TAPAK SETAN

TAPAK SETAN
Episode 10


__ADS_3

AKU ingin menyaksikan permandian darah. Sedap. Entah kenapa sekarang aku suka bau darah. Semenjak aku sudah bisa menyedot setan ke dalam tanganku, aku sudah tak lagi mengalami tangan berdarah setiap pagi. Itu yang menyebabkan aku rindu aroma darah. Kurasa. Tapi, tangan menghitam masih tetap terjadi. Kali ini diiringi dengan rasa teramat gatal pada telapak tangan kanan. Gatal seperti habis dijadikan kebun ternak ulat bulu. Ingin rasanya aku menggaruknya dengan sekop dan linggis. Anehnya, kalau dulu tanganku menghitam lalu bau bangkai, kini setelah aku dapat memburu setan sendiri, baunya seperti kebun melati. Aku jadi ngeri sendiri. Seumur-umur aku belum pernah mencium bau wangi yang begitu kuat, mengingatkanku terhadap kematian.



Aku seperti keranda berjalan yang dihiasi ribuan untaian melati.



Dengan mengepal dan meregangkan jari tangan, aku merasakan diriku yang baru. Yang penuh gelora beringasan untuk membayar dendam. Dendam bagiku adalah utang. Aku berutang pada ibuku. Ibu yang telah rusak oleh lingkungan dan manusia-manusia bobrok. Lebih baik aku jadi setan dan menghukum mereka daripada jadi anak baik-baik dan tak bisa berbuat apa-apa. Ha-ha.



Kolam darah. Aku mau menciptakan kolam darah malam ini. Aku ingin menyaksikan orang-orang incaranku tergenang di dalamnya. Dalam darah yang keluar dari diri mereka sendiri. Ha-ha. Asyik sepertinya. Mungkin aku perlu membawa jagung bakar. Duduk di sudut yang enak sembari melihat korban-korbanku saling baku hantam tak terkendali. Gambaran genangan darah terbayang tak putus-putus dalam pikiranku selagi aku mengintai para pemuda begajulan yang pernah menjajali ibuku. Hari sudah lewat Magrib. Mereka sudah siap dengan minuman keras dan rokok berpakpak. Kulihat mereka ada enam. Pas. Mereka berenam yang belum pernah kena raupan tanganku. Tiga dari mereka yang berak di mukaku. Mereka bernyanyi tak jelas. Suara mereka seperti kambing sedang sanggama. Kadang berubah jadi kucing berkelahi. Ini adalah malam keempat aku mengintai mereka. Setiap malam mereka selalu mengundang cewek-cewek panggilan untuk disodok dari lubang mana pun.



Di sebuah ruangan bekas loket tiket perusahaan penyedia bus yang sudah bangkrut, mereka bercinta ramairamai. Keringat mereka bau setan mesum. Aku rasa tiap bulir keringat yang jatuh bakal menjelma jadi setan-setan baru yang akan selalu mengisi otak mereka dengan tindaktanduk manusia bobrok. Tindak-tanduk yang lebih rendah dari perilaku setan. Apalah, belum kusalurkan setan saja mereka sudah kesetanan kok.



Ah, aku bakal lebih dari sekadar menyalurkan setan kok. Ini percobaan pertama yang kulakukan dengan sadar. Kalau yang dikatakan Setan Bocel dulu benar adanya, aku bakal senang. Aku bakal lihat kucuran darah segera malam ini.



Selepas Isya aku melihat ada tiga cewek yang datang. Aku mengenali mereka. Mereka rutin datang setiap malam. Kadang membawa temannya yang lain. Tapi tiga itu yang paling rajin muncul. Mereka bertiga yang bersedia disodok melalui dua lubang. Karena jumlah pemuda bobrok ada enam, aku yakin mereka akan menghajar satu cewek sekaligus berdua. Mereka santai dulu minum-minum. Kacang sudah habis berbungkus-bungkus. Radio disetel ke saluran ceramah. Bangsat. Mereka bermesum ria diiringi ceramah tentang hari akhirat. Bejat benar. Baru malam ini mereka melakukan itu. Aku menggelengkan kepala heran.


__ADS_1


Dua atau tiga jam terlewati dengan mereka saling melontarkan obrolan tak senonoh dan kalimat sok-sokan mengkritisi pemerintah. Terminal sudah makin sepi. Bus terakhir sudah berangkat. Para tukang sapu sedang beraksi. Setelah tukang sapu pada pulang, mereka bermesum ria. Mereka tidak mengunci pintu ruang loket bekas. Biar ada angin yang masuk katanya. Biar orang-orang kalong terminal tahu, mereka bisa berbuat seenaknya di terminal. Mereka penguasa terminal.



Tiga cewek melepas baju dengan bergoyang. Latar belakang ceramah masih belum usai. Kutang diputar-putar di udara dan dibuang, mengundang tawa enam pemuda. Di sini, tangan kananku sudah amat gatal. Enam pemuda sudah melepaskan baju dan batang perkasa mereka sudah pada berdiri. Aku sungguh jijik melihatnya. Aku yakin salah satu dari batang itu panuan. Tapi tetap saja, tiga cewek itu suka hati mengulum batang itu seperti es potong berlumurkan cokelat membeku. Mereka lahap.



