TALES OF RUNETERRA: IONIA

TALES OF RUNETERRA: IONIA
IVERN THE GREEN FATHER


__ADS_3

Ivern Bramblefoot, dikenal oleh banyak orang dengan sebutan the Green Father. Dia adalah sosok setengah manusia dan setengah pohon yang berpetualang di hutan yang ada di Runeterra, dengan membawa kehidupan di setiap tempat yang dia tuju. Dia tahu tentang rahasia alam, dan sangat bersahabat dengan semua hal yang tumbuh, terbang, dan juga Scuttle. Ivern berjalan di alam liar, menanamkan kebijaksanaan yang cukup aneh pada semua hal yang dia temui, memperkaya isi hutan, dan terkadang bercerita tentang rahasianya kepada kupu-kupu yang dia temui.


Dulu di daratan Freljord, Ivern adalah seorang ksatria dengan hati baja serta semangat yang gigih. Akan tetapi dia tetap tidak berdaya ketika peristiwa Iceborn terjadi yang membuat mahluk yang fana ini tidak bisa melawan keinginan mereka. Dia ditunjuk oleh para saudaranya untuk memimpin sebuah pasukan kejam yang berpetualang ke pelabuhan membeku bernama Frostguard, yang berdasarkan legenda terdapat sebuah kekuatan sihir yang jika mampu dia kuasai dia akan mampu melawan kekuatan Iceborn. Dengan garis horizon yang sudah menggantung di cakrawala, mereka berlayar menuju mitos dan tidak pernah terlihat lagi, dikisahkan hilang oleh salju musim dingin dalam cerita orang-orang Freljord.


Laut adalah hal yang harus mereka lawan untuk mencapai tujuannya, ombaknya menghantam keras seperti pukulan ke arah dagu. Bahkan lelaki paling berani pun akan takluk. Ivern, setelah berhasil terselamatkan dari mereka para pengecut, berhasil mendarat di sebuah daratan di daerah Ionia bersama armadanya dan membasmi warga setempat untuk diambil tempat tinggalnya. Orang-orang Ionia menyerah, dan menuntun para prajurit tersebut menuju tempat yang dikenal dengan nama Omikayalan, the Heart of the World. Orang-orang Freljord banyak mengira bahwa ini adalah harta yang berhasil mereka dapatkan dengan merebut wilayah musuh, sebuah bukti dari kesetiaan. Tapi di sana, di sebuah kebun luas, mereka harus mati tak bersisa.


Sebuah musuh misterius muncul. Mahluk itu adalah Chimera, setengah manusia setengah hewan, mengintai pasukan itu, dan dengan liarnya menghabisi mereka tanpa sisa. Tak mampu melawan, Ivern berjuang dengan mengorbankan pasukannya, dan berhasil menemukan apa yang para rakyat Ionia sembunyikan: the God-Willow, sebuah pohon besar, yang dihiasi oleh daun megah yang bersinar hijau keemasan. Sementara pasukannya dibantai habis, Ivern berdiri terpaku pada pohon tersebut. Mencoba untuk berbuat sesuatu, dia mengambil kapaknya dan diayunkan ke arah pohon tersebut dengan sekuat tenaga. Dia tidak merasakan apapun. Tapi terdapat sebuah cahaya yang menyilaukan ketika dia menumbangkan the God-Willow dan menghancurkan semua kehidupan yang ada di dalamnya.


Apa yang terjadi selanjutnya bahkan lebih aneh lagi. Tangannya berubah dan menjadi satu kapak perang yang dia gunakan tadi serta kayu-kayu dari pohon the God-Willow. Tubuhnya memanjang, menjadi kurus lantang. Dia berdiri tak mampu berbuat apa-apa lagi seiring dengan bagian tubuh lainnya ikut berubah. Dalam beberapa saat, dia bertinggi sepanjang sepuluh kaki, dan melihat jauh ke bawah ke arah mayat pasukannya. Dia tidak bisa lagi merasakan jantungnya memompa darah ke seluruh tubuhnya, tapi dia masih tetap hidup.


Dia tiba-tiba mendengar suara dari dalam dirinya. “Lihatlah,” katanya.

__ADS_1


Dalam hitungan detik, tubuhnya dipenuhi oleh banyak jamur dan juga dihinggapi serangga. Dagingnya dikerubuti oleh burung dan sebangsanya. Tulangnya membusuk menjadi tanah yang subur, dan benih dari buahnya dimakan oleh para penakluk bertunas dan tumbuh menjadi pohon dengan buah mereka sendiri. Gelombang naik dan turun, seperti paru-parunya diisi lembut oleh nafas. Daun dan kelopaknya menyerupai jantung dengan banyak sekali warna. Dari kematian yang semula dia takuti, sekarang kehidupan muncul meledak dengan cara yang sulit dipercaya.


