TAPAK SETAN

TAPAK SETAN
Episode 4


__ADS_3

MEMBALAS dendam itu enak, kawan. Apalagi terhadap orang yang menzalimimu. Lebih enak lagi kalau pembalasan dendam itu terbayar dengan memuaskan. Ada darah yang terlibat. Manis. Bukan darahnya maksudku, tetapi sensasinya. Aku gemetaran. Si Bangsat adalah orang dewasa pertama yang aku hajar. Betapa keren itu bagi anak usia tiga belas tahun sepertiku. Bisa melenyapkan sumber malapetaka di keluarga. Semoga dengan perginya si Bangsat, ibu bisa kembali sehat. Tidak lagi memakai barang haram.



Tapi semua itu hanya jadi harap-harap kentut dibawa angin belaka. Sekali terjerat barang haram itu, susah untuk melepaskan diri. Aku makin kasihan dengan ibuku. Semenjak kepergian si Bangsat, ibuku suka menggeliat di lantai dapur yang menyatu dengan kamar mandi berpintu spanduk. Ibuku sakau. Kasihan aku melihatnya menggeliat sampai keluar air liur dan busa di mulutnya. Ibu memakimaki saat aku pengin menolongnya. Semua ini gara-gara si Bangsat. Rasanya aku ingin melenyapkannya dari muka bumi.



Aneh dan janggal bagiku yang masih muda begini memiliki hasrat untuk membunuh. Melenyapkan nyawa seseorang. Ah, aku masih terhitung mending daripada anak-anak lain sepantaran di lingkunganku yang bobrok moralnya ini. Aku masih mending daripada si Peju, pemuda enam belas tahun yang pernah menghamili janda dan sering kali dikejar tentara pemilik istri kesepian. Aku masih mending daripada si Akik, anak tiga belas tahun yang sekarang lagi mendekam di lapas anak karena memotong penis bapaknya sendiri lalu membunuhnya dengan keji. Si Akik mencongkel mata bapaknya, lalu menyumpal mulut bapaknya dengan penis yang terpotong itu. Semua itu dilakukan Akik karena bapaknya suka menghina ukuran penis si Akik. Aku masih mending daripada si Eno, gadis umur dua belas tahun yang menghabiskan rokok dua pak sehari. Suaranya lebih parah daripada Setan Bocel. Pokoknya jangan pernah beri dia kesempatan memegang mik di acara kondangan warga.



Yah, bisa dibilang, aku adalah anak baik-baik di lingkungan yang penuh orang bertabiat ajaib.



Namun itu segera berakhir. Dimulai dengan tanganku yang berdarah setiap pagi dan munculnya si Setan Bocel di kepalaku. Setelah membuat si Bangsat kapok datang ke rumah, aku jadi lebih berani menantang orang-orang resek. Ada banyak orang seperti itu di lingkunganku. Beberapa dari mereka adalah para pemuda yang pengin menjajali meki dengan murah. Ibuku yang terlampau sakau akhirnya membuka harga murah dan bermain di rumah. Sialan. Ingin rasanya aku menampar ibuku sampai sadar. Tapi aku tak tega. Lebih baik aku keluar saja, main catur dan minum kopi sama Yut Kasmijan.



Aku langsung bergerak kalau sedikit saja aku mendengar ibuku menggertak sebal dengan tamunya. Aku masuk dan ikut menggertak, mengusir mereka yang membuat ibuku tak nyaman. Kalau mereka bebal tidak mau menuruti perintahku, aku ancam mereka.



Mereka menertawakanku. Tapi pada akhirnya aku yang menertawakan mereka. Korban-korbanku selanjutnya kebanyakan dari pemuda mesum seperti mereka. Aku membiarkan diriku ditabok lebih dulu. Aku suka rasa darah dari luka di bibir. Itu menguatkanku. Menguatkan kepalanku. Setiap pagi saat tanganku berdarah kini aku pakai untuk lari menyusuri rel. Melompat menepi kalau ada kereta lewat. Aku pasang telinga dan konsentrasi penuh. Menghirup udara pagi yang segar, sebelum tercemari asap kendaraan. Kakiku jadi kuat. Memudahkanku menerjang para pemuda tak tahu diri. Aku raup wajah mereka. Aku colok mata mereka. Aku tusuk lubang hidung mereka. Aku tinju sekuat tenaga rahang mereka dari samping.



