TALES OF RUNETERRA: IONIA

TALES OF RUNETERRA: IONIA
LEE SIN THE BLIND MONK


__ADS_3

Di antara banyak jiwa pendeta Ionians, tidak ada yang kisahnya sehebat sang naga. Meski banyak yang meyakini dia sebagai perwujudan kehancuran, banyak lainnya memandangnya sebagai simbol kelahiran. Hanya sedikit yang mengerti, dan lebih sedikit lagi yang mampu menyalurkan jiwa sang naga, dan tidak ada yang bisa melakukannya sebaik Lee Sin.


Dia tiba di biara Shojin saat masih kecil, dia mengaku sang naga telah memilihnya untuk mengemban kekuatannya. Para pendeta tetua melihat kilatan api di dalam anak berbakat itu, tapi dia juga merasakan kecerobohan, dan musibah yang dapat dihasilkannya. Dengan berhati-hati, mereka menerimanya sebagai murid—akan tetapi, ketika yang lainnya terus maju, para tetua tetap menyuruhnya mencuci piring dan mengepel lantai.


Lee Sin menjadi tidak sabar. Dia ingin mewujudkan takdirnya, dan tak mau menyia-nyiakannya dengan tugas bersih-bersih.


Dia mengendap-endap menuju tampat arsip rahasia, dia menemukan tulisan kuno yang menjelaskan cara memanggil alam arwah, dan dia memilih mengabaikan kemampuannya pada pelajaran bertarung. Dengan gegabah, dia melepaskan amarah naga dengan tendangan yang keras, dia melumpuhkan gurunya. Merasa malu dia diusir akibat kesombongannya, pria muda itu pergi untuk membayar dosanya.


Tahun-tahun berlalu. Lee Sin telah berjalan jauh, ke tempat yang sangat asing, sambil membantu mereka yang membutuhkan. Hingga pada akhirnya dia mencapai, di mana di bertemu Udyr, pria liar yang mampu menyalurkan kekuatan hewan buas dari kampung halamannya. Sang Spirit Walker kesulitan mengendalikan kekuatan yang berada di dalam tubuhnya, dan Lee Sin mulai bingung apakah mengendalikan naga itu bisa dilakukan. Karena sama-sama membutuhkan pengarah spiritual, dua pria itu menjadi dekat, dan dia mengundang Udyr ke perjalanannya pulang.


Mereka kaget mendengar kerajaan Noxus telah menginvasi dan menduduki Ionia. Pendeta dari setiap provinsi telah mundur untuk melindungi biara suci di Hirana, yang berada tinggi di atas gunung.


Lee Sin dan Udyr melihatnya telah terkepung. Pasukan Noxus telah menembus masuk ke aula besar Hirana. Ketika Udyr melompat memasuki pertarungan, Lee Sin merasa ragu, melihat mantan teman-teman dan tetuanya mati akibat pedang-pedang musuh. Kebijakan Hirana, Shojin, bahkan kebudayaan kuno Ionia—semuanya akan hilang.


Tidak memiliki pilihan lain, dia memanggil arwah sang naga.


Pusaran api mulai mengelilinginya, membakar kulit dan matanya. Dengan menggunakan kekuatan besar itu, dia berhasil melumpuhkan para penjajah dengan pukulan dan tendangan beruntun, api liar itu menyala semakin terang dan panas dengan setiap serangannya.


Para pendeta menang, tapi tindakan Lee Sin itu menghancurkan biara, dan dia tidak bisa melihat lagi. Setidaknya, dalam kegelapan itu, dia memahami tidak ada manusia yang dapat seutuhnya menguasai kekuatan sang naga. Hancur, tersiksa, dia mengikat kain menutupi mata butanya dan mencoba turun melalui jalur pegunungan.


Tapi tetua yang berhasil selamat menghentikannya. Dengan melupakan semua keinginan mendapatkan kekuatan, murid yang diasingkan itu akan terlahir kembali. Meski mereka tidak melupakan kesombongannya yang lalu, para pendeta menawarkan jalan penebusan lain: amarah naga memang mematikan dan tidak bisa ditebak, tapi jiwa manusia terkecil dan terbaik dapat melawan sifat apinya, dan mengarahkannya seiring waktu.


Merasa bersyukur, Lee Sin tetap tinggal bersama para pendeta untuk membangun kembali biara itu, dan setelah tugas itu selesai dan sang Spirit Walker kembali ke Freljord, Lee Sin mengabdikan hidupnya mencari pencerahan.


Bertahun-tahun sejak perang melawan Noxus berakhir, dia terus bermeditasi di Ionia. Dia memahami kampung halamannya belum menghadapi ujian terakhir, Lee Sin harus menguasai diri, dan arwah naga di dalam dirinya, untuk menghadapi musuh apa pun yang datang.


SEMUA KILAUAN ITU...


