Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
34.


__ADS_3

Alesya salah paham saat membuka pintu dan melihat seorang wanita ada bersama suaminya. Dimana wanita itu tampak sangat akrab dan dekat dengan sang suami. Tapi sebagai istri yang hanya berdasarkan perjanjian, Alesya pun sadar dia tidak berhak marah pada mereka. Namun, me mengapa rasanya sangat sakit dan sesak saat mengingat kejadian itu.


Saat ini Alesya sedang di dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah tadi dia langsung pergi dari ruangan suaminya, dia tidak ingin tau siapa wanita itu. Mungkin saja wanita itu adalah kekasih suaminya atau wanita yang dicintai suaminya mungkin. Alesya coba untuk tidak peduli dan berpikir jika memang mereka bersama, itu artinya dia bisa terbebas dari pernikahan pura-pura ini.


"Ayo Alesya, kau tidak boleh serakah. Sadarlah kalau sikap baik laki-laki itu hanya karena dia menginginkan tubuhmu. Setelah dia menemukan wanita yang dia cintai, sekarang dia akan segera melepaskan mu." Alesya coba tersenyum meski rasanya sakit, dia kira dari kemarin sang suami sudah bersikap baik padanya, seperti suami sungguhan tapi dia lupa kalau laki-laki itu tidak mencintainya.


Brak!!


Alesya terkejut saat seseorang membuka pintu dengan kasar. Dan lebih terkejut lagi saat melihat seorang pria masuk ke dalam toilet wanita.


"Ke—kenapa kau di sini?" tanya Alesya.


"Sampai kapan kau bersembunyi di sini! Ayo ikut!" Axel menarik Alesya keluar dari toilet. Tidak peduli banyak orang yang melihatnya. Rasanya dia sangat takut saat tadi melihat sang istri salah paham.


"Tuan ... semua orang melihat kita, lebih baik lepaskan tanganku." Selama ini tidak ada yang tau mengenai pernikahan Axel. Itulah mengapa Alesya merasa jika tidak baik kalau semua orang melihatnya seperti ini.


Axel berhenti mendadak dan berbalik menghadap sang istri. Tanpa basa-basi dia langsung mendaratkan kecupan di bibir sang istri yang tadi memanggilnya Tuan.


Bola mata Alesya membola, tubuhnya kaku. Dia benar-benar tidak menyangka kalau sang suami yang ingin menyembunyikan hubungan mereka justru bersikap seperti itu di hadapan banyak orang.


"Bukankah sudah aku bilang jangan memanggilku Tuan," ujar Axel sambil mengusap bibir Alesya dengan ibu jarinya. Dia tidak peduli dengan semua pandangan orang-orang yang menganga melihat perbuatannya.


Berbeda dengan Alesya yang wajahnya memerah seperti tomat.

__ADS_1


"Semua orang, perkenalkan dia adalah istriku. Jadi bersikap baiklah padanya jika dia datang. Lalu satu hal lagi, jangan biarkan wanita manapun datang ke kantorku selain istriku. Apa kalian mengerti!!" seru Axel dihadapan para karyawannya.


"Mengerti Tuan dan selamat atas pernikahan Kalian."


Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Axel tak pernah melepaskan genggamannya. Dia sudah mengumumkan pada semua orang dan memberi peringatan pada karyawannya agar tidak mengijinkan siapapun datang menemui nya jika itu wanita. Karena sebenarnya wanita tadi adalah perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pacar Axel, dia adalah teman lama Axel yang sebenarnya sudah lama menaruh hati padanya.


Tapi sebenarnya Axel sudah mengusir wanita itu, dan yang Alesya lihat sebenarnya dia sedang berusaha mengusir wanita itu. Namun terlihat seperti sedang bermesraan. Axel pun tidak berbelas kasihan lagi, dia menyeret wanita itu dengan kasar dan mengatakan kalau dia sudah menikah. Setelah itu dia mencari sang istri dari rekaman cctv dan menemukan Alesya masuk ke dalam toilet.


Setelah masuk ke dalam ruangan, Axel langsung memeluk sang istri begitu erat. Wanita yang perlahan-lahan mulai meluluhkan dan mengisi hatinya.


"Axel ... kenapa kau mengumumkan hubungan kita. Bukankah kau ingin menyembunyikannya?" tanya Alesya penasaran.


"Tidak perlu lagi, aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau kau adalah istri ku." Melepas pelukannya.


"Kau salah paham, dia bukan kekasihku. Dia teman lamaku tapi baru saja aku memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Karena aku tidak mau lagi menyakiti istriku.


"Hah" Alesya melongo.


"Tapi kenapa? Aku kan hanya istri kontrakmu, kau bisa menjalin hubungan dengan siapapun. Aku tidak berhak melarang."


"Tidak, kau harus melarangnya. Kau harus marah saat ada wanita yang mendekatiku. Kau harus cemburu, apa kau mengerti!"


Alesya benar-benar tidak mengerti dengan laki-laki di depannya itu. Apa maksudnya melakukan semua itu. Tanpa sadar dia melamun, dan hal itu dimanfaatkan laki-laki itu untuk mencium bibirnya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Hemmmpp !!" Alesya memukul-mukul dada pria itu agar melepaskannya. Ini terlalu mendadak dan ciuman pria itu begitu intens. Jika dibiarkan maka bukan hanya ciuman yang terjadi tapi lebih dari itu.


Namun, pria itu benar-benar tidak melepaskan Alesya. Dia menahan tengkuk dan membawa tubuh sang istri ke sofa. Tentu tangannya juga tidak tinggal diam karena dia merab4 ke bagian yang lain.


"Jangan di sini ... hah hah ... Bagaimana kalau ada yang masuk." Alesya mencegah tangan sang suami yang sedang menurunkan dressnya. Tubuhnya berada di bawah Kungkungan pria itu.


"Tidak akan ada yang berani masuk," ucap laki-laki itu tetap berusaha menurunkan dress yang istrinya pakai.


"Tidak, jangan sekarang. Apa kita akan pergi ke bandara dengan penampilan yang berantakan." Alesya memohon. Tapi percuma karena laki-laki itu tidak akan mengabulkan permintaan sang istri.


Axel berhasil menanggalkan pakaian sang istri dan juga pakaiannya. Dia meninggal jejak di beberapa tempat membuat Alesya tidak bisa menolak lagi karena tubuhnya berkata lain. Pria itu selalu bisa membuat dia tidak berdaya dan hanya bisa menerima.


...


Setelah puas membuat sang istri kelelahan, Axel membawa Alesya ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan itu. Betapa terkejutnya Alesya saat melihat ada ruangan rahasia di sana, lalu mengapa mereka harus melakukan hal itu di ruang kerja suaminya dengan resiko ada orang yang masuk tiba-tiba.


Berbeda dengan pria itu yang tampak santai dan sumringah wajahnya.


"Istirahatlah, aku akan membangunkanmu saat kita akan berangkat ke bandara."


Alesya terlalu lelah dan tidak protes lagi. Semalam sudah dan siang ini mereka melakukan lagi. Pinggang Alesya sampai mati rasa.


"Sepertinya kau benar-benar kelelahan, padahal kita melakukannya sekali. Aku akan membiarkanmu istirahat kali ini, karena kita akan pergi menjemput orangtuaku nanti. Aku tidak bisa membiarkan kamu tampak kuyu di depan mereka." Axel pun meninggalkan Alesya beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2