
INI masih aku yang bercerita, untungnya. Mumpung masih sebagian besar diriku sejati yang menempati raga titipan Ilahi, dan juga, mumpung aku masih ingat dan cukup waras untuk menceritakannya, walau tidak runut. Maafkan apabila ceritaku ini loncat-loncat nantinya. Itu karena ruang-ruang dalam otakku seperti ada yang menyekat, atau kalau boleh dibilang, ada entitas-entitas kurang ajar yang memasang patok wilayah kekuasaan. Aku, sebagai pemilik sah ruang-ruang itu, jadi seperti orang asing. Aku harus ngamuk dulu barulah para pemasang patok itu menurut. Sialan memang.
Cukup ramah-tamahnya. Aku mau mengumpat dulu. Bangsat! Bajingan! Setan! Yang pasti adalah ini, kau tidak bisa merasakan apa yang kurasakan. Coba aku tanya, kalian pernah bangun tidur lalu melihat tangan kalian bersimbah darah?
Pernah? Tidak?
Aku setiap hari!
Tangan ini bersimbah darah bukan karena malam sebelum aku tidur aku iseng menggorok leher tetangga atau orang serumah, bukan. Juga bukan karena aku mengiris nadiku sendiri, kalau aku lakukan itu, aku tidak akan lagi cerita sekarang ini. Bayangkan bagaimana reaksiku setiap pagi melihat tahu-tahu tangan kananku berlumuran darah. Kental dan bau amis. Seolah-olah malam sebelumnya aku nekat menusuk perut teman gendutku lalu aku tadahi darahnya yang mengucur ke ember, terus aku celupkan tanganku lalu aduk-aduk dan obok-obok sekalian bersama jeroannya. Lagi pula, apa faedahnya? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi. Pokoknya, setiap pagi, aku bangun selalu mendapati tanganku berlumuran darah. Parahnya lagi, darah itu tampak masih segar melumuri tangan. Dan aku yakinkan padamu, aku tidak merasa kesakitan sama sekali.
Dulu pertama kali aku tahu tanganku berdarah pagipagi adalah saat si Bangsat menginap untuk meniduri ibuku. Waktu itu aku masih tiga belas tahun. Berisik sekali kalau si Bangsat datang ke rumahku. Padahal rumahku di pinggir rel yang setiap beberapa menit pasti akan ada kereta listrik lewat. Nah, suara lenguhan si Bangsat mengalahi suara kereta itu. Ingin rasanya aku menyeretnya lalu mengikatnya di rel kereta, biar roda kereta melindas kepalanya sampai putus. Si Bangsat membuatku susah tidur. Bisa tidur pun, sudah lewat dari jam tiga. Suara ayam tetangga dan kereta pagi membuatku bangun otomatis satu setengah jam kemudian.
__ADS_1
Kebiasaanku dulu, aku suka mengucek mata waktu bangun. Aku keluar untuk ambil air di keran yang secara ilegal dipasang dari pipa stasiun. Tetanggaku yang bernama Yut Kasmijan berjengit, lalu menunjuk muka dan tanganku. Aku pun berjengit dan kami kaget bareng-bareng. Mukaku berlepotan darah. Tangan kananku juga.
Aku mengaku sama sekali tidak tahu, lalu beralasan sebelum tidur tadi aku main-main dengan saos sambal. Yut Kasmijan yang jongkok nalarnya cuma manggut-manggut menyetujui dan menyarankanku untuk segera cuci tangan dan muka. Sesudah itu aku masuk dan mendapati si Bangsat lagi main dengan ibuku di sofa butut dengan per menyembul di sudut. Ah, bangsat, aku tak suka melihat adegan seperti itu. Sekadar informasi saja, gara-gara itu aku jadi mual kalau memikirkan tentang seks.
Di kamar dengan tembok tripleks dan tambalan kardus, aku mengamati tangan kananku. Aku masih mencium aroma amis darah. Aku berjengit kemudian. Tiga menit berlalu dan tangan kananku kini berubah hitam. Dan keparatnya lagi, baunya seperti bangkai kucing dibiarkan seminggu. Aku buka jendela kardusku dan muntah-muntah di samping rel. Aku mengibaskan tanganku entah berapa ribu kibasan, hitamnya tidak hilang-hilang, begitu pula dengan baunya. Aku sampai ada pikiran untuk memotong saja tanganku yang baunya minta ampun itu. Di dapur yang bersatu dengan toilet, ada pisau daging. Ah, tapi penuh karat dan aku tak yakin cukup tajam untuk memotong tanganku sekali tebas. Mungkin bisa dicoba dengan meletakkan tanganku ini di rel, biar kereta lewat yang mengerjakan sisanya. Tapi hari sudah terang, tetanggaku yang kebanyakan pemulung sudah sibuk bersiap berangkat.
Tanganku yang berdarah lalu berubah hitam itu berlangsung kira-kira tiga puluh menit lamanya sampai kembali normal dan bau kulit manusia lagi, kulitku.
