kursi sopir. Sesaat kemudian mobil mewah itu mulai berjalan meninggalkan Li Tian.


Tak lama kemudian, mobil mewah itu memasuki pelataran sekolahan diikuti oleh mobil Li Tian dibelakangnya. Setelah mobil berhenti, Lin Zi turun dan terlihat ia melambaikan tangannya pada Yuan. Li Tian yang tak suka melihat pemandangan itu segera turun. Kemudian ia melemparkan selembar uang pada seorang satpam dan memberi isyarat untuk memarkirkan mobilnya.


"Sampai jumpa" ucap Lin Zi seraya melambaikan tangannya sembari tersenyum cerah.


Kaca mobil perlahan menutup dan mobil Hongqi warna hitam itu kembali melaju.


Brukk


Li Tian melemparkan tasnya tepat mengenai wajah Lin Zi dan membuat gadis itu bedecak kesal.


"Bawakan tasku" ucap Li Tian singkat kemudian mulai berjalan meninggalkan Lin Zi.


●●●~~●●●

__ADS_1


__ADS_2