Tembus Pandang

Tembus Pandang
episode 6


__ADS_3

aku menggigil mendengar ceritanya, jantungku berdegup kencang, lagi lagi aku tak dapat membedakan "mereka" dg manusia hhmm, aku sedikit lega karena "mereka" tak pernah membuatku takut, hanya saja di usiaku yg menginjak 17 th ini aku jarang bisa membedakakan yg mana "mereka" dan yg mana manusia, karena ketika wujudnya bagus dan tidak menakutkan yaa aku akan menganggapnya sama seperti ku, segera aku bertanya kepada tukang bakso itu


"apa dia selalu menakuti orang orang yang ada disini?" kang bakso hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya menjawab


"tidak, dia hanya menampakkan dirinya saja, terkadang hanya melirik dan jarang menampakkan wajahnya, karena banyak sekali warga yang berkata kalu mukanya hancur" aku hanya mengangguk dan tersenyum, "banyak cerita yg beredar, ada yg bilang bahwa kematian Tn.Richard adalah sebuah kebohongan demi menyelamatkan keluarganya" cerita itu berlanjut dari kang bakso, aku semakin penasaran, "lalu.. bagaimana Tn.Richard terlihat begitu tua sedangkan wanita bergaun merah itu terlihat sangat cantik dan masih muda" kang bakso melanjutkan ceritanya sambil mengelap mangkuk yang basah


"setelah 15 tahun berlalu, Tn. Richard kembali kesini dan memang benar dia melum mati, dia sangat terkejut ketika mendengar istrinya telah mati bunuh diri, lalu salah satu anggota keluarganya menunjukkan dimana lokasi wanita itu bunuh diri, dan sejak saat itu Tn. Richard ingin selalu mengenang istrinya, dan membuat jembatan itu, setelah jembatan itu selesai di bangun setiap sore hari dia selalu berjalan jalan disana dan di temani se ekor anjing, namun pada suatu hari nasib na'as menghampirinya, dia tertabrak oleh pengendara motor dan mayatnya terjatuh di laut itu, dan tak pernah ditemukan sampai sekarang" begitulah ceritanya, dia sangat tahu betul cerita tentang Tn.Richard dan istrinya,

__ADS_1


kulihat malam semakin larut itu tandanya aku harus pulang, kutanyakan berapa harga bakso itu, dan alangkah terkejutnya aku mendengar harga bakso yang sangat sangat murah


"berapa harganya bli?" sambil membuka tas dan mengeluarkan dompet


"1500 mbok" jawabnya singkat dengan menggantung lampu petromax miliknya.


"beneran bli? 1500? ngga salah?" dia mengangguk tanpa keraguan di wajahnya

__ADS_1


"kenapa mbok? terlalu mahal ya? iya memang saya menjual harga segini untuk para Belanda" belanda? ah iya aku lupa di bali memang banyak turis tapi.. ah sudahlah aku ngga perduli yang penting ku bayar saja lah dulu, ku ulurkan tanganku yang berisikan uang lembar senilai lima ribu rupiah "mmm mbok ngga ada uang lima ratus perak ini gimana?" di bertanya sambil menghitung kembalian ku


"sudahlah bli, kembaliannya 3000 aja" diserahkanyya lah uang tersebut, belum sempat kumasukkan uang itu ke dalam kantong angin kencang menerpaku, angin pantai memang besar sekali kalau sudah malam seperti ini, ku kejar uang itu, yang jatuh di tanah dan bergeser agak jauh dari tempayku berdiri


"ini gek uanya" eehh ada seorang ibu ibu mengambilkan uangku yg diterpa angin dan mengembalikannya kepadaku, " terimakasih bu" aku segera berdiri dari posisi membungkuk, dan tersenyum melihat ibu tadi, lalu ku balikkan badan ku melihat kearah kang bakso


deg.. deg... deg..

__ADS_1


mataku mulai menangkap sesuatu yang langka, kang baksonya hilang dg cara tiba tiba, ku telusuri jejak genangan air yg berada di atas aspal cekung tadi, yang tak sengaja ku tumpahkan ternyata juga sudah mengering.


__ADS_2