TALES OF RUNETERRA: IONIA

TALES OF RUNETERRA: IONIA
WUKONG THE MONKEY KING


__ADS_3

Wukong adalah bangsa Vastaya yang gemar menggunakan trik sebagai kekuatannya, serta kecepatan dan kecerdasan untuk mengungguli musuhnya. Setelah menemukan teman sejati pada sosok pejuang yang dikenal dengan nama Mastery Yi, Wukong menjadi murid terakhir dari bela diri Wuju. Dengan membawa sebuah tongkat sakti, Wukong bertugas untuk menjaga Ionia dari kehancuran.


Di Ionia, terdapat sebuah suku Vastaya yang dikenal dengan nama Shimon. Sosok mereka menyerupai manusia kera yang juga dikenal bijak, sangat berhati-hati, dan juga pasif. Mereka tidak suka berdekatan dengan budaya manusia atau makhluk lainnya di luar wilayah mereka. Pepohonan tinggi adalah rumah untuk mereka. Suku Shimon percaya bahwa kehidupan adalah sebuah evolusi dari kebijaksanaan. Setelah mereka mati nanti, mereka percaya bahwa mereka akan menjadi batu, kemudian menyatu kembali dengan tanah dan memulai kehidupan yang baru.


Meski di usia yang masih muda, Kong memiliki sedikit sekali persamaan dengan suku Shimon lainnya. Kong begitu cerdas, ceria, dan sangat senang bermain, begitu kontras jika dibandingkan dengan yang lainnya. Ketika peperangan datang ke Ionia, Kong dipanggil oleh suara dan juga warna peperangan di bawah tempat tinggalnya. Mereka seolah membangkitkan dirinya yang sesungguhnya, seperti sebuah panggilan. Kong kemudian meninggalkan sukunya dan bersiap untuk mengikuti hal yang dia tahu sudah menjadi takdirnya.


Dibekali dengan insting tanpa latihan bela diri apapun, Kong menjelajahi Ionia, mencari sebuah tantangan dan tentunya belajar bertarung. Sudah banyak luka dan juga gigi patah yang telah Kong alami, tapi hal itu tidak membuatnya mundur dari keyakinan bahwa dia adalah pejuang.


Dalam perjalanannya, Kong berlari melewati hutan dan menemukan sosok orang yang mengenakan banyak kacamata di wajahnya. Dia tengah bertapa. Kong menantangnya untuk bertarung. Petapa itu kemudian berdiri dan menghajar Kong dengan satu pukulan sebelum kembali bertapa lagi. Kong sudah banyak menantang musuh, tapi dia tidak pernah mengalami hal seperti ini.


Selama berminggu-minggu, Kong selalu datang ke tempat itu demi niat mengalahkannya. Tapi sayangnya, orang yang dia tantang itu selalu lebih cepat dan lebih kuat dari setiap gerakan yang mampu Kong berikan.


Sampai akhirnya, Kong memutuskan untuk mencoba hal yang tidak pernah dia lakukan dalam seumur hidupnya: kerendahan hati. Dia bertekuk lutut di depan orang tersebut dan meminta untuk diajari cara bertarung. Tanpa banyak bicara, sosok pria berpedang itu menanyakan sebuah pertanyaan yang sederhana pada Kong: Untuk apa kau bertarung?


Kong menyadari bahwa dia tidak pernah memikirkan hal itu. Dia telah tinggal di kampung halamannya yang damai, tapi sesuatu di dalam dirinya menginginkan hal sebaliknya. Kong malah menanyakan pertanyaan yang sama pada orang itu, yang hanya membalas dengan kalimat bahwa dia tidak mau bertarung lagi. Kong menghabiskan beberapa hari berikutnya dengan duduk di sebelah pria itu, memikirkan arti dari jawaban yang dia cari.


Pria itu akhirnya melihat bahwa Kong perlahan mulai mengubah hatinya. Dia kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama Master Yi, dan dia pun setuju untuk melatih Kong tentang disiplin, kesabaran, dan juga cara bertarung, yang disebut sebagai teknik Wuju. Kemampuan Kong mulai meningkat dengan setiap ajaran yang dia terima, membuatnya menghasilkan sebuah gerakan-gerakan cepat dan mengejutkan.


Mereka berdua tumbuh dan saling menghormati satu sama lain di luar latihan yang mereka tempuh. Sekarang, Kong menyadari bahwa Yi tengah merasakan sebuah kesedihan yang bahkan orang seceria dirinya pun tidak bisa menghibur.


