Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
14. Pura-pura Baik


__ADS_3

Setelah makan malam yang menegangkan bagi Alesya karena dia harus melayani sang tuan rumah dengan baik. Dia bahkan sampai tidak punya kesempatan untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri karena pria Tiran itu selalu saja mengganggunya. Ada saja yang pria itu perintah.


Tentu saja Axel sengaja melakukan hal itu. Melihat perempuan itu menahan geram dengan mengepalkan tangannya. Membuat Axel memiliki hiburan sendiri.


Hah akhirnya aku bisa bebas dari pria itu.


Alesya baru saja memasuki kamar, dia sudah tidak sabar untuk menelepon Mishel dan bercerita banyak hal. Perempuan itu mengambil ponselnya yang ia simpan di laci meja. Lalu mulai memasukkan nomor ponsel temannya. Dia pun melakukan panggilan telepon.


"Ayo angkat Mishel. Ini aku ...," gumamnya sambil menempelkan telepon pada telinganya.


"Hallo, siapa ini."


Mata Alesya berbinar saat mendengar suara seseorang di dalam telepon. Rasanya dia ingin menangis saat ini, tapi itu hanya akan membuat temannya khawatir.


"Mishel ... ini aku, Alesya." Hampir saja Alesya berbicara dengan nada bergetar. Untunglah dia masih bisa menahannya.


"Alesya!! Ini benar kamu Alesya?" Jelas sekali kalau suara temannya begitu terkejut saat Alesya mengatakan siapa yang menelepon.


"Iya, Mis. Ini aku. Maaf membuatmu khawatir, aku hanya belum punya kesempatan untuk menghubungimu. Kamu tidak apa-apa kan, maaf aku meninggalkanmu saat di pelelangan."

__ADS_1


"Ale ... hiks hiks. Aku pikir aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku mencari kamu kemana-mana, bahkan aku juga melapor ke polisi tapi aku tidak menemukanmu juga. Kamu di mana sekarang? Apa kamu diculik? Apa mereka menyakitimu?"


Alesya begitu terharu mendengar temannya begitu mengkhawatirkannya. Meski sebelumnya dia dan keluarganya sudah pernah ditipu oleh orang terdekat tapi dia bisa merasakan kalau Mishel benar-benar tulus menyayanginya.


"Aku baik-baik saja. Maaf karena sudah membuatmu cemas," ujar Alesya dengan perasaan terharu.


"Benarkah kamu baik-baik, Ale. Lalu kamu di mana sekarang? Kenapa kamu tidak menemani Tante Rosaline saat menjalani operasi? Aku mencari dan menunggumu di sana tapi aku sama sekali tidak melihatmu. Anehnya ada dua orang yang tidak aku kenal, mereka berjaga di depan ruangan Ibumu." Mishel menceritakan apa yang ia lihat di rumah sakit. Termasuk kondisi Rosaline.


Alesya memang sudah tau akan kondisi ibunya. Kemungkinan untuk sembuhnya sangat kecil. Namun, Alesya tetap bersikeras agar ibunya dioperasi. Kemungkinan sekecil apapun akan Alesya ambil. Dia tidak bisa hanya menunggu ibunya terbaring koma begitu saja.


"Aku mengerti, terimakasih sudah mau melihat ibuku."


"Terimakasih Mishel. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tau harus bagaimana."


"Kamu itu bicara apa, kamu sudah seperti saudaraku. Aku juga tidak melakukan apapun, saat kamu butuh bantuan. Aku sama sekali tidak bisa menolongmu sampai kamu harus ke tempat itu dan sekarang kamu terkurung di sana. Alesya, apa kamu yakin aku tidak perlu melaporkannya pada polisi."


"Tidak, ini adalah kemauanku sendiri. Dia tidak memaksaku. Aku sendiri yang mau. Dia juga sudah membayarkan biaya rumah sakit ibuku, katanya dia juga bisa membantuku untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku," ujar Alesya. Tidak ada gunanya juga melapor polisi. Laki-laki itu sepertinya sangat berpengaruh.


"Tapi bagaimana kamu bisa menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai, Ale?" tanya Mishel khawatir.

__ADS_1


Alesya sendiri tidak mengatakan mengenai perjanjian antara dirinya dan pria itu. Dia hanya mengatakan kalau dia akan menikah dengan pria itu.


"Tidak apa-apa, Mis. Kelihatannya dia pria yang baik. Aku akan mencoba mencintainya nanti." Hah, meski sebenarnya dia tidak yakin akan hal itu. Cinta? Apa laki-laki seperti dia bisa merasakan cinta.


"Lalu bagaimana jika aku ingin bertemu denganmu, apa kamu benar-benar tidak bisa keluar sebentar saja dari sana?"


"Aku akan membicarakannya lagi dengannya. Aku harap dia berubah pikiran dan mengijinkanku untuk menemuimu dan juga melihat ibuku."


"Baiklah, kau harus berjanji akan menjaga diri dengan baik di sana. Kau juga harus menghubungiku jika terjadi sesuatu," ujar Mishel mengingatkan. Dia tidak bisa membujuk temannya untuk pergi saja dari sana, bisa saja orang yang membawa Alesya itu sangat berbahaya.


"Terimakasih Mis, titip ibuku ya."


"Kamu tenang saja. Aku akan membantu mengawasi Tante Rosaline."


Setelah melakukan panggilan telepon dengan temannya membuat Alesya sedikit lega. Ternyata kondisi ibunya juga sama dengan apa yang dilaporkan oleh asisten Ken. Perempuan itu hanya berharap jika perjuangannya tidak sia-sia, ibunya bisa kembali sehat dan akan menghadapi pamannya bersama-sama.


Di balkon kamar, seseorang berdiri sambil memegang gelas yang berisi minuman beralkohol. Dia menggoyangkan gelasnya untuk membuat aroma dari wine itu menguar. Sedetik kemudian dia mengangkat sudut bibirnya. Rupanya sejak tadi dia menguping pembicaraan Alesya menggunakan earphone.


"Dia bilang apa tadi, akan berusaha mencintaiku. Hah ... aktingnya bagus juga."

__ADS_1


__ADS_2