Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
7. Pria di sampingnya


__ADS_3

Sinar mentari pagi mulai masuk melalui celah-celah kecil yang menembus ke dalam kamar. Memberikan kehangatan bagi setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini, tak terkecuali dua makhluk yang saat ini salah memeluk dalam kenyamanan. Salah satu dari mereka yang semalaman menangis dalam tidurnya itu seakan tidak ingin membuka mata karena terlalu nyaman.


"Sampai kapan kau akan tidur sambil memelukku seperti ini!" Mata elang itu mengintimidasi lawannya saat berbicara. Dia yang hampir tidak bisa tidur karena perempuan itu terus menangis sampai dia memberikan lengannya sebagai bantalan dan memberinya pelukan barulah perempuan itu tenang.


Alesya mendengar suara seseorang tapi rasanya dia masih terlalu nyaman dan menganggap suara itu hanya mimpi. Dia semakin erat memeluk gulingnya yang begitu hangat dan besar seperti boneka beruang yang dulu ada di kamarnya.


Sudah lama sekali aku tidak tidur senyaman ini, gumamnya dalam hati.


Wajah tampan itu sudah menahan geram sejak tadi. Lengannya sampai kram untuk bantalan tidur perempuan itu yang dengan nyamannya masih memejamkan mata. Tadinya dia memang kasihan tapi melihat perempuan perempuan itu seakan tidak ingin membuka mata, membuat Axel tidak menahan diri lagi. Dia menarik tangannya dengan kasar lalu mengungkung tubuh perempuan itu yang terhenyak dari mimpi indahnya.


"Apa belum puas berada dalam pelukanku," ucapnya menyeringai.


Perempuan yang baru saja membuka mata itu langsung membelalakkan lebar melihat seorang laki-laki ada di atas tubuhnya dengan jarak yang begitu dekat. "An--anda siapa? kenapa ada di sini dan mau apa? To--tolong menjauhlah dariku," tanyanya dengan wajah pias.


Alesya benar-benar takut saat ini, dia sama sekali tidak tau siapa laki-laki yang ada di atasnya. Itu karena saat itu Axel menggunakan topeng dan Alesya belum pernah melihat wajahnya.


"Kenapa aku harus menjauh? Bukankah semalam kau yang terus memelukku dan tidak membiarkanku pergi."

__ADS_1


"Hah !! A--apa? Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Sebaiknya anda segera menyingkir atau aku akan berteriak!" ancam Alesya dengan nada ketakutan.


Pria itu tertawa sinis mendengar ancaman gadis itu yang tidak berarti apa-apa untuknya. Di dunia ini hanya ada dua orang yang bisa mengancamnya. Selain itu hanya angin lalu bagi pria yang berumur hampir kepala tiga itu.


"Kau mau berteriak, berteriaklah. Kita lihat apa akan ada yang menolongmu atau tidak." Laki-laki itu menyeringai membuat Alesya semakin ketakutan.


"Ti--tidak jangan mendekat! Aku benar-benar akan berteriak!" seru wanita itu. Tubuhnya sudah gemetar tapi masih mencoba melawan laki-laki itu.


Axel benar-benar tidak memperdulikan ucapan wanita itu. Dia melihat bola mata yang dimiliki wanita itu. Bukan hanya bulu matanya yang cantik tapi warna bola matanya yang brown juga amat indah. Saat menatapnya seperti bisa menenggelamkan apa saja dalam kedamaian dan kesejukan. Bagaimana bisa wanita itu memiliki bola mata yang sangat indah, sangat jernih dan suci. Membuat orang tidak bisa berpaling saat melihatnya.


Sadar akan hal itu, Alesya semakin tidak nyaman dengan tatapan yang menghunus dari pria itu. Sebenarnya siapa dia, bagaimana bisa dia berada di kamar itu. Seharusnya kan laki-laki yang sudah membelinya yang datang. Ehh tunggu, apa mungkin jangan-jangan pria yang saat ini ada di atasnya adalah pria yang tadi malam membelinya.


