
TADINYA aku pikir ibuku yang memanggilku dengan panggilan dungu. Aku yang tidak berakte ini tidak punya nama tetap, dulunya. Kalau tidak dipanggil heh, boy, ceking, dan sebutan lain yang menjelaskan postur tubuhku, aku dipanggil hei goblok. Dipanggil dungu, rasanya naik satu kelas di atas goblok. Padahal sama saja rendahnya. Suara bisikan dalam kepalaku seperti milik perempuan, serakserak berdistorsi. Persis seperti suara ibuku yang sudah kebanyakan minum dan merokok.
Ibuku sedang tidak ada di rumah, dia sudah pergi ke lokalisasi sore-sore tadi. Si Bangsat suka datang jam dua malam saat ibuku pulang melacur. Hidup di tempat tinggalku, semuda diriku begini sudah mengerti hal-hal yang begituan. Orang-orang dewasa di tempatku mulutnya tidak bisa dijaga. Aku tidak tahu kalau itu dianggap nista sampai aku bilang di sekolah negeri dulu kalau ibuku pekerjaannya melacur. Kepala sekolah memanggil ibuku besoknya. Akibatnya aku dipukul pakai sapu oleh ibuku sepulang ke rumah. Semuda ini, aku sudah tahu tentang narkoba, sebab banyak tetanggaku yang memakainya. Kadang aku ditawari. Tapi aku menolak. Melihat mereka yang memakai, seperti melihat mayat hidup. Mengerikan. Membuatku ogah dekat-dekat mereka. Itulah yang merusak ibuku. Si Bangsat mencekoki ibuku dengan sabu-sabu.
Aku sering melihat ibuku tepar di kamar mandi dengan sendok dan jarum suntik di tangan terkulainya. Aku mengangkat ibuku dengan susah payah. Ibuku badannya agak gemuk. Berat. Matanya mengawang, seperti sedang diseret malaikat pencabut nyawa. Aku takut akan kehilangan ibuku. Aku bisiki beliau, kumohon berhenti memakai barang setan ini. Walau sedang melayang begitu, ibuku masih dapat mendorongku sampai terjungkal. Waktu itu dendamku kepada si Bangsat sudah menumpuk setinggi tumpukan sampah di ujung gang yang tidak diangkat tiga bulan.
Kadang, tapi tidak sering, aku mengalami momen krisis identitas. Aku tidak tahu siapa ayahku. Waktu kecil dulu aku sempat percaya kalau aku ini anak terong. Aku menanyakan kepada ibuku tentang ayahku. Ibu menjawab asal sekali. Ibuku waktu itu lagi masak terong balado. Dia bilang sambil menunjukkan terong yang masih utuh. Katanya aku ini hasil perbuatannya dengan terong sakti. Ibuku bilang, aku tidak butuh sosok ayah. Lalu kalau terong adalah ayahku, mengapa ibu memasaknya jadi balado? Mulai sejak itu aku tidak doyan terong lagi.
Ibuku selalu mengulang itu sambil terpingkal-pingkal setiap ulang tahunku yang tidak jelas juga kapannya. Kadang Februari, kadang Mei. Suka-suka ibuku. Dia membelikan aku roti abon dan lilin yang asal ditemukannya di sebelah warung. Momen-momen seperti itu walau menjengkelkan buatku karena ditipu mentah-mentah waktu kecil dulu, adalah momen terdekat dan terhangatku dengan ibu. Dia menyengajakan diri libur dari lokalisasi hanya untukku.
Nama Atarjoe kudapat dari Basuki. Aku suka nama itu. Awalnya ayah Basuki yang menyebutku dengan Tarjo.
Katanya aku mirip dengan almarhum temannya dulu waktu muda, yang mati ditabrak truk minyak waktu dia kebut-kebutan gaya-gayaan. Basuki bilang, nama Tarjo terlalu cemen buat aku yang putih ganteng ini. Basuki menambahkan huruf A di depan dan E di belakang. Sekarang ini namamu, katanya. Atarjoe. Aku dulu belum tahu kalau Basuki ternyata homo. Sial. Tak mengapa, dia teman terbaik yang pernah kupunya.
Kepada ibu aku menyatakan diri sebagai Atarjoe. Nama yang bagus, menurutnya. Tetapi kemudian aku dipanggil Joe Ngos olehnya. Ibuku mencandaiku. Tak mengapa, yang penting aku bisa melihatnya tertawa.