Aku suka melihat mereka menggelepar di lantai dan seperti kerasukan, membenturkan kepala ke lantai dan tembok. Tidak berhenti sampai darah membanjiri muka mereka. Setelah itu mereka kabur ketakutan setengah mampus sembari menunjuk ke belakangku dan berteriak, jurig!


__ADS_1


Mungkin mereka melihat si Setan Bocel.



Dungu, mereka ketakutan melihat mukamu! kata si Setan Bocel.



Bodo amat.



Tindakanku itu tidak berbalas baik dari ibuku. Justru aku dihardik dan dikatai anak tak tahu untung. Aku diusir tiga hari dari rumah. Dan selama itu aku tidak boleh masuk rumah, jadinya aku hanya bisa mengintai dari jauh. Aku mendapatkan kabar dari Yut Kasmijan. Dia kutitip mandat untuk mengawasi ibuku. Katanya, tamu yang datang semakin ramai dan sekali masuk bisa langsung dua atau tiga orang. Aku menepuk jidat, menyesali kehancuran jati diri ibuku. Aku sudah tidak tahu di mana ibuku menyembunyikan kehormatannya. Raib. Lalu dari mulut Yut Kasmijan aku mengetahui bahwa aku punya julukan baru. Itu diketahuinya saat kumpul di warung kopi, beberapa pelanggan yang pernah kuhardik dan kuraup mukanya, mengeluh ketakutan setiap hari. Mereka terbayang-bayang wujudku dengan tangan berdarah-darah dan berkuku tajam.



Tapak Setan.




Yut Kasmijan menambahkan bahwa orang-orang yang pernah datang menjajali ibuku dan tak pernah kembali lagi berkata kalau setiap mereka dalam jangkauan sepuluh meter dari rumahku, mereka melihat sosok setan berbulu tinggi dengan kepala kemerah-merahan. Seperti api. Karena itu mereka tidak berani dekat-dekat dengan rumahku, atau lebih tepatnya, dekat-dekat denganku.



Kau ditakuti, dungu!



Baguslah. Aku perhatikan tanganku kini dengan takjub. Jadi itu khasiat dari tanganku yang berdarah dan menghitam bau bangkai.

__ADS_1



Masih banyak lagi, dungu! Pakai otakmu!



Kuhitung-hitung korbanku sudah ada sebelas. Dan seiring bertambahnya mereka, kujumpai tanganku sudah tidak berdarah-darah lagi setiap pagi. Hanya sekadar bercak saja. Tapi hitamnya masih bau bangkai dan kadang-kadang baunya seperti Bantar Gebang. Aku pernah sekali ke sana dan aku tidak mau kembali lagi.



Aku tanya ke Yut Kasmijan apakah dia melihat jurig saat dekat denganku. Dijawabnya tidak, justru dia melihat malaikat. Disusulnya dengan tawa. Pak tua yang sudah habis giginya itu lucu kalau tertawa. Membuatku ikut tertawa terpingkal-pingkal. Oh Yut Kasmijan, pak tua yang kesepian. Dekat-dekat dengannya aku seperti mencium bau kuburan.



Mungkin waktunya sudah dekat. Tiba-tiba aku bersedih, terharu juga melihat Yut Kasmijan yang tertawa lepas seolah sama sekali tidak memikirkan kematian. Aku menepuk bahu pak tua itu. Aku bilang terima kasih sudah menjadi temanku.



Sungguh, aku belum pernah melihat Yut Kasmijan menangis. Caranya menangis hampir seperti caranya tertawa. Aku jadi bingung dalam keharuan.



Tiga hari sudah berlalu. Aku memberanikan diri pulang ke rumah. Aku rindu ibu. Harap-harap cemas apakah aku sudah boleh pulang. Apakah kemarahan ibuku sudah reda. Aku buka pintu dan berbarengan dengan itu aku membuka hari terburukku.



Aku kehilangan orang terdekatku. Orang yang bertalian darah denganku. Orang yang membawaku ke dunia. Aku menemukan ibu tergeletak tak bernyawa di lantai dapur. Mulutnya penuh busa. Matanya membelalak kosong. Aku terjatuh dan rasanya sulit untuk bangkit. Nyawaku seperti ikut tercabut. Bahkan si Setan Bocel tidak mengucapkan apa-apa. Dia hening. Seperti ikut merasakan dukaku.



Demi Setan yang paling buruk perangainya, akan kukejar orang-orang yang membuat ibuku jadi begini.

__ADS_1


__ADS_2