
1 Tahun berlalu, artinya Anindita Ashilla saat ini sudah ber usia 1 tahun.
Keisya pun sudah menduduki Sekolah Dasar di Jakarta.
Keseharian keisya setelah lahir nya anindita membuat keisya belajar lebih mandiri lagi.
Setelah lahirnya anin, Tari dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena keinginan keisya yang merasa tidak nyaman tinggal dirumah yang ia tempati saat ini tepat nya di pelosok kota solo.
Bukan karena bangunan atau lingkungan nya yang membuat keisya tidak nyaman, namun hal-hal mistis masih sering mengikuti keisya disetiap langkah nya.
Tidak bisa dipungkiri, Tari masih khawatir dengan anak sulung nya. Jadi semua keluarga keisya sekaligus mbah dan tante nya pun ikut pindah ke Jakarta.
***
Kebiasaan tari di siang hari setelah keisya pulang sekolah mengajak kedua anak nya ke rumah mbah.
"Bu, kakak mau makan di rumah mbah aja" Ucap keisya sambil menyopot atribut seragam sekolah nya.
"Yaudah, kakak ganti baju nanti ibu siapin makan nya"
Sambil menggendong anin, tari menutup pintu rumah nya lalu pergi ke rumah ibu nya bersama keisya.
"Assalamualaikum mbah" Suara tari terdengar berada di depan pintu rumah mbah
"Waalaikumusslam" Saut tika dari dalam rumah
"Mbah uti kakak sama anin datang nih" Suara tika memanggil mbah
Tika mengambil anin dari Tari lalu menggendong nya dengan kain jarik.
Sedangkan keisya pergi ke meja makan untuk makan siang disana.
"Mbah dimana tante?" Tanya keisya kepada tika
"Di kamar, Baru selesai sholat kayaknya kak"
"Ehh cucu mbah udah pulang" Suara mbah yang terdengar sambil menutup pintu kamar
"Udah dong mbah"
"Mbah ada anin sama ibu di depan" Ucap keisya memberi tahu mbah putri
"Mbah kung, ada cucu nya dateng nih" Mbah putri memanggil mbah kung supaya cepat keluar menghampiri cucu-cucu nya
"Iyo iyo sebentar" Saut mbah kung
Keisya asik makan di meja makan sedangkan Tari, Tika dan Mbah nya di ruang keluarga sedang ngobrol santai sambil menanggap anin.
"Mbak, masa ibu ada kepikiran mau pindah ke solo lagi" Ucap Tika
Tari yang mendengar kabar dari tika hanya memasang wajah bingung tidak mengeluarkan satu kata pun
Mbah kung mencoba menjelaskan kepada Tari supaya Tari bisa mengerti.
"Ibu sama bapak cuma mau nengok rumah yang disana aja nduk, sudah lama ngga dibersihkan"
"Kebun nya juga banyak yang rusak kata bu ranti"
"Yaudah pak, bu kalau mau pindah ke Solo lagi ngga apa-apa toh disini aku kan sama mas andi"
__ADS_1
"Bener nduk rapopo?"
"Iya bener bu"
"Yowes kalau gitu, minggu depan ibu, bapak sama tika berangkat"
"Iya nanti aku juga bilang ke Mas Andi buat bantuin bapak sama ibu pindahan"
***
Suasana malam di kamar Tari dan Andii penuh dengan canda tawa Keisya dan Anin.
Melihat Keisya yang sedang gembira bermain dengan Anin membuat Tari bingung bagaimana cara memberitahu keisya kalau minggu depan nanti Mbah nya akan pulang ke Kota Solo.
"Bu, kenapa?" Tanya Andi kepada sang istri
"Mas, minggu depan si mbah sama tika mau pulang lagi ke Solo" Tari mencoba menjelaskan
"Aku belum ngomong sama keisya, takut dia murung" Lanjut Tari
"Lho kok mendadak?" Tanya Andi
"Iya, katanya udah lama ngga pulang terus kebun nya juga banyak yang rusak kata bu ranti"
"Yaudah nanti aku bantu ngomong ke keisya" Ucap Andi
Jam sudah menunjukkan Pukul 21.00, keisya sudah harus tidur karena besok keisya harus pergi ke sekolah
"Bu, kakak ngantuk. Kakak masuk ke kamar ya" Ucap keisya sambil mengusap mata nya
"Iya nak"
***
"Selamat pagi, ibu masak apa?"
