Tawanan Presdir Tiran

Tawanan Presdir Tiran
37.


__ADS_3

Marsha hanya bisa menangisi putri satu-satunya yang saat ini sudah terbujur kaku di dalam peti jenazah. Sesal begitu mendalam dia rasakan, seandainya ia lebih bersabar, seandainya dia tidak pergi, dan seandainya dia mengerti apa yang dirasakan sang putri. Mungkin semua ini tidak akan terjadi dan mereka masih bisa berkumpul. Sekarang dia hanya bisa berandai-andai dengan penyesalannya.


"Caroline hiks hiks ... maafkan mamah, nak. Maafkan Mamah, mamah bersalah padamu. Mamah berdosa padamu."


Putri yang sembilan bulan ia kandung di dalam perutnya dan selama dua puluh tahun dia besarkan. Gadis kecil yang dulu menemani hari-hari nya dan menjadi warna dalam kehidupannya dan sang suami. Kini dia telah pergi selamanya.


"Caroline!!! Kembalilah nak, jangan tinggalkan Mamah sendirian!!" teriak Marsha masih tidak percaya kalau putrinya telah tiada.


"Kalian manusia bejat!! Bagaimana mungkin kalian tega membuat putriku seperti ini. Aku tidak akan memaafkan kalian!!" teriak Marsha memaki para laki-laki yang telah menyebabkan putrinya seperti saat ini.


Ya, sesaat Marsha pergi dari rumah. Beberapa laki-laki yang dipengaruhi minuman beralkohol lewat di depan kontrakan kecil itu yang ada di dalam gang. Saat itu pintu kontrakan itu sedikit terbuka dan salah satu dari mereka melihat Caroline sendirian dengan pakaian acak-acakan tapi tampak s3ksi di mata mereka yang sedang tidak sepenuhnya sadar.


Setelah memastikan tidak ada siapapun mereka pun masuk ke dalam kontrakan itu. Yang lain memegangi tubuh Caroline dan yang lainnya menggerayangi tubuh tak berdaya itu. Saat itu Caroline masih bisa berteriak Kate ingatannya kembali pada saat dia dinodai oleh pria tua itu di hotel. Saat Caroline berteriak, mereka pun panik.


"Diam kau jal**g!!"


Mereka membekap wajah Caroline dengan bantal, menekannya sampai perempuan itu kehabisan nafas dan meregang nyawa saat itu juga. Mereka yang sudah tidak dalam kewarasan pun melanjutkan aksinya dalam keadaan wanita itu sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Sungguh tragis akhir hayat Caroline. Harus meninggalkan dunia dengan cara seperti itu.


Marsha mengamuk pada para tersangka, berteriak, memaki, dan mencoba memukul mereka.


Sebulan kemudian.


Alesya baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Ya, saat ini perusahaan Queen's grup telah kembali ke tangan Alesya. Tepatnya dua Minggu yang lalu setelah Axel berhasil menggulingkan laki-laki yang sangat licik dan kejam karena mencuci tangan begitu saja dari kejahatannya dan mengkambinghitamkan paman Gerald sepenuhnya padahal dia juga turut andil besar dalam tindakan korupsi itu.


Rumah dan semua Aset peninggalan sang ayah juga sudah kembali tapi Alesya tidak kembali ke rumah itu karena dia masih tinggal dengan sang suami yang sudah banyak sekali berjasa dalam hidupnya.


"Mis, bukankah sudah aku bilang ketuk pintu dulu sebelum masuk," seru Alesya karena mengira kalau yang datang adalah sekretaris nya.


"Apa sekarang mau menemui istri sendiri juga harus membuat janji lebih dulu."


Alesya mengangkat kepalanya dan terkejut saat melihat sang suami ada di depan matanya.


"Axel, Kenapa tidak bilang kalau mau datang."

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat bagaimana kalau istriku sedang bekerja. Ternyata sangat serius sekali sampai tidak melihat kalau ada suaminya datang."


Alesya berdiri dan menghampiri lelaki itu sebelum dia marah. Beberapa hari ini Alesya memang sering mengabaikan lelaki itu karena banyaknya pekerjaan.


"Maaf, jadi kenapa tiba-tiba datang?"


"Mommy meminta kita untuk makan malam di rumahnya. Apa kau masih ada pekerjaan. Kalau tidak kita pergi sekarang."


"Bisakah kita ke rumah sakit lebih dulu untuk melihat ibuku?" tanya Alesya hati-hati. Laki-laki itu memang sekarang membebaskan Alesya untuk menemui ibunya dan sudah dua Minggu ini keajaiban datang dalam hidup perempuan itu. Sang ibu yang sempat koma sudah sadar kembali walau masih harus menjalani perawatan di rumah sakit.


Alesya sudah menceritakan apa yang terjadi pada sang ibu. Hebatnya sang ibu sama sekali tidak membenci orang-orang yang telah membuat mereka menderita. Karena itulah Alesya pun membantu meringankan hukuman pamannya dan membiayai bibinya yang kini mentalnya terganggu setelah berbagai kejadian menghantam kehidupan nya.


"Tentu. Ayo."


"Benarkah? Ok, tunggu sebentar aku bereskan pekerjaan ku dulu." Alesya sangat senang saat laki-laki itu mau menemui ibunya karena Alesya telah bercerita pada sang ibu kalau Axel lah yang telah menolongnya selama ini. Kalau tidak ada Axel entah bagaimana nasib Alesya. Sang ibu pun bahagia melihat putrinya sudah menikah, dia juga sangat menyukai menantunya.


Lalu bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Sebenarnya tanpa Alesya tau. Axel telah menghancurkan kontrak perjanjian mereka. Dan pria itu juga telah memutuskan untuk menjadikan Alesya istri sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2