TAPAK SETAN

TAPAK SETAN
Episode 2


__ADS_3

DI SINI kalian akan tahu korban pertamaku. Akan kuceritakan tentangnya. Sebentar, aku periksa dulu keadaan jiwaku. Syukurlah, masih aku yang memegang kendali. Repot juga kalau ada penumpang dalam tubuhmu. Sesuatu yang kalian tidak bisa lihat dengan kasatmata tapi ada dan menggentayangimu. Pada titik ini, aku belum bisa melihat mereka. Tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka dalam ruang ragaku. Dan sekarang ini, sepertinya mereka sedang ambil piknik. Lagi tidak berisik.



Oke, korban pertamaku adalah teman sekolahku yang resek. Bisa kubilang beberapa tingkat di bawah si Bangsat. Dia anak menyebalkan yang dari dulu pengin kutonjok hidung peseknya. Kusebut dia si Pesek. Mukanya seperti babi ketabrak traktor. Hanya saja lebih jelek.



Bicara tentang sekolah, hem, aku ini tidak sekolah di sekolah sungguhan. Maksudku, aku ini anak jalanan, jadi aku tak layak berada di sekolah sungguhan. Dulu, sih, pernah aku belajar beberapa tahun di sekolah negeri. Tapi karena ibuku tidak bisa bayar buku dan seragam, aku didepak keluar. Lagi pula nilaiku juga tidak bagus-bagus amat. Aku malas dengan peraturan menyebalkan yang dibuat kepala sekolah. Mana asyik kalau tidak boleh gondrong? Sepatu harus hitam? Aku pun malas dengan anak-anak sekolah negeri. Mereka itu anak-anak mami, ingusan pula!



Singkat cerita setelah berbulan-bulan aku tidak sekolah, akhirnya ada anak-anak muda jalanan yang peduli dengan pendidikan anak jalanan. Mereka membuat sekolah darurat di bawah jembatan dan pinggir rel kereta. Aku pertama ikut karena iseng. Tak kusangka kemudian ternyata mereka anakanak muda yang asyik. Aku jadi senang bisa sekolah lagi.



Hanya si Pesek saja yang membuatku tidak nyaman. Sudah pesek, bau kentut, udel kelihatan melulu, gigi kuning, kuku penuh kotoran, hidup lagi. Sesekali aku berharap ada barang jatuh dari atas jembatan lalu menimpa kepala si Pesek. Tapi itu tidak pernah terjadi, tak peduli seberapa kuat aku membayangkannya.



Aku salah satu yang paling sering digerecoki olehnya. Sebenarnya aku tidak masalah kalau hanya aku yang digerecoki. Asal jangan sentuh teman-teman dekatku. Ralat, teman dekatku. Ya, hanya satu. Namanya Basuki.


__ADS_1


Aku ini tahan banting walau bertubuh kecil dan kurus kering. Silakan ganggu aku semaumu, aku akan bergeming seperti patung maneken, walaupun kau melakukan sodomi seminggu penuh terhadapnya. Aku tahu si Pesek menggangguku karena aku ini paling putih di antara anak jalanan yang ikut sekolah darurat kolong jembatan. Si Pesek yang busik dan penuh koreng itu punya misi ingin menulariku penyakit jeleknya. Ya tentu tidak bisa, mawar tidak bisa jadi bunga bangkai, bung! Setidaknya, mawar yang layu tidak sebusuk bunga bangkai yang membusuk. Halah, apalah aku ini menyamakan diri dengan mawar. Menjatuhkan harga diri sebagai lelaki saja!



Jadi, si Pesek ini selalu menjadikanku sasaran untuk menitipkan upil dan potekan koreng di lututnya. Aku jadi harus mencuri jemuran penghuni kompleks orang tajir tanggung lebih sering. Tidak sudi aku memakai baju yang telah dinodai kenistaan si Pesek. Aku selalu membakar baju-baju yang jadi korban si Pesek. Aku kumpulkan baju-baju ternoda itu di tong kosong, di akhir pekan aku beli bensin satu gelas buat membakarnya. Kadang Basuki juga ikut menemaniku, dan kalau bajunya kena upil si Pesek juga, dia pun ikut membuang bajunya ke tong bakar. Waktu Basuki mengeluarkan jagung mentah, aku melarangnya. Jangan, kau nanti tertular penyakit babi jelek si Pesek. Basuki tertawa.



