
AKU hampir tidak bisa bernapas selagi menangis. Aku sampai lupa caranya hidup. Semuanya berhenti. Detak jantungku berhenti, atau aku lupa dan tak bisa merasakan detaknya, setelah berpacu dengan cepat saat aku menemukan ibuku tergeletak tak berdaya. Setiap kali aku menemukannya lagi sakau, aku selalu panik. Kali ini, dimulai dengan panik dan disusul oleh kejut listrik ke seluruh tubuhku. Tangan ibuku dingin dan kaku. Aku tahu itu adalah tandanya orang mati dari pelajaran di sekolah negeri dulu. Dan juga aku belajar langsung dari tetangga dua rumah ke kiri yang ditemukan mati tanpa siapa pun mengetahui berbulanbulan lalu. Untung baru beberapa jam. Aku melihat betapa tubuh orang mati kaku sekali dan hampa. Raga ditinggal oleh nyawa. Nyawaku seperti ingin menyusul ibuku. Aku terjatuh di sampingnya, menangis tanpa suara. Rasa sakit ditinggal mati ibu terlalu dahsyat untuk kutanggung.
Sebelum-sebelumnya aku selalu meremehkan kematian. Ia tidak akan mendekatiku sedini mungkin. Aku selalu berpikir hal-hal buruk hanya terjadi pada orang-orang di luar lingkaranku. Lingkaran kecil yang hanya dihuni oleh aku dan ibuku. Seperti kecelakaan parah di rel kereta, yang orang di lingkunganku sering menjadi korban. Kalau sudah ada yang terlampau sering kelihatan beredar di rel kereta, sudah dipastikan orang itu lagi stres. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk disambar kereta. Hal seperti itu kupikir tidak akan pernah mendekatiku. Tapi setelah urusan dengan jenazah ibuku yang mengenaskan dan dibereskan seadanya oleh orang kampungku, aku jadi sering beredar di rel kereta. Yut Kasmijan sering meneriakiku untuk menyingkir dari rel.
Aku tidak berharap lebih. Pengurusan jenazah ibuku hanya dihadiri oleh orang masjid sebelah. Itu pun Yut Kasmijan yang memanggil mereka. Orang-orang kampungku mana mau repot-repot. Mereka itu lucu dan ingin sekali kuludahi satu per satu. Moral bobrok kok sok-sokan berlagak suci. Aku dapat mendengar dengan jelas ketika jenazah ibuku lagi dimandikan, ocehan yang sengaja tidak diredam volumenya, bahwa ibuku pantas mati mengenaskan seperti itu. Sudah melacur, memakai narkoba pula. Padahal mereka tak lebih baik dari ibuku. Awas saja nanti kalian, akan kuraup satu-satu muka kalian, saat tanganku lagi berdarah dan bau bangkai!
Aku tidak bisa mengaji. Bahkan aku sendiri tidak yakin agamaku apa. Ibuku tidak pernah memberi tahuku. Ibuku pun tidak terlihat memeluk agama mana pun. Sepanjang yang kulihat di waktu-waktu terakhirnya, ibuku menyembah jarum suntik dan bubuk putih.
Hanya aku yang tinggal di makam ibuku. Makam yang tanpa patok. Orang-orang masjid yang mengurusi ibuku, langsung pulang setelah selesai menguburkan. Kakiku lemas. Aku tak mampu berjalan. Setidaknya sampai larut malam. Sampai larut malam pula aku menangis tanpa suara. Yut Kasmijan tadi hadir sebentar, lalu pergi untuk berjualan kerupuk lagi di perempatan, menyamar jadi orang buta dengan tongkat. Larut malam, aku dijemput Yut Kasmijan.
Pak tua itu khawatir denganku. Dalam keterpurukan kesedihan ini, aku menyadari satu hal, aku tidak sepenuhnya sendiri di dunia ini. Masih ada Yut Kasmijan yang peduli denganku.
Sialan. Itu malah membuatku tambah sedih. Karena satu hal itu aku jadi menjauhi Yut Kasmijan. Aku benci merasa melankolis seperti ini. Aku ingin kembali beringasan. Aku tidak keluar rumah selama seminggu. Pintu kukunci dan lubang-lubang yang ada kutambal pakai lakban. Aku tidak menyahut panggilan Yut Kasmijan. Stok mi instan di dapur masih ada untuk seminggu. Satu bungkus per hari. Aku kuat. Dalam kedukaan dan keterpurukan ini aku tidak minat makan.
