TALES OF RUNETERRA: IONIA

TALES OF RUNETERRA: IONIA
RAKAN THE CHARMER


__ADS_3

Lincah dan menawan, Rakan adalah seorang bangsa Vastaya yang terkenal sebagai biang onar serta penari handal dari suku Lhotlan. Untuk para manusia di Ionia, namanya disimbolkan sebagai sebuah festival liar, pesta yang tidak terencana, dan juga musik anarkis. Beberapa orang mungkin ada yang mengetahui bahwa dia adalah pasangan dari sesama bangsa Vastaya lainnya, Xayah, dan bersamanya, mereka berdua mencari satu tujuan yang sama.


Sebagai sebuah situs terakhir jembatan antara sihir dengan dunia, Lhotlan terletak di pedalaman hutan Ionia. Itu adalah tempat di mana sihir dihirup seperti udara dan semuanya terasa biasa saja. Sihir di sana sangatlah tipis. Untuk makhluk Chimeric ini, dunia fana ini adalah sebuah gurun pasir yang tidak mengenal ampun, dan akan hampa tanpa adanya sihir. Banyak sekali orang dari sukunya berkelana jauh, tapi Rakan sudah lama berjalan dalam risiko besar. Sebagai seorang petualang, dia sudah menjelajahi ujung dunia, menemukan tempat yang penuh dengan sihir, dan ingin memberi tahu sukunya untuk datang kemari.


Menjalani pekerjaannya sebagai seorang penghibur, dia memiliki sebuah pertunjukkan di sebuah festival di desa. Setidaknya, saat itu Rakan sudah merasa puas dengan apa yang sehari-hari dia jalani… sampai akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk bertemu Xayah di sebuah festival di kota Vlonqo.


Rakan melihat Xayah di keramaian. Rakan pada saat itu sedang memainkan sebuah lagu Vastaya tua, dan semua penonton yang ada ini begitu terhanyut dalam suasana ketika mendengarnya. Meskipun sudah banyak wanita dari kalangan Vastaya dan manusia yang jatuh cinta padanya, wanita yang dia lihat ini terlihat tidak mempan dengan semua rayuannya. Bagaimana mungkin ada orang yang melihatku namun tidak tertarik padaku? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.


Tak tahu harus ke mana, Rakan mengikuti ke mana Xayah pergi. Dia kagum dengan bagaimana Xayah berinteraksi dengan dunia ini. Dia terlihat seperti orang yang selalu memiliki rencana, fokus, ramah, namun begitu sembrono dalam sebuah pertarungan. Tapi dengan kehadiran mereka satu sama lain, mereka sama-sama berjuang dalam harmoni yang luar biasa padu. Tak lama, merekapun tak terpisahkan.


Setelah berbulan-bulan bersama, Rakan mulai melihat dunia yang selama ini Xayah lihat. Terinspirasi oleh kekasihnya itu, dia juga bertekad untuk membawa kembali kejayaan yang dimiliki oleh Vastaya, dan membayar apa yang telah selama ini orang-orang Vastaya perjuangkan.


Rakan sudah menemukan tujuan dan cintanya pada diri Xayah.


... NOTHING RHYMES WITH TUBEBOW...


“Dua jalan mengarah ke benteng kuil dari desa di bawahnya,” Xayah memulai.


Aku mengikuti matanya dan melihat sepasang tangga emas yang menurun dari kuil gunung ke rumah pertanian di bawah. Setiap rumah kayu itu mungkin berisi keluarga lengkap di dalamnya. Di sana, manusia lahir, mati, dan—yang terpenting—menciptakan lagu baru.


Mungkin dengan harpa dan drum. Mungkin suling? Aku harus membuat suling dari alang-alang nanti. Pertama-tama, aku harus membersihkan jubahku. Apa aku sudah membersihkan bulu-buluku? Kota di bawah pasti memiliki penginapan. Sebotol wine pasti sangat menyenangkan sekali untuk saat ini.


“Rakan…” kata Xayah.


Sial. Dia sedang mengatakan rencananya. Aku kembali fokus pada wajahnya, pada senyum anehnya. Cahaya terakhir matahari terbenam memantul di matanya. Aku suka bulu matanya. Aku ingin—


“Coba ulangi lagi.”


Sesuatu di kuil. Dia… Uh…


“Aku berkumpul denganmu di…” kataku, tapi aku sudah salah. Aku menarik satu dari bulu di kepalaku, dengan harapan bisa mendapat ide dari itu.


Kilauan cahaya mengkilat dari bawah bibirnya. Apa bibirnya berwarna ungu hari ini? Kemarin warna violet.


“Mereka akan membunuhku jika menangkapku,” katanya.


Pemikiran itu membuatku kaget. Aku merasakan wajahku terpelintir. “Siapa?!” tanyaku.


