Takdir Yang Belum Berakhir S.2

Takdir Yang Belum Berakhir S.2
Lelaki selalu salah!


__ADS_3

"Aku memang menyukaimu"


Jantung Lin Zi terasa seperti akan meledak saat mendengarnya. Bagaimana bisa Li Tian mengatakannya dengan sangat santai dan tenang? Mungkinkah Li Tian hanya ingin mempermainkannya? Mereka belum lama berkenalan dan Li Tian sudah menyatakan perasaannya.


"A...apa?" gumam Lin Zi tak bisa berkata kata.


"Bukankah kau juga menyukaiku?" desak Li Tian.


"Ka..kapan aku bilang menyukaimu" ucap Lin Zi mengalihkan pandangannya.


"Lihat mataku, dan katakan lagi"


Lin Zi menatap mata Li Tian. Terasa sangat sulit untuk sekedar mengatakan bahwa ia tidak menyukai Li Tian.


"Aku tidak menyukaimu.." ucap Lin Zi.


"Coba katakan lagi" ucap Li Tian yang mulai mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak menyukaimu!"


"Katakan sekali lagi.." ucap Li Tian yang semakin mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa cm dari wajah Lin Zi.


Lin Zi menatap dalam kedua mata Li Tian. Rasanya seperti terhipnotis. Lin Zi melingkarkan tangannya ke leher Li Tian. Kedua matanya terpejam ketika bibirnya menyentuh bibir Li Tian. Li Tian yang tak ingin dikalahkan pun membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang langsing Lin Zi dan memperdalam ciumannya.


***


Waktu terus berlalu dan hubungan mereka jadi semakin dekat. Meskipun Li Tian terlihat cuek tapi sebenarnya ia sangat perhatian. Hanya saja ia tidak menunjukkan sisi perhatiannya didepan orang lain. Dan sikap itu juga yang kadang membuat Lin Zi salah paham. Siswa yang lain juga sudah berhenti menggosipkan Lin Zi.


"Lin Zi, minggu depan kontrakmu selesai kan?" tanya Ming Yue pada gadis yang tengah melahap makanannya.


"Iya, bertepatan dengan ulangtahun Li Tian" gumam Lin Zi setelah menelan makanan dimulutnya.


"Kau sudah menyiapkan hadiah?"


"Hmm.. tapi aku malu memberikannya"


"Kenapa?" tanya Ming Yue penasaran.


"Dia sangat kaya dan barang yang akan kuberikan bukan barang bermerk"


"Berikan saja.. Lagipula Li Tian juga tidak meminta apapun darimu kan?"


"Kalian sedang membicarakanku?" sahut seorang pria seraya duduk disamping Lin Zi dan meletakkan piringnya di meja.


"Li Tian.." gumam Ming Yue melihat orang yang tengah dibicarakannya.


"Jadi apa yang akan kau berikan padaku nanti?" tanya Li Tian seraya menyumpit makanannya.


"Tidak ada" sahut Lin Zi.


Li Tian merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya. Ia mencabut salah satu kartu di dompetnya dan menyodorkannya kedepan Lin Zi.


"Gunakan untuk membeli hadiah" ucap Li Tian memberikan kartu kreditnya.

__ADS_1


Lin Zi meletakkan sumpitnya di meja. Ada hal yang menyinggung hatinya. Nafsu makannya hilang seketika.


"Aku tidak butuh uangmu!"


Lin Zi pun pergi meninggalkan Li Tian yang masih kebingungan.


"Ada apa? Kenapa dia pergi?" ucap Li Tian dengan tampang bodohnya.


"Kau mengatakan dirimu kekasihnya tapi kau masih belum memahaminya? Dia bukan wanita matre"


"Aku tau. Maksudku apa salahnya memberikannya uang untuk membelikanku hadiah? Aku hanya tidak ingin dia merasa malu"


"Kau sudah merendahkannya! Lagipula dia sudah menyiapkan sesuatu untukmu" ucap Ming Yue sebelum melahap kembali makanannya.


Salah lagi salah lagi. Yaa itulah yang sering dipikirkan lelaki ketika apa yang dilakukannya ternyata salah dimata wanita. Terkadang membingungkan tapi itulah wanita. Jika dilakukan akan terlihat salah tapi jika tidak dilakukan malah semakin salah. Sebenarnya bukannya wanita rumit, hanya saja pemikiran lelaki terlalu sederhana.


Bel pulang sudah berbunyi. Li Tian terlihat tengah menunggu didepan kelas Lin Zi. Namun orang yang ditunggunya tak kunjung keluar. Masih ada 6 siswa yang piket dan masih didalam kelas. Namun ia tidak melihat Lin Zi disana.


"Apakah kalian melihat Lin Zi?" tanya Li Tian dari ambang pintu.


"Lin Zi? Dia sudah keluar sejak tadi" ucap salah seorang siswa perempuan yang tengah menyapu lantai.


Li Tian pun pergi dengan perasaan kesal. Apakah Lin Zi perlu semarah itu? pikirnya.


