
AKU berpura-pura sebagai bocah yang pertama kali menemukan tempat kejadian perkara. Orang-orang langsung ramai mengerumuni loket bekas tempat semalam terjadi sabung nyawa. Kulihat ibu-ibu pedagang dan mas-mas asongan menunjukkan muka ngeri sekaligus lega. Bahkan kudengar ada yang berdecak mengucap mantab. Aku tahu mereka-mereka itu yang sering ditindas oleh enam pemuda begajulan.
Darah yang menyelinap keluar dari celah pintu masih deras membanjiri lantai. Sayup-sayup terdengar suara rintihan dari dalam. Petugas terminal membuka paksa gembok yang kuncinya kubuang semalam. Petugas lain masuk melalui jendela kaca pecah. Ibu-ibu makin histeris berseru merdeka ketika melihat enam pemuda dengan wujud yang hancur. Sudah seperti korban terlindas bus atau truk sampah. Mereka berlumuran darah. Mereka tanpa pakaian sama sekali. Salah satunya penisnya buntung, dari situ dia mengucurkan banyak darah, seperti pipis yang ditahantahan keluarnya. Salah satu dari mereka rahangnya hampir lepas. Dua di antara mereka kelopak matanya robek, menampakkan bola mata yang berurat merah dan hampir pecah. Luka-luka terpampang di tubuh mereka. Menganga dan tidak berhenti mengeluarkan darah. Jari-jari mereka tak keruan arahnya. Patah-patah. Ada yang telinganya putus. Salah satu dari mereka masih menggigit telinga yang telah putus itu. Mereka ditemukan dalam kondisi tergeletak tak berdaya, dengan napas putus-putus, posisi saling menjauhi satu sama lain. Petugas terminal membawa serta polisi. Ibu-ibu dan para pencari uang di terminal yang sering ditindas menyuruh polisi untuk menangkap saja mereka. Para pembuat onar itu menyebabkan terminal sepi pelancong. Polisi datang membawa serta mobil ambulans, enam pemuda yang ajur tubuhnya itu digotong asal-asalan oleh mereka yang mendendam. Mereka asal saja melempar tubuh penuh luka enam pemuda itu ke dalam ambulans. Dari semua orang, aku yang menyeringai paling lebar. Aku puas. Aku puas melihat orang-orang terminal yang tertindas, merasa merdeka. Aku jadi merasakan adanya sebuah ikatan abstrak muncul dalam diri. Aku harus melindungi mereka. Dengan tangan ini. Dengan Tapak Setan ini.
Selama beberapa waktu aku beredar di terminal. Berkenalan dengan ibu-ibu pedagang gorengan dan mas-mas asongan penjual rokok dan minuman ringan. Aku membantu mereka secara sukarela. Mengantarkan minuman ke pembeli. Aku tidak menuntut bayaran. Tapi mereka yang merasa terbantu olehku, suka memberiku beberapa ribu. Aku bahkan diberi makan gratis oleh Bu Janur, pemilik tempat makan di dalam terminal. Dari beliau aku tahu betapa senangnya para pedagang atas ajurnya para pemuda bangsat itu. Tapi beliau mewanti-wanti juga, biasanya akan ada yang naik panggung lagi sok berkuasa. Dalam hati aku bilang, tenang saja, siapa pun itu, akan kubasmi dengan tangan setan ini. Aku mengamati tangan kananku dengan bangga.
Setan Bocel sudah menghilang. Aku tahu dia sudah terbebaskan. Tapi entahlah. Aku kurang yakin. Sepertinya dia lenyap karena terkalahkan oleh setan yang lebih unggul darinya. Yaitu Setan Cebol. Ukuran tubuh mereka beda jauh. Setan Cebol berdiri tidak sampai lutut si Setan Bocel. Tapi, pada sepertiga malam terakhir waktu aku melancarkan aksi balas dendamku, Setan Cebol terkekeh-kekeh sambil menarik dari udara bebas, kurasa Setan Bocel yang sedang ditariknya, sebab kurasakan tangan kananku seperti ada tekanan. Seperti sumbatan ingus atau nanah yang bandel tidak mau keluar. Setan Cebol memaksa keluar Setan Bocel. Kulihat Setan Bocel memohon ampun agar dirinya jangan dimakan. Dia tahu bahwasanya Setan Cebol lebih sakti dari dirinya. Setan Bocel tidak sanggup melawan. Dia memegangi kaki pendek Setan Cebol yang penuh kutil seraya meminta pengampunan.
