
Setibanya di tanah air, Stainer langsung menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan kandungannya Keysha. Sebenarnya Keysha sangat malu pada suaminya yang tidak memarahinya sama sekali. Justru Stainer sangat bahagia dan memperlakukan dirinya bak ratu.
"Mengapa kita harus ke sini, Stainer?" tanya Keysha yang merasa sudah baikan saat ini.
"Kamu baru mengalami kecelakaan, sayang. Walaupun air bag melindungi bagian dada dan wajahmu, namun tidak menutup kemungkinan perutmu bisa saja mengalami cindera karena kamu saat ini sedang hamil muda," ucap Stainer.
"Mengapa kamu sangat yakin kalau bayi ini adalah anakmu?" tantang Keysha.
"Karena aku begitu yakin Istriku yang sangat cantik ini sangat menjaga dirinya dari jamahan lelaki lain. Aku sangat mempercayaimu Keysha. Seperti aku sangat mempercayai diriku sendiri dan Tuhan kita, Allah," ujar Stainer menatap wajah cantik istrinya.
Tidak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah sakit. Keysha dan Edward menutup pintu mobil itu saat kaki mereka sudah melangkah keluar menuju lobi rumah sakit untuk mengambil nomor pendaftaran.
Sementara Revo memilih istirahat di mobilnya karena masih merasa lelah pulang pergi ke Perancis.
Keysha dan Stainer menuju ke ruang poli kandungan. Kebetulan poli kandungan itu sudah mulai sepi pasien ibu hamil jadi Keysha dan Stainer bisa langsung masuk menemui dokter kandungan yang dibantu oleh seorang suster. Stainer menjelaskan keadaan istrinya dan Keysa ikut membenarkan cerita suaminya.
"Baik. Silahkan naik ke tempat tidur nona Keysha. Kita akan melakukan USG untuk mengetahui keadaan kandungnya!" pinta dokter Dina.
Ketika USG 4D itu mulai bergerak, Stainer nampak terkesiap melihat kantung bayinya yang ditunjukkan oleh dokter." Sejauh ini tidak ada masalah dengan kandungannya nona Keysha. Walaupun ada benturan kuat karena tabrakan itu. Beruntunglah nona Keysha mengenakan sabuk pengaman dan reflek memeluk perutnya karena nalurinya sebagai seorang ibu," tutur dokter Dina.
"Alhamdullilah. Apakah kandungan istri saya masih aman mendapatkan benturan yang lain dokter?" tanya tuan Stainer yang langsung mendapatkan respon dari dokter Dina yang mengerti arti kata benturan itu.
Keysha hanya tertunduk malu saat duduk kembali di kursinya." Untuk saat ini hindari hubungan intim karena nona Keysha masih kelihatan kelelahan. Kalau mau melakukan sepekan lagi tidak masalah," ucap dokter Dina." Pastikan kondisi ibu hamil ini nyaman," lanjut dokter Dina.
"Apakah kami bisa pulang sekarang, dokter?" tanya Stainer.
__ADS_1
"Silahkan Tuan! saya tidak perlu memberikan obat-obatan lagi karena rumah sakit di Paris sudah memberikan obat untuk nona Keysha," imbuh dokter Dina.
"Terimakasih dokter. Kalau begitu kami pamit pulang dulu," pamit Stainer." Pastikan nona Keysha istirahat yang cukup dan jaga pola makannya. Turuti saja apa yang ingin ia makan, Tuan," ucap dokter Dina.
...----------------...
Setibanya di mansion, para pelayan menyambut kedatangan Keysha dengan kepala tertunduk. Edward yang menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mereka.
"Selamat datang lagi ke ranjang hangat kita sayang," ucap Stainer saat masuk ke kamar pribadi mereka.
Keysha masih bungkam sambil menahan air matanya.Ia tidak sanggup menerima kebaikan suaminya. Ia ingin Stainer memarahinya, bukan melayaninya seperti ratu di hati pria tampan ini.
"Sayang. Kamu mau makan apa? apa yang kamu inginkan, hmm? ayo dong ngomong! apakah kamu tidak merindukan aku, hmm?" tanya Stainer sambil membuka sepatu istrinya yang biasa selalu ia lakukan.
