
Keseharian Keysha yang menikmati pekerjaannya menjadi asisten Edward, membuat sang bos puas dengan pekerjaan Keysha. Bahkan Keysha lebih cekatan dalam mengurus semua kebutuhan Edward daripada Gustav.
Bahkan ia tidak segan memberikan saran ditengah pertemuan Edward yang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan yang dinilainya tidak membawa keuntungan banyak untuk sang bos. Seperti saat ini, Edward sedang membahas proyek kerjasamanya dalam produk mereka yang bergerak di bidang produksi bahan sutra.
"Tuan. Kami punya bahan baku yang sangat berkualitas untuk menambah nilai produksi anda yang saat ini banyak permintaan dari distributor," ucap tuan Hugo.
"Anda benar tuan Hugo saat ini kami kekurangan pasokan bahan bakunya. Apakah anda ingin menjadi pemasok bahan baku utama di pabrik kami?" tanya Edward.
"Tentu saja tapi kami tidak bisa memenuhi permintaan sesuai yang anda butuhkan karena minimnya modal kami saat ini," ucap tuan Hugo.
"Berapa yang anda butuhkan langsung saja hubungi asisten saya biar dia yang akan mengurusi semuanya," ucap tuan Edward yang menyetujui begitu saja permintaan kliennya.
"Maaf tuan Edward! saya tidak akan memberikan sesenpun pada tuan penipu ini," sarkas Keysha.
"Kau ..! apa hakmu menolak perintah tuan Edward?" bentak tuan Hugo.
"Kamu kira saya bodoh membiarkan bos saya menerima begitu saja tawaran kerjasamamu yang tidak masuk akal itu?" imbuh Keysha.
"Apa maksudmu, gadis sialan? apakah kamu kira aku ini penipu?" tanya tuan Hugo dengan wajah geram.
"Jelas saja kamu penipu. Sebenarnya kamu hanya petani bangkrut karena panenmu sering gagal. Ulat sutra tidak bisa menghasilkan benang berkualitas tinggi karena terserang wabah. Belum lagi upah para pekerja yang begitu minim hingga mereka kompak mogok kerja.
Dan utangmu di bank membeludak. Dan sekarang kamu minta suntikan dana dari perusahaan hanya untuk melunasi hutang Bank, bukan untuk menambah modal dengan alasan yang bodoh itu. Aku sudah melakukan survei pada perusahaanmu sebelum anda bertemu dengan bos ku," tutur Keysha membuat Edward hanya mengulum senyumnya.
Edward mengagumi kehebatan Keysha yang sudah mengantisipasi segala sesuatu untuk menyelamatkan perusahaannya dari para penipu yang ingin menipunya. Dan ini adalah kali kedua Keysha mempermalukan kliennya.
"Maaf tuan Hugo! Saya tidak bisa melanjutkan kerja sama kita karena alasannya sudah jelas yang baru saja diungkapkan asisten saya," ucap tuan Edward.
"Tunggu dulu tuan Edward. Apa yg disampaikan wanita ini tidak semuanya benar. Saya bisa menjamin itu," cegah tuan Hugo.
__ADS_1
"Itu menurut anda. Tapi fakta yang ditemukan oleh asisten saya sangat berbeda karena ia bisa mengetahui dari setiap sumber yang terpercaya dengan menyodorkan beberapa bukti yang valid yang tidak pernah saya ragukan kinerjanya," ucap Edward.
Edward bergegas berdiri. Ia tidak ingin lagi mendengar ocehan tuan Hugo yang menghabiskan waktunya yang tidak berguna jika terlalu lama berada bersama tuan Hugo.
"Ayo kita pulang Keysha!" ajak Edward.
"Baik Tuan." Keysha berjalan beriringan dengan Edward keluar dari restoran hotel tempat pertemuan mereka dengan tuan Hugo.
Saat melintasi lobi Hotel, seorang petugas hotel yang mendorong luggage trolley atau bellboy trolley yang tidak hati-hati hampir menabrak Keysha hingga membuat tuan Edward reflek merangkul Keysha dalam pelukannya.
"Keysha. Awas...!" pekik Edward.