Sementara itu, Lin Zi terlihat tengah berada di sebuah toko yang menjual bermacam benang.


"Kau akan merajutnya sendiri?" tanya seorang pria yang ada disamping Lin Zi yang tengah memilih benang.


"Akan lebih bermakna jika aku merajutnya sendiri kan?! Eh Yuan, bagus warna hitam, abu abu atau coklat?" tanya Lin Zi memikirkan warna yang cocok untuk Li Tian.


"Benar juga,.. Paman, warna hitam 15 dan warna merah 2" ucap Lin Zi pada penjual.


"Baiklah" ucap si penjual yang kemudian membungkuskan pesanan Lin Zi. "Kau beruntung memiliki kekasih yang bisa merajut" ucap penjual itu seraya memberikan pesanan Lin Zi sambil memandang Jing Yuan.


"Dia bukan kekasihku" ucap Lin Zi dan Yuan sambil tertawa kecil.


"Benarkah? Kalau begitu kau harus segera menjadikannya kekasihmu" canda sang penjual pada Yuan.


"Ini, terima kasih paman" ucap Lin Zi memberikan uang pada penjual.


Lin Zi dan Yuan pun keluar dari toko itu dan memasuki mobil Hongqi hitam milik Yuan. Tak lama kemudian mobil itu telah terparkir di parkiran sebuah apartemen sederhana.


"Jiang Wu" panggil Lin Zi seraya mengetuk pintu.


Lin Zi mengetuknya beberapa kali dan sesaat kemudian pintu itu terbuka.


"Kak Lin" sapa Jiang Wu yang kemudian mempersilahkan Lin Zi masuk.


"Dimana bibi Yun?" tanya Lin Zi seraya menuang air putih kedalam gelas.


"Ibu pulang pukul 12 malam"


"Pukul 12?" tanya Lin Zi setelah meminum habis segelas air yang dituangnya.

__ADS_1


"Ibu bekerja dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore, lalu bekerja part time sampai pukul 12 malam" jelas Jiang Wu yang duduk di sofa depan tv.


"Dan meninggalkanmu dirumah sendirian setiap hari?" tanya Lin Zi seraya duduk disamping Jiang Wu.


"Aku laki laki jadi bukan masalah. Hanya saja aku kasihan pada ibu yang terus bekerja. Aku juga ingin membantu tapi aku masih SMP jadi tidak ada yang mau menerimaku" ucap Jiang Wu.


"Belajar saja yang rajin dan buat ibumu bangga. Dan juga tentang uang itu, katakan pada bibi tidak perlu mengembalikannya"


"Tetap saja, itu bukan uang yang sedikit. Kakak juga pasti membutuhkannya untuk kuliah"


"Aku akan berusaha mendapatkan beasiswa jadi jangan pikirkan uang kuliahku. Kalau begitu aku harus pergi sekarang, ada yang menungguku di parkiran" ucap Lin Zi seraya berdiri.


"Kekasihmu?"


"Teman"


"Apakah kakak tidak akan pulang?" tanya Jiang Wu menghentikan langkah Lin Zi.


"Pulang, tentu saja aku harus pulang. Aku pergi dulu ya, kunci pintu dan jangan bukakan untuk orang yang tidak kau kenal"


Lin Zi menuruni tangga dengan cepat dan menuju parkiran.


"Apakah aku terlalu lama? Maaf aku membuatmu menunggu" ucap Lin Zi pada pria yang berdiri bersandar pada mobil.


"Tidak apa apa. Udara disini terasa sejuk meskipun sedang musim panas"


"Benar. Disini ada banyak pohon dan biaya sewanya juga tidak mahal. Meskipun ruangannya agak sempit setidaknya masih bisa di tinggali"


"Masuklah, aku akan menyraktirmu makan kemudian mengantarmu pulang"


"Tidak perlu. Sudah pukul 8 lebih, lagipula aku masih harus bekerja di rumah Li Tian"


"Lain kali?"


"Baiklah, lain kali aku akan membiarkanmu mentraktirku" ucap Lin Zi dengan tersenyum.


***


Lin Zi melambaikan tangan pada Yuan yang memasuki mobilnya. Setelah itu ia memasukkan password untuk membuka pintu. Sesaat kemudian gadis itu telah berhasil membuka pintu dan ia sangat terkejut melihat seseorang tengah berdiri di dihadapannya.


"Kau mengejutkanku! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Lin Zi yang jantungnya masih berdebar kencang karena terkejut.


"Darimana?" tanya Li Tian dengan ketus.


"Dari apartemenku" jawab Lin Zi tak kalah ketus.


"Dengan Yuan? Kau berkencan dengannya?" tanya Li Tian tak henti mengintrogasi.


"Kencan? Apakah otakmu sudah rusak? Aku memilikimu untuk apa aku berkencan? Sudahlah! Aku malas ribut denganmu!" ucap Lin Zi yang kemudian menyelonong masuk.


"Kenapa malah dia yang marah?" gumam Li Tian dengan menatap sinis punggung Lin Zi yang semakin menjauh.


●●●~~●●●

__ADS_1


Tbc-


__ADS_2