"Butuh waktu lama juga untuk kamu menyadarinya, aku pikir kau sangat bod*h." Setelah mengatakan hal itu pria itu bangkit dan turun dari ranjang.


Alesya yang cantik dan selalu berprestasi membanggakan kedua orangtuanya, tentu tidak terima dengan apa yang dikatakan pria itu. Tapi dia tidak berani menjawab karena saat ini dirinya sudah menjadi milik lelaki itu, yang berarti laki-laki itu bebas melakukan dan berkata apapun tentangnya.


"Maaf--." Hanya itu, Alesya cukup tau diri. Dia bangun dan duduk. Sedikit menarik selimut untuk menutupi bagian bahu nya yang terbuka.

__ADS_1


"Cihh! Untuk apa kau menutupinya, apa yang ada padamu sudah menjadi milikku," tukas Axel begitu saja.


Ya, Alesya sadar apa yang dikatakan pria itu memang benar. Sekarang tugasnya hanya untuk menyerahkan apa yang paling berharga dalam hidupnya. Yang selama ini ia jaga, bahkan dia selalu menjaga batasan saat berpacaran. Tapi sekarang dia harus menyerahkannya pada pria yang sama sekali tidak ia kenal hanya demi uang. Sungguh sangat hina dirinya. Alesya yang dulu dipuja dan menjadi bunga kampus, sekarang menjual dirinya demi uang.


Padahal semalam dia sudah bersumpah untuk tidak lagi menangis. Dia sudah berjanji akan menjadi kuat, tapi apa sekarang. Bahkan mengingat hal memalukan itu saja membuat bola matanya berembun.


Tidak Ale, kau tidak boleh menangis lagi. Kau yang memilih jalan ini sendiri demi ibu. Sudah tidak ada jalan untuk kembali, kau harus kuat dan buktikan pada orang-orang itu kalau kau bisa tanpa mereka.


Alesya menepis air mata yang lolos begitu saja. Membuang jauh-jauh penyesalannya. Keadaan ibunya lebih penting dari apapun. Toh di negaranya, sudah umum jika wanita seusianya sudah tidak suci lagi.


"Tuan ...." Alesya berdiri menghempas selimut yang tadi ia genggam. Dia ingin segera menyelesaikan ini agar bisa pergi dari sana secepatnya.


Pria yang sedang berdiri di sisi jendela yang membalikkan tubuhnya. Dia cukup terkejut melihat wanita itu berjalan kearahnya. Dia sangat tau kalau saat ini wanita itu sedang ketakutan tapi hanya mencoba untuk memberanikan diri, tapi Axel penasaran sampai sejauh apa wanita itu berani bertindak.


"Tuaaann ... bisakah kita mulai saja sekarang," ucap Alesya dengan nada yang lembut. Walaupun sejujurnya dia amat takut apalagi saat pria itu berbalik dan memperlihatkan tubuhnya yang tidak tertutup jubah tidur dengan benar. Dia menelan ludah saat melihat itu, bagaimana bisa itu adalah pengalaman pertamanya. Selama ini dia hanya berpegangan tangan saat pacaran. Lalu sekarang dia harus apa dengan tubuh tegap dan berotot itu.


Ketakutan wanita itu membuat pria berdarah campuran itu tersenyum smirk. Matanya menyipit menatap mangsanya yang bahkan tidak berani menatap wajahnya saat ini.

__ADS_1


"Baiklah, aku sudah menantikannya sejak semalam. Memang lebih baik kita lakukan di pagi hari seperti ini, sekarang kau lepaskan jubahku," perintah Axel.


Seluruh tubuh Alesya gemetaran, jantungnya berdegup kencang. Situasi macam apa itu, bolehkah ia menyerah sekarang. Apa-apaan pria itu memintanya untuk melepaskan jubahnya. Apa dia tidak punya tangan.


__ADS_2