Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
SIngapore


__ADS_3

Sebuah pesawat jet dengan 2 pilot orang asing


menunggu mereka di landasan. Beberapa orang menyapa Shakti. Shakti lalu


memberikan kunci mobilnya pada salah seorang disana lalu membalas sapaan para


pilot dan masuk ke dalam pesawat. Para pilot menutup pintu pesawat lalu


mengatakan pada Shakti mereka akan mengudara dengan aman dan sampai ke tujuan


dalam kurang dari 2 jam. Shakti lalu duduk di sofa, menarik gelas dan anggur


lalu menenggaknya bahkan sebelum pesawat lepas landas.


15 menit dan 3 gelas kemudian Shakti akhirnya tenang


dan mau mulai berbicara, ia menceritakan tentang yang terjadi di meeting room. April


membiarkan Shakti berbicara sambil terus sambil meminum anggurnya


“Aku sudah menduga pak, di memoir Pak Robby ia sama


sekali tidak menyebutkan bisnis anak-anaknya yang membangkrutkannya, tapi ia


juga tidak menyebut bapak sebagai orang yang membantu ekspansi perusahaannya,


ia hanya menyebutkan anak-anaknya membantu ekspansinya” kata April


“Aku juga menyadari keberhasilan ekspansi PT Sigma


dimulai semenjak bapak pulang study”tambahnya


“Kakak-kakakku dibesarkan dengan cara orang kaya.


Mereka dimanja, apapun yang mereka inginkan pasti dibelikan, mereka sekolah


atau tidak Ayah tidak peduli, nampaknya itu caranya menebus masa kecilnya yang


miskin, ia memanjakan mereka dengan harta yang berlimpah” Shakti lalu menenggak


sisa anggurnya hingga habis.


“Kelahiranku sangat tidak direncanakan. Orang tuaku


berfikir ibu tidak akan hamil karena sudah masuk umur menopause. Tiba-tiba saja


ibu hamil lalu melahirkanku, berbeda dengan kakak-kakakku, aku lahir saat Ayah


sedang sangat sibuk dengan pabrik elektroniknya. Sehingga tidak ada waktu untuk


memanjakanku. Walau begitu ia selalu menyekolahkanku di sekolah yang paling


mahal, bahkan sampai ke luar negri. Aku mengikuti berbagai summer camp dan


pertukaran pelajar di seluruh dunia, dan akhirnya aku menetap lama untuk


menyelesaikan studyku tepat saat kakak-kakakku bereksperimen dengan ekspansi


mereka”Shakti menuangkan lagi anggur ke gelasnya


“Saat aku pulang kondisi pabrik ayah sedang tidak


baik, walaupun bisnisnya berjalan normal, tapi semua uang modal habis untuk


pembangunan pabrik otomotif Juna. Setiap keuntungan PT. Sigma dialokasikan


untuk pabrik otomotif yang padahal nilainya hanya bagus di atas kertas.


Sementara penjualannya tidak berjalan. Sistem pemasaran dan PO mereka gagal


total, bahkan dari PO 700 unit yang terjual, pabrik hanya bisa mengakomodir


300an unit. Para pembeli menuntut uang kembali. Perusahaan menuntut PT. Sigma,


karena pabrik saat itu di bawah PT Sigma langsung. Juna sendiri kabur dengan


pacarnya ke Kamboja” Shakti lagi-lagi menenggak habis anggurnya, nampaknya


laki-laki ini sangat kuat minum, terbukti setelah 5 gelas wine bicaranya masih


lancar dan tatapannya masih fokus


“Dalam waktu 3 bulan saja pabrik otomotif itu tutup.


Ayah menjual sangat banyak asset untuk menutupi kerugiannya, padahal saat itu


keuangan PT belum pulih betul dari kerugian bisnis Mall Arbi dan bisnis taman


hiburan Rezha. Pabrik otomotif dijual, ayah menjual gudang-gudang elektroniknya


di Bandung, Surabaya dan Semarang. 80 dari 112 Toko cabang di Indonesia


ditutup, rumah, mobil, tanah, semuanya dijual. Sampai akhirnya pabrik elektronik


utama pun rencananya akan ditutup” Shakti menuangkan lagi anggur ke gelasnya


hingga botolnya kosong


“Saat aku pulang ayah bilang ia akan memulai semuanya


lagi dari awal, seperti tahun 80an lagi. Karena kakak-kakakku pada saat itu


semuanya kabur ke luar negri akhirnya aku berinisiatif membantu ayah. Aku ajak


ayah mendaftarkan perusahaannya IPO untuk mendapatkan modal, lalu bekerjasama


dengan supplier china untuk mendapatkan harga lebih murah. Aku memaksa ayah


untuk menjual elektronik kelas 2 dengan harga lebih murah di bawah naungan PT


yang sama, agar minimal bisnisnya terus berjalan. IPO sukses, karena dengan


nama besar Robby Maheswara dan PT Sigma, orang-orang percaya menanam modal di


perusahaan. Dengan uang itu aku membuat PT Sigma Ahli Abadi, menjual perintilan


computer, telepon, dan-lain-lain dengan harga murah. Setelah sukses barulah aku


membuat PT Sigma Cahaya Abadi dan Sigma Abadi Sentosa…10 tahun, hanya dalam


waktu 10 tahun, kejayaan ayah kembali, dan aku didepak” Shakti menenggak habis


isi gelasnya, ia lalu membuka lagi kulkas wine


“Hmmm, Hermitage tahun 2000, wine bagus ini, kamu mau


coba?”Shakti menawarkan, April menggeleng kuat, ia harus tetap sadar saat ini.


Keadaan boss nya tidak baik-baik saja.


“Oke, terserah, one day aku akan ajarkan kamu tentang


wine-wine yang enak ya” katanya lalu membuka botol Hermitage nya dan


menuangkannya ke gelas, ia mencium dan menyesapnya puas.


“Pak, kalau yang menyelamatkan perusahaan saat itu


adalah bapak, apakah sekarang dengan bapak didepak perusahaan tidak akan


hancur?” tanya April


“ITU DIA…”teriak Shakti, gelas kedua Hermitage-nya


nampaknya membuatnya mulai mabuk


“dan entah kenapa Pril….entah kenapa akuuuu masih


peduli dengan mereka, aku masih