“para penjaga,” balasnya. ”Selalu saja penjaga.”


“Maka aku akan mengecoh mereka! Kapan?”


Dia menunjuk ke langit. “Lihat cahaya hijau sebelum matahari terbenam. Lalu pancing penjaga menjauhi dinding barat saat ku berlari ke arah sel.”


“Aku membuat kekacauan saat matahari terbenam,” kataku. “Kita bertemu di mana?”


“Di gerbang. Aku akan melempar pisau emas ke angkasa. Tapi kau harus ada di sana dalam sepuluh napas,” kata Xayah, sambil menarik bulu dari jubahku.


“Aku akan berada di gerbang saat kau melempar pisau itu,” kataku. Tidak ada yang seyakin itu dalam hidupku.


“Aku tahu.”


Dia mengangguk, dan mulai menceritakan padaku jalur teraman untuk diambil. Dia membuat rencana, karena itu aku tahu dia akan baik-baik saja. Wow, langit hari ini indah. Awan itu berbentuk seperti terung. Aku pernah melihat bentuk anjing…


aku tidak jalan ini. Tidak suka sama sekali. Daun emas yang menutupi batu itu hampir sama seperti warna buluku. Ini menyebalkan. Aku sempat berpikir untuk mengubah warnanya, tapi itu akan membutuhkan sihir. Sial, aku tidak boleh lelah saat dia membutuhkanku. Xayah mungkin mengirimku ke arah ini karena menyadari warna buluku akan tersamar di sini. Jubah merah akan terlihat lebih baik untuk rencana ini. Mungkin warna indigo? Bagaimana di sudut ini?


Jalan setapak lainnya. Hanya manusia yang memotong batu menjadi bentuk rata untuk membuat gunung jadi membosankan! Aku harus mendaki tebing itu. Xayah bilang ambil jalan ini… aku yakin sekali.


Aku memungut beberapa batu dan mulai melakukan Juggling. Aku mendengar suara sihir dari arah utaraku, di dalam akar-akar Lhradi Forest.


Lagu hutan itu menemukan jalan ke kepalaku, dan aku mulai menyanyikannya.


“Apa itu tadi?” suara gema dari atas.


Jalur masuk! Seorang penjaga manusia muncul. Pakaiannya segelap bayangan.


“Siapa kau?” katanya.


“Aku Rakan!” balasku. Bagaimana mungkin tidak ada yang tahu itu?


“Siapa?”


aku tidak menyukainya. Aku lebih membencinya dari jalan setapak.


“Aku Rakan! Sang Battle-Dancer dari suku Lhotlan. Aku adalah sang lagu pagi. Aku adalah dansa di tengah bulan malam. Aku adalah pesona yang—”


“dia penghibur Vastaya itu,” sela penjaga lain. Dia juga mengenakan pakaian membosankan—pakaian yang belum pernah kulihat di area ini sebelumnya.


Penjaga pertama mengenakan kalung emas di dadanya. Aku mencurinya.

__ADS_1


“Hei!”


“Apa ini?” tanyaku. Dia tidak pantas memiliki ini. Apa pun ini.


Dia menggapainya, tapi aku berputar dan tanganku yang lain masih melakukan Junggling batu tadi.


“Berikan padaku!”


Aku melempat setiap batu itu ke wajahnya.


“Tidak,” kataku. Lalu, sebaik mungkin, aku bertanya, “Apa ini penting?”


Dia mengeluarkan sepasang pedang berpengait. Aku mengambil satu sebelum dia sempat mengangkatnya.


“Buka gerbangnya, lalu akan kuberikan benda… uh… berkilauan ini,” kataku sambil memutar kalung itu di telapak tanganku, lalu memutarnya di tanganku.


Tapi, si bodoh itu malah mengayunkan pedang ke arahku! Aku memutar serangannya, dan mendarat di belakangnya. Dia berbalik untuk menebas lagi. Aku meluncur di bawah pedangnya, menggunakan bagian depanku untuk mendorongnya. Dia tarjatuh di jalan setapak sambil berteriak.


Penjaga satu lagi melihat temannya yang berguling menjauh, kemudian dia melihatku. aku menggelengkan kepalaku padanya.


“Sungguh, bagaimana bisa seseorang tidak mengenalku?”


Penjaga ini menusukku dengan tombaknya. Aku berputar ke arahnya, menutupnya dengan jubah buluku untuk sesaat. Karena tidak bisa melihat, dia tersandung lalu jatuh. Dia jatuh di atas perisai dan meluncur ke bawah tangga dengan suara berisik. Hingga dia menabrak temannya yang jatuh lebih dulu.


Tabrakan itu membuat mereka terjatuh. Aku tertawa. Sekarang aku punya jalan ini.


