
Sebuah pesawat jet dengan 2 pilot orang asing
menunggu mereka di landasan. Beberapa orang menyapa Shakti. Shakti lalu
memberikan kunci mobilnya pada salah seorang disana lalu membalas sapaan para
pilot dan masuk ke dalam pesawat. Para pilot menutup pintu pesawat lalu
mengatakan pada Shakti mereka akan mengudara dengan aman dan sampai ke tujuan
dalam kurang dari 2 jam. Shakti lalu duduk di sofa, menarik gelas dan anggur
lalu menenggaknya bahkan sebelum pesawat lepas landas.
15 menit dan 3 gelas kemudian Shakti akhirnya tenang
dan mau mulai berbicara, ia menceritakan tentang yang terjadi di meeting room. April
membiarkan Shakti berbicara sambil terus sambil meminum anggurnya
“Aku sudah menduga pak, di memoir Pak Robby ia sama
sekali tidak menyebutkan bisnis anak-anaknya yang membangkrutkannya, tapi ia
juga tidak menyebut bapak sebagai orang yang membantu ekspansi perusahaannya,
ia hanya menyebutkan anak-anaknya membantu ekspansinya” kata April
“Aku juga menyadari keberhasilan ekspansi PT Sigma
dimulai semenjak bapak pulang study”tambahnya
“Kakak-kakakku dibesarkan dengan cara orang kaya.
Mereka dimanja, apapun yang mereka inginkan pasti dibelikan, mereka sekolah
atau tidak Ayah tidak peduli, nampaknya itu caranya menebus masa kecilnya yang
miskin, ia memanjakan mereka dengan harta yang berlimpah” Shakti lalu menenggak
sisa anggurnya hingga habis.
“Kelahiranku sangat tidak direncanakan. Orang tuaku
berfikir ibu tidak akan hamil karena sudah masuk umur menopause. Tiba-tiba saja
ibu hamil lalu melahirkanku, berbeda dengan kakak-kakakku, aku lahir saat Ayah
sedang sangat sibuk dengan pabrik elektroniknya. Sehingga tidak ada waktu untuk
memanjakanku. Walau begitu ia selalu menyekolahkanku di sekolah yang paling
mahal, bahkan sampai ke luar negri. Aku mengikuti berbagai summer camp dan
pertukaran pelajar di seluruh dunia, dan akhirnya aku menetap lama untuk
menyelesaikan studyku tepat saat kakak-kakakku bereksperimen dengan ekspansi
mereka”Shakti menuangkan lagi anggur ke gelasnya
“Saat aku pulang kondisi pabrik ayah sedang tidak
baik, walaupun bisnisnya berjalan normal, tapi semua uang modal habis untuk
pembangunan pabrik otomotif Juna. Setiap keuntungan PT. Sigma dialokasikan
untuk pabrik otomotif yang padahal nilainya hanya bagus di atas kertas.
Sementara penjualannya tidak berjalan. Sistem pemasaran dan PO mereka gagal
total, bahkan dari PO 700 unit yang terjual, pabrik hanya bisa mengakomodir
300an unit. Para pembeli menuntut uang kembali. Perusahaan menuntut PT. Sigma,
karena pabrik saat itu di bawah PT Sigma langsung. Juna sendiri kabur dengan
pacarnya ke Kamboja” Shakti lagi-lagi menenggak habis anggurnya, nampaknya
laki-laki ini sangat kuat minum, terbukti setelah 5 gelas wine bicaranya masih
lancar dan tatapannya masih fokus
“Dalam waktu 3 bulan saja pabrik otomotif itu tutup.
