
sepontan aku mengerem sepeda motorku
"kenapa? ada apa?" tanyaku dg nada gugup
dia turun lalu menuju jembatan yg ku amati tadi,
dia menundukkan kepalanya, perlahan aku mendengar suara isak tangis dari arah nya,
aku mencoba mendekati dia, selangkah demi selangkah ku yakinkan ayunan langkah kaki ku, ku pegang bahunya dan membalikkan badannya
"kenapa?" " apa ada sesuatu yg terjadi?" tanya ku sambil mengusap usap punggungnya, dia hanya menatap ku, ada segaris lengkung di bibirnya, " aku hanya merindukan seseorang" akhirnya dia mampu mengucapkan kalimat, "siapa? siapa yg kau rindukan" aku bertanya dg nada lembut, dia tersenyum "suamiku, aku sedang merindukannya, setiap kali aku melihat jembatan itu, aku slalu mengingatnya" dia menunjuk ke arah jembatan tadi, aku teringat oleh kejadian barusan, kakek itu juga sedih saat melihat jembatan yg berada di sebrang sana, lalu gadis ini juga kelihatan sedih sekali saat melihat jembatan yg sama, " apa dia yg membangun jembatan itu" aku bertanya dg sedikit keraguan namun dia mengangguk dengan mantap dan meng iya kannya, "iya" "suamiku yg membangunnya, dg orang-orang kepercayaannya" aku semakin bingung, ada sedikit rasa takut di benak ku, "setelah sekian lama, aku tak pernah melihatnya lagi" sambungnya
"sejak kapan? kau tidak pernah bertemu dengannya lagi?" tanyaku memastikan pikiran aneh yg sedang bergelayut dalam pikaran ku
__ADS_1
" sejak dia pergi ke netherlands" dia menjawab dg mata yg sudah basah tanda tak sanggup menyimpan rasa sedih, deg...deg...deg... jantung ku seperti ingin berhenti berdetak '' netherlands? belanda kah yg dia maksud? dan kakek yg tandi juga orang belanda bukan?'' aku bertanya tanya dalam hati,
"tik..tok..tik..tok" suara kang bakso keliling membuyarkan lamunan ku
aku segera membujuknya untuk tidak menangis lagi, dan lagi perutku juga sudah lapar, hari juga sudah semakin gelap dan sekarang sudah pukul 21:34
"kamu mau makan? nanti sehabis makan kita pulang ya, ku antar sampai jalan besar di depan" aku membujuknya dan dia pun meng angguk kan kepalanya tanda dia menyetujuinnya, "tunggu di sini sebentar ya, aku akan pesankan bakso untuk mu, jgn kemana mana" aku berjalan menuju ke arah kan bakso tadi " bli bakso dua porsi ya" (bli) dalam bahasa bali itu sebutan untuk kakak laki laki
dalam bahasa bali (mbok) itu adalah sebutan untuk kakak perempuan yaa sejenis panggilan neng, mbak ya begitulah
aku menunggu di samping gerobaknya bau harum dari kuali bakso tersebut sangat menggoda
"mbok... sendirian aja?" tany kang bakso tersebut, aku menggeleng kepala dan menjawabnya
__ADS_1
"saya berdua kok bli, sama temen saya, makannya saya pesen dua porsi" jawab ku sambil menunjuk ke arah wanita bergaun merah tadi
aku terkejut melihat dia yg sudah tidak ada di sana, aku mencoba melihat lihat di sekitar tapi tak ada jejak tentang keberadaannya, "kemana dia? cepat sekali menghilang" gerutuku
"mbok... dimana temennya? ini baksonya sudah siap"
"ohh iya iya bli" aku duduk sambil mulai menyuap bakso panas tadi,
"bli? sering jualan bakso disini ya? tiap hari lewat sini?" tanyaku sambil mengunyah bakso yg enak dan kenyal itu, baru kali ini nemuin bakso se enak ini
"iya mbok, mboknya sering main disini juga?" dia berbalik tanya padaku
aku hanya menggeleng kepala dan tersenyum.
__ADS_1