"Pagi kakak! Eh kakak udah rapih, ini ibu udah masakin telur kecap sama sayur soup"
"Eumm enak nih"
Keisya mengambil nasi dan lauk yang sudah disiapkan di meja makan lalu duduk disamping ayah nya menikmati sarapan pagi nya.
Di meja makan hanya ada Andi dan Keisya. Sengaja Tari meninggalkan mereka berdua di meja makan. Suasana hening beberapa menit, Andi pun memecahkan suasana hening nya dengan mengajak keisya ngobrol mengenai mbah dan tante nya yang ingin pindah ke Solo.
"Kak, Ayah mau ngobrol sebentar boleh?"
"Boleh, kenapa emang Yah?"
"Jadi…."
"Kakak sekarang kan udah besar, udah pinter dong bisa kerjain PR sendiri, mandi sendiri, makan sendiri juga udah bisa kan"
"Kalau kakak di tinggal Mbah sama Tante untuk sementara sedih ngga?" Tanya Andi memastikan keisya
"Pasti mbah sama tante mau pindah ya Yah?"
Wajah keisya yang sudah terlihat sedih membuat Tari merasa bersalah, dan takut menganggu selera makan keisya.
"Eumm kakak makan dulu aja deh, kita bahas nya nanti aja"
__ADS_1
"Ngga papa ayah, kakak udah bisa sendiri paling kalau sekolah kakak masih takut untuk berangkat sendiri"
Mendengar jawaban dari anak sulung nya yang begitu yakin, Andi langsung menghampiri Tari dan menyampaikan apa yang disampaikan keisya tadi.
***
Selama satu minggu sebelum ke berangkatan mbah nya, Keisya di ajarkan untuk lebih mandiri seperti merapikan buku untuk sekolah, memakai sepatu dan hal kecil lain nya supaya keisya lebih terbiasa lagi.
Tibalah hari dimana tante dan mbah nya harus berangkat kembali ke Kota Solo.
Andi sibuk membantu memindahkan beberapa barang ke dalam mobil truk, keisya yang melihat sudut-sudut rumah mbah nya yang kini sudah tidak ramai lagi seperti hari-hari sebelum nya.
"Tante, kenapa di pintu gerbang ada tulisan rumah ini di jual" Tanya keisya kepada Tika
"Kak, mbah kung sama mbah uti kan usia nya sudah tua jadi sepertinya mbah kung sama mbah uti udah ngga bisa sesering dulu untuk kesini lagi" Tika mencoba menjelaskan secara halus
"Jadi tante sama mbah udah ngga akan ke jakarta lagi?"
"Ke Jakarta kok, tapi nanti pulang nya ke rumah keisya udah ngga ke rumah ini lagi"
Keisya menganggukan kepala nya dengan wajah sedih, mencoba mengerti apa yang disampaikan tante nya.
Keisya melangkahkan kaki nya keluar rumah melihat ayah nya yang sedang memindahkan barang-barang ke dalam mobil truk.
Tari yang melihat anak nya keluar segera menghampiri dan menghibur supaya tidak sedih lagi
"Kakak sedih ya?"
"Iya bu, teman main kakak sekarang kan cuma Anin sama tante Tika kalau tante Tika pergi sama mbah berarti teman kakak cuma anin aja dong"
"Kak, kan kamu masih ada teman sekolah, kakak boleh main sama teman sekolah kok"
Lagi-lagi keisya menganggukan kepala nya.
Mbah kung dan Mbah Putri yang muncul dari dalam rumah langsung berlari keluar memeluk Anin dan Keisya.
"Putu mbah seng ayu, ojo nangis yo nduk…"
"Mengko tumbas dolanan kaleh ibu yo"
("Cucu mbah yang cantik, jangan nangis ya..
"Nanti beli mainan sama ibu ya")
Mbah mencoba menghibur keisya.
"Mbah sehat-sehat ya disana, Keisya sama Anin tunggu Mbah kung, Mbah uti sama Tante main ke Jakarta lagi"
"Iyaaa aamiin, doain mbah ya nduk"
Barang-barang sudah selesai dipindahkan.
Mereka pun sudah saling berpamitan.
"Bu, barang-barang sudah siap" Ucap sopir truk yang ingin mengantarkan barang kepada mbah putri
"Iya iya mas"
Mbah dan Tika masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan Tari, Andi, Keisya dan Anin kemudian di susul mobil truk yang mengikuti mobil Mbah.
__ADS_1