Ayah menjual sangat banyak asset untuk menutupi kerugiannya, padahal saat itu
keuangan PT belum pulih betul dari kerugian bisnis Mall Arbi dan bisnis taman
hiburan Rezha. Pabrik otomotif dijual, ayah menjual gudang-gudang elektroniknya
di Bandung, Surabaya dan Semarang. 80 dari 112 Toko cabang di Indonesia
ditutup, rumah, mobil, tanah, semuanya dijual. Sampai akhirnya pabrik elektronik
utama pun rencananya akan ditutup” Shakti menuangkan lagi anggur ke gelasnya
hingga botolnya kosong
“Saat aku pulang ayah bilang ia akan memulai semuanya
lagi dari awal, seperti tahun 80an lagi. Karena kakak-kakakku pada saat itu
semuanya kabur ke luar negri akhirnya aku berinisiatif membantu ayah. Aku ajak
ayah mendaftarkan perusahaannya IPO untuk mendapatkan modal, lalu bekerjasama
dengan supplier china untuk mendapatkan harga lebih murah. Aku memaksa ayah
untuk menjual elektronik kelas 2 dengan harga lebih murah di bawah naungan PT
yang sama, agar minimal bisnisnya terus berjalan. IPO sukses, karena dengan
nama besar Robby Maheswara dan PT Sigma, orang-orang percaya menanam modal di
perusahaan. Dengan uang itu aku membuat PT Sigma Ahli Abadi, menjual perintilan
computer, telepon, dan-lain-lain dengan harga murah. Setelah sukses barulah aku
membuat PT Sigma Cahaya Abadi dan Sigma Abadi Sentosa…10 tahun, hanya dalam
waktu 10 tahun, kejayaan ayah kembali, dan aku didepak” Shakti menenggak habis
isi gelasnya, ia lalu membuka lagi kulkas wine
“Hmmm, Hermitage tahun 2000, wine bagus ini, kamu mau
coba?”Shakti menawarkan, April menggeleng kuat, ia harus tetap sadar saat ini.
Keadaan boss nya tidak baik-baik saja.
“Oke, terserah, one day aku akan ajarkan kamu tentang
wine-wine yang enak ya” katanya lalu membuka botol Hermitage nya dan
menuangkannya ke gelas, ia mencium dan menyesapnya puas.
“Pak, kalau yang menyelamatkan perusahaan saat itu
adalah bapak, apakah sekarang dengan bapak didepak perusahaan tidak akan
hancur?” tanya April
“ITU DIA…”teriak Shakti, gelas kedua Hermitage-nya
nampaknya membuatnya mulai mabuk
“dan entah kenapa Pril….entah kenapa akuuuu masih
peduli dengan mereka, aku masih peduli dengan kelangsungan keluargaku….ANJING”
teriaknya lagi, menggelegar di kabin kapal. Setelah wine di gelasnya habis, ia
melemparkan gelasnya, lalu meminum wine nya langsung dari botol.
April tidak bertanya apapun lagi, ia duduk di kursi
jet pribadi berlapis kulit sapi nan empuk ini sambil memeluk tas lusuhnya.
Sementara boss nya menenggak wine di kulkas satu per satu.
“Ini…ini Moet & Chandon tahun 2008 buat supir
pesawat…” katanya Shakti sambil menyurungkan 2 botol wine ke tangan April, lalu
melanjutkan menenggak wine seakan-akan April tidak ada disana.
Saat pesawat mendarat langit sudah gelap. Lampu-lampu
yang berjajar di bandara sangat cantik, gedung-gedung bercahaya sangat indah. Kalau
saja April tidak dalam situasi ini, ia mungkin bisa lebih menikmati pemandangan
di luar. Namun kali ini boss nya lebih membutuhkannya, Shakti sudah tergeletak
di kursinya, ada 6 botol wine berserakan di lantai. April takjub dengan
__ADS_1
kemampuan bosnya minum wine, sampai perlu 6 botol untuk membuatnya tidak
sadarkan diri.
