
Jenis emas terbaik yang ditempa dengan baja hitam yang melambangkan sebuah kebaanggan serta kepercayaan diri. Bentuknya tidak terlalu indah dan cantik. Sama seperti jenis kebanyakan, tapi yang ini dibuat dengan baik. Senapannya terlihat biasa saja. Tapi yang pasti mereka telah memastikan bahwa senjata yang dipegang oleh Jhin adalah hasil dari karya terbaik yang pernah ada.
Perlu waktu lama untuk memodifikasi senapannya. Tapi apa artinya karya terbaik tanpa polesan terbaik? Senjata terbaik untuk Jhin ini seolah membuat aksi Jhin yang dulu dengan pedangnya akan terlihat biasa saja.
Mengubah keahlian berpedangnya menjadi kemahiran menggunakan senjata tidak memerlukan waktu yang lama. Senapannya bisa menembakkan 4 tembakan, masing-masingnya memiliki efek kimia yang berbeda-beda. Tak lama setelah dia memahami mekanik senjatanya, barulah dia mulai membuat pelurunya diselimuti oleh kekuatan sihir. Setiap tembakan peluru akan terasa bagaikan pedang Lassian miliki para pendeta. Setiap peluru adalah sebuah karya. Seluruh kota telah menyaksikannya. Dan tentu saja Jhin telah memuaskan sang masternya yang baru.
Jhin menyembunyikan senapannya di balik jubahnya di depan anak kecil.
“Sekarang apakah aku bisa mendapatkan mainan topeng itu” tanya anak kecil tersebut, sambil merujuk kepada 4 topeng lainnya yang ada di keranjang belanjaan Jhin.
“Kau sudah melakukan apa yang kuminta?”
Sang anak mengangguk.
“Baiklah. Kita bisa mulai.” Jhin berhenti beberapa saat untuk melihat wajah anak tersebut. Wajahnya bundar dan begitu simetris. Lalu dibuatkannya sebuah topeng yang berukuran pas di wajahnya.
Jhin bangkit dan melihat ke arah kota. Pertunjukan kembalinya Jhin ini akan menjadi sangat menarik, tapi masih ada banyak hal yang harus dilakukan. Menemukan anak Grandmaster Raikkon hanyalah misi sampingan.
II
Sepiring besar daging yang disajikan di atas meja, aromanya menghampiri Shen. Tapi dia bahkan tak menggerakan sendoknya. Pelayannnya hanya bisa menggangguk meninggalkan Shen lalu pergi ke dapur. Semua hidangan ini sama sekali tidak mempengaruhi Shen untuk menyantapnya. Hatinya hanya fokus kepada satu hal. Kesabaran.
Shen memutuskan untuk menginap di the White Cliff’s Inn. Tempatnya begitu sederhana dan nyaman. Interiornya diwarnai oleh kayu yang dipahat dengan baik. Lilin di atas mejanya terasa…salah.
Shen pergi dari meja makannya, meraih pisau dari balik jubahnya.
“Murid ayahku yang satu ini begitu senyap seperti seekor worax yang sedang hamil,” kata Shen.
Sendirian dan berpakaian seperti seorang prajurit, Zes masuk penginapan. Melewati pelayan dan duduk tiga bangku dari Shen. Dia duduk begitu jauh dari Shen. Rasanya seolah Shen ingin menghabisi Zed. Membalaskan dendam ayahnya. Tapi bukan seperti itu jalan yang dipilih oleh Shen sang the eye of twilight. Dia menghela nafas berupaya sesabar mungkin. Jaraknya mungkin terasa jauh, tapi jika dia mau bergerak, jaraknya hanya akan menjadi satu jengkal saja.
Shen menatap ke arah Zed, mengharapkan sesuatu datang dari wajahnya. Tapi Zed hanya menghela nafas panjang. Kulitnya pucat dan kegelapan terpancar dari matanya.
“Lima tahun aku menunggu,” sahut Shen.
“Apakah aku terlalu meremehkan semua jarak ini?” tanya Zed.
“Bahkan jika kepalku dipotong, aku akan tetap bisa menyerangmu,” jawab Shen dengan berdiri mendorong kursi ke tembok. Zed berada sepuluh jengkal di depannya.
__ADS_1
“Jalanmu sama dengan jalanku. Apa yang ayahmu panut adalah sebuah kelemahan. Ionia tidak bisa mengandalkan hal itu,” kata Zed. Dia bersandar di kursinya, membuat jarak di antara mereka berdua semakin jauh. “Aku tahu hal itu tidak akan bisa membuatmu mengerti. Tapi aku ingin menawarkan diriku untukmu membalas dendam.”
“Aku tidak di sini untuk balas dendam. Kau telah mengganggu keseimbangan. Karena itulah kau pantas kuhabisi,” Shen menjawab dengan penuh emosi.
“The Golden Demon telah melarikan diri,” Zed menyahut.
“Tidak mungkin.” Tapi jauh di dalam hatinya Shen merasa kegelapan menyelimuti hatinya.
“Hal yang dulu ayahmu banggakan, sekarang di mana pengampunan yang dulu dia berikan?” Zed menggelengkan kepalanya. “Kau tahu apa yang seharusnya kau lakukan.” Keduanya mendekat, persis di jarak di mana Shen akan mampu menghabisi Zed.
“Dan kau tahu bahwa kita adalah dua orang yang mampu untuk menghentikannya,” sambut Zed menawarkan solusi.