Akar-akar tua, pepohonan yang kusut dan tanaman menjalar berdaun lebat melilit bebatuan dimana semuanya menutupi jalan menuju hutan yang lebat. Tiga lelaki berkeringat menebas tumbuhan yang mereka temui di perjalanan, didorong oleh keserakahan dan mimpi akan harta yang belum terjamah. Enam hari berlalu dan hutan itu menyulitkan mereka, namun sekarang mereka menemukan sebuah kuil yang mencuat di balik semak-semak. Bagian depannya merupakan singkapan batu besar yang berukir, dengan tumbuhan berwarna merah dan biru yang tersebar di dasarnya. Patung-patung berceruk keemasan dan karangan bunga anggrek emas melingkari bagian atasnya.


“Kau lihat, Horta?” kata Wren. “Bukankah sudah kami beritahu bahwa kuil itu benar-benar ada?”


“Asalkan harta karun yang ada di dalamnya benar-benar nyata,” kata Horta, melemparkan golok yang tumpul dan mengangkat pedang yang baru diasah. “Kalian berdua mempertaruhkan nyawa demi itu, ingat?”

__ADS_1


“Jangan khawatir, Horta,” kata Merta, dengan batuk yang serak. “Kau pasti mampu membeli istana milikmu sendiri selepas dari sini.”


“Sebaiknya begitu,” kata Horta. “Sekarang angkat pedang kalian. Bunuhlah siapapun yang menghalangi kita.”


Ketiga bandit itu menghampiri kuil, dengan senjata yang berkilauan terkena cahaya matahari terbenam. Horta melihat ujung pedangnya belum tajam dan diasah; setiap ujungnya nampak melengkung. Seraya memasuki kuil, mereka melewati bagian yang diapit dua Whipwillow Ionia yang megah, dengan batang yang membentuk jalan masuk, ditutupi kulit pohon yang begitu putih seolah dicat.


“Mengapa tak ada penjaga?” tanyanya, seraya melangkah masuk.


Pertanyaannya tak terjawab seraya matanya membiasakan dengan suasana ruangan sendu yang menyatu dengan batu. Atap yang melengkung dihiasi ukiran timbul, dan tiap dinding berkilau dengan pecahan kaca berwarna yang membentuk mosaik pemandangan cerah yang kaya akan cahaya dan kehidupan. Lempeng tablet putih yang berukirkan pengisahan cerita Shojin kuno diletakkan di pilar perunggu ukir, dan berhala hitam pekat berhiaskan batu permata berdiri tegap di ceruk yang terendam. Patung dewa-dewa kesatria, yang berlapis emas, menatap ke bawah dari alas tiang porfiri dan giok.


Horta menyeringai. “Ambil. Ambil semua.”


Wren dan Merta mengangkat pedang mereka dan membuka tas. Mereka mulai mengisinya dengan semua yang bisa dijangkau: patung, berhala dan batu permata, diiringi kegirangan seraya mereka menyeret harta karun di belakang mereka. Horta mengelilingi ruangan itu, sudah merencanakan kematian mereka saat kembali ke peradaban, saat dia menyadari salah satu patung mulai bergerak.


Awalnya, dia mengiranya sebagai berhala biarawan kesatria yang berwarna, yang duduk dengan kaki bersila dan tangan yang disandarkan di lututnya. Sosok tersebut mulanya memunggungi Horta, namun sekarang pria itu berdiri dan membalikkan badan begitu cepat selincah ular. Ramping dan berotot, dia mengenakan celana panjang longgar dan bandana merah di sekeliling matanya.


“Ternyata memang tidak benar-benar kosong,” kata Horta, melemaskan jemarinya di gagang pedangnya yang terbuat dari kulit. “Bagus. Aku berharap bisa menebas seseorang.”


Sang biarawan memiringkan kepalanya ke samping seolah mendengar suara yang bisa didengarnya dan berkata, “Tiga laki-laki. Satu berparu-paru rusak, satu lagi memiliki jantung lemah yang tak akan bertahan hingga tahun depan.”


“Ada masalah di tulang belakangmu,” kata sang biarawan. “Itu membuatmu kesakitan di musim dingin dan memaksamu mengandalkan tubuh bagian kiri.”


“Siapa kau, seorang peramal?” tanya Horta, menjilat bibirnya dengan gugup.


Sang biarawan mengabaikan pertanyaan itu dan berkata, “Namaku Lee Sin.”


“Apakah nama itu berarti sesuatu?” tanya Horta.


“Aku memberi kalian satu kesempatan untuk mengembalikan apa yang kalian ambil,” kata Lee Sin. “Lalu tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali.”


“Kau tak berhak menuntut apa-apa, temanku yang buta,” kata Horta, menyeret ujung pedangnya di lantai batu. “Ada kami bertiga dan kau sendiri bahkan tak memiliki senjata.”


Wren dan Merta tertawa gugup, menyadari kepercayadirian sang biarawan walaupun tidak unggul dalam hal jumlah. Horta memberi tanda dengan tangannya yang bebas, dan kedua rekannya bergerak untuk mengapit biarawan itu, mengangkat pedang melengkung masing-masing dari sarung kulit.