Lebih dari itu, dia bahkan belum bisa menjawab pertanyaan yang waktu itu Yi berikan padanya. Mungkin jika dia tahu tentang alasan untuk apa dulu Yi bertarung, dia juga bisa menjawab pertanyaan itu. Kong sampai akhirnya membuat sebuah rencana. Mereka berdua bertarung sebagai teman. Jika Yi menang, Yi harus memberi tahu apa alasannya bertarung. Dan jika Yi yang menang, Kong berjanji tidak akan pernah bicara lagi selama sisa hidupnya.


Yi akhirnya menerima tantangan itu.


Kong berhasil menuntun Yi ke sebuah arena pertarungan yang penuh dengan asap, dan setiap kali Yi mencoba untuk melayangkan serangannya, Kong selalu menghilang ke dalam asap dan mengecohnya dengan cepat. Yi yang bingung hanya bisa menyerang sosok yang dilihatnya, padahal itu adalah sebuah boneka kayu yang telah Kong buat untuk mengelabui musuhnya. Kong kemudian menemukan sebuah kesempatan untuk menjatuhkan Yi ke atas tanah.


Yi tersenyum dengan kecerdikan yang telah ditunjukkan oleh Kong. Senyuman itu kemudian menghilang. Namun, dia akhirnya menceritakan mengapa dia tidak mau mengangkat pedangnya lagi. Yi dulunya adalah salah satu pelindung penting Ionia ketika bertahan dari serangan Noxus. Yi serta teman-teman seperjuangannya bertarung dengan prajurit Noxus, sampai akhirnya peperangan berubah menjadi sebuah perang bahan kimia. Yi menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya ratusan nyawa karena bom buatan Zaun yang meledak di sana. Sejak saat itu, Yi tidak tahu lagi soal alasan dia bertarung. Dia hanya menghabiskan waktunya untuk bertapa.


Kong datang dari kelompok yang tidak mengindahkan sebuah pertarungan, tapi dia sekarang meninggalkan mereka untuk menantang ancaman itu sendirian. Kong sangat mengagumi hal yang Yi alami, apapun yang terjadi, Yi sudah bertarung untuk melindungi orang-orang yang dia kasihi. Kong sadar bahwa dia harus melakukan hal yang sama.


Dari mata Kong, Yi melihat bahwa dirinya telah berlari dari kenyataan: kenyataan bahwa sebesar apapun usahamu untuk menolak hal itu, dia adalah seorang pejuang dan orang-orang membutuhkan pertolongannya. Yi berterima kasih pada Kong dan memberikan sebuah tongkat yang dibuat oleh seorang pandai besi legendaris Doran, yang hanya diberikan kepada murid terhebat Wuju. Semenjak hari itu, Kong dikenal dengan nama Wukong.


Dalam perjalanan Yi, dia sudah banyak rumor tentang sebuah organisasi Assassin yang bernama Order of Shadow. Yi percaya bahwa aksi dari pada Order of Shadow akan memancing Noxus untuk menyerang sekali lagi. Wukong dimintai tolong untuk membantunya menghentikan mereka, sebelum sejarah kelam kembali terulang.


Bersama-sama, mereka berdua bertualang di Ionia yang liar berjuang untuk menghentikan Order of Shadow.


...CEPAT TAPI BODOH...


"Cepat tapi bodoh, atau lambat tapi pintar?"


Itu adalah hal yang selalu Yi tanyakan kepadaku. Meskipun itu terdengar seperti sebuah pertanyaan, itu tidak pernah menjadi hal yang menurutku patut aku jawab. Bukan sesuatu yang harus aku diskusikan. Kalian bisa saja menjadi semua-semuanya. Cepat, tangkas, cerdas, dan bersenang-senang, tapi bukan itu yang selalu ditekankan oleh Yi. Dia punya jalan benar sendiri. Pelan-pelan, sabar, dan berpikir jernih. Meskipun dengan wajah galak, seperti apa yang selalu dia tunjukkan, seperti ketika menginjak kotoran. Karena pada saat itu, dia memang menginjak kotoran. Karena pada saat itu aku yang membersihkan kotoran tersebut, dan aku pikir dia akan menilai hal itu lucu.


Tapi menurutnya tidak lucu.


(Aku benar-benar melakukannya, sampai akhirnya dia pun sedikit tersenyum melihatku.)


