Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
29.


__ADS_3

Sudah dua hari, Axel tidak tidur dengan sang istri. Dia selalu pulang larut malam dan langsung tidur di kamarnya sendiri. Seharusnya, Alesya senang karena pria itu tidak mengganggunya tapi entah mengapa dia merasa kesepian dua hari ini. Paginya mereka juga bertemu sebentar saat sarapan, setelah itu pria itu seperti terburu-buru pergi ke kantor. Saat sarapan juga sibuk dengan ponselnya, sampai tidak mengatakan sepatah katapun pada sang istri.


Namun Alesya tidak protes atau bicara apapun. Dia cukup sadar diri kalau hubungan mereka hanya sebatas di atas kertas. Alesya merasa tidak berhak ikut campur urusan suaminya. Tapi setiap malam, Alesya selalu menunggu suaminya pulang. Dia baru akan tidur setelah laki-laki itu sampai di rumah. Kadang dia mengintip dari jendela kamarnya, kadang dia juga mengintip dari celah pintu kamarnya.


Seperti sekarang, dia juga belum tidur. Sudah hampir tengah malam tapi suaminya belum pulang juga. Padahal kemarin paling malam hanya sampai pukul sepuluh, tapi malam ini lebih malam. Alesya pun mondar-mandir di dalam kamarnya, gelisah dan cemas.


"Kenapa aku harus mengkhawatirkannya, sebenarnya kenapa denganku," gumamnya bertanya-tanya.


Sebenarnya dia sudah coba untuk tidur tapi tetap tidak bisa memejamkan mata walaupun sudah ia paksa. Sudah menghitung domba pun masih belum mengantuk juga. Dia sudah melakukan segala hal agar tertidur tapi tidak berhasil. Matanya tetap terjaga, masih sangat lebar.


Hah ... ini pasti karena aku sedang menjalankan tugasku sebagai seorang istri kan. Ya, aku kan sudah menandatangani perjanjian agar aku menjadi istri yang baik dan penurut. Ini karena aku tidak mau melanggar perjanjian.


Alesya terus meyakinkan hatinya kalau apa yang ia lakukan hanya karena perjanjian itu dan tidak lebih.


"Aku haus, kenapa airnya habis?" ujarnya sambil melihat gelas kosong di atas nakas. Dia sudah berapa kali ke dapur untuk mengambil air. Ini karena cemas, membuat dia butuh banyak air untuk mendinginkan pikirannya.

__ADS_1


Terpaksa Alesya mengambil air lagi di lantai bawah. Di rumah itu sudah sepi, pada pelayan pasti sudah beristirahat. Alesya juga bukan orang yang manja, saat masih tinggal di rumahnya dulu, dia juga tidak melulu mengandalkan pelayan saat di rumah.


Setelah mengisi minum, Alesya langsung meminumnya di dapur. Lalu mengisi gelas itu sampai penuh. Setelah itu dia pun kembali ke kamar tapi langkahnya terhenti saat melihat sekelebat bayangan hitam di sekitar di bawah tangga. Nafasnya terasa tercekat, bayangan itu tinggi


"Kenapa belum tidur?"


Eh, hampir saja aku melemparnya dengan gelas. Aku pikir pencuri.


"Ah ini, aku terbangun dan haus. Kau baru pulang? Apa sudah makan malam?" tanya Alesya. Pada laki-laki yang berdiri di sana. Setelah dilihat-lihat wajahnya tampak sangat lelah. Jadi Alesya berinisiatif untuk bertanya.


"Hmm itu ... apa kau mau aku buatkan teh hangat?" tanya Alesya lagi.


Axel pun menoleh, "Baiklah, tolong buatkan teh dan bawakan ke kamarku."


"I—iya." Alesya malu, ah kenapa juga dia harus perhatian pada pria itu. Tapi bukankah pria itu sudah menjadi suami yang baik, membiayai rumah sakit dan operasi ibunya dan memberinya hidup yang layak. Jadi Alesya juga harus melakukan hal yang sama bukan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian. Alesya membawakan teh yang ia buat ke kamar sang suami. Dia masuk setelah mengetuk pintu, karena tidak ada yang menyahut ia pikir lelaki itu sedang mandi. Namun, saat membuka pintu dia melihat pria itu sedang duduk di sofa dengan mata yang terpejam.


"Apa dia tertidur?" gumam Alesya. Dia meletakkan cangkir berisi teh itu di atas meja dengan hati-hati karena banyak sekali kertas berserakan di sana. Sepertinya pria itu langsung bekerja lagi setelah pulang. Alesya mencoba membereskannya satu persatu dan tak sengaja melihat nama perusahaan ayahnya.


"Ini ... apa dia sering pulang terlambat karena ini?" Alesya membacanya, di sana banyak sekali uang yang keluar dari perusahaan ke rekening orang tidak di kenal. Meski Alesya tidak begitu mengerti tapi dia melihat data yang sudah ditandai dengan spidol berwarna.


Alesya akan tanyakan nanti saat pria itu terbangun. Setelah membereskan meja dan berkas-berkas itu. Alesya memperhatikan sang suami yang tertidur di sofa dengan bersender. Dia bahkan belum membersihkan diri, sepertinya dia sangat kelelahan. Meski begitu pria itu masih sangat tampan, bahkan setelah seharian bekerja. Alesya memperhatikan wajah suaminya dari dekat. Sang suami memang definisi sempurna, bagai pahatan patung porselen. Alis yang tebal, bulu mata panjang, hidung yang mancung dan bibir merah yang membelah di bagian tengah.


Andai mereka adalah suami istri sungguhan, mungkin saat ini Alesya merasa sangat bangga karena memiliki suami super tampan seperti Axel. Namun, pernikahan ini hanya sebatas perjanjian dan kesepakatan yang bisa berakhir kapan saja.


"Aku ingin menyentuhnya, apa dia akan terbangun," ujar Alesya dalam hatinya.


Alesya ingin menyentuh wajah sempurna itu, wajah yang bahkan tidak berani ia sentuh saat mereka sedang bergulat di atas ranjang. Merasa pria itu telah terlelap, Alesya pun berani menyentuhnya. Dia hanya ingin menyentuh alis yang tebal itu kok. Iya alis yang sering bertaut saat empunya marah. Bulu matanya juga, Alesya ingin sentuh untuk memastikan kalau itu asli karena bulu matanya juga tidak sepanjang itu.


Lalu...

__ADS_1


__ADS_2