Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
32.


__ADS_3

Para ibu-ibu yang sedang menikmati gejolak puber keduanya itu pun pergi ke lapangan golf. Sebelumnya tentu saja mereka sudah berganti kostum menggunakan pakaian yang biasanya para wanita pakai saat bermain golf. Kaos ketat dan rok pendek di atas lutut, yang menonjolkan body mereka.


"Waahh jadi ini tempatnya, bagus juga," kagum Marsha yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. "Tapi siapa yang akan mengajariku nanti?" tanyanya kemudian.


"Tenang saja nanti masing-masing dari kita akan ditemani pelatih yang pastinya bakal bikin kita betah. Iya nggak Jeng?" Para wanita itu pun bersorak setuju.


Mereka sedang menaiki kendaraan roda empat yang disediakan oleh pemilik lapangan golf agar pengunjungnya tidak kelelahan saat sampai ke lokasi. Tak menunggu lama, mereka pun sampai. Beberapa orang di sana menyambut kedatangan member VIP mereka dengan sangat ramah.


"Itu dia pelatihnya, bagaimana kau suka?"


Marsha melihat lelaki muda bertubuh kekar dengan pakaian olahraganya. Tentu saja dia senang karena yang akan mengajarinya itu adalah pria muda. Mereka pun menikmati hari menyenangkan mereka dengan bermain golf dan sedikit bersenang-senang.


...


Sementara di perusahaan, Gerald sedang frustasi karena tiba-tiba saham perusahaan turun drastis. Belum lagi ancaman dari orang yang tidak di kenal, yang mengetahui kelakuan busuknya. Yang sudah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya.


"Tuan, Anda harus membantuku. Kalau sampai perusahaan ini koleps bukankah Anda juga akan rugi." Gerald meminta tolong pada pria berkepala plontos yang selama ini berdiri di belakangnya dan mengajarkan Gerald untuk melakukan kecurangan itu. Pria itu bernama Hardy.


"Tentu, aku akan membantumu. Tapi tolong kau ingat dengan perkataanku tempo hari kalau kawanku sedang mencari menantu untuk putranya. Aku mau putrimu menemui anak kawanku karena aku sudah berjanji akan mencari istri untuk anaknya. Bagaimana?" Hardy tersenyum licik. Dia adalah dalang dari semua kelicikan Gerald tentu saja dia bahkan lebih licik dari yang dibayangkan.


"Tapi putriku sudah punya kekasih, dia putra pemilik perusahaan LC'S company. Aku tidak mungkin menyuruh dia memutuskan kekasihnya, Anda tau kan perusahaan apa LC'S company itu."


"Ck, sepertinya kau tidak tau kalau putra dari pemilik perusahaan yang dipacari putrimu hanyalah anak haram yang tidak dianggap kehadirannya. Dia bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan raksasa itu. Lalu Apa yang kamu harapkan?"


Gerald baru tau, dia hanya tau kalau putrinya berpacaran dengan putra kedua Presdir LC'S company. Apa benar tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan itu. "Apa boleh aku tau siapa kawan Anda yang sedang mencari jodoh untuk putranya itu?" tanya Gerald.


"Kau tenang saja, selama ini kau lihat kan aku selalu membantumu. Kali ini aku juga akan menjadikan putrimu seorang menantu konglomerat." Menyeringai dalam hati.


"Baiklah Tuan, nanti aku akan bicarakan pada putriku. Tapi anda harus berjanji akan membantu ku."

__ADS_1


"Tentu. Nanti suruh putrimu datang ke tempat yang sudah aku siapkan untuk pertemuan mereka."


Mereka pun sepakat, Gerald tidak tau kalau dia sedang mendorong sang putri pada kehancuran.


Gerald pulang lebih awal. Di rumah sepi, istrinya belum pulang bersama teman-temannya. Dan sang putri ada di kamar.


"Bi panggilkan Caroline, suruh dia kemari,," titah Gerald pada pelayan. Dia akan membicarakan tentang pertemuan putrinya dengan lelaki itu.


"Tuan, itu Nona sudah keluar."


Kebetulan Caroline baru saja mandi dan bersiap-siap untuk pergi lagi. Padahal tadi pagi baru pulang dalam keadaan mabuk.


"Pah ... tumben sudah pulang, di mana Mamah?" tanya Caroline.


"Mamahmu belum pulang, kau mau kemana?"