Oh, aku lupa kasih tahu namaku. Ngomong-ngomong, namaku ini Atarjoe. Sebenarnya itu bukan nama bawaan lahir. Ibuku, yang entah kenapa seperti kehilangan semangat hidup itu, setiap kali kutanyakan nama asliku selalu saja marah-marah dan bilang lupa. Sah sudah, ibuku sudah rusak. Semenjak si Bangsat menggerecoki kehidupan kami, ibuku jadi aneh. Suka ngomel, suka merokok dan mabuk. Aku sebagai anaknya jadi terbengkalai. Sah sudah, kebencianku kepada si Bangsat mendidih sampai ubun-ubun.
Sebenarnya yang ingin aku ceritakan di awal ini adalah tentang akibat apabila aku meraup muka orang menggunakan tanganku. Jadi, hari-hari berikutnya setelah pertama kali kudapati tanganku berlumuran darah, aku mengurangi kebiasaanku mengusap muka waktu bangun. Sempat memang beberapa kali kecolongan, mukaku jadi berlepotan darah lagi, ibuku sampai bengong melihat mukaku seperti habis dikeroyok orang. Pernah juga aku sengaja tidak tidur demi melihat apa yang sesungguhnya terjadi dengan tanganku sewaktu aku tidur. Tapi tetap saja, jam tiga aku tertidur. Aku berusaha keras bangun jam empat atau setengah empat, susah. Pernah sekali aku bangun pukul tiga empat puluh lima, tanganku ternyata sudah berlumuran darah. Jadi kusimpulkan peristiwa tanganku yang mengeluarkan darah entah dari pori-pori kulitku atau ada makhluk halus yang habis makan bayi lalu menggunakan tanganku sebagai tisu, itu terjadi di rentang pukul tiga sampai empat pagi. Entahlah.
__ADS_1
Hei, hei, rupanya, aku bisa melakukan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya. Dan sebenarnya, korban pertamaku bukanlah si Bangsat. Tetapi aku akan ceritakan dulu apa yang terjadi kepada si Bangsat sekarang. Dia korban keduaku.
Dia korban yang kuraup mukanya selagi tanganku menghitam bau bangkai. Jadi, suatu hari si Bangsat dan ibuku adu bacot tentang banyak hal. Aku salut kepada ibuku. Diam-diam ibuku itu ikut menanam dendam kepada si Bangsat yang bisanya cuma minta duit dan meniduri ibuku. Aku senang, aku tidak sendirian menanam benci. Aku mendidih ketika si Bangsat melayangkan tangan bau kencingnya ke wajah ibuku. Aku mengepalkan tangan, jantungku berdebar begitu kencang, mataku memicing tajam menyorot si Bangsat. Aku membayangkan tanganku yang hitam bau bangkai itu bisa sekeras baja rel kereta api, biar bisa kupukulkan ke kepalanya yang bocel sampai bocor dan mengeluarkan darah satu gentong. Ibuku sempat melawan dengan melempar wajan, tapi dengan hantaman kuat, ibuku terjatuh kena bogem si Bangsat. Aku melihat darah muncrat di udara. Hidung ibuku mengeluarkan darah. Di situlah, titik didihku yang terpanas, yang pertama dalam hidupku sebagai anak usia tiga belas tahun.
Aku ingat lolonganku begitu nyaring sampai membuat jantungan Yut Kasmijan di luar rumah, yang mengintip dari pintu. Aku lompat menerkam si Bangsat, aku cengkeram mukanya dengan kedua tanganku. Terjanganku itu membuat si Bangsat terjatuh, kepala terbentur lantai. Hidungnya aku colok pakai dua jari dari tangan kananku yang menghitam. Seketika si Bangsat muntah. Matanya membelalak. Raut mukanya tiba-tiba jadi seperti minta ampun. Aku pukul sekuat tenaga hidungnya sampai jariku sakit. Si Bangsat meronta-ronta hendak membebaskan diri dariku. Aku colek matanya. Lalu aku cengkeram lagi mukanya dengan tanganku yang menghitam bau bangkai. Si Bangsat melolong, lebih nyaring daripada lenguhannya sewaktu meniduri ibuku.
Teriakan ketakutannya memberi kepuasan tersendiri bagi telingaku. Aku menyingkir darinya. Si Bangsat panik dan bergerak mundur sembari matanya membelalak dan menunjuk-nunjuk sesuatu di belakangku. Mukanya pucat, lebih putih daripada keramik kusam rumahku. Si Bangsat menjambaki rambutnya sendiri, frustrasi. Lalu membenturkan kepalanya ke lantai berkali-kali sampai mengucurkan darah.
Aku menggertak menyuruhnya pergi. Si Bangsat bangkit dan kabur tunggang langgang saat aku baru melangkahkan kaki mendekatinya. Ekspresi ketakutannya seperti memberiku suntikan kekuatan. Aku menyumpahinya selagi ia kabur, lalu kususul dengan tawa puas.
Aku tenangkan ibuku setelah tanganku kembali pulih. Kemudian aku memikirkan tentang apa yang sesungguhnya dilihat dengan panik oleh si Bangsat. Sebab aku menengok ke belakang, aku tidak mendapati apa-apa selain bayanganku sendiri.
__ADS_1