Hal yang paling membuatku kesal adalah, terkadang dia selalu benar. Kami sudah berlatih bertahun-tahun bersama, dan aku sudah sering mengalahkannya. Sekitar… dua belas kali? Sementara dia mengalahkanku ratusan kali. Dan setiap kali wajahku terkena debu pasir, aku selalu sadar bahwa aku sudah berperilaku tidak sabaran. Aku ragu akan pukulan yang akan aku lancarkan. Sampai akhirnya aku jatuh ke dalam sebuah jebakan.


Bukannya aku sombong, tapi aku memang hebat. Benar-benar hebat. Yi, meskipun tidak suka bercanda, adalah prajurit terkuat yang pernah aku temui. Dia bukanlah tipe orang yang lambat. Tentu saja dia cepat. Lebih cepat dari yang orang-orang bisa lihat. Sekali dia mengeluarkan pedangnya, semuanya tiba-tiba menjadi kabur, dan beberapa saat kemudian tiga orang musuh sudah berdarah-darah di atas tanah. Itu sangatlah cepat.

__ADS_1


Jadi ketika dia bertanya padaku untuk memilih cepat tapi bodoh atau lambat tapi pintar, aku sebisa mungkin mendengarkan perkataannya.


Aku selalu “mencoba.”


Dan “sebisa mungkin.”


Pernah dulu kami berpetualang ke dalam hutan dengan jamur yang menjulang tinggi. Waktu itu kami mendengar sebuah teriakan.


Selain mencoba untuk memotong leluconku yang tidak lucu, menurutnya, Yi menendangku ke atas tanah agar aku sebisa mungkin tidak memancing perhatian.


Ada enam orang. Lima orang yang mengelilingi satu petani tua yang matanya sungguh mengundang kasihan dengan tangan terikat ke belakang.


Aku merasakan ini adalah saat yang tepat dan diperbolehkan untukku memukul kepala seseorang dengan tongkatku, tapi Yi mencoba menahanku. Dia meletakkan satu jari di bibirnya, kemudian menunjuk pada matanya. Perhatikan. Susun rencana. Cepat tapi bodoh, atau lambat tapi pintar?


Aku menarik nafas dan melihat sekelompok orang tersebut dengan mata tajam.


Baju yang mereka kenakan terlihat usang. Mereka terlihat lebih mementingkan pedang mereka daripada apa yang mereka kenakan. Mata mereka berkeliaran ke kanan dan ke kiri mewaspadai kemungkinan serangan dari segala arah. Salah satu dari mereka meninju mulut petani itu agar dia mau berhenti berbicara.


Pencuri.


Petani tua ini terjatuh ke atas tanah. Dia terjatuh setelah ditendang oleh salah satu dari mereka.


Pemimpin mereka berhenti dan menatap wajah orang tua itu. “Huh, dia malah menangis,” katanya. “Kau memang tua, teman, tapi kau tidak setua itu. Terjatuh setiap beberapa ratus langkah untuk mengulur waktu? Coba kau pikirkan apa yang akan terjadi padamu. Ini adalah trik lama. Lebih lama dari umurmu.”


Kemudian dia membungkuk sejajar dengan petani itu.


“Jadi kau tidak punya barang berharga di rumahmu?”


Dia mengangguk.


“Memalukan sekali,” kata pencuri itu, dengan sebuah senyuman picik di wajahnya. Senyuman itu biasanya membuatku memukul seseorang.


“Aku akan menyelamatkannya sekarang,” bisikku pada Yi.


Yi menggelengkan kepalanya tanpa mengubah posisi kacamatanya. Aku tidak perlu bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Dia sepertinya ingin salah satu di antara kami mengendap ke sana dan menyergap mereka, atau rencana lain yang tentunya menyita lebih banyak waktu. Lambat tapi pintar.


Masalah lain pada Yi, selain karena dia tidak memiliki selera humor dan kacamata di kepalanya membuatnya terlihat seperti serangga, adalah karena dia terlalu lama menghabiskan waktu di padang bunga sendirian. Rasa sabarnya sangatlah tidak terbatas. Dia bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk merencanakan semua ini.


Yi bahkan belum pernah bertemu dengan kelompok pencuri ini.


Aku sudah beberapa kali menghajar salah satu dari mereka. Salah satu dari mereka bahkan hampir saja memotong telingaku sebelumnya. Mereka memang cerdas, cepat, dan juga lihat dalam pertarungan.


