Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
20.


__ADS_3

Seorang wanita cantik baru saja masuk ke dalam kendaraan umum dengan menangis tersedu. Matanya sembab dan berurai air mata. Hidungnya merah karena terisak-isak. Dia baru saja menyesali kebodohannya, bagaimana bisa dia jadi berakhir seperti ini. Kini ia merasa kotor, ia merasa jadi wanita yang penuh noda.


"Hiks hiks hiks, maafkan aku, Mah. Maafkan aku ...." Menangis lagi sambil menutup wajahnya.


Supir taksi yang ditumpangi wanita itu menatap dengan rasa kasihan pada penumpangnya. Melihat dari penampilan perempuan itu yang sedikit berantakan dan saat menghentikan taksinya berada di depan sebuah hotel membuat supir taksi itu menduga-duga kalau sudah terjadi sesuatu pada perempuan itu. Sebagai seorang pria dewasa yang juga memiliki seorang anak perempuan. Tentu saja supir taksi itu merasa ibu dengan apa yang terjadi pada perempuan itu. Walaupun tidak tau apa yang terjadi sebenarnya tapi siapapun pasti akan menduga hal yang sama.


"Apa Anda membutuhkan tissue, Nona?" Supir taksi itu menyodorkan kotak tissue pada perempuan itu.


"Hiks ... terimakasih Pak." Perempuan itu mengambil beberapa lembar tissue lalu mengelap wajahnya yang basah dan sekaligus mengelap ingusnya yang keluar karena menangis.


"Apa Anda mau saya mengantarkan ke kantor polisi?" tanya supir taksi itu.


Perempuan itu cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Apakah jelas sekali jika dia baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan. Pasti sangat terlihat mengenaskan sekali bukan dirinya saat ini.


"Tidak Pak, antarkan saya ke jalan xx saja. Saya tidak apa-apa." Perempuan itu mencoba menarik bibirnya ke atas dan menghenyakkan sisa-sisa air mata di pelupuk matanya.


Sang supir taksi tidak memaksa lagi. Dia tidak berhak ikut campur urusan orang lain, kecuali memang diminta bantuannya.

__ADS_1


Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mishel. Teman dari Alesya. Semalam baru saja terjadi sesuatu yang buruk seumur hidupnya. Lalu kenapa dia tidak melaporkannya pada pihak berwajib. Mendengar hal itu, dia hanya bisa tersenyum sinis. Dia siapa, dan punya apa untuk melawan orang kaya itu. Mishel hanya tinggal bersama mamahnya yang merupakan single parents dan hanya berjualan kue.


Ponsel Mishel berdering, ternyata sang teman yang meneleponnya. Sebelum mengangkatnya, dia menarik nafas panjang lebih dulu agar lebih tenang saat berbicara dengan temannya.


"Huhhh ...." Barulah dia mengangkat teleponnya.


"Hallo, Mishel? Kau di mana? Apa kau tidak apa-apa? kenapa dari semalam aku tidak bisa menghubungimu." Seseorang di seberang sana sangat mengkhawatirkan keadaan Mishel yang sejak semalam tidak bisa dihubungi.


Mishel terharu, tanpa sada air matanya terjatuh kembali.


"Maaf Ale, aku tidak tau kalau ponselku mati. Ada apa kau meneleponku?" berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Apa?! Kenapa secepat itu, apa dia memaksamu?" tanya Mishel yang terkejut, Alesya memang sudah bercerita kalau dia akan menikah dengan laki-laki itu tapi Mishel tidak menyangka kalau akan secepat ini.


"Tidak, kami memang sudah sepakat. Kamu tidak perlu cemas lagi sekarang karena aku sudah menikah. Justru sekarang yang aku khawatirkan adalah kamu, Mishel. Jagalah dirimu baik-baik dan sebaiknya kamu berhenti bekerja di tempat itu. Aku sangat khawatir jika memikirkan hal itu."


"Aku tau, nona cerewet," ledek Mishel. " Aku juga ingin berhenti, tapi tunggu aku dapat pekerjaan baru. Ohh iya, apa kamu tidak akan melihat keadaan bibi Rosaline di rumah sakit?"

__ADS_1


"Aku ingin sekali melihat ibu tapi aku belum bisa pergi. Walaupun begitu ada orang yang selalu melaporkan padaku tentang keadaan ibu."


"Baiklah, padahal aku ingin sekali bertemu denganmu," ujar Mishel.


"Aku juga, banyak yang ingin aku ceritakan. Aku akan terus berusaha meyakinkan dia agar membiarkanku pergi. Baiklah, kalau begitu sudah dulu ya. Aku harus bersiap-siap."


"Ok, daaahh." Mishel ingin sekali bercerita pada seseorang tapi temannya juga sudah banyak masalah. Dia tidak ingin menambah beban pikiran temannya.


Mishel hanya bisa pasrah pada apa yang sudah terjadi padanya. Dia menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata. Menenangkan diri dan pikiran.


...


Seorang pria baru saja terbangun dari tidurnya. Kepalanya berdenyut, sudah jelas karena dia minum banyak sekali tadi malam. Bahkan dia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah ia mabuk. Kebiasaan buruknya memang.


"Siaall!! Pusing sekali! Shiiittt!" Pria itu mengumpat karena kepalanya rasanya berdenyut sekali.


Setelah berhasil membuka mata, pria itu tidak terkejut lagi dengan situasi itu. Di kamar hotel, tanpa menggunakan sehelai benangpun, pakaian yang tercecer dan ...??

__ADS_1


"What's!!! Apa itu? Bagaimana ada d4r4h di atas seprai?!"


__ADS_2