__ADS_1


“Ini adalah tempat yang suci,” kata Lee Sin, menghela nafas. “Tidak boleh dinodai.”


Horta mengangguk pada kedua temannya. “Lepaskan orang buta ini dari penderitaan.”


Wren melangkah maju. Lee Sin bergerak sebelum kakinya menapaki tanah. Sang biarawan berpindah dari benar-benar diam menjadi mengeluarkan pergerakan kabur dalam sekejap mata. Dia mengayun lengannya dan ujung keras dari lengannya mengenai leher Wren. Tulangnya retak dan bandit itu tumbang, lehernya terpelintir dengan sudut yang tak biasa. Lee Sin bergerak mengayun ke samping saat Merta menebaskan pedangnya. Serangannya cukup liar, dan ayunan mundurnya melewati kepala Lee Sin. Sang biarawan menjatuhkan diri, berputar seraya mengayun tulang keringnya dan menyapu kaki Merta dari bawah. Sang bandit pun terjatuh, senjatanya terlepas ke lantai berubin. Lee Sin lompat berdiri dan menghantamkan tumitnya ke arah tulang dada Merta.


Merta mengerang kesakitan merasakan tulang dadanya yang retak dan remukan tulangnya menyentuh jantungnya yang lemah. Batu permata curian jatuh berhamburan dari tasnya seraya matanya terbelalak kesakitan dan dia terengah-engah layaknya ikan yang terdampar di daratan.


“Gerakanmu gesit untuk seorang biarawan,” kata Horta, menebaskan udaranya ke udara dengan pergerakan yang begitu cepat. “Tapi aku mahir menggunakan pedang.”


“Kau yakin bisa cukup cepat?” tanya Lee Sin.


“Aku dilatih oleh ahli pedang terbaik, jadi kau tak akan bisa mengalahkanku dengan mudah seperti dua idiot itu,” kata Horta, mengangguk ke arah jasad mantan rekannya.


Lee Sin hanya diam seraya mereka mengelilingi satu sama lain. Horta mengawasi seraya sang pria buta menerka setiap gerakan. Langkah sang biarawan itu mengalir dan luwes, dan Horta merasa firasat buruk bahwa setiap detik yang berlalu semakin mengungkapkan kemampuan dirinya di hadapan lawannya.


Dia berteriak dan menerjang ke arah sang biarawan, menyerang dengan rangkaian tebasan dan terjangan yang sulit dilihat. Lee Sin bergerak menyamping, layaknya pohon muda yang tertiup angin seraya mengelak, menangkis dan menjauh dari serangan membabi-buta Horta. Ayunan pedangnya begitu teratur, sehingga memaksa Lee Sin untuk mundur menghindari serangan. Sang biarawan bahkan belum mengucurkan keringat. Mulutnya yang tak bergerak, matanya yang ditutup dan penghinaan yang dilontarkannya membuat Horta kesal.


Dia mengumpulkan tenaga untuk satu serangan terakhir, mengeluarkan setiap ilmu yang didapat dari latihan, serta amarah dan kekuatan yang bisa dikerahkan. Pedangnya memotong udara di sekitar sang biarawan, namun tak pernah membuat kontak.


Lee Sin berputar terakhir kali dan menekukkan lutut, mengencangkan tubuh.


“Kau punya kecepatan namun kemampuanmu tak seberapa,” katanya, ototnya berdetak di balik kulitnya, “namun amarah telah merasuki pikiranmu. Kemarahan itu mengendalikanmu dan akan menuntunmu ke kematianmu.”


Horta merasakan udara di ruangan itu betambah hangat seraya aliran energi menyatu di sekitar Lee Sin. Gemuruh angin mengelilingi sang biarawan dan Horta mundur ketakutan, pedangnya lepas dari genggamannya. Lee Sin gemetaran, seolah bertarung untuk mengendalikan energi yang lebih kuat dari yang bisa dia kuasai. Ruangan itu bergema dengan suara angin yang membesar.


“Kumohon,” kata Horta. “Aku akan mengembalikannya. Aku akan mengembalikan semuanya!”


Lee Sin melompat, didorong oleh dentuman energi angin. Kakinya menghantam dada Horta, mementalkannya ke belakang. Horta terbentur dinding dan batu permukaannya retak. Dia pun jatuh terkulai lemas ke lantai, semua tulang di punggungnya hancur layaknya pot pecah.


“Kau punya kesempatan untuk menghindari ini, tapi kau membuangnya,” kata Lee Sin. “Sekarang kau harus menanggung akibatnya.”


Penglihatan Horta mulai pudar seraya kematian menghampiri, namun tidak sebelum melihat Lee Sin kembali ke posisi asalnya. Badan sang biarawan memunggunginya, dan, saat dia meregangkan tubuhnya, pusaran angin energi mematikan yang mengelilinginya mulai lenyap.

__ADS_1


Lee Sin menundukkan kepala memberi salam dan melanjutkan meditasinya.


***


__ADS_2