“Kau pedansa yang buruk,” saat aku melihat jubahku yang kotor.


Dua orang yang terjatuh itu, menatapku.


“Kalian tidak apa-apa?” tanyaku, yang berterima kasih atas hiburan itu.


Mereka berteriak sambil berlari menaiki jalan setapak. Dasar tidak tahu diuntung.


Aku melompat menjauhi mereka dan bertanya, “Ingin tahu perbedaan sebuah pesta dan perkelahian?”


Mereka terus menerus menebas dengan senjata mereka.


“Satu adalah hari yang menghibur,” kataku saat mengembalikan mereka ke bawah tangga. “Yang lainnya… lebih pendek.”


Suara gong yang memekakkan telinga terdengar di belakangku. Aku tersenyum. Bagian menyenangkannya baru saja dimulai.


Lari melewati ruang tidur mereka adalah ide yang buruk. Akan tetapi, aku jadi sempat menyegarkan diri.


Beberapa orang menggunakan busur silang yang aneh. Mereka menembak melalui sebuah tabung. Mereka mempunyai nama. Aku akan menamakannya tubebow. Tembakan mereka meledak di sekitarku, menciptakan lubang di dinding saat aku meninggalkan ruang itu.


Aku meluncur ke halaman, berputar untuk menampilkan keindahan. Gerbangnya terbuka. Aku bisa saja lari, tapi Xayah membutuhkan aku.


Bersembunyi di sebuah ceruk, seorang penjaga menyerangku dengan tubebow yang besar. Atau bowtube nama yang lebih baik? Dia menarik pelatuknya. Aku melompat ke arahnya, melompat di atas tembakannya.


“Apa rima yang bagus untuk tubebow?” Tanyaku keras-keras.


Aku menendang penjaga itu ke udara. Saat dia terjatuh, aku berputar dan mendekatkan tanganku ke dagunya. Suara itu lebih keras dari senjatanya.


“Oh, slap!” kataku, meniru suara yang terjadi. Manusia itu terjatuh, sambil menarik sebuah pedang pendek. “Bagaimana mungkin kau tidak menerima pesannya?!”


Apa aku bisa menemukan dapur. Pasti di sana ada cokelat.


Cahaya di langit berubah. Aku melompat ke belakang untuk melihat lokasi matahari lagi. Dia sudah menghilang ke belakang perbukitan, dan sebuah cahaya hijau menyala di atasnya.


“Waktunya berpesta!” kataku. Kini, seluruh isi kastil itu mengejarku.


“Menyerahlah!” kata seorang penjaga yang mengenakan topi logam.


“Tidak! Aku sedang mengecohmu!” kataku. Dia melihatku sambil kebingungan. Berikutnya aku akan menamparnya.


Sebuah hujan panah meluncur dari sisi lain dinding. Aku melewatinya, sambil menikmati suara siulan panah-panah itu saat melewatiku.


Apa aku akan terlihat tampan dengan topi logam itu?


Pisau emas itu melayang di udara untuk sesaat sebelum terjatuh. Xayah sudah siap untuk pergi.


Aku mengambil napas pertama. Dia bilang aku punya sepuluh, tapi empat saja sudah terlalu lama. Aku harus tahu dia aman.


“Ingin melihat gerakan keren?” Aku bertanya pada manusia terdekat.


Dia tidak terlihat antusias. Aku berguling melewati kelompok itu dan muncul di belakangnya. Dia berputar tepat waktu untuk bertemu dengan jubahku. Buluku memutarnya di udara seperti sebuah gasing. Dua belas putaran adalah rekorku, tapi itu di atas bukit.


Napas kedua. Manusia itu menghantam tnaah setelah sembilan kali rotasi. Sial. Aku tidak punya waktu untuk mencobanya lagi.

__ADS_1


Napas ketiga. Aku harus kembali ke tempatku yang seharusnya, kembali pada Xayah.


Aku melompati kerumunan, lalu mendarat di atap ke arah gerbang.


Aku mengambil napas keempat di udara.


Xayah berlari ke arah gerbang dengan juloah yang mewah—dia berambut sedangkan kami memiliki bulu berwarna. Itu pasti dari suku Sodjoko. Terlihat terlalu formal, tapi aku suka rambut lebat yang menjuntai di belakang lengan bawahnya. Aku harus membuat bulu seperti itu. Sarong tetua sepertinya ide yang buruk.


“Kita tidak akan berhasil,” katanya. “Mereka memiliki senapan!”


“Maksudmu tubebow?” kataku.


Akunir menatapku tajam.


“Itu sudah kehabisan peluru,”kataku. “ Xini longbow itu juga.”


“Apa?! Bagaimana bisa?”


“Aku Rakan,” kataku. Aku sudah mengira pertanyaan itu dari manusia, tapi dari kaumku sendiri?