Aku cape melihat mereka bermesum ria. Malam-malam sebelumnya, mereka bisa bercinta empat jam lamanya. Para pemuda memang sudah memuncratkan pejunya di setengah jam pertama permainan. Tapi mereka langsung menenggak obat kuat lalu menghajar lagi. Mani mereka semprotkan ke wajah setiap cewek. Salah satu dari mereka ada yang suka menelan. Aku putuskan untuk malam ini aku tidak mau menonton. Tidak ada faedahnya juga bagiku. Hubungan seks menjadi daftar belanja yang harus kucoret dalam kehidupan. Aku jijik dengan hubungan dua kelamin. Sumber malapetaka. Kurasa.



Aku justru mengamati tangan kananku. Aku dapat mendengar setan-setan di dalam sana menggedor-gedor pintu hotel gaib. Mereka tak sabar ingin keluar. Baik-baik, sebentar lagi kalian akan keluar, sabar setan-setanku. Aku mengecek lagi setelah dua jam lewat. Mereka masih bermain. Kulihat satu cewek sudah KO. Teler tak sadarkan diri. Bisa jelas kulihat lubang vagina dan anusnya dower. Cewek itu tepar mengangkang sembarangan.



Baiklah, aku tunggu lagi dua jam.




Dua jam lewat. Aku siap beraksi. Kuintip mereka dari celah plafon. Mereka sudah tepar. Baik, inilah saatnya.



Aku keluar turun dari sudut langit-langit loket bekas. Aku merayap di dinding bagaikan tokek kebesaran. Mereka tepar dengan mulut menganga dan mengorok. Aku beraksi dalam hening. Meraup muka mereka satu per satu tanpa berkata apa-apa. Aku adalah pembalasan kejam yang mendatangi mereka diam-diam.

__ADS_1



Aku menenggelamkan telapak tanganku dalam-dalam ke muka mereka. Aku merasakan dorongan yang kuat untuk membuat muka mereka hancur. Aku yakin aku bisa melakukan itu saat ini juga. Tapi rencanaku bukan demikian. Tanganku sudah cukup kotor dengan menyentuh kulit muka mereka. Aku sudah yakin enam setan dalam tanganku sudah merasuki mereka. Aku meninggalkan mereka dengan melangkahi tubuh telanjang tiga cewek yang tertidur ngorok. Aku tidak perlu meraup tiga cewek itu. Biar mereka jadi saksi pertumpahan darah sebentar lagi. Ha-ha. Aku keluar dari loket bekas dan mengunci pintunya dari luar, aku gembok dengan gembok yang telah kusediakan dari loket sebelah. Ini akan jadi acara yang menarik. Aku ambil tempat duduk dan memosisikan diri di beberapa depa dari pintu loket. Aku sudah mendengar suara auman beringas dari salah satu pemuda.



Kemudian menyusul suara bogem yang saling menghantam. Lalu teriakan para cewek panggilan yang histeris ingin keluar tapi tidak bisa. Aku mengirimkan perintah kepada enam pemuda itu agar mereka saling melukai dengan tangan kosong. Entah itu dengan hantaman bogem atau cakaran kuku penuh kotoran.



Jantungku berdebar saking antusiasnya. Aku tidak perlulah menonton langsung acara saling melukai itu. Aku cukup mendengarkan dari luar dan mencari-cari bau darah di udara. Aku tidak akan menyuruh mereka berhenti sampai aku melihat darah merembes melewati celah pintu loket.



Aku terkaget dengan suara pecahan kaca. Tiga cewek panggilan itu nekat kabur dari sabung nyawa di dalam loket. Kurasa mereka tak sengaja terkena hantaman bogem. Mereka memecahkan kaca sampai bisa memungkinkan mereka keluar memanjat dari sana. Mereka tak peduli diri mereka yang masih tak berpakaian. Aku melihat payudara salah satunya berdarah tergores kaca. Ha-ha. Mereka terheran-heran melihat diriku yang amat santai menghadap pintu loket.



Aku pun tidak mengizinkan mereka sampai membunuh. Enak saja mati begitu saja. Mereka harus merasakan sakit. Dan sewaktu-waktu nanti kalau aku lagi pengin, aku akan menyuruh mereka untuk melukai diri sendiri lagi. Suatu hari nanti.



Setan Bocel tidak bawel. Entah ke mana dia. Rasanya aku kehilangan keberadaannya dalam tanganku. Masa bodohlah.



Selagi aku menikmati satu jam pertama acara sabung nyawa, dan sudah mendapati apa yang kuinginkan, yaitu darah yang menyelinap dari celah pintu loket, ada yang tertawa terkekeh di sampingku. Aku menoleh dan kudapati setan yang lebih jelek dari Setan Bocel. Dan ajaibnya, wujud kerdilnya membuatku takut. Kurang nyaman tepatnya. Enak saja aku mengaku takut. Kan, sudah kubilang, aku tidak takut apa pun sekarang.

__ADS_1



Setan baru yang muncul ini menikmati sabung nyawa yang kubuat. Dia kegirangan. Ditandai dengan lidah panjangnya yang bergerak seperti ular kawin di tanah. Dia bakal kusebut dengan Setan Cebol. Cocok.


__ADS_2