Pesawat mendarat dengan sempurna, lalu pilot
mengarahkan pesawat ke hangar yang lebih kecil. Seorang pilot keluar dari
kokpit lalu mendekati April
“Tough day right?”tanyanya pada April, April
mengangguk pelan
“Give me your passport, I’ll handle the customs, you
and driver can help Mr. Maheswara entering the car” April mengeluarkan
passportnya dan memberikannya pada pilot bule itu
“Okay April, see you again in the minute, anyway my
name is Tom, and the other guy is Brad” katanya sambil membaca passport April
“Nice to meet you, and thank you again. Anyway Shakti
told me to give both of you this” April menyerahkan 2 botol Moet & Chandon
pada Tom. Ia tersenyum senang
“Oh Boss, you are such a nice guy, tell him we love
it”katanya
“Absolutely” jawab April sambil mengangguk
Pesawat berhenti sempurna, sebuah mobil sedan hitam
mewah dan mobil golf berisi 2 orang petugas bandara mendekat. Pintu pesawat
lalu dibuka, Tom dan Brad turun duluan dan menemui orang-orang disana. Terlihat
Tom menyerahkan passport April dan Shakti pada petugas bandara, lalu Brad
mengajak driver mobil mewah masuk ke pesawat
“Selamat Malam Nona April, saya Andi driver yang akan
mengantar anda hari ini” kata seorang pria berumur sekitar 40 tahun saat
memasuki pesawat , April mengangguk, ia kaget diajak bicara dengan bahasa
Indonesia dan sudah tahu namanya, nampaknya Tom dan Brad memberitahunya saat
turun tadi
“Malam Pak” jawab April pendek
“Saya dan Pilot Brad akan menggotong Mr. Maheswara ke
mobil ya Nona” katanya meminta izin. April mengangguk mengiyakan lalu mengikuti
mereka dari belakang. Tom membantunya turun dari pesawat sambil memberikan
passport
“Take care of him ya, we will go back to Jakarta, If
you need us Mr. Maheswara know how to reach us”katanya sambil tersenyum
“Thank you again, safe flight” kata April lalu
berjalan menuju mobil.
Mobil lalu berjalan keluar dari bandara
“Mau kemana Nona?”tanya Andi sambil menyetir.
Sejujurnya April tidak tahu harus kemana akan kemana. Ini pertama kalinya ia ke
Singapura, bahkan pertama kalinya ia keluar negri. Melihat Shakti tergeletak di
kursi belakang tak mungkin juga April menanyainya
“Apakah Pak Shakti punya tempat tinggal di
Singapura?”tanya April
“Ya, keluarga Maheswara punya condominium di tengah
ingat perseteruannya dengan keluarganya
“Kita ke hotel aja pak” kata April, ia ingin membuat
Shakti sadar dulu lalu biar Shakti yang memutuskan akan kemana selanjutnya
“Baik Non, ke Hotel mana?”tanya Andi lagi, matanya
terus fokus ke jalanan
“Apa Pak Shakti punya Hotel yang sering ia datangi
disini?”tanya April lagi
“Selain ke Condo Pak Shakti sering menginap di Marina
Bay Sands, kita kesana Non?”
“Iya, kita ke sana ya Pak” pinta April. Pak Andi
mengangguk mengerti lalu mengarahkan mobilnya ke Marina Bay Sands.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Hotel yang
sangat besar dengan bentuk kapal pesiar di puncaknya
“Aku check in dulu, Pak Andi bisa bantu cari
concierge untuk bawakan kursi roda untuk Pak Shakti?”pinta April
“Oke Non, saya parkir dulu di drop off depan” kata
Andi.
Sebelum masuk ke hotel April menggeledah jaket yang
digunakan Shakti dan mengambil dompet panjang milik Shakti. Ia pikir pasti akan
berguna di dalam nanti.
Bellboy menunjukkan arah receptionist, suasana lobby
sangat ramai seperti mall, para pengunjung baik yang menginap ataupun hanya
mengunjungi skypark observation decknya yang terkenal, lalu lalang di lobby.
