Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
25.


__ADS_3

Hampir satu jam Alesya menunggu sepupu dan teman-temannya memilih pakaian. Dia mulai gelisah karena sudah pergi terlalu lama. Bagaimana kalau, Axel akan marah padanya nanti.


"Kakak, yang ini bagaimana? Cantik tidak kalau aku pakai?" tanya Caroline untuk yang kesekian kalinya. Tetap saja pilihannya itu sama sekali tidak sesuai dengan postur tubuhnya. Dia berusaha mengikuti trend tapi tidak pas saat dia pakai. Sebenarnya tanpa mengikuti trend, dia bisa tetap tampil cantik dan modis jika bisa memadupadankan apa yang dia pakai dengan benar.


"Warna hijau itu tidak cocok untukmu, Carol. Coba lihat temanmu, mereka sudah mendapatkan beberapa pakaian tapi kamu satupun tidak ada yang benar." Alesya bangun dari duduknya. Terlalu lama jika membiarkan sepupunya yang lemot itu memilih sendiri. Dia berjalan ke beberapa gantungan pakaian dan memilih.


"Bukankah tadi kau bilang tidak akan membeli pakaian?" tanya Caroline. Wajahnya cemas seperti ketakutan jika Alesya ikut membeli pakaian.


Alesya tidak memperdulikan sepupunya yang terus mengekor. Dia memilih beberapa stel pakaian.


"Nih, cobalah satu-satu." Memberikan beberapa stel pakaian pada Caroline.


Caroline menurut, dia masuk ke ruang ganti dan mencoba pakaian yang dipilihkan sepupunya. Saat dia keluar, teman-temannya yang menunggu dan beberapa pelayan toko berdecak kagum melihat penampilan Caroline yang berubah jadi wanita berkelas.


"Luar biasa Carol, kamu cantik sekali."

__ADS_1


"Pakaian ini sangat cocok untukmu."


Meski Caroline sudah biasa mendengar pujian semacam itu. Rasanya kali ini sedikit berbeda, pujian mereka terdengar lebih tulus dari biasanya. Ya, sebenarnya apapun yang Caroline pakai, dia akan tetap mendapatkan pujian dari teman-temannya maupun pelayan toko yang tokonya ia borong. Namun, saat berjalan di keramaian dia merasa kurang percaya diri. Berbeda dengan sekarang, Caroline mengakui kemampuan sepupunya itu. Dia jadi memiliki ide.


"Sudah selesai kan, kalau begitu aku akan pergi sekarang." Alesya ingin segera pulang sebelum suaminya marah.


"Tunggu Kakak, kau mau kemana? Aku ingin mentraktirmu makan sebagai ucapan terimakasih."


"Tidak perlu, aku tidak lapar. Aku harus segera pulang."


"Tapi Kak, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang Kakak. Siapa mereka dan sekarang Kakak tinggal di mana?" tanya Caroline menunjuk dia bodyguard yang sejak tadi mengikuti Alesya. Tentu itu mencurigakan, bagaimana Alesya bisa dia bodyguard segala.


"Apa maksudmu, Kak. Aku tidak mengerti dan aku sebenarnya ingin menawarkan Kakak untuk tinggal bersama kami agar Kakak bisa meneruskan kuliah. Nanti aku akan bujuk ayahku agar membiayai Kakak. Biar Kakak tidak perlu bersusah payah bekerja lagi. Kakak juga tidak perlu berpura-pura menyewa bodyguard segala nanti bagaimana kalau tidak bisa membayar mereka." Caroline tersenyum meremehkan. Dia tidak tau jika Alesya telah menikah dengan pemilik Kingsley corp. Mall itu juga salah satu milik suami Alesya.


"Ck, kamu kira aku tidak tau niat licikmu itu. Kau memintaku tinggal bersama agar bisa menjadi stylish mu. Belum lagi bibi yang akan menganggapku seperti pembantu. Tinggal bersama kalian sama saja tinggal di neraka. Kalian nikmati saja apa yang kalian curi saat ini karena tidak lama lagi aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku," ujar Alesya penuh penekanan sebelum dia pergi dari sana.

__ADS_1


Caroline menghentak kakinya kesal, berani-beraninya sang sepupu yang sudah bangkrut itu menolak tawarannya. Lihat saja, dia pasti akan mengadukannya pada sang ayah.


"Carol, kita sudah selesai memilih. Sekarang saatnya kamu bayar," ujar temannya. Mereka bertiga sudah membawa tiga setel pakaian masing-masing. Yang pasti harganya tidak murah karena itu salah satu gerai pakaian branded.


"Baiklah, taruh saja di kasir." Carol masih kesal pada sepupunya.


"Kamu kenapa? Sudah tidak usah dipikirkan, nanti kita yang akan membantumu memilih style. Pilihan sepupumu juga biasa saja," ujar salah satu teman Caroline mencari muka.


"Benarkah, kalian mau membantuku."


"Tentu saja Carol, kita kan teman."


"Kalau gitu ayo kita pergi, aku akan mentraktir kalian makanan enak."


"Yeee ... kamu memang teman yang terbaik, Carol. Oh iya, kamu tidak lupa kan kalau sebentar lagi aku akan ulang tahun. Kamu tidak lupa kan dengan kado yang kamu janjikan."

__ADS_1


Caroline tersentak, dia lupa dan kalap lagi. Uang yang awalnya akan digunakan untuk membeli kado malah digunakannya untuk belanja.


"Ah itu, tentu saja aku ingat. Aku sudah memesan tas yang kamu inginkan. Tenang saja," ujar Caroline santai. Dia bisa minta uang pada ayahnya nanti, sudah pasti akan diberi karena dia adalah putri kesayangan.


__ADS_2