Aku menanam dendam lagi. Kali ini lebih dahsyat. Kali ini ingin kurawat lebih hebat. Dendam ini harus terbayar. Sasaranku adalah orang-orang yang kuintai sering mendatangi ibuku waktu aku lagi diusir. Jumlahnya ada selusin. Akan kukejar mereka. Akan kubuat mereka menderita lebih parah daripada si Bangsat.
__ADS_1
Selama seminggu mengunci diri di rumah, tanganku mulai berdarah kental lagi setiap pagi. Bahkan kali ini berlangsung dua kali. Yang pertama pada pukul dua dini hari. Yang kedua waktu Subuh. Aku membiarkan itu terjadi. Tak mau memusingkannya lagi. Bahkan aku berusaha menikmatinya. Bau darah dan bau bangkai. Aku tutup mukaku, kubaluri dengan darah yang keluar secara misterius dari tangan. Aku membiarkan darah itu mengering di mukaku.
Aku membuat tato darah di muka. Kuolesi dengan dua jari, seperti orang-orang zaman dulu kalau mau berperang. Hidungku pun kini sudah akrab dengan bau bangkai dan sampah seribu ton. Aku tidak mau setengah-setengah. Tangan yang berdarah ini sudah menjadi bagian dari diriku. Aku akan menerima kenyataan itu.
Bagus, dungu!
Aku mengabaikan si Setan Bocel. Aku memfokuskan ke tangan kananku. Aku mengamatinya seperti orang yang haus darah. Aku bahkan kini menjilati tanganku yang berdarah dipukul dua. Kuanggap itu darah dari para bajingan yang membuat ibuku berakhir tragis. Aku merencanakan akan membunuh mereka. Rasanya, tak akan cukup kalau aku hanya meraup wajah mereka. Mereka harus mati. Dan darah mereka harus kukoleksi. Aku akan menyimpan darah mereka ke dalam stoples dan kujejerkan dan kunamai. Akan kuludahi setiap hari.
Dungu! Kau tak bisa menghabisi mereka sendirian!
Tidak ada yang menjawab.
Si Setan Bocel makin membodohiku. Bicaralah denganku, katanya. Aku mengabaikannya, aku tidak butuh Setan Bocel sekarang ini.
Aku masa bodoh dengan listrik di rumahku yang mati. Aku tidak butuh listrik. Aku butuh pembalasan dendam.
__ADS_1
Dalam kondisi gelap rumah, si Setan Bocel menampakkan dirinya. Sesuai dengan yang pernah kugambar dan disetujui olehnya. Setan Bocel tinggi dan hanya belulang dibungkus kulit. Kepalanya hanya separuh. Separuhnya normal dan separuhnya habis seperti digerus mesin giling. Penampakan si Setan Bocel hanya berlangsung sebentar. Ketika kupinta dia untuk lenyap, dia langsung lenyap.
Aku tidak butuh Setan Bocel untuk membalaskan dendam yang satu ini. Hanya aku yang boleh melakukannya, dari nol sampai jadi. Setiap hari aku selalu membayangkan para pelaku mati dengan cara-cara biadab yang bisa kupikirkan. Mereka layak menerimanya.
Namun, kenyataan berkata lain. Aku melancarkan dendam yang kupelihara selama seminggu. Namun, hancur berantakan. Rencanaku sederhana awalnya, aku hanya perlu mengincar kepala. Dan ketika mereka meronta-ronta seperti melihat hantu, akan kusiksa mereka dengan beragam cara keji.
Sebenarnya hanya tinggal beberapa saja dari pemuda bajingan yang belum kuraup mukanya. Terminal adalah tempat para pemuda bajingan itu berkumpul. Yang sudah pernah kuraup mukanya, lari seperti melihat jurig ketika aku mulai dekat sepuluh meter. Pemuda yang belum kena, heran dan menengok ke belakang dan mendapatiku. Aku segera saja meraup mukanya.
Bangsat. Tak kusangka, tidak ada yang terjadi. Si pemuda tidak bereaksi seperti korban-korbanku sebelumnya. Akhirnya, aku jadi bulan-bulanan mereka. Aku ditampar, ditendang, diludahi dan juga dikencingi dan diberaki. Mereka mengolokku dengan sebutan anak pelacur.
Sumpah demi setan paling terkutuk, dendamku masih membara. Tapi aku terlalu lemah untuk melawan. Ke mana si Setan Bocel ketika kubutuhkan?
Sembah aku dulu, dungu!
Aku benci sekali mendengar Setan Bocel tertawa.
__ADS_1