
KURALAT. Meraup setan untuk masuk ke dalam tangan kananku itu susah. Aku ditertawai oleh si Setan Bocel yang kekenyangan makan selusin setan cemen di sudut gudang tua. Dia ketawa setiap kali aku terempas oleh energi tak kasatmata. Setan-setan cemen menolak untuk kutangkap. Ini penghinaan namanya. Sempak!
Culun,Culun. Setan Bocel sekarang memanggilku culun. Kurang ajar. Dasar setan dungu. Cemen lawan culun ya mana sepadan, katanya. Aku tersulut dikatai culun, aku hampiri Setan Bocel dengan tanganku yang ingin mencekik leher berbulunya. Tentu saja aku didepak dengan gampang olehnya. Dia sudah makan selusin setan, energinya tentu lagi tinggi. Aku terlempar beberapa meter ke udara dan mendarat berdebum hingga kurasakan kakiku terkilir. Sialan memang si Setan Bocel. Awas saja kau. Akan kutemukan setan yang lebih tinggi ilmunya, biar kau dimakan!
Culun,Culun. Dia mengataiku lagi. Mana bisa manusia culun memperbudak setan tangguh, cemoohnya. Aku mau bangkit tapi kakiku sakit. Aku terjatuh lagi dengan pikiran menerima hinaan si Setan Bocel. Jangan-jangan aku memang culun. Lawan setan cemen saja tidak bisa. Mana bisa nanti aku memperbudak setan tangguh. Mana bisa aku membalaskan dendam kematian ibuku. Selain menangis, aku benci merasa tak berdaya. Apalagi terhadap makhluk tak kelihatan.
Aku mengamati tanganku lagi dengan lesu. Setan Bocel kali ini hening. Suara napasnya seperti dengkuran babi yang mengganggu sekali. Kepalaku pening karena kecewa dan marah. Kebencianku ternodai oleh perasaan hina dan tak berdaya.
Hei dungu dan culun. Pertama uji coba belum tentu berhasil, katanya seolah memotivasiku. Kau ingin membalas dendam, jaga api amarahmu, jangan melempem hanya karena dikatai culun dan nggak berhasil meraup setan cemen. Ha-ha. Sungguh suara Setan Bocel tidak enak betul didengar. Justru malah semakin membuat kepalaku runyam dan ruwet. Seperti ada orang sekampung membuang limbah bahan karet—karet bungkus nasi uduk, karet ban, karet kondom, karet kolor, permen karet—lalu membakarnya ramai-ramai. Aku mengepal sembari menahan napas yang rasanya panas menyesakkan dada. Aku bisa merasakan tanganku berdenyut lagi. Panas seperti api penggorengan. Aku memompa amarah. Akibat sakit terkilir dan terhina, aku memukulkan bogemku ke lantai retak gudang tua. Kulihat Setan Bocel beranjak dari leha-lehanya. Matanya membelalak jerih. Aku berdiri tak memedulikan kakiku yang terkilir lalu berjalan mengancam ke setiap sudut gudang.
Setan-setan rendahan! Amarahku lebih panas dari api neraka! Dendam adalah makananku! Demi setan yang paling jelek mukanya! Masuk kalian ke dalam tangan kananku!
Setan Bocel terlonjak. Ia gelagapan kabur memanjat dinding. Dia masih cukup kuat melawan daya isap tangan kananku.
Ya, akibat amarahku ini, tercipta suatu lubang di telapak kananku. Lubang itu menyedot beratus-ratus kali lebih kuat dari pengisap vakum. Setan-setan di gudang itu, baik yang cemen dan agak mending dari cemen, tersedot semuanya ke dalam tanganku.
__ADS_1
Masuk kalian setan-setan tak berguna!
Akulah kini tuan kalian!
Suara jeritan tak rela mereka membuat aku makin beringasan menyedot. Kuarahkan tanganku menyapu seluruh sudut gudang tua. Aku tidak takut sama sekali kepada setansetan bermuka buruk dan berdarah-darah. Aku dilahirkan dengan saraf takut yang tanggal.
Semakin mereka menjerit, semakin puas aku. Lolongan mereka serupa manusia-manusia yang dilalap jago merah. Aku adalah api. Aku adalah pembakar setan. Aku Tapak Setan.