__ADS_1
Ada secuil iba yang terbit dari hatiku. Tapi aku abaikan. Masa bodoh dengan Setan Bocel.
Maka aku bisa melihat bagaimana setan melahap setan. Setan Cebol yang berkepala besar dan langsung menyambung ke pundak dan dada, tanpa leher, mengangakan mulutnya. Aku kaget dan tidak nyaman melihat itu. Tapi kupaksakan. Sebagai tuannya para setan, aku harus tahan terhadap pemandangan mengerikan dan menjijikkan. Setan Cebol itu kepala bagian atas, mulai dari bagian bibir atas sampai ubun-ubun, terpisah dengan bagian rahang bawah yang menyambung ke telinga. Mulutnya robek melingkar sampai hanya meninggalkan kulit tipis yang menyambungkan rahang bawah dan rahang atas dan sisanya. Makanya dia bisa membuka mulut lebar-lebar dan lidahnya yang panjangnya bermeter-meter itu bisa melilit tubuh Setan Bocel. Kulihat lubang kerongkongan yang menggelegakkan cairan asam kehijauan begitu lebar seperti kuali raksasa. Padahal tubuh Setan Cebol sekerdil itu. Perihal gaib memang memusingkan. Tahu-tahu saja bisa seperti itu tampilannya. Lidah Setan Cebol telah meliliti sempurna tubuh jangkung Setan Bocel. Lidahnya kemudian membuat posisi Setan Bocel melayang-layang di atas mulut lebar bercairan asam menggelegak Setan Cebol. Lalu ajaib sekali setelahnya. Tibatiba saja Setan Bocel lenyap bagai asap kentut tertiup angin puting beliung. Kupikir aku akan melihat adegan seperti ular piton makan buaya. Gaib memang ajaib. Aku jadi salut dengan Setan Cebol. Aku bertepuk tangan untuknya.
Aku bilang kepadanya juga, aku hanya akan menyalurkan setan-setan dalam hotel gaib tangan kananku kepada orang-orang jahat yang meresahkan masyarakat banyak yang tertindas. Kurasa dia mengangguk menyetujui, lalu kulihat dia menjulurkan lagi lidahnya, yang kini aku bisa melihat dengan jelas, ternyata sisinya berduri tajam, melilit tangan kanannya, dia membuat tangan kanannya buntung. Gilak. Tangan buntungnya itu menggelepar di tanah seperti buntut cicak yang putus. Dan gilak, dia memakan tangannya sendiri. Itu aku tahu, dia lakukan agar dapat meminjam tangan kananku untuk menjaring setan lebih banyak.
__ADS_1
Baiklah. Itu berarti aku akan mengalami tangan berdarah dan bau bangkai lagi. Dan ini juga berarti aku mendapat tantangan supaya dapat merebut kembali tangan kananku. Aku harus bisa naik kelas. Membuat Setan Cebol membiarkan aku sendiri yang beraksi, nanti. Sekarang aku mau istirahat dulu, cape juga mengisap banyak setan lalu membuat orang kesurupan dan membantai satu sama lain. Toh mereka pantas menerimanya.
Aku punya tempat khusus di terminal. Yaitu di loteng, tempat aku mengintai enam bajingan tengik dulu. Aku tidak memberi tahu siapa pun mengenai tempatku itu. Biarkan aku, ralat, Setan Cebol, bekerja dalam heningnya malam.
Membersihkan terminal ini dari setan-setan usil. Ya, dari Bu Janur, aku mendapati informasi tentang setan-setan yang suka menampakkan diri di kala malam. Kadang penumpang bus malam pernah melihat mereka. Dalam wujud manusia putih tanpa muka. Bu Janur sendiri pernah melihat tuyul kecil bermuka lubang anus. Sial, sudah tuyul gundul, bermuka dubur. Aku jadi pengin berak membayangkannya.
__ADS_1
Tapi tak kusangka. Setan Cebol bekerja lebih mengerikan daripada Setan Bocel. Kali ini, aku bangun dengan seluruh tubuh berlumuran darah.