
DENDAMKU terus dibakar oleh Setan Bocel. Jangan sampai kematian ibuku jadi sia-sia, dalihnya. Iya aku tahu, aku memang tidak akan membiarkan para cecunguk bangsat itu hidup dengan tenang. Selama mereka belum kena raupan dan siksaanku, aku tidak akan berhenti. Bagus, kau tak perlu membunuh mereka. Sialan, aku sebenarnya ingin membunuh mereka. Nyawa ibuku berharga seratus nyawa mereka. Enak saja mereka tetap enak hidup sementara ibuku tidak.
Setan Bocel bilang setan yang nanti kusalurkan melalui raupan tanganku akan membuat mereka sengsara, lebih sengsara dari kisah hidup ibuku. Kalau begitu aku setuju. Kupikir lagi, enak saja mereka langsung mati. Mati itu final, tanpa ada kemungkinan lagi, kecuali pasti mereka masuk neraka yang entah kapan itu. Siksa kubur, mana kutahu, aku tidak bisa melihat. Aku mau siksaan yang bisa kusaksikan. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau mereka masih hidup. Setan Bocel memberi tahuku kalau setan yang kusalurkan nanti bakal menangguhkan kematian mereka walaupun mereka mencoba bunuh diri dengan menabrakkan diri ke truk tronton atau kereta api sekalipun, atau terjun dari gedung pencakar langit. Mereka akan tetap hidup dengan tulang patah. Sakit patah tulang akan mereka rasakan berkali lipat. Mereka tidak akan diizinkan untuk pingsan, mereka akan selalu terjaga dengan sakit mereka, bahkan kalau mereka dibawa ke rumah sakit dan dibius, mereka akan terjaga dan sadar merasakan. Mampus kalian!
Tapi semua itu ada syaratnya, kata si Setan Bocel. Aku sendiri yang harus memburu setan-setan untuk dimasukkan ke ruang gaib dalam tangan kananku. Lalu kau mau ngapain, Setan Bocel? Cuti? Katanya, dia hanya akan beraksi malam hari. Dia cape. Buset, setan bisa cape juga?
Tentu cape apalagi kalau dibebani dengan kontrak gaib. Dia terikat dengan tangan kananku sejak aku menginjak tiga belas tahun. Dia tidak sengaja lewat dekatku waktu di pasar ikan dan tahu-tahu dia terisap masuk ke ruang gaib dalam tangan kananku. Dia tidak bisa terlepas dari jeratan kontrak itu sampai aku bisa mencarikan penggantinya, atau aku bisa mandiri mencari setan-setan untuk menghuni ruang gaib dalam tangan kananku.
Sialan. Tangan kananku rupanya jadi hotel para setan. Ha-ha. Tidak seperi hotel kebanyakan, mereka tidak tinggal dengan sukarela. Aku bertanya kepada Setan Bocel apa sebenarnya yang ada dalam tangan kananku. Dia tidak bisa menjawab. Mungkin setan yang di atas kalibernya bisa menjawab, aku disemangati untuk mencari.
Dia membeberkan apa yang bakal terjadi kalau aku yang sekarang sudah tahu tentang tangan kananku tapi tetap tidak mau melaksanakan anjurannya, bakal ditimpa kematian orang-orang terdekat dalam waktu dekat. Sialan, aku langsung memikirkan Yut Kasmijan. Wah tidak boleh. Jangan sampai itu terjadi. Walau aku tahu Yut Kasmijan tinggal sedikit lagi waktunya ngontrak di dunia, tetap saja aku tidak mau dia terlalu cepat pergi.
__ADS_1
Baiklah, aku akan berburu.
Nah begitu, baru oke, tidak dungu lagi.
Taik.
Aku ambil barang seperlunya saja. Toh baju-bajuku kudapat semua dari jemuran orang tajir tanggung. Barang seperlunya adalah dompet kulit berisi foto ibuku. Dompet itu tidak ada duitnya. Tapi aku punya cara supaya dompet itu ada isinya. Aku sewakan saja rumah seng dan tripleksku ini. Baiklah, kalau begitu aku percayakan kepada Yut Kasmijan saja untuk urusan sewa dan tetek bengeknya.
