TAPAK SETAN

TAPAK SETAN
Episode 7


__ADS_3

HIDUNGKU mencium aroma darah yang pekat. Darah yang membungkus tangan kananku. Selain itu, aku mencium samar-samar bau bangkai. Aku masih dalam momen ketindihan. Lumpuh. Tak berkutik. Bola mataku saja yang bisa bergerak. Aku hendak merintih namun tak kuasa. Lantas aku ikuti gerak si Setan Bocel yang mondar-mandir dalam gerakan kakinya yang diseret-seret. Tangan kirinya yang panjang kini mengusap-usap langit-langit dari seng kamarku. Aku bisa melihat dia tertawa. Tak enak sungguh mendengarkan tawanya yang seperti mesin selep rusak.



Tangan kananku masih dalam posisi menggapai ke atas. Jarinya tak bisa kugerakkan. Aku beralih dari si Setan Bocel ke tanganku itu. Aku kurang yakin, tapi sepertinya darah yang membungkus tanganku tampak mengalir. Ada kesan geli di kulit tanganku itu.



Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang seiring perasaan tidak nyaman dari kelumpuhan ini yang semakin meningkat. Setan Bocel sialan. Sudah memperalat tangan kananku, kini dia membiarkanku lumpuh begini. Aku susah payah hendak menggerakkan otot-otot, tapi tidak ada hasil gerakan sekecil apa pun.



Suara tawa mesin selep bobrok si Setan Bocel menjilati telingaku. Menambah ketidaknyamanan ini. Kini kulihat si Setan Bocel tengah berdiam diri di ambang pintu kamarku yang terbuat dari batang kayu lapuk. Kulihat bulu-bulunya meliuk-liuk seolah punya kehidupan sendiri. Kepalanya yang berdarah dan serupa api jabrik itu membara. Dia berbalik tiba-tiba ke arahku. Tangan kirinya memegangi tangan kanannya yang buntung. Dia tertawa sembari memamerkan semprotan darah yang keluar dari ujung buntung tangan kanannya.



Sialan. Si Setan Bocel tengah mengecat kamarku dengan darah. Bau darah makin pekat di hidungku. Setelah tak menyisakan setitik pun, si Setan Bocel menyemprotku dengan darah dari selangkangannya. Ya, dia tidak pakai celana. Alat penyembur darahnya itu tersembunyi di balikbulu panjang yang menjuntai meliuk dari perut. Ia sibak dan ketahuanlah ada semacam penis di sana. Aku bingung, si Setan Bocel ini laki-laki atau perempuan? Atau janganjangan banci? Pertanyaan ini membuatku sangat takut. Darah yang menyembur dari ujung penisnya yang buntung seperti tangan kanannya, terasa asin. Sialan. Aku terbatukbatuk dan pada akhirnya aku bisa bergerak. Aku muntahmuntah, selepas terbebas dari jeratan kelumpuhan.



Si Setan Bocel tertawa kurang ajar. Aku dan seisi kamarku penuh darah.



Pada saat Setan Bocel berhenti tertawa dan mengibaskan tangannya secara acak di udara, darah yang melumuriku dan seisi kamarku, perlahan lenyap. Sialan, sudah terbebas dari jeratan kelumpuhan, justru sekarang aku jadi boneka si Setan Bocel. Dia mengendalikanku seperti boneka tali. Sialan. Aku kepengin ngamuk, tapi rupanya jeratan kendalinya lebih kuat. Dia tak memedulikanku yang mengumpat habis-habisan, dalam kepala. Aku hanya bisa batuk, tidak bisa bicara.



Dia bilang kepadaku melalui perbincangan benak ke benak. Dia akan selalu bisa mengendalikanku seenaknya apabila aku masih belum memberinya makan. Bangsat, sudah menjadi parasit dalam tubuhku, kini dia minta aku memberinya makan? Tidak sudi.


__ADS_1


Aku menyesal berkata demikian. Menyesal dengan merutuk. Si Setan Bocel mencekikku dari jauh. Dia berkata lagi, melalui pikiranku. Dia mempertanyakan dendamku terhadap orang-orang yang telah membuat ibuku celaka. Aku dikatai dungu dan istilah merendahkan lain yang setara dengan binatang, anjing perancap, kucing homo, babi kutilan, dan bahwa aku ini lemah dan pengecut.



