
Mendengar pengakuan Keysha, membuat Edward sangat bangga pada Keysha yang tidak pernah mencoba hanya satu kemampuannya saja tapi, gadis ini ingin membuktikan loyalitasnya sebagai model yang tidak hanya mengandalkan tubuh dan wajah cantiknya saja tapi juga skill intelektualnya di bidang akademik.
"Saya rasa penjelasan Gustavo sudah cukup untukmu hari ini Keysha. Kamu bisa belajar dengannya seiring waktu," ucap Edward.
"Baik Tuan. Saya rasa tidak perlu waktu yang lama untuk mengetahui apa saja tugas saya untuk melayani anda dalam pekerjaan," ucap Keysha.
"Bagus. Sekarang kamu bisa ikut denganku menemui seorang klien di hotel. Gustav sudah memberitahukan jadwalku hari ini padamu, bukan?" tanya Edward.
"Baik Tuan." Keysha mengambil tasnya lalu mengikuti langkah kaki Edward yang sudah berjalannya terlebihdulu darinya. Sementara Gustavo merasa ada yang aneh dengan Tuannya yang selama ini menutupi dirinya dari wanita sejak ditinggal mati kekasihnya sejak dua tahun yang lalu karena penyakit leukemia.
"Gustav. Terimakasih sudah mengajari aku!" ucap Keysha buru-buru meninggalkan Gustavo yang hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Sepertinya ada rambu-rambu cinta nih yang mulai tumbuh dalam hati sang bos," batin Gustav.
"Apakah aku yang akan membawa mobilnya tuan?" tanya Keysha saat mobil Edward sudah diparkir oleh sekuriti perusahaannya.
"Kamu cukup duduk manis saja Keysha. Biar aku menyetir," ucap Edward sambil tersenyum pada Keysha.
Edward bahkan membukakan pintu mobil bagian depan untuk Keysha. Kelihatan sekali Edward seperti menemukan lagi kehidupannya yang pernah mati saat ditinggal mati kekasihnya. Hal itu terlihat oleh beberapa karyawan yang melintas di depan mereka barusan.
"Masuklah Keysha!" titah tuan Edward yang langsung dituruti oleh Keysha. Tidak lama kemudian, Edward sudah duduk di belakang kemudi lalu menjalankan mobilnya.
"Apa kabarmu, Stainer! apakah saat ini kamu merindukan aku sayang? kenapa tiba-tiba wajahmu muncul Stainer? kenapa aku merasakan sakit yang luar biasa kini. Beginikah sakitnya rasa rindu itu, Stainer?" batin Keysha mencoba mengusap dadanya yang terasa sesak saat ini. Ia membuang mukanya ke arah samping sambil menatap kosong deretan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
__ADS_1
Raut wajah Keysha yang terlihat tiba-tiba mendung, membuat Edward sedikit curiga." Keysha. Apakah ada yang sedang kamu pikirkan, hmm?" tanya Edward.
"Oh, maaf Tuan. Aku baik-baik saja," enggan Keysha menepis kerinduannya yang sempat menjalar diruang batinnya.
"Keysha. Jangan terlalu terfokus pada profesionalisme kerja karena tidak enak padaku. Bagaimanapun juga kita ini adalah mahluk sosial yang butuh seseorang untuk kita berbagi. Tentunya orang yang kita percayai bahwa dia setia mendengarkan keluh kesah kita," ucap Edward panjang lebar.
"Maaf tuan. Saya sebenarnya baru mengalami duka mendalam karena baru kehilangan seluruh keluargaku karena kecelakaan lalu lintas beberapa hari yang lalu," ucap Keysha mengalihkan alasan yang cukup tepat pada Edward.
"Maksud kamu kalau korbannya adalah kedua orangtuamu?" tanya Edward.
"Iya tuan. Dan juga adik kandungku," ucap Keysha yang akhirnya menangis juga dan lagi-lagi air mata kerinduannya pada Stainer.
__ADS_1
"Astaga. Tragis sekali kehidupanmu, Keysha. Berarti kamu hanya sebatang kara di dunia ini, Keysha?" tanya Edward.
"Masih ada kakak aku yang satu lagi tinggal di Amerika karena bekerja di sana,"ucap Keysha.