Aku menunggu Yut Kasmijan pulang jualan kerupuk di perempatan. Sewaktu melihatku dia senang sekali. Dia memelukku erat. Katanya dia khawatir denganku setengah mati. Aku bilang aku di rumah saja. Dia heran kenapa panggilannya tidak disahut. Aku jawab aku lagi menenangkan diri atas meninggalnya ibuku. Yut Kasmijan mengerti.
Petuah Yut Kasmijan berbunyi: semua orang pasti akan mati, tinggal menunggu waktunya saja. Dia mengaku sedang menunggu gilirannya. Sial, orang tua ini tidak tahu apa kalau aku selalu sedih membayangkannya mati. Menghalau itu aku langsung utarakan saja niatanku, aku mau mengembara. Aku mau cari duit. Pergi dari rumah. Sesekali saja akan kembali ke sini. Untuk itu aku mau menitipkan rumahku ke Yut Kasmijan. Kalau ada yang mau menyewa dibolehkan saja. Nanti uangnya Yut Kasmijan simpan dan pakai buat kebutuhan sehari-hari, kasihan cape, kan, setiap hari berpura-pura buta demi jualan kerupuk. Aku hanya perlu sedikit saja dari uang sewa, satu atau dua bulan sekali aku akan ambil.
__ADS_1
Yut Kasmijan berkaca-kaca matanya. Dia mengusap rambutku dengan syukur. Betapa mulianya aku. Jujur, aku tidak terlalu suka dengan sentimen semacam ini. Membuatku ingin menangis. Kegiatan yang paling aku tak suka. Karena hidungku akan meler berjam-jam setelahnya. Setelah menitipkan kunci gembok rumahku yang karatan, malam-malam aku langsung pergi berburu.
Lokasi pertama yang potensial adalah gudang tua yang telah ditinggalkan bertahun-tahun dan suka dipakai muda mudi untuk mesum kalau siang. Kuduga di sana banyak tuyulnya karena para pemuda mesum itu lebih memilih memuntahkan mani ke tembok daripada dikeluarkan ke dalam rahim pasangan. Mau enak, kok, nanggung.
Setan Bocel menyetujui gagasanku. Dia bilang di sana memang banyak setan cemennya. Cocok buat aku latihan. Tapi aku minta dia untuk memberi contoh dulu. Baiklah, katanya.
Ternyata cukup gampang kalau aku lihat. Setan Bocel keluar dari tubuhku seperti biasa. Tinggi buluan dan muka jelek bekas digilas truk tronton. Dia tentu meminjam tanganku. Aku takjub dengan diriku yang sudah tidak kaget melihat semua itu. Setan Bocel tidak membuatku lumpuh. Tanganku buntung sementara, tanpa dibungkus darah. Agak gatal rasanya mengetahui tanganmu sedang tidak ada di tempat tapi ada dorongan untuk menggerakkan jari. Setan Bocel berdiri menjulang dengan tangan sepanjang tiga meter merentang ke kiri kanan. Dia menyasar sudut-sudut gudang tua. Tangannya menyapu area itu. Kulihat matanya menyala merah dan darah berkobar seperti api di kepalanya yang makin terang saja seiring dia melahap setan-setan yang kena jangkauannya. Aku samar-samar mendengar jeritan para setan cemen itu.
Aku takjub pada diriku sendiri. Aku tidak bergetar sedikit pun karena takut melihat peristiwa ini. Aku, seorang bocah manusia, sendirian di gedung tua penuh lelembut. Aku justru seru sendiri melihat Setan Bocel memakan setan-setan yang telah terkumpul di telapak tangannya. Mulutnya penuh darah gaib. Menetes dan menghilang di udara. Setan Bocel muncul taringnya. Tubuhnya makin padat. Aku merasa kuat.
Setelah selesai, dia mengembalikan tangan kananku. Aku merasakan tanganku seperti dirubung semut. Itu katanya Setan Bocel, setan-setan yang telah dimakannya sedang memilih kamar persinggahan sementara. Menarik. Aku menyeringai lebih lebar. Setan Bocel duduk leha-leha sementara aku mengamati tangan kananku lebih saksama. Aku samar-samar bisa merasakan ada denyutan energi gaib dari setan-setan yang dimakan Setan Bocel di dalam ruang abstrak tangan kananku. Di pikiranku sekarang berputar siksaan yang dialami orang-orang yang akan kuincar. Aku membuat mereka kesurupan dan menyakiti diri sendiri.
__ADS_1