“Kalian semua, lari ke pepohonan,” kata Xayah.


Lusinan pria, tertutup tapung dan cokelat, berlarian ke luar dari ruang penjaga. Tercampur dengan telur, mereka akan menjadi sesuatu yang bernama ‘kue.’ Tapi Pai lebih enak…


“Lari!” kata Xayah. Ketika sang juloah tua tidak bisa bergerak, aku menariknya.


Coll berlutut di samping tubuh penjaga itu. Dia dan Xayah berdoa agar jiwanya menemukan lahan kami. Salah satu tandunya patah, darah menggenang di sekitarnya. Coll melepaskan panah terakhir di mayatnya. Dia membawanya kemari, bahkan setelah manusia melukainya.


Juloah ini tidak seharusnya mati. Seseorang mencintainya. Mereka akan menyanyikan lagunya. Tapi hanya keheningan yang akan menjawab.


Mataku membengkak akibat air mata. Perlahan, aku menyanyikan kematiannya, dan untuk keluarganya.


Xayah berdiri dengan tangannya yang mengepal. Dia tidak akan berduka sekarang. Tapi, rasa sakit itu akan menemukannya malam ini saat dia mengira aku sudah tidur. Itulah caranya. Aku akan menciumnya untuk menghilangkan kesedihannya.


Si konsultan itu bernama Akunir. Dia mungkin adalah seorang Battle-Dancer ketika muda. Dia dan Xayah mulai bertengkar tentang politik.


Coll mencium kening penjaganya. Rahangnya tertutup rapat. Dia lebih marah dari Xayah. Dia menatap suaminya, Akunir. Dia telah terlalu lama menunggunya untuk mendengar.


“Aku akan kembali ke utara, Akunir,” kata Coll saat berdiri. “Aku akan memberi tahu mereka yang manusia lakukan pada kita.” Tangannya sekaku ranting pohon, terlipat di sampingnya.


“Coll, jangan,” protes Akunir.


“Aku akan menyampaikan nasib Jurelv pada keluarganya, dan berduka bersama mereka,” katanya. Itu pasti nama penjaga itu. Mungkin dia baik. Aku suka garis senyuman di sisi wajahnya. “Maka, aku akan mengumpulkan senjata dan menyiapkan suku untuk berperang.”


“Kau tidak boleh melakukan itu!” kata si konsultan.


“Aku menarik klaimku padamu. Aku menarik klaimmu padaku,” katanya dingin.


Akunir terlihat seorang telah ditikam. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi? Atau di hutan? Atau di samping penjaga yang mati itu? Itu telah ditentukan sejak lama. Berbulan-bulan lalu.


“Coll… kumohon.”


“Tidak,” balasnya. Dia bergerak untuk menggenggamnya. Aku menghadangnya.


“Aku akan bicara dengan temanku,” katanya.


Aku bisa mencium napasnya di daguku. Dia baru saja makan buah guloo. Hidungku hampir menyentuh dahinya. Dia menatapku.


Aku menggelengkan kepala. Aku tidak perlu bicara. Untuk hal ini, keheningan lebih baik.


Dua penjaganya yang lain terlihat tegang. Mereka tidak ingin berdansa denganku. Aku Rakan. Mereka mengetahui namaku. Mereka memandang ke arah Xayah dengan gugup yang sedang menggenggam pisaunya. Mereka juga mengetahui namanya.


“Terima kasih, Xayah,” kata Coll sebelum pergi menjauh.


Akunir dan penjaganya melihatnya pergi. Tanpa kata-kata, mereka pergi ke arah selatan, meninggalkan kami sendiri.


Aku bergerak mendekati Xayah. Aku merasakan kesedihannya untuk Jurelv, Coll, dan Akunir. Aku akan minum wine malam ini. Kemudian menyanyikan lagu yang kasar.


“Berjanjilah sesuatu seperti itu tidak akan terjadi di antara kita, mieli,” katanya.


“Kita berbeda dengan mereka, miella. Kita tidak akan seperti mereka,” balasku. Aku bisa merasakan kekhawatirannya. Dia lebih pintar dariku dalam banyak hal, tapi terkadang bodoh tentang cinta.


“Sekarang ke mana, Xayah?”


“Di sini saja lebih lama lagi untuk sementara.”


Aku membungkusnya dengan jubah dan tanganku. Aku akan menggelitiknya nanti. Kami akan tertawa dan minum bersama. Dia akan membuat rencana dan aku akan bernyanyi. Aku merasakan pipinya di dadaku. Aku senang Xayah membutuhkanku saat ini.


“Ulangi lagi padaku,” katanya.

__ADS_1


“Kita berbeda dari mereka,” kataku lagi. “Kita berbeda dari mereka.”


__ADS_2