Saat April mendekati receptionist, receptionist itu melihat April dari ujung
kaki hingga kepala
“Good evening, how may I help you?” tanya perempuan
berseragam receptionist dengan bahasa inggris yang fasih
“I would like to checked in” kata April pelan, masih
memeluk tas lusuhnya. Receptionist itu sama sekali tidak menutupi wajah tidak
percayanya pada April. Tentu saja dengan penampilan April yang lusuh, wajahnya
yang tanpa riasan, belum lagi berminyak setelah seharian kesana kemari. Kalau April
ada di posisi perempuan ini pun, ia akan berpikiran yang sama, gembel dari mana
yang berani-berani check ini di hotel semahal ini. Tapi April tidak kehabisan
akal
“I need one room for Mr. Maheswara” kata April sambil
menyodorkan passport dan black card milik Shakti yang diambilnya dari dompet
Shakti. Melihat black card dan nama Maheswara yang disebutkan April raut
receptionist itu berubah total
“Mr. Maheswara…of course…” ujarnya ceria, ia lalu
memanggil salah satu concierge dan mengantarkan April ke ruangan khusus untuk
registrasi tamu yang menginap di Club Room
“He is one of our beloved guest, his preferred room
always in Club room facing City, Mr. Maheswara loved citylights” kata Concierge
__ADS_1
yang mengantarkan
“Anyway, Mr. Maheswara kinda passed out right now, so
if he is regular in this hotel, could you give us the room first and we finish
the registration tomorrow when he wakes up?”pinta April
“Absolutely….let me grab the key and escort you to
the room” ujar pria bertubuh tinggi dengan seragam biru rapi itu, April sekilas
membaca name tag di dadanya ‘Brian’. Tak lama Pak Andi dan seorang bellboy
datang sambil mendorong Shakti di kursi roda, keadaannya sangat
mengkhawatirkan.
“Saya ngga bisa lama-lama non, mobil masih diparkir
di drop off” kata Pak Andi
“Oh iya Pak gapapa, bapak kembali aja, nanti kita
telepon kalau perlu bapak” ujar April. Pak Andi lalu pamit dan pergi. Brian
lalu kembali membawakan kunci kamar lalu mereka berangkat ke lantai 24. Brian
menjelaskan lantai mana saja untuk lifestyle dan belanja, lift mana untuk ke
skypool, dimana casino, club, restaurant, museum lalu mereka sampai ke kamar.
Kamar itu cukup besar dengan bed ukuran kingsize,
sofa, bathroom dengan bathtub dan shower dan free minibar. Brian dan Ali
membantu menggendong Shakti ke ranjang. April yang sempat menggeledah dompet
Shakti menemukan uang dollar Singapore didalamnya.
“Please call concierge if you need further assistant”
kata Brian sebelum menutup pintu. April memberi masing-masing 10 dollar
Singapore pada Ali dan Brian.
April duduk menggelosor di lantai. Ia tidak percaya
dengan apa yang terjadi hari ini. Ia terbangun di ibukota, dan sorenya sudah
berada di negara lain. Hidupnya selama beberapa hari ini sangat mengagetkan,
pertemuannya dengan Shakti merubah semuanya. Dari April yang hanya makan nasi
rames 2 hari sekali, menjadi April yang makan siang all you can eat seharga
600.000 rupiah di hotel mewah ibukota. Tapi dibandingkan April yang
menyedihkan, yang menangis karena ditinggal mati Ayahnya, lalu ibunya. April
yang keluar masuk pasar loak menjual barang-barang di rumahnya. Lalu April yang
ditipu kekasihnya dan sahabatnya sendiri sampai hanya memiliki sekeresek
pakaian. April memilih mengikuti Shakti, pria pintar yang dikhianati keluarganya.
Yang sudah mati-matian membela keluarganya dan malah didepak begitu saja. April
tahu rasanya dikhianati, dan karena Shakti sudah menolong April, April pun
ingin membantu Shakti.
April berdiri dari duduknya. Membuka jasnya lalu
menghampiri Shakti di ranjang, membuka kacamatanya, jaket bombernya, sepatu dan
kaus kakinya juga ikat pinggangnya. April lalu mengambil air mineral lalu
memandangi jendela besar, Citylight Singapore memang sangat indah. April
membuka-buka laci lalu menemukan ramen, dan potato chips. Melihat bosnya masih
pingsan dan perutnya terasa lapar, ia lalu menyeduh ramennya memakannya dengan
potato chips sambil menonton acara di TV kabel.
