
Perempuan berambut cokelat itu sungguh dilema saat ini. Ia tidak mungkin menyanggupi permintaan laki-laki yang ingin menjadikannya budak tapi dia juga tidak mungkin membiarkan operasi ibunya yang sedang berlangsung itu dihentikan. Apa jadinya kondisi ibu, bahkan mungkin nyawanya bisa saja melayang. Sungguh perempuan yang begitu menyayangi ibunya itu tidak sanggup membayangkan bagaimana kalau sang ibunda tiada.
"Ken, cepatlah suruh mereka menghentikan operasinya! Apa yang kau tunggu!" seru laki-laki tampan tapi berhati iblis itu.
Tubuh Alesya bergetar hebat menahan amarah tapi tidak bisa ia lampiaskan pada laki-laki itu. Dia sendiri tidak tau betapa bahayanya laki-laki itu jika sampai dia meluapkan emosinya. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.
"Baiklah Tuan, saya akan mengatakannya pada mereka sekarang untuk menghentikan operasinya." Ken juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia dibayar untuk patuh pada tuannya.
"Tunggu! Aku mohon jangan lakukan itu ... jangan hentikan operasinya. Aku mohon ...." Alesya menekuk lututnya bersujud. Dia sadar tidak akan sanggup melawan laki-laki itu.
CK! Kenapa tidak dari tadi. Pria Tiran itu bergumam dalam hati sambil tersenyum miring.
"Bagus, itu artinya kau sudah paham kan kalau sekarang kamu adalah milikku. Aku adalah tuannya, hanya aku yang berhak atas dirimu. Kau tidak diperbolehkan mengatakan tidak saat aku memintamu melakukan sesuatu," ujar Axel menekankan. setiap kalimatnya.
Alesya tertunduk pias, wajah cantiknya memendam amarah yang teramat pada laki-laki itu, pada orang-orang yang telah membuatnya jadi begini. Tidak ada satupun di dunia ini yang memperlakukannya dengan tulus kecuali ayah, ibu dan temannya.
"Ken, serahkan perjanjiannya. Suruh dia tanda tangan surat perjanjian itu," perintah Axel pada Ken.
Pria yang berdiri di belakang Axel itu kemudian berpesan pada dokter yang tadi ia hubungi untuk melakukan operasinya dengan baik karena kalau sampai hasilnya tidak memuaskan pastilah akan berhadapan dengan Axel. Barulah mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia mengambil surat perjanjian yang dimaksud dan menyerahkannya pada Alesya yang masih bersimpuh di lantai.
"Bacalah dulu nona, silahkan anda tanda tangan setelah membacanya," ujar Ken saat ia menyerahkan surat itu.
Dengan tangan yang masih mengepal, Alesya menerima surat perjanjian budak itu. Ya baginya itu adalah perjanjian perbudakan. Entah apalagi yang akan dihadapinya di masa depan setelah ini.
Alesya membacanya dengan seksama. Ada beberapa poin yang harus diperhatikan oleh pihak kedua, Alesya sendiri dan sebagai pihak pertama adalah laki-laki itu tentunya. Alesya bahkan tidak mau mengingat namanya.
Poin pertama, Pihak kedua diharuskan mematuhi ucapan pihak pertama. Dilarang menolak dengan alasan apapun karena pihak pertama adalah mutlak.
__ADS_1
Poin kedua, pihak kedua wajib melayani semua kebutuhan pihak kedua layaknya seorang istri yang patuh. Pihak kedua juga harus bersandiwara layaknya istri yang mencintai suaminya dihadapan orang lain.
Alesya mengerutkan keningnya saat membaca poin kedua. Istri, suami apa maksudnya.
Poin ketiga, pihak kedua adalah milik pihak pertama sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Hanya pihak pertama lah yang bisa mengakhiri perjanjian ini.
"Kalau kau sudah membacanya, cepat tanda tangan." Axel memerintah.
"Tu--tuan, apa maksud poin kedua? Saya tidak mengerti?" tanya Alesya.
"Ken, jelaskan." Memerintah asistennya untuk menjelaskan.
"Jadi begini nona, maksud dari poin ke dua adalah Tuan akan menikahi anda. Jadi anda akan menjadi istri Tuan dan Tuan akan menjadi suami anda," jelas Ken.
