TAPAK SETAN

TAPAK SETAN
Episode 6


__ADS_3

SEPERTINYA aku pingsan. Dan tempatku pingsan sangat memprihatinkan. Entah siapa yang meninggalkanku di parit. Tahi pemuda terminal sudah mengering di mukaku. Ditambah lagi dengan air kotor menghitam bau sejuta limbah dari parit. Hina sekali diriku ini. Najis.



Aku melepas kaosku yang bergambar Setan Bocel. Kupakai untuk membersihkan kotoran yang telah jadi kerak di mukaku. Sekaligus pula untuk menghina si Setan Bocel yang bukannya menolongku malah memintaku untuk menyembahnya. Sialan. Aku memungut batu rel untuk menggosok kotoran. Biarlah kulitku lecet, yang penting tanda hina dari pemuda terminal itu tersingkir. Aku menyelinap masuk ke stasiun dan langsung menuju toilet. Sialan, airnya habis! Aku menyelundup saja ke rumah orang tajir tanggung yang lagi sepi penghuni. Aku pakai selang air mereka yang memancur kencang untuk membuat tubuhku bersih dari tahi musuh. Aku pakai sabun cuci mobil yang lupa dimasukkan ke boks oleh si pembantu. Gila kawan, bau tahi musuh susah sekali dihilangkan. Aku setengah mati menahan bau dan rasanya. Aku muntah-muntah tadi. Saat tubuhku kunilai agak bersih, aku sempatkan mencuri jemuran orang tajir tanggung. Kaos yang kuincar minggu lalu, hitam bergambar tengkorak. Aku bakal jadi Penghukum!



Tenang, dendamku masih membara. Mereka belum lepas dari jerat rencana pembalasanku. Sebelum aku membunuh mereka nanti, akan kuberaki mereka di mulut. Sungguh, tanganku gatal sekali ingin membalas mereka sesegera mungkin. Penghinaan ini sulit kutampung lamalama. Mukaku yang ganteng begini, kalau kata Basuki sih, dinistai dengan tahi? Kelewatan!



Aku menghindari Yut Kasmijan. Aku menyelinap masuk ke rumah tanpa diketahui siapa pun. Aku langsung memasak air dan menata ember cuci. Aku larutkan macammacam sabun ke sana. Deterjen, sabun batangan, sabun colek, sampo, pengharum pakaian, demi menyingkirkan penghinaan di atas kulitku. Aku rendamkan muka dan bagian tubuhku yang terkena tahi. Bodo amat kulitku akan terkena penyakit apalah akibat campuran semena-mena sabun-sabun itu. Itu lebih baik daripada membiarkannya masih terlapisi kehinaan. Lalu setelah aku merendam muka selama satu jam. Aku memakai ember itu dan merendamkan puluhan kantung teh, baik yang sudah pernah dipakai dan juga yang baru. Biar agak wangi alami sedikit. Itu aku lakukan pula, perendaman muka selama satu jam. Setelah itu aku baluri mukaku pakai bubuk kopi. Lalu aku tidur dengan mata kutempeli irisan timun.



Aku tidur dengan mengaduh berkali-kali. Tubuhku penuh memar akibat dipukul dan ditendang ramai-ramai. Untung aku tidak mati. Kalau mati, sia-sia saja aku menanam dendam yang kemarin itu. Hidungku masih mencium darah dari mukaku yang bonyok. Lewat tengah malam aku menggigil. Aku tahan. Ini adalah upayaku menyimpan dendam. Dengan mengigat sakitnya, aku akan membuat mereka sakit berkali-kali lipat dari yang kuderita. Awas saja.


__ADS_1


Tubuhku berselimutkan apa pun yang kutemukan. Karung beras, karung tepung, seprai bau, dan terpal sekalian. Aku menggigil hebat. Mengejang. Tulangku seperti ditempeli balok es batu. Kepalaku berat, rasanya seperti dihantam palu.



Akan aku tahan. Tekadku bulat. Dendam ini harus dipelihara.



Dua jam lewat tengah malam tangan kananku bergerak sendiri. Sumpah, bukan aku yang menggerakkan. Gerakannya membuatku kaget. Tiba-tiba saja tangan kananku menggapai ke atas. Lalu jari-jarinya menekuk-nekuk sendiri. Aku tidak merasakan sakit. Wah, jangan-jangan aku akan melihat proses tanganku berdarah secara misterius. Tapi tidak, kawan.