"Ssssttt..! aku yang salah. Aku tidak peka. Aku tidak tahu apa yang kamu butuhkan. Aku terlalu egois karena semua yang aku lakukan berdasarkan keinginanku tanpa menanyakan apa yang kamu ingin dariku. Jadi aku yang salah Keysha. Bukan kamu. Kamu hanya ingin aku membatalkan perjanjian kontrak nikah yang bodoh itukan?" tanya Stainer gemas.
Keysha mengangguk. Andai saja itu ia tidak mengikuti perasaannya dan menunggu keputusan suaminya, mungkin tidak perlu ada perpisahan yang menyakitkan seperti kemarin.
"Kenapa kamu pergi dan tidak mau menunggu aku kembali? mengapa selalu memutuskan yang menuruti apa yang ada dipikiranmu saja tanpa mengetahui betapa aku sangat kuatirkan keselamatan kamu di luar sana karena kamu pergi dalam keadaan hatimu sangat hancur karena kehilangan semua keluargamu dalam waktu yang bersamaan," gumam Stainer sambil memeluk tubuh istrinya membawanya ke dalam dadanya.
"Aku ..aku hanya takut kamu hanya mempermainkan perasaanku saja. Aku takut terlalu banyak berharap pada cintamu yang pada akhirnya aku ditolak olehmu dan mengingatkan aku tentang surat perjanjian kontrak pernikahan itu," ucap Keysha sambil menangis sesenggukan dalam dada suaminya.
"Ya Allah, Keysha. Kenapa kamu menyimpan penderitaanmu sendiri? Apakah tidak cukup perhatian aku selama ini padamu, sayang, hmm?" tanya Stainer yang ikut menangis.
"Saat itu, perasaanku sangat labil. Kehilangan eyang, kedua orangtuaku dan juga adik bungsuku membuat aku sangat terpukul. Jika tidak ingat dosa kalau bunuh diri adalah bagian dari dosa besar, rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saat itu. Ujian yang aku rasakan terlalu berat ditambah lagi masa kontrak pernikahan itu akhirnya berakhir," ungkap Keysha terus-menerus menangis.
__ADS_1
Ia meluapkan kesedihannya dan penderitaan batinnya karena kehilangan orang-orang yang dikasihinya.
"Aku juga yang salah Keysha. Aku sengaja tidak menghubungi kamu saat itu ingin memberikan kamu surprise. Tapi saat aku tiba di Jakarta, justru aku yang mendapatkan kejutan yang bertubi-tubi. Mendapatkan kabar keluarga kamu kecelakaan dan tewas semuanya.
Ditambah kamu kabur dan sangat sulit ditemukan oleh kami. Padahal semua maskapai penerbangan kami telah periksa. Walaupun ditemukan nama kamu tapi kami tetap kehilangan jejak kamu. Sepertinya kamu tidak ingin ditemukan oleh kami," ucap Stainer.
Keysha tidak lagi ingin bicara. Ia hanya memeluk erat suaminya dan menangis meraung di dada kekar itu. Stainer bisa merasakan kepedihan hati istrinya. Walaupun ia kecewa dengan sikap kekanak-kanakan Keysha, namun memahami perasaan istrinya jauh lebih penting saat ini. Toh semuanya sudah berlalu. Tidak ada yang perlu mereka perdebatkan karena semuanya sudah berlalu. Kini yang mereka pikirkan adalah calon bayi mereka yang butuh perhatian khusus.
"Sayang. Kamu makan dulu ya. Aku akan suapin kamu," ucap Stainer.
"Apakah kamu sudah memaafkan aku, Stainer?" tanya Keysha yang belum lega.
"Aku yang harus minta maaf kepada kamu sayang. Maafkan aku ya!" pinta Stainer sambil mengusap air matanya Keysha yang masih tersisa di pipinya.
"Maafkan aku dulu!" rengek Keysha.
"Pastinya sayang. Sekarang kita makan. Mau makankan?" rayu Stainer.
Keysha menggelengkan kepalanya. Stainer menarik nafas panjang menghadapi ibu mil satu ini.
"Terus. Kamu makan apa sayang, hmm?" tanya Stainer dengan penuh kesabaran.
"Aku mau ini!" unjuk Keysha pada bagian bawah suaminya membuat Stainer tersenyum.
Keduanya akhirnya berciuman sambil memberikan remasan mesra untuk memulai percintaan panas mereka.
__ADS_1