"Menikah?" Alesya semakin tidak mengerti. Dia mengangkat kedua alisnya.
"Iya nona, jadi anda akan menjadi istri sah Tuan. Anda akan tinggal bersama Tuan bukan sebagai budak atau simpanan melainkan sebagai istri." Ken menjelaskan lagi.
"Nona, anda tidak mengerti kalau tuan-"
"Cukup Ken, tidak perlu menjelaskan lagi," potong Axel. "Cepat tanda tangani saja, apapun yang aku rencanakan. Kau hanya perlu mematuhinya. Tenang saja kau lihat di halaman selanjutnya, di sana tertulis kompensasi yang akan kau terima. Biaya rumah sakit dengan dokter profesional akan terjamin dan aku juga bisa membantumu mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu," tutur Axel menyeringai. Itu ada penawaran yang bagus dan perempuan itu tidak mungkin menolaknya.
"Maksud anda?" tanya Alesya.
"Perusahaan Queen's, itu milik ayahmu kan. Entah kenapa sekarang menjadi milik orang lain, aku bisa membantumu mendapatkan itu kembali."
Mendengar nama perusahaan sang ayah, tentu saja Alesya terkejut. Bagaimana orang di depannya itu tau tentang perusahaan itu. Apa mungkin dia sudah menyelidiki tentang dirinya. Ya pasti seperti itu, uang bisa melakukan segalanya.
__ADS_1
"Apa anda berjanji akan membantu saya merebut perusahaan itu kembali? Meski itu bukan hal yang mudah karena pamanku sedikit serakah dan licik."
"Tentu saja, itu hal yang mudah." Menyombongkan diri.
Tidak ada gunanya juga Alesya menolak, jika memang pria itu bisa membantunya menghadapi pamannya yang serakah. Tanpa pikir panjang lagi, Alesya membubuhkan tanda tangan di atas kertas perjanjian itu.
"Bagus, sekarang Ken akan mengantarmu kembali ke masionku. Bersiaplah, besok kita akan menikah." Setelah mengatakan hal itu Axel meninggalkan ruangan itu untuk kembali bekerja tentunya.
...
Saat ini perempuan cantik yang pikirannya berkecamuk itu sedang dalam perjalanan menuju masion milik Axel. Sekarang yang paling ia inginkan adalah mengetahui bagaimana keadaan ibunya tapi dia tidak diijinkan pergi ke rumah sakit. Dia juga sudah memohon pada asisten laki-laki itu tapi dia tidak mau melakukan sesuatu yang melanggar peraturan tuannya. Menyebalkan, bagaimana ada orang yang begitu patuh seperti dia.
Ibu ... semoga ibu baik-baik saja. Ibu harus bertahan. Kita akan kembali bersama seperti dulu suatu saat nanti. Aku akan menghancurkan orang-orang itu dan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita.
Ken memperhatikan dari depan. Dia sudah menjelaskan kalau dia tidak bisa melakukan sesuatu diam-diam tanpa sepengetahuan tuannya tapi dia juga kasihan pada perempuan itu.
"Anda tenang saja nona, pihak rumah sakit akan memberitahu saya tentang perkembangan kondisi ibu anda. Operasinya juga masih membutuhkan waktu yang lama dan beberapa tahapan," ujar Ken.
"Aku mengerti, aku hanya khawatir kalau ibu mencariku saat dia bangun. Dia pasti khawatir kalau tidak melihat putrinya ada di sana. Tidak bisa bisakah aku menelepon temanku untuk menemani ibuku di rumah sakit." Ya, menurut Alesya akan lebih baik jika ada Misel yang menemani ibunya. Kasihan kalau ibunya cemas saat putrinya tidak ada di sana.
"Nanti saya akan coba bicara pada tuan untuk memberi anda ponsel."
"Benarkah itu? Terimakasih tuan Ken." Alesya berterimakasih dengan tulus, dia mengembangkan senyumnya.
"Sama-sama Nona, tapi saya tidak bisa berjanji itu akan berhasil atau tidak."
"Tidak apa-apa tuan Ken, saya tetap berterimakasih," ucap Alesya.
__ADS_1
"Jangan memanggilku Tuan, nona. Panggil saja asisten Ken."
"Ah iya, terimakasih asisten Ken."