
Tubuh Alesya terhuyung ke belakang untungnya ada dua bodyguard yang mengikutinya sehingga dia tidak sampai terjatuh dan sudah lebih dulu ditolong oleh mereka.
"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya laki-laki bertubuh besar itu. Tuannya sudah mewanti-wanti untuk menjaga Alesya dengan baik, bisa habis mereka jika wanita itu lecet sedikit saja.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih." Alesya berdiri lagi. Meski di bagian yang tertabrak sedikit sakit tapi Alesya tidak mengeluh.
Begitupun dengan wanita yang tadi menabrak Alesya. Dia mengaduh kesakitan karena sempat terduduk di lantai mall itu. Teman-temannya pun membantu dia untuk berdiri.
"Aaawww sakit sekali pinggangku!! Siapa yang berani menabrakku, apa dia tidak punya mata!" marah wanita itu. Dia mencari wanita yang tadi ia tabrak untuk memarahinya.
"Itu di sana," tunjuk teman wanita itu pada Alesya.
"Dasar wanita kampung, berani sekali dia menghalangi jalanku. Biar kita berikan pelajaran padanya." Mereka menghampiri Alesya yang menghadap ke arah lain sehingga tidak melihat kedatangan mereka.
"Hai kau! Berani sekali menabrakku lalu pergi begitu saja. Cepat minta maaflah padaku atau aku akan buat perhitungan denganmu!" ancam perempuan itu.
__ADS_1
Alesya seperti mengenali suara itu, sangat tidak asing di telinganya. Dia menoleh dan tatapan mereka bersibobrok.
"Kau!"
"Caroline?" Mereka sama-sama terkejut tapi sedetik kemudian, wanita bernama Caroline itu menatap sinis pada sepupunya itu.
"Apa kau mengenalnya Carol?" tanya temannya.
"Ah ya, rupanya wanita itu kau. Sepupuku tersayang," ujar Caroline menyeringai sambil melihat penampilan sepupunya dari atas sampai bawah. 'Siaaall, bagaimana dia bisa lebih modis dariku. Dapat uang dari mana dia!'
Sedangkan Alesya tidak ingin berurusan dengan sepupunya. Dia ingin segera pergi dari sana, harinya yang bagus bisa rusak jika berurusan dengan perempuan manja itu. Entah bagaimana dulu dia bisa tertipu dengan wajah polos yang sebenarnya penuh seringai. Dulu Alesya menyayangi Caroline seperti adiknya sendiri tapi tanpa dia sadari sebenarnya Caroline perlahan-lahan mengambil semua milik Alesya. Dari mulai barang-barang dan teman-temannya.
"Tunggu, Kakak. Apa kau akan pergi begitu saja tanpa memeluk adikmu ini. Apa kau tidak rindu denganku, padahal aku sangat merindukanmu. Huhuhu ...." Menampilkan wajah sendu dihadapan semua orang agar mendapatkan simpati.
Jika itu dulu, sudah dipastikan Alesya langsung memeluk sepupunya itu dan bertanya apa maunya. Sekarang, jangan harap Alesya akan bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Aku lihat kau sedang bersama teman-temanmu jadi aku tidak ingin menganggu. Kalian bersenang-senanglah." Berlalu begitu saja.
"Kakak ... hiks. Aku merindukanmu Kak, apa kau benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamaku. Teman-temanku juga pasti akan mengerti dan menerima Kakak. Iya kan girls?"
"Tentu Caroline, kami baik-baik saja jika kau mengajak kakak sepupumu bergabung bersama. Ayo kita berbelanja bersama."
"Ide bagus, kakakku ini sangat fashionable. Dia sangat tau fashion yang pas, kita bisa meminta saran padanya nanti," ujar Caroline seenaknya, padahal Alesya ingin pergi dari sana.
Pantas jika penampilan Caroline begitu norak. Itu karena selama ini dia tinggal di perkampungan kecil dengan kedua orangtuanya. Setelah pindah ke kota dia tinggal bersama keluarga Alesya. Meski sudah memiliki barang-barang yang mahal tapi dia tetap tidak bisa memadupadankan dengan benar. Selama ini ada Alesya yang membantunya, setelah Alesya pergi tentu dia berpenampilan seenaknya lagi. Meski menurutnya sudah cantik tapi dari kacamata orang lain, penampilannya begitu kampungan.
Namun, meski begitu teman-teman Caroline tidak ada yang berani menegurnya. Mereka hanya berani membicarakan di belakang punggung perempuan itu. Mereka sebenarnya menertawakan penampilannya tapi mereka tetap pura-pura baik saat di depan Caroline karena mereka tidak mau kehilangan teman yang mudah dibodohi. Dalam artian, Caroline itu mudah sekali mengeluarkan uang untuk temannya. Seperti sekarang dia menyuruh temannya untuk memilih pakaian dan dia yang akan membayarnya. Dia begitu sombong seakan semua orang mau berteman dengannya padahal mereka hanya mau membodohi dirinya.
"Ck, ternyata kau masih sama saja mudah tertipu oleh mereka. Padahal kamu bisa begitu licik saat bersamaku tapi saat bersama mereka, kau tidak menggunakan kepintaranmu itu. Apa kau tidak sadar kalau mereka hanya mau uangmu saja. Ah tidak, itu adalah uangku. Semua yang ia miliki adalah milikku." Alesya bergumam mengamati sepupunya. Dia terpaksa ikut karena Caroline terus berakting seakan Alesya kakak sepupu yang tidak punya perasaan.
"Kak Ale, Kakak mau apa ambil saja nanti aku akan membelikannya untuk Kakak," ujar Caroline dengan wajah sombongnya.
__ADS_1
"Terimakasih, tapi aku sudah punya banyak pakaian. Kau pilih saja pakaiannya biar aku bantu pilihlah yang pas untukmu. Miris sekali, kau punya banyak teman yang modis tapi tidak ada yang menegur penampilanmu," ejek Alesya, dia tidak perlu lagi merasa kasihan pada orang-orang bermuka dua seperti mereka.
"Siall!! Dia mengejekku!"