Ampun tuanku. Ampun tuanku.
Menyedihkan. Aku melampiaskan teriakanku ke arahnya. Setan Bocel yang membuatku jadi begini. Dia harus dikurung sekarang juga. Aku masih tidak terima dikata-katai oleh setan bermuka hancur itu. Berat untuk mengisapnya masuk ke dalam tanganku. Dia mencengkeram kuat ke tembok dan saka. Aku melolong beringasan. Segala sakit akibat digebuki ramai-ramai di terminal dan sakit terkilir malam ini, menghilang sekejap. Energi para setan yang telah bergabung dalam diriku membuat luka-luka itu sembuh. Kurasa.
Aku pikir dengan menyedot Setan Bocel masuk ke dalam ruang yang sama dengan setan-setan yang dimakannya bakal membuat dirinya jadi bulan-bulanan setan-setan cemen yang mungkin dendam padanya. Ha-ha. Itu ide bagus. Siapa tahu itu kejadian. Siapa tahu ruang gaib dalam tanganku serupa alun-alun tempat manusia berkumpul. Di mana orang pendendam akan mencari objek dendamnya dan membuat perhitungan di sana. Rasakan Setan Bocel!
__ADS_1
Keasyikan menyedot, aku terlena. Aku jadi kehabisan energi. Sedotan terakhir yang rasanya meletup membuatku terpental ke belakang dan tersungkur. Setan Bocel sudah masuk ke dalam ruang gaib tanganku. Kali ini, dia tidak menggerecoki isi pikiranku.
Ah tapi ternyata suaranya masih sampai ke benakku. Dia mengutukku. Aku tertawakan dia. Dia berencana bakal membalasku. Aku bilang, aku ini bosmu. Lalu suaranya tenggelam oleh kerumunan setan-setan yang pernah dimakannya. Rasakan dulu saja itu, Bocel, Bocel.
Aku membiarkan diriku tidur di gudang tua. Aku tidak takut lagi dengan gelap dan para penghuninya. Baiklah, gudang tua ini bakal kujadikan tempat menginapku malam hari. Tempat pertama aku berhasil meraup setan-setan. Dan kalau malam-malam besok masih terdapat setan di pojokan, aku yakin pasti ada, orang-orang mesum yang datang siang bolong itu membawa setan mereka sendiri, aku akan menyuruh mereka masuk ke hotel gaib tangan kananku.
Siang hari kupakai untuk mengintai para pemuda terminal. Aku hafalkan gerak-gerik mereka. Di mana mereka bersantai kalau menjelang sore. Di mana tempat mereka tidur siang. Di mana tempat mereka kongkalikong dengan petugas terminal. Di mana mereka memeras para calo tiket. Aku lebih lihai sekarang. Aku tidak mau gegabah seperti waktu itu. Aku ogah kena tahi mereka lagi. Biar aku saja nanti yang menyumpal mulut mereka dengan tahi. Dendam ini harus kujaga dan kurawat dengan baik.
Setiap kali aku melakukan pengintaian, tangan kananku rasanya gatal. Seperti setan-setan penghuni hotel gaib tangan kananku pada protes karena sarapannya tidak enak. Mereka pengin keluar dan masuk ke tubuh manusia. Berada dalam ruang gaib tangan kananku membuat mereka seperti disuntik sebuah misi. Misi untuk masuk ke tubuh manusia dan mendekam di sana. Dan aku sebagai pengendali mereka semua. Kalau yang dikatakan Setan Bocel tentang itu benar adanya. Aku akan memperbudak mereka.
Tiga hari aku mengintai para pemuda terminal. Aku tahu kini di mana tempat mereka melengahkan diri. Tempat mereka jajan perek dan lalu ngorok susah dibangunkan. Setan-setan yang telah menyatu dalam diriku membuat gerakanku dapat seringan dan sehening gerakan ninja. Aku bisa merasakan energi setaniah mengisi otot-ototku.
Aku bahkan dapat merayap pada dinding. Nanti malam, waktunya beraksi.
__ADS_1
Hai bajingan! Tanganku siap meraup muka kalian!