"Aku mau pergi dengan teman Pah. Oh iya, bisakah Papah transfer uang lima puluh juta lagi untukku. Aku mau membeli beberapa barang untuk hadiah temanku yang berulang tahun," ujar Caroline meminta uang. Dia tidak tau kalau papahnya sedang pusing memikirkan perusahaan.


"Hehehe, kemarin itu gara-gara Kak Ale. Dia meremehkanku tidak mampu membeli barang-barang mahal jadi aku membelikan semua temanku pakaian mahal," tutur Caroline.


"Alesya? Di mana kamu bertemu dengannya. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Gerald penasaran, sudah lama keponakannya itu tidak lagi pernah mencarinya.


"Entahlah, kenapa Papah menanyakan dia. Bagaimana dengan uangnya." Caroline tidak memperhatikan jika Alesya saat itu menggunakan pakaian dan tas branded. Karena memang dia belum begitu tau dengan barang-barang branded. Jadilah dia tidak begitu peduli dengan sepupunya itu.


"Papah akan berikan asal kau mau menemui seseorang malam ini."


"Siapa Pah?"


"Seorang pemuda putra teman paman Hardy. Dia sedang mencari istri. Kau datanglah untuk menemuinya."

__ADS_1


"Apa!! Tapi aku kan sudah punya pacar Pah. Putra dari pemilik perusahaan LC'S company. Papah tau kan, papah juga sudah senang saat aku beritahu saat itu. Kenapa tiba-tiba mau mengenalkan ku dengan laki-laki lain." Caroline marah pada sang ayah.


"Dengarkan Papah dulu, bukankah aku ingin terus hidup enak dan memiliki uang yang banyak. Maka dari itu, putuskan saja laki-laki itu karena dia hanya anak haram yang tidak diakui. Jika kau bersamanya, kau tidak akan mendapatkan apa-apa karena perusahaan LC'S company akan diberikan pada putra pertama mereka. Putra sah dari istri pertama."


"Benarkah? Baik, kalau begitu aku akan datang ke pertemuan itu."


Gerald pun menghubungi Tuan Hardy mengatakan kalau putrinya setuju.


Malam itu Caroline di bantu mamahnya yang tadi baru pulang dari bersenang-senang. Tampil cantik menurut mereka. Meski para pelayan ingin sekali tertawa dengan penampilan putri majikannya tapi tidak ada yang berani. Mereka pun hanya diam dan tertawa dalam hati.


"Ya ampun putri Mamah sangat cantik. Pasti nanti kau akan jadi pusat perhatian di restoran itu."


"Mamah bisa saja. Ini karena Mamah cantik, makanya aku juga cantik. Oh iya, apa Mamah tau seperti apa pria yang akan bertemu dengan ku? Kata Papah dia putra dari salah satu pemilik perusahaan ternama. Pasti dia tampan kan Mah, dan aku tidak akan mungkin hidup susah lagi."


"Kau benar nak. Yang penting sekarang adalah harta karena kalau kita punya harta kita tidak akan di hina lagi seperti dulu. Tidak usah peduli mau bagaimana wajah pria itu."


"Mamah benar, aku tidak mau kembali miskin seperti dulu."


Ibu dan anak itu sepakat untuk hidup bergelimang harta selamanya dan tidak mau kembali miskin seperti dulu. Marsha senang kalau putrinya bisa menikah dengan orang kaya. Setidaknya putri kesayangannya tidak ada hidup susah.


"Kau sudah siap nak, di depan sudah ada yang menjemput mu. Dia supir yang dikirim untuk mengantarkan mu ke tempat pertemuan," ujar Gerald pada putrinya.


"Apa kau yakin kita tidak perlu ikut Pah? Apa kita juga tidak perlu tau bagaimana laki-laki yang akan menikah dengan putri kita," ujar Marsha setengah khawatir.


"Tidak perlu, papah percaya pada tuan Hardy. Dia sendiri yang bilang jika pria itu adalah kawannya. Kau tau kan, mah. Kawan-kawan tuan Hardy itu bukan sembarang orang."


"Papah benar mah, aku pasti tidak akan mengecewakan kalian," ujar Caroline.


"Baiklah, kau hati-hati nak. Kabari kami kalau ada apa-apa."

__ADS_1


Mereka pun berpisah di depan rumah, membiarkan putri mereka pergi tanpa pengawalan.


__ADS_2