Aku tidak suka mendengarnya. Aku ganti mengatainya dengan kata-kata makian yang kurang lebih sama rendahnya: jurig kontol pedot, anak kos bebal, parasit jahanam, dajjal buluan, dan lain-lain. Aku tidak terima dikatai pengecut. Aku akan membalaskan dendamku, Bocel!



Dungu, tidak tahukah kau bahwa aku bisa membantumu? katanya dengan suara yang dilembut-lembutkan. Itu membuatku tambah tidak nyaman, tiba-tiba dia jadi lembut? Oh dasarannya dia memang lelembut. Tapi tetap saja, aneh. Apalagi dengan suaranya yang seperti seng digesek ke tembok semen tak halus.



Dia memberi tahuku bahwa tangan kananku bisa mewujudkan semua itu. Dia memberiku bukti dengan contoh korban-korban yang lari ketakutan seperti diancam jurig saat aku meraup mereka dengan tangan kananku. Aku pikir benar juga. Mana bisa tangan biasa membuat dampak seperti itu kalau tidak ditempeli makhluk halus.



Dia mau saja menyebutku pintar kalau aku mau mengembangkan kemampuan ini bersamanya. Dia akan memanduku. Aku akan ditakuti orang banyak, terutama orangorang yang telah membuat ibuku mati. Aku akan ditakuti oleh bandit, preman, mafia, bahkan polisi. Tangan kananku punya potensi, katanya. Dan itu bergantung padaku. Mau melakukan itu atau tidak. Kalau tidak, si Setan Bocel akan selalu melakukan hal ini setiap malam. Membuatku lumpuh dan membiarkanku terjaga dan melihatnya melepas tangan kananku dan berburu darah. Sialan.




Putuskan apa, Bocel? Aku pengin mengusirmu dari tubuhku!



Tidak bisa. Kau harus buktikan dulu kau mampu mengusirku.



Bagaimana caranya?

__ADS_1



Dengan mencari setan yang lebih kuat dariku.



Bangsat! Apa-apaan lagi ini.



Dia memberi tahuku tentang perburuan yang dia lakukan dengan memperalat tangan kananku. Dia memakan setan-setan cemen dan kadang menantang setan yang sekaliber dengannya untuk bertarung, yang kalah akan dimakan. Dan selama ini, dia selalu menang dan berhasil memakan setidaknya ratusan setan. Kau kanibal, kubilang. Setan makan setan lebih baik daripada manusia makan manusia, jawabnya. Bangsat, pepatah konyol dari mana itu?



Jadi begini, dia melanjutkan, tanganku yang bisa membuat orang-orang kalang kabut ketakutan dan frustrasi dalam waktu bersamaan itu adalah karena setan-setan yang dimakan oleh si Setan Bocel. Jadi dia membayar keistimewaan tangan kananku yang bisa jadi tempatnya bernaung adalah dengan menyetor setan yang telah dimakannya untuk bisa disalurkan ke ruang gaib dalam tangan kananku.



Ah bangsat, aku makin tidak mengerti.



Jadi ketika aku meraup muka orang yang kubenci, satu setan akan tersalurkan. Menjadikan orang itu inang baru. Lebih mudahnya, aku membuat orang itu ketempelan. Bangsat, aku jadi ngeri. Aku membuat orang kesurupan!



Dan nantinya, orang-orang yang telah kutiupi setan dalam relung jiwanya, bisa jadi budakku di masa depan. Atau terserah padaku mau aku apakan orang-orang itu. Si Setan Bocel memintaku untuk mencarikan yang lebih kuat darinya. Sebab dia mengaku, lama-lama dia cape berburu setan-setan. Dia melakukan perburuan itu karena dia terikat kontrak dengan tangan kananku. Sialan, menyeramkan juga tangan kananku ini. Tak sadar aku menyeringai seperti setan sedang merencanakan propaganda terjahat.



Jadi dengan kata lain, aku ini adalah bosnya setan.

__ADS_1


__ADS_2