Ivern tidak pernah terlihat seindah ini. Kehidupan, dalam semua bentuk yang ada, sekarang hinggap dalam satu hal dan terlihat tidak bisa dipisahkan. Dia berkaca pada kesalahan yang dia buat, kekejaman yang dia lakukan terlihat dalam bayangannya, dan merasakan ketakutan yang sangat mendalam. Dia menangis, menetes membasahi tubuh pohonnya. Apakah sekarang aku the God-Willow? Dia berkata dalam hati.


Kemudian suara dari dalam diri Ivern berbisik lagi. “Dengarlah,” katanya. Diapun mendengarnya.


Pertama, dia tidak mendengarkan apapun. Tapi kemudian: Rintihan dari binatang yang tak terhitung jumlahnya, tangisan sungai, dan lolongan pohon serta tetesan air mata lumut. Mereka menyesalkan kematian the God-Willow dalam sebuah simfoni kesedihan. Penyesalan itu telah membasuh Ivern, dan dia pun menangis menyesal meminta maaf. Muncul seekor rubah kecil di bawah kakinya. Dia merasakan kehadiran binatang di sekitarnya. Tumbuhan juga ikut meraihnya lewat akar mereka. Tatapan alam ini mengarah kepadanya, dan dia merasakan hangatnya pengampunan.


Kemudian suara itu muncul untuk yang ketiga kalinya. “Tumbuhlah,” katanya.


Hal itu membuatnya bertanya-tanya. Apakah dia benar-benar harus tumbuh dengan sendirinya atau membantu dunia ini untuk tumbuh? Sampai akhirnya dia memutuskan dia akan melakukan keduanya; lagipula, jika bisa menumbuhkan hal lain, mengapa tidak? Ivern melihat dirinya sendiri, kulit pohonnya, jamur yang ada di tangannya, serta keluarga tupai yang tinggal di tubuhnya. Tubuh barunya ini mengejutkannya. Dia menyadari bahwa dia bisa menggali tanah dengan jempolnya yang menyerupai akar.

__ADS_1


Ivern bertekad untuk memulai semuanya dengan baik dan dia mulai mempelajari bagaimana kehidupan dunia ini. Dia membutuhkan ribuan tahun lamanya untuk melakukan hal tersebut. Bahkan dirinya tidak yakin tepatnya berapa tahun karena seseorang akan lupa waktu ketika melakukan hal yang dia senangi. Dia berjalan di seluruh penjuru dunia dan menghadirkan rasa kekeluargaan pada apapun yang dia temui. Ivern mempelajari kelemahan mereka, senang dengan kebiasaan kecil mereka, dan kadang-kadang bersedia membantu apapun untuk mereka. Dia mau memperpendek sebuah terowongan cacing, bertukar candaan dengan brambleback, memeluk elmark bertanduk hingga dia tersenyum, serta tertawa terbahak-bahak bersama jamur keriput tua. Kemanapun Ivern pergi, hutan selalu mekar dan para binatang juga terjebak dalam kedamaian.


Pernah sekali dia menolong binatang yang terluka parah oleh serangan predatornya. Dia bertemu dengan Golem batu yang tengah berdarah-darah. Melihat bahwa binatang tersebut sedang berada di ambang kematiannya, dia rela memberikan jantung baru dari sebuah kerikil sungai. Sesama mahluk mineral, golem tersebut akhirnya menjadi teman sejati Ivern. Dia menamainya Daisy, karena banyak bunga indah yang tumbuh di sekitar badannya. Hari ini, jika Ivern terancam, Daisy akan hadir di sisinya.


Terkadang, dia bertemu dengan sekelompok manusia, banyak di antara mereka yang cinta damai. Mereka memanggil Ivern dengan sebutan Bramblefoot atau the Green Father dan banyak bercerita tentang legenda yang mereka dengar tentang Ivern. Tapi apa yang mereka ambil lebih banyak dari apa yang mereka berikan, mereka bisa menjadi kejam dan menjadi seperti manusia jahat lainnya, membuat Ivern bergegas menjauhkan diri dari mereka.


Hingga akhirnya muncul suara keempat kalinya.


“Tunjukkanlah,” katanya.


Ivern meninggalkan tempatnya di hutan rimba, dan berpetualang bertemu manusia yang menyelimuti dunia ini. Tekad yang dia kerjakan terkadang terbalaskan, tapi kali ini bukan dikendalikan oleh kekejaman atau kebencian. Suatu hari, dia berharap mampu mengembalikan apa yang dia ambil dulu. Jika dia memang dijuluki sebagai the God-Willow yang baru, dia harus menumbuhkan rasa kemanusiaan, membantu mereka dengan mengawasi, mendengar, dan tumbuh. Ivern paham bahwa menjadi manusia sangatlah sulit, jadi dia tersenyum dan menantang dirinya sendiri untuk menyelesaikan tugasnya sebelum matahari benar-benar tenggelam selamanya. Dia tahu bahwa dia punya cukup waktu.

__ADS_1


***


__ADS_2