Keysha sangat syok melihat kejadian barusan. Edward bergegas menghampiri bellboy itu yang langsung menghadiahi pria itu dengan bogem mentah.
"Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja karena barangnya terlalu berat," ucap petugas itu memberi alasan.
"Tapi, kau sudah hampir mencelakai wanitaku," teriak Edward membuat petugas keamanan hotel dan manager hotel langsung turun tangan menengahi Edward dan petugas hotel itu.
"Tapi, dia...!"
"Ku mohon. Dia juga punya keluarga. Jangan lakukan itu, please!" Keysha mengatupkan kedua tangannya penuh permohonan pada Edward.
Edward tidak mengerti dengan jalan pikiran Keysha yang sulit sekali bisa ditebak. Di satu sisi ia bisa tegas pada orang lain. Sementara disisi yang lain hatinya tidak cukup kuat jika orang lain ditindas walaupun orang itu hampir mencelakainya.
"Kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya tuan!" ucap pemilik hotel yang sangat mengenal siapa Edward di negara ini.
"Hmm!"
Edward berjalan keluar meninggalkan hotel itu sambil merengkuh pinggang Keysha. Hatinya merasa Keysha bukan lagi hanya seorang asisten baginya tapi kini Keysha lebih dari itu baginya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa Keysha?" tanya Edward ketika sudah berada di dalam mobil.
"Aku baik-baik saja Edward. Boleh kita pulang sekarang?" ucap Keysha terlihat sangat lelah.
"Iya sayang," ucap Edward membuat Keysha tersentak.
"Tolong jangan memperlakukan aku secara berlebihan, tuan Edward!" tegas Keysha.
"Keysha. Kita berdua tidak terikat dengan siapapun. Apakah aku salah jika aku berharap lebih padamu?" tanya Edward.
"Jelas anda sangat salah tuan. Cinta anda memang benar tapi menjalin hubungan dengan istri orang lain itu yang salah," timpal Keysha membuat Edward terhenyak.
"Apa maksudmu Keysha?" tanya Edward memastikan lagi ucapan Keysa yang menurutnya mungkin ia hanya salah dengar.
"Maafkan saya Tuan. Saya sudah bersuami." Keysha tertunduk lesu sambil meremat jari-jemarinya.
"Keysha. Jika kamu bersuami, mengapa kamu mau tinggal terpisah dengannya? apa yang terjadi dengan hubungan kalian?" tanya Edward penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskan kepada anda hal yang lebih privasi pada tuan," santun Keysha.
"Keysha. Jika dia tidak mencintaimu. Biarkan aku yang akan menggantikan dirinya," ujar Edward.
"Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya. Hatiku tidak bisa mengkhianatinya, walaupun aku ingin. Maafkan aku, tuan Edward!" ujar Keysha sambil menahan air matanya.
"Baiklah. Kita pulang sekarang!" Edward membawa mobilnya dalam perasaan yang sangat kecewa. Ia tidak menyangka perasaan cinta yang selama ini ia simpan untuk asistennya Keysha, ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.
Sepanjang jalan, keduanya terlihat diam. Sesekali hanya bisa menarik nafas dan mendesah seakan ingin melepaskan sesak di hati mereka. Walaupun Keysha tahu bahwa pernikahannya dengan Stainer hanya diatas kertas perjanjian kontrak selama enam bulan namun dia tidak akan bisa berpindah ke lain hati apalagi dia belum menerima surat cerai yang sah secara agama dan Stainer tidak pernah menjatuhkan talak padanya. Kepergiannya dari Stainer hanya karena pria itu tidak pernah menyinggung surat perjanjian kontrak itu.
Sementara di Jakarta sana, Stainer sedang memikirkan istrinya yang tidak bisa ia temui. Padahal ia melihat dari data penumpang pesawat ada nama Keysha yang berangkat tujuan ke Milan. Tapi, setelah di cek ke Milan, Keysha tidak tinggal di negara itu.
__ADS_1
"Ke mana kamu pergi Istriku, Keysha?" lirih Stainer sambil menatap wajah cantik Keysha di wallpaper ponselnya.