Nah, suara serak berdistorsi perempuan ini menuntunku untuk menjajal tanganku. Gunakan untuk melampiaskan kemarahan, katanya. Lebih baik saat masih berdarah dan menuju hitam bau bangkai. Aku mengepalkan tanganku dan melakukan jurus-jurus ngawur melawan udara. Darah menetes-netes di lantai terpal kamarku. Itu kulakukan subuhsubuh. Lampiaskan kemarahanmu kepada si Bangsat, dungu! Aku diprovokasi oleh suara tanpa wujud itu.
__ADS_1
Semenjak kemunculan suara itu dalam sudut benakku, aku jadi pemarah. Aku hampir menjadi seperti si Pesek. Suka menghardik. Hanya kepada Basuki aku tidak melakukannya. Basuki yang berperawakan kecil dengan rambut lepek merasa dirinya punya peluang untuk tidak dianggap remeh. Basuki semakin lengket denganku. Menjadikanku tamengnya. Preman-preman perempatan kadang suka mencegat Basuki karena ayahnya punya urusan sama mereka. Tapi aku mau apa? Menghajar preman-preman itu sendirian? Ya tidak mungkinlah. Aku membawa Basuki lewat jalan lain saja, lebih baik.
Semenjak ada suara itu, aku jadi suka mengumpat. Menyebut nama si Bangsat berulang-ulang kalau si Bangsat sedang main ke rumah. Si Bangsat yang merasa terganggu, menyeretku keluar dan menggamparku sampai hidungku berdarah.
Suara dalam sudut benakku berkata untuk sabar. Tanam saja dulu kemarahanmu. Belum saatnya. Kau akan suka kalau pada saatnya tiba. Sebuah pelepasan yang memuaskan.
Semenjak suara itu muncul, aku jadi sering membayangkan seperti apa wujud si Suara. Dengan daya khayalku yang terbatas, aku menggambar sosok si Suara dengan asal. Sesosok misterius hitam putih yang bermuka setengah. Seperti musuh Batman, tapi lebih jelek lagi.
Setiap hari aku menggambar dia. Hasil yang kuanggap bagus kutempel di dinding tripleks kamar. Jadi ketika suara itu muncul dan membimbingku untuk menanam dendam, aku akan menghadap wajah separuh bercoretan kasar.
Sebelum aku menjadikan si Bangsat korban keduaku, terjadi kecelakaan di rel kereta. Korbannya adalah sepupu jauh Yut Kasmijan. Seorang perempuan paruh baya. Tersambar kereta sampai tubuhnya ajur separuh. Yang kuperhatikan adalah bentuk kepalanya. Separuh saja, seperti gambaranku tentang si Suara. Tidak seperti orang-orang yang tidak kuat melihat tubuh hancur si Korban, aku justru mendapat inspirasi. Gambar wajah separuh coret-coret pakai pulpen hitam itu kutambahi warna merah. Kutarik garis kasar yang membentuk seperti rambut mohawk.
Tak kusangka si Suara menyetujui. Boleh juga.
Gambar jelek sosok mengerikan yang terinspirasi korban kecelakaan kereta api itu memberiku semacam motivasi. Aneh juga kurasa. Aku mencuri kaus jemuran dari kompleksnya orang-orang tajir tanggung. Kaus polos abu-abu. Aku pinjam spidol hitam dan merah dari sekolah kolong jembatan. Kugambari kausku dengan sketsa si Suara.
__ADS_1
Kau akan menyembahku, dungu?
Enak saja. Jilat dulu bokongku.
Waktu mau tidur, ada perasaan aneh di lubang anusku.
Sialan. Aku jadi menyembahnya.
Dia bertanya dengan apa aku akan menamainya. Aku bilang, Setan Bocel.
Nama yang jelek, dungu!
Diam kau Bocel!
Aku tegaskan padanya kalau dia hanya menumpang dalam benakku. Jadi jangan macam-macam. Cicilan pertama pembayarannya adalah apa yang terjadi kepada si Bangsat.
__ADS_1
Saat dendamku mendidih seperti lava gunung, Setan Bocel memberiku lampu hijau. Raup mukanya dengan tangan bangkaimu!