
kuah bakso yang sangat panas itu kutiup hingga dingin, dan menikmatinya sambil asyik mengobrol dengan kang bakso tadi,
"mbok, emangnya temen mbok tadi kemana?" dia bertanya sambil memandang ke sekeliling
"aku juga ngga tau bli, dia muncul dan menghilang begitu saja" jawabku dengan mengunyah bakso yg enak itu
"lah kok bisa begitu?" dia menggrenyitkan dahi seolah sedang berpikir keras, aku hanya tersenyum lalu menjeleskannya
"tadi aku melihatnya berjalan sendirian di samping jembatan sana, dia menyapaku, tapi aku tidak mengenalinya sama sekali"
ku sambung perkataan tadi dengan menyuap sesendok bakso yg ada di tanganku
"lalu aku kira dia tersesat, kubonceng dia, niat hati ingin membawanya sampai jalan besar di depan, pakainnya sangat indah, dia memakai gaun merah meriah"
setelah ku ceritakan kejadian itu, kang bakso hanya menganga tak berkata apa apa dg setengah melamun dan ada sedikit ketidak percayaan di wajahnya, ku buyarkan lamunannnya dg melambaikan tanganku ke arahnya
"bli..? kenapa? apa ada yg salah dg ceritaku?"
__ADS_1
aku berkata dg nada sedikit tinggi, takut kalau kalau dia tidak mendengarkan ku
"ahh iya, kenapa mbok? lah perempuan bergaun merah darah?" dia terkejut tak percaya
aku hanya mengangguk dan tersenyum hambar
"apa dia minta diturunkan di jembatan itu?" dia menunkuk ke arah jembatan itu dg ragu ragu, sekali lagi aku meng iyakan pertanyaannya
"iya bli, betul sekali" aku melirik kepadannya, dia nampak gelisah seperti ada rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya
"memangnya kenapa bli? apa bli kenal?"
"apakah dia menakutkan?" lagi lagi kang bakso itu menanyaiku, kali ini suaranya terdengar sedikit gemetar
"tidak, dia tidak menakutkan sama sekali, dia sangat cantik, ramah, namun anehnya setelah melihat jembatan itu, dia menangis dan mengingat suaminya"
aku menjelaskan kejadian yang saat itu ku alami dg rasa datar tidak ada rasa takut, curiga atau yang lainnya.
__ADS_1
"ah untunglah, mbok tau siapa dia?" dia bertanya dg nada yang penuh dg tebakan
aku hanya menggeleng sambil meletakkan mangkuk bakso di ember yang ada airnya, dan dg mata tetap mengarah ke kang bakso itu
"byurr" ember itu tak sengaja ku senggol hingga airnya tumpah dan menggenang dia atas aspal cekung itu
"aduuhh maafkan saya blii, maaf, saya ngga sengaja" sesegera mungkin aku meminta maaf kepadanya, dia hanya tersenyum getir
"tidak tidak apa apa"
"apa mbok masih ingin mendengar cerita tentang wanita bergaun merah itu?" lagi lagi dia membuatku penasaran,
"iyya iyya bli, siapa dia sebenarnya?"
aku bertanya dengan antusias,
"dia adalah istri dari tuan Richard Van Djick, pada malam pernikahannya setelah pesta, suaminya ditugaskan untuk pulang ke negaranya Netherland, laluu setelah satu bulan setelah kepulangannya ke Netherland, perempuan itu menerima kabar kalau suaminya telah gugur dalam peperangan, betapa hancur hatinya mendengar kabar itu, dia tak sanggup menerima kabar itu, dan juga dia tak pernah sanggup menjalani hari harinya tanpa orang yang dia cintai, akhirnya untuk mengenang cintanya dia memakai gaun pernikahan dan pergi ke tempat pertama mereka bertemu, iya itu disini, Pantai Serangan, kala itu jembatan usang yg di sebelah sana belum di bangun, dan disanalah dia mengakhiri hidupnya"
__ADS_1
aku hanya terdiam seribu bahasa mendengar cerita ini.