Seperti yang kubilang, si Pesek beberapa tingkat di bawah si Bangsat. Tingkat menjengkelkannya masih bisa kutolerir. Dia memang suka menjadikanku target. Tapi karena aku dapat mengabaikannya, dia jadi bosan dan cape sendiri. Lalu dia mengincar anak yang lain. Itu yang tidak bisa kutolerir. Si Pesek menarik kancut Basuki. Teman dekatku itu berteriak kesakitan karena tititnya terjepit. Aku menarik si Pesek dari belakang. Tapi sayang itu adalah tindakan sia-sia, si Pesek yang berbadan besar tidak bergerak sedikit pun. Si Pesek melakukan perundungan ketika para anak muda pengajar sekolah darurat sedang berkeliling untuk memeriksa pekerjaan rumah anak-anak.



Si Pesek yang tidak terima kutarik, mendorongku sampai aku terjatuh. Katanya, akhirnya aku bereaksi. Janjinya, dia akan melakukannya lebih sering. Yaitu mengganggu Basuki. Aku tantang dia, secara nekat. Langkahi mayatku, baru kau boleh sentuh Basuki. Tentu itu membuat si Pesek makin semangat. Dia menjangkau leherku dan mengangkatku. Aku menendang-nendang. Dia mencekikku, aku kesakitan kehabisan napas.




Basuki dan aku dan juga anak lainnya jadi heran sekaligus senang. Si Pesek besok-besoknya tidak pernah lagi muncul di sekolah darurat kolong jembatan. Hanya sesekali saja aku berpapasan dengannya di pasar dadakan. Si Pesek kabur melihatku. Aku jadi heran. Tapi puas juga melihat orang resek seperti dia jadi takut denganku. Karena itu aku jadi disegani oleh anak-anak.



Di rumah aku kepikiran dengan yang terjadi saat aku meraup muka si Pesek. Ada aliran energi yang mengalir ke tanganku. Energi abstrak yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Seperti menyalurkan yang negatif keluar. Seperti beol.

__ADS_1



Seandainya itu terjadi pagi-pagi, aku akan lebih senang meraup muka si Pesek selagi tanganku berdarah. Biar sekali-kali dia mencicipi selain upil dan koreng. Ya, si Pesek kadang-kadang suka memakan upilnya sendiri.



Akibat kejadian dengan si Pesek, aku jadi lebih banyak mengamati tangan kananku kalau sedang di rumah. Ada apa sebenarnya. Kenapa setiap pagi berdarah lalu berbau bangkai, dan kenapa si Pesek seperti melihat genderuwo saat kuraup wajahnya dengan tanganku?



Pernah suatu pagi aku melihat Yut Kasmijan sibuk mencari sesuatu. Aku tanya, katanya dia sedang mencari bangkai tikus atau apalah. Aku menyembunyikan tangan kananku yang menghitam dan jadi sumber bau bangkai ke balik kaos.



Aku coba iseng meraupkan tanganku sendiri ke wajah. Aku memejamkan mata, berharap sesuatu terjadi. Beberapa saat aku biarkan berlalu. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin. Sudah begitu saja. Seperti biasanya. Tidak ada yang lain. Aku tidak mengerti. Apa yang membuat si Pesek begitu ketakutan sampai tak menampakkan batang hidungnya lagi? Entahlah. Yang penting, selamat tinggal muka babi.



Aku menerka-nerka. Kupikir tanganku ini kerasukan. Kerasukan jin datang bulan, mungkin. Entahlah. Mungkin saja ada yang dinamakan kerasukan sebagian. Aku ini kidal, jadi aku tidak begitu sering memakai tangan kananku. Maka setan-setan yang sedang cari kos memanfaatkan tanganku sebagai tempat bernaung. Entahlah.



Lalu aku mendengar ada suara membisik. Suara yang mengajariku cara menyajikan dendam. Suara yang menjengkelkan, sebab di awal kalimat sapanya, ia menyebutku sebagai anak dungu.

__ADS_1


__ADS_2