Tembus Pandang

Tembus Pandang
Mama


__ADS_3

Hari ini tepat tanggal 16 November 2020, cuaca mendung dan riuh angin menyapu lembut wajahku.


ini cerita tentang kehidupan seseorang yang kutemui digedung kosong belakang kampus beberapa hari yang lalu, dia bercerita tentang sepenggal pengalaman hidup yang pernah ia lalui dimasa lampau yang kini telah semu menjadi bayangan yang akan selalu ia ingat dalam luka batinnya.


aku tak sengaja bertemu dengannya ketika melewati sebuah tempat yang menjadi rumahnya selama ini, kala itu pikiranku sedang kosong dan hampa, sedikit terkejut ketika mataku bertatapan dengan matanya, mata yang sama-sama memilik pandangan kosong serta pikiran yang jauh menerawang keatas langit mendung itu.


"kamu bisa melihatku?"


dia menatap mataku dengan tatapan yang dalam serta menusuk, dia perlahan menghampiriku mencoba berkomunikasi dengan batin yang bisa kudengar dan kurasakan, nafasnya kian berat dan tatapan matanya kian sayu.


aku mengangguk dan mengiakan kalau aku bisa melihat serta berbicara dengannya.


"iya, aku bisa melihatmu namun kurasa aku tak bisa banyak membantu!"


aku terus berjalan membelakanginya dan duduk di kursi yang berada diujung jalan, lalu kulihat dia pun mengikuti aku yang duduk di sana.


"aku tak perlu bantuan mu, aku hanya ingin kau mendengar sedikit cerita hidupku yang tak bisa ku ceritakan pada siapapun"

__ADS_1


wanita ini tampak begitu lusuh dan kasihan, mungkin semasa hidupnya dia kurang terurus.


aku duduk dan menantikan hal apa yang ingin dia bicarakan kepadaku, sesuatu yang mungkin dia anggap itu sangat penting baginya.


"aku dulu mempunyai kehidupan sedikit pahit, mungkin sama pahitnya dengan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah mengakhiri semua ini dengan kematian adalah suatu yang buruk"


dia terkekeh melihat kearahku, mungkin dia tahu suasana hatiku sedang tidak baik dan itu membuatnya bisa berkomunikasi dengan lancar bersamaku, namun aku hanya diam dan terus menantikan cerita apa yang ingin dia sampaikan.


"aku akan mendengar ceritamu, cepatlah sedikit, aku tak punya banyak waktu"


"aku adalah seorang ibu yang gagal"


"aku mati karena aku merasa bersalah pada anakku, aku harus kehilangan bayi yang tak pernah menghembuskan nafasnya didunia"


sejenak aku tertegun, suara Isak tangis tanpa air mata mulai terdengar dari bibirnya, dia menengadah kelangit nan mendung itu, sedang aku tak tahu apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.


"kala itu aku mengandung anak yang belum bisa kuterima kehadirannya, rasa senang karena aku akan menjadi seorang ibu dan rasa sedih karena takut kepada orang tuaku berkecamuk dalam hati dan otakku"

__ADS_1


aku sedikit mulai mengerti lantas kujawab ceritanya.


"kau mengandung tepat sebelum menikah?"


dia mengangguk pelan lalu tangisnya kian mengencang.


"aku yang salah.. aku yang salah.."


dia memukul kepalanya berulang kali, ingin kutenangkan dia namun aku juga tidak berani, biarlah saja dia hanyut dalam emosinya dulu barangkali dia sudah memendamnya begitu lama.


"lalu siapa ayahnya?"


aku melanjutkan pertanyaan itu kepadanya


"dia, kekesihku hu..huu..huuu, kami melakukannya karena kami saling mencintai, namun setelah dia tahu aku mengandung anaknya dia tak mau lagi bertemu denganku, dia menyuruhku membunuh anak ini saja, dia terus menerus mendesakku aku tidak tahan huu..huu.huuu"


dia menangis tersedu" aku pun paham mengapa diawal kalimat dia bilang kalau dia adalah ibu yang gagal.

__ADS_1


__ADS_2