Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
21.


__ADS_3

Menurut apapun perintah sang suami adalah tugas Alesya sekarang. Sejak tadi dia membantu Bella dan para pelayan menyiapkan makan siang untuk dibawanya nanti. Sebenarnya Bella sudah melarang tapi karena bosan tidak ada yang bisa dikerjakan di rumah itu, jadilah Alesya ingin membantu walaupun sebenarnya dia tidak pandai memasak. Tapi kalau hanya sekedar membantu memotong dan mencuci sayuran, dia bisa.


"Apa seperti biasanya Axel juga minta diantarkan makanan seperti ini?" tanya Alesya pada Bella yang sedang menata makanan.


"Tidak Nona, biasanya Tuan makan di luar." Bella tersenyum geli melihat nona cemberut karena diminta datang ke kantor. Perempuan itu mau sedang kesal pun tetap cantik, pantas tuannya jatuh cinta. "Anda kenapa Nona?" tanya Bella.


"Ah tidak apa-apa, Bella. Hanya saja aku takut nanti di sana aku tidak diijinkan masuk. Apa ada yang percaya padaku kalau bilang mau bertemu dengan Presdir perusahaan itu. Mereka pasti menertawakanku." Ya, seperti adegan adalah novel yang pernah Alesya baca.


"Peffttt, Anda lucu sekali Nona. Bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu." Bella terkekeh mendengar perkataan nonanya.


"Itu benar kan? Pernikahan kami saja tidak ada yang tau, kalau tiba-tiba aku datang dan bilang mau bertemu suamiku, Presdir di perusahaan itu pasti ditertawakan," tutur Alesya. Ya, memang tidak ada yang salah dengan perkataannya.


"Tenang saja Nona, nanti asisten Ken pasti akan menjemput Anda setelah Anda sampai di sana."


"Iya kah? Syukurlah, aku jadi tidak perlu khawatir lagi." Wanita itu merasa lega. "Oh iya, Bella. Apa kau juga mengenal orangtua Axel? Hmmm maksudku mer—mertuaku." Alesya gugup menyebut mereka mertua, dia bahkan belum pernah bertemu dengan mereka.


"Tentu saja saya kenal Nyonya dan Tuan, sebelum ikut Tuan Axel di rumah ini. Saya bekerja di rumah orangtua Tuan Axel," jelas Bella menjawab pertanyaan Alesya.

__ADS_1


Sudah jelas jika Bella adalah pelayan senior, yang sudah lama bekerja pada keluarga Axel. Alesya ingin tau sedikit tentang mertuanya, laki-laki itu tidak pernah mengatakan apa-apa tentang mereka. Hanya menyuruh Alesya untuk berakting dengan baik jika di hadapan mereka.


"Jadi, apa kamu tau di mana mereka sekarang?" Alesya memperhatikan Bella yang sedang menghias makanan. Bukankah itu percuma, saat dibawa nanti pasti akan hancur hiasan itu. Tapi, Alesya hanya berkata dalam hati. Yang ia tanyakan adalah tentang mertuanya yang sosoknya masih sangat misterius bagi Alesya.


"Nyonya dan Tuan sedang ada di luar negeri untuk berlibur. Mereka pasti akan sangat senang saat mengetahui putra mereka sudah menikah."


Alesya tidak yakin apa mereka akan menyukainya atau tidak. Kalaupun tidak itu juga bukan urusan dia. Salahkan laki-laki itu yang tidak berbicara lebih dulu pada orangtuanya.


...


Alesya akhirnya sampai di perusahaan suaminya, dia menggunakan outfit yang sangat cantik dan tentunya bermerek. Tentu, semua barang di dalam lemari kamarnya tidak ada yang tidak branded.


"Jadi ini Kingsley company. Jauh lebih besar dari perusahaan ayah. Kalau dibandingkan tidak ada apa-apanya," gumam Alesya. Wajahnya menatap kagum pada bangunan itu.


"Baiklah, terimakasih Pak. Oh iya, Anda bisa menunggu saya di sini, aku akan segera kembali," ujar Alesya, dia tidak tau kalau tidak akan mudah keluar dari kandang harimau itu setelah masuk ke dalamnya.


Tak lama setelah di hubungi, asisten Ken pun turun ke bawah untuk menjemput istri bosnya. Benar kata Bella kalau Alesya tidak perlu khawatir. Perempuan itu bernafas lega, dia jadi tidak perlu melewati adegan bertanya pada resepsionis yang pasti akan ditertawakan.

__ADS_1


"Mari Nona, Tuan sudah menunggu Anda di atas," ujar asisten Ken.


Alesya tersenyum canggung lalu mengikuti asisten Ken yang membawanya melewati banyak karyawan. Alesya agak canggung saat ditatap seperti itu oleh mereka, seakan dia tau apa yang ada dalam benak mereka. Pasti bertanya-tanya siapa yang bersama asisten Presdir. Perempuan itu memilih untuk tidak peduli dengan tatapan penuh tanya dari mereka dan mengikuti Asisi Ken.


Saat masuk ke dalam lift, barulah Alesya bisa sedikit bernafas. Rasanya tadi dia seperti terhimpit, penuh dan sesak. Dia memilih berdiri di belakang asisten Ken agar bisa menarik nafas, sebelum nanti dia harus menghadapi tatapan para karyawan di kantor suaminya lagi.


"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya asisten Ken saat melihat nonanya tampak pucat.


"Hah ... aku tidak apa-apa, hanya saja itu tadi sangat canggung saat melewati karyawan di lantai bawah," ujar Alesya sambil memegangi dadanya.


"Ohh itu, Anda harap maklum. Tuan adalah orang yang paling tidak suka jika hal pribadinya jadi bahan pembicaraan orang-orang. Maka dari itu dia memilih tidak memperkenalkan Nona pada semua orang. Juga untuk melindungi Nona, karena banyak sekali lawan bisnis Tuan yang pasti mencari kelemahan Tuan. Jika tau Tuan sudah menikah pasti mereka akan mengincar anda dan hal pribadi Anda juga."


Alesya tidak menyangka kalau alasan sebenarnya pria itu menyembunyikan tentang pernikahan mereka adalah demi keselamatannya. Ya, bukan tidak mungkin masalahnya dengan sang paman juga akan digali. Termasuk ibunya yang ada di rumah sakit. Ya, mungkin memang lebih baik seperti itu.


Mereka sampai di lantai atas. Ken langsung mengantarkan nonanya ke ruangan Presdir.


"Permisi Tuan, Nona ada di sini." Asisten Ken membukakan pintu dan membiarkan Alesya masuk.

__ADS_1


Perempuan itu terkesima pada suaminya saat sedang bekerja. Aura benar-benar berbeda dengan yang ia lihat saat di rumah. Laki-laki itu lebih berkarisma dan membuat dia makin terlihat tampan.


"Apa yang kau pikirkan Alesya. Tidak-tidak, aku tidak boleh memikirkan pria itu." Geleng-geleng kepala.


__ADS_2