Tiba-tiba terdengar ******* dan erangan keras, April
yang sudah selesai makan dan sedang asyik menonton buru-buru menoleh pada
bosnya yang sudah duduk di ranjang, April tahu apa yang akan terjadi
selanjutnya, Shakti pasti akan muntah. April membopongnya ke kamar mandi, dan
sebelum mencapai toilet Shakti sudah keburu muntah, di pakaiannya dan di pakaian
April. April sekuat tenaga menyetir tubuh Shakti yang besar ke toilet, mengikat
rambut kusutnya dengan ikat rambutnya lalu membiarkan Shakti mengeluarkan isi
perutnya. 15 menit berlalu, nampaknya perut Shakti sudah kosong, tubuhnya sudah
tidak gemetar dan yang keluar hanya cairan lambung saja. April lalu melepas
kemeja kotak-kotak dan celana panjang Shakti, lalu membawanya ke shower,
memasangkan shower cap, mengatur air shower hingga hangat lalu membilas Shakti
dengan air hangat dan menyabuninya. Ia sendiri melepas pakaiannya yang penuh
dengan muntahan Shakti. April berani melakukan itu karena melihat Shakti yang
masih tidak sadar, jangankan untuk menyadari April yang setengah bugil di
hadapannya, untuk berdiri saja ia tidak bisa. April harus menyandarkan tubuh
Shakti yang tinggi kekar setinggi 180 cm ke tubuh mungilnya yang hanya 150 cm.
Setelah dirasa cukup bersih, April setengah membopong Shakti ke kasur
menyelimutinya dengan handuk, memakaikan bathrobe, lalu ia sendiri menjerang
air sambil memakai bathrobe, dari cermin April melihat pantulan wajah Shakti.
Kali ini karena rambutnya diikatkan ke belakang oleh April, dan ditutupi shower
cap untuk pertama kalinya April bisa melihat wajah Shakti dengan jelas.
Rahangnya yang tegas, alisnya yang hitam lebat, hidungnya mancung, bibirnya
yang berwarna pink, tulang pipi yang menonjol menegaskan wajahnya yang tampan.
Ya, dibalik kacamatanya yang supertebal dan rambut kusutnya yang menutupi sebagian wajahnya Shakti sangat
tampan, amat sangat tampan. Jangankan dengan model ataupun artis di Indonesia,
dengan model dan artis luar negri pun nampaknya Shakti tidak kalah tampan.
Kenapa ia menutupinya selama ini?
Kettel air lalu berbunyi, tandanya air sudah
mendidih. April menyeduh the twinnings aroma mint untuk Shakti, selain
menyegarkan, juga menghilangkan aroma muntah di mulut Shakti.
April lalu membantu Shakti untuk minum, ia teringat
beberapa hari yang lalu Shakti yang melakukan ini untuknya. Walaupun tanpa
membuka matanya, Shakti bisa menghabiskan tehnya. April menyeduhkan sekali
lagi, kali ini agar perut Shakti terasa hangat, ia juga menambahkan gula. Setelah
gelas kedua April membantu Shakti agar nyaman di tempat tidur, dan
membiarkannya tidur dengan tenang. Sementara April masuk kembali ke kamar mandi
membersihkan pakaiannya, lalu pakaian Shakti yang terkena muntah,
menggantungnya dengan gantungan baju, dan ia pun mandi. April mengeringkan
tubuhnya, membalut tubuhnya dengan bathrobe, lagi-lagi ia tidak tidur
menggunakan pakaian dalam karena basah saat memandikan Shakti tadi. Tapi April
sudah tidak peduli, ia lelah dan mengantuk. April mencoba berbaring di sofa,
namun sayangnya sofa itu terlalu kecil bahkan untuk tubuhnya yang mungil. Karena
sudah lelah April tidak peduli lagi, ia lalu naik ke ranjang, berguling di sisi
sebrang Shakti, lalu memejamkan matanya.
-It’s Getting Better-
__ADS_1