Dan tetap saja, Yi mengatakan untuk tetap tenang. Kami akan mengikuti jalannya. Aku mengangguk, dan menyelinap ke belakang mereka. Kau pergi ke belakang. Aku akan menyerang setelah kau memberikan tanda.


Yi kemudian berputar mengitari semak-semak. Dia bergerak dengan cepat, tak mungkin mereka bisa melihatnya. Ini adalah rencana lama. Setelah Yi memancing perhatian mereka, aku akan datang dari belakang dan menghabisi mereka.


Itulah saat ketika pemimpin pencuri itu mengambil pedang dari sarungnya. Pedang itu kecil, terlihat hanya bisa digunakan untuk memotong buah. Atau mungkin memotong tenggorokan petani tua itu.


Aku tidak melihat Yi di semak-semak sana, tapi aku tahu bahwa Yi tidak melihat apa yang aku lihat. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

__ADS_1


Mereka akan segera membunuh petani itu, tidak peduli seberapa matang rencana Yi. Kami tidak punya waktu untuk bermain lambat.


Untungnya, aku punya senjata rahasia di balik lenganku: aku sangat, sangat, sangat hebat ketika bertarung.


Pemimpin pencuri itu kemudian menarik kerah baju petani tua dan menodongkan pisau di tenggorakannya. Aku melompat dari semak-semak dengan tongkat yang ku angkat tinggi, dan menghantam pisau dari tangannya. Dan tibalah saat favoritku.


Ketika aku berupaya menyerang seseorang, butuh biasanya dua atau tiga detik sebelu mereka menyadari keberadaanku. Kebanyakan orang tidak pernah melihat bangsa Vastaya, apalagi suku Shimon. Mereka terlihat tidak menyadari apa yang terjadi, dan aku bisa menghabisi mereka sebelum mereka merasakannya.


Aku menghantamkan lututku ke arah dagu pemimpin merek, dan terdengar suara gigi yang patah.


“Tetaplah di sana, Yi!” Teriakku ke arah semak-semak yang kami rencanakan. “Ini bagianku.”


Itulah saat ketika sebuah pisau menusuk ke arah punggungku.


Ternyata, salah satu dari mereka memiliki kemampuan untuk melempar pisau, dan aku tidak menyadari hal itu. Aku tidak bisa membayangkan wajah Yi ketika melihatku seperti ini.


“Apakah ini masih bagianmu?,” balas Yi dari dalam semak-semak. Dia sepertinya memang merencanakan semua ini. Dia ingin melihatku bertindak gegabah, lalu diserang dari belakang, agar dia bisa mengejekku nanti.


“Tentu saja!” teriakku setelah aku melemparkan bola asap ke tanah. (Aku selalu membawa benda ini. Mereka sangat berguna dalam pertarungan, dan tentunya untuk membuat Yi kesal ketika aku bosan.)


Tak lama, aku menghabisi mereka semua. Aku tidak akan menceritakan banyak hal kepada kalian tentang hal ini–


–Tapi tidak, tentu saja aku akan menceritakannya, karena mereka cukup kuat.


Aku menggenggam tongkatku dan berputar, sambil berusaha untuk tidak mengenai orang tua itu. Tanganku merasakan bagaimana rasanya kayu menghantam tulang. Aku bergerak lincah, menghindari setiap serangan, dan hanya beberapa kali terkena pukulan di wajah. Sepertinya dua.


Tapi setelah asap mulai hilang, aku hanya bisa melihat satu orang dari mereka. Aku, dan tentu saja petani tua itu.


Yi akhirnya keluar dari semak, dan menarik nafas.


“Oh, ayolah,” kataku. “Untuk apa kau menarik nafas seperti itu? Aku sudah menyelamatkannya si tua bang–”


“–Hey!” kata orang tua itu.


“Dan sepertinya punggungku baru akan sembuh beberapa hari. Ow,” kataku, menyentuh lukaku. “Apa yang membuatmu kecewa kali ini?”


Yi memotong ikatan petani itu. “Aku tidak kecewa,” kata Yi. “Aku kesal.”


“Kenapa?”


“Aku tidak suka mengakui bahwa aku salah. Kau memang tidak sabaran, ceroboh, tapi kali ini kau membuat keputusan yang tepat.”


Aku tersenyum.


“Cepat tapi bodoh.”


Dia kemudian memukul lukaku.


“Cepat tapi bodoh,” katanya.

__ADS_1


***


__ADS_2