Shen masih ingat ketika pertama kali melihat mayat yang dibunuh oleh Khada Jhin. Kulitnya merinding. Hanya ayahnya yang kuat untuk mampu mengampuni orang yang tega melakukan hal tersebut. Sesuatu yang dia setujui dan Zed tolak mentah-mentah.
Sekarang, sang monster telah kembali.
Shen meletakkan pedangnya di atas meja. Dia melihat ke arah sup yang ada di depannya. Terlihat enak dengan daging yang mengambang di atasnya, tapi dia bahkan tak lapar lagi.
III
Jhin menyadari bagaimana penampilannya. Biasanya dia tidak pernah takut untuk menunjukkan hal tentang dirinya yang menurut orang lain terlihat menjijikan, tapi hari ini adalah hari yang besar.
Dia berjalan sambil bersiul. Siulannya seperti orang yang berangkat sebelum bekerja di awal musim semi. Suara siulannya diwarnai dengan gesekan piringan metal yang terdengar menempel pada dirinya. Melahirkan sebuah irama yang cukup unik untuk bisa terdengar oleh orang yang ada di sekelilingnya.
Semuanya sudah terpasang. Anak tadi telah memasang sebuah dekorasi di atas pohon di tengah kota dengan kertas putih di atasnya.
Jhin melihat banyak sekali pekerja yang ikut membantu mempersiapkan acara ini. Mereka baru saja selesai merangkai susunan seluruh bangunan yang ada di pusat kota. Para penduduk lokal bersiap untuk merayakan festival yang telah mereka tunggu-tunggu.
Di tengah keramaian yang sedang terjadi, seorang wanita berpakaian baju pink elegan menemukan Jhin yang sedang bersama anak tadi. Dia mengangkat dahinya.
“Kimmo,” panggil wanita tersebut.
“Lihat kan, aku sudah memberitahumu bahwa ibuku akan menggunakan gaun berwarna pink,” kata anak tersebut.
“Ya, kau benar,” sahut Jhin sambil membetulkan topeng yang terpasang menutupi wajahnya.
“Kimmo!” kata wanita tadi, kali ini di datang mendekat.
__ADS_1
“Mengapa kau mengenakan topeng teater itu?” tanya anak tersebut, dia mengabaikan ibunya yang menangis.
“Semua sentuhan dari perasaan adalah kunci dari sebuah seni. Sekarang, di hari yang tak terlupakan ini. Apakah orang akan mengingatnya? Apakah kau akan mengingat ibumu di hari ini? Jhin bertanya.
Tibalah sang ibu di depan mereka.
“Kimmo, menjauh darinya!” dia menangis histeris.
The Great Khada Jhin menarik senapannya dari balik jubahnya. Peluru pertama dia tembakkan ke arah paha wanita tersebut, menjatuhkan seluruh badannya ke tanah. Dia berteriak dan seketika kakinya bagaikan membeku tak bisa digerakkan.
Seluruh penduduk dan para pekerja tak lama melihat ke sumber suara tangisan berasal. Waktunya terasa tepat untuk Jhin. Dia menembakkan tembakan keduanya ke arah pundak wanita tersebut. Asap keluar dari bekas luka tembakannya.
Semua orang panik dan tiba-tiba terhenyak setelah tembakan ketiga terdengar dilepaskan. Suaranya seperti sebuah lagu horor di hadapan semua yang mendengarnya. Wanita tersebut duduk di tanah bersandarkan tubuh anaknya.
“Ibu?” tangis anak tersebut.
Sampai akhirnya tembakan keempat ditembakkan seperti laser dengan kekuatan yang sangat tinggi. Alhasil bidang tanah tempat berdiri wanita itu sekarang dibanjiri oleh merah darah. Wajahnya tepat terjatuh di dalam pelukan sang anak.
Orang-orangpun berlarian.
Jhin melepaskan topeng yang telah dia kenakan tadi lalu dia jatuhkan ke tanah. Dia berjalan ke arah anak kecil tersebut dengan menginjakkan kakinya di atas topengnya tadi. Sebuah topeng baru keluar dari balik jubahnya.
“Aku telah memberikan hal yang sangat indah padamu. Sekarang dia tidak akan pernah hilang dari ingatanmu,” katanya.
Kimmo lari ke arah kerumunan orang-orang berlarian, mencari ayahnya, Raikkon, seorang Grandmaster dari the Archery School di Kinri Mountain. Klan miliknya pernah sekali berurusan dengan klan di mana Jhin bekerja. Tapi Jhin tidak perlu penjelasan detil untuk menghabisi orang yang telah dianggap musuhnya.
Sang Grandmaster berdiri dengan tubuh yang diwarnai tetesan lumpur dan juga kepulan asap. Dia hadir di saat yang tepat. Kulitnya berwarna kecoklatan.
Orang-orang berlari berpencar ke segala arah, berlindung ke tempat yang aman. Sementara sang ahli panah tersebut mengejar Jhin dengan anak panah yang terus dibelokkan oleh angin.
Jhin sekali berhasil menahan panah dengan senapannya. Dia mengganti senapannya menjadi pistol.
Senapan ini jauh lebih baik daripada sebilah pedang. Jhin melihat anak tadi lari di tengah keramaian menuju ke arah Raikkon. Raikkon melihat sebuah lapang yang luas dengan genangan warna merah berada di pusatnya.
Dan itu adalah hal yang bisa Raikkon lihat sebelum dia mati.
Ya, pertunjukan ini akan menjadi sangat seru.
__ADS_1
***