Setan Bocel nongol dengan muka parutnya. Mukanya yang setengah dan berdarah membuatku pengin muntah. Sisa tubuhnya adalah kerangka manusia yang tak berdaging, terlapisi kulit dan rambut panjang awut-awutan sekujur tubuh. Pada saat ini, aku tidak bisa berucap dan bergerak sama sekali. Ini persis seperti ketindihan, hanya saja lebih buruk.




Aku baru tahu kini, tanganku diperalat oleh si Setan Bocel. Dia menyentuh tangan kananku dengan tangan kanannya yang buntung. Aku tidak merasakan apa-apa. Tapi tibatiba, tanganku yang gantian buntung. Jurig! Aku panik. Tapi tubuhku lumpuh. Aku melihat ujung tangan buntungku mengucurkan darah. Bukan mengucur dan mengalir ke bawah. Melainkan menyembur dan tetap melayang di udara, membentuk tangan yang dipinjam oleh Setan Bocel. Tangan darah. Demi genderuwo paling jelek! Ini mengerikan. Aku panik. Aku berusaha menggerakkan tanganku itu, tapi tiada hasil.

__ADS_1



Sementara si Setan Bocel terkekeh, kulihat itu dari punggungnya yang naik turun. Suara kekehannya seperti seng berbenturan. Dia bergerak pelan meninggalkanku lumpuh sendiri. Tangan si Setan Bocel panjang dan hampir menyentuh lantai, kulihat kuku tajam panjangnya menggores lantai terpal kamarku. Dia menoleh sebentar ke arahku seperti mengejek, kupinjam dulu tanganmu buat merancap. Kira-kira begitu dari tatapan matanya yang culas. Mata tinggal satu yang hampir hancur juga, terlihat dari bolanya yang penyok dan hampir keluar cairan dalamnya.



Bangkai! Aku tidak bisa apa-apa. Memang sih memar dan lukaku jadi tidak berasa sama sekali. Tapi ditinggalkan tak berdaya begini dengan tangan kanan dipinjam setan celaka dan digantikan tangan berdarah, apa tidak bikin panik?



Aku penasaran, diliputi pikiran-pikiran mengerikan, tentang apa yang Setan Bocel perbuat dengan tangan kananku.



Jangan-jangan dia pakai untuk membunuh. Atau berburu tumbal. Setan-setan, kan, doyan tumbal. Atau dia pakai untuk membunuh pemuda terminal incaranku? Wah jangan sampai, itu aku tidak akan terima. Pemuda terminal adalah jatahku. Aku akan beri perhitungan kepada Setan Bocel kalau dia berani merebut jatahku. Tapi tunggu, bagaimana aku mau memberinya pelajaran? Dia, kan, setan!



Aku kemudian menggigil lagi. Kali ini dengan tanpa bagian tubuhku bergetar. Tubuhku masih lumpuh. Aku hanya merasakan dingin menjilati tulangku dan menggaruk dengan gigi tajamnya. Aku baru sadar. Pikiran ini kenapa tidak datang di awal? Aku baru sadar dan ngeri sendiri kalau tubuhku jadi sarang setan. Apa karena aku tidak beragama?Dan anehnya, aku tidak merasa takut atau bagaimana saat tahu ada suara perempuan serak distorsi yang kini menampakkan diri sekali-sekali sebagai makhluk tinggi berbulu dan bermuka separuh, dalam tubuhku.

__ADS_1



Sekitar satu setengah jam kemudian si Setan Bocel muncul. Ada yang berbeda darinya. Kulihat tubuhnya agak berisi. Dia mengusap bibir dari wajah separuhnya dengan tangan kiri. Lalu dia memutar tangan kanannya dan melepaskan tangan kananku. Dikembalikannya ke tempatnya semula. Darah yang membentuk tangan kananku memecah, tanganku yang asli dipasang kembali, lalu darah yang memecah itu melumuri tanganku, membungkus. Jadi begitulah terjadinya tanganku yang berdarah tanpa sebab. Melibatkan entitas gaib. Setan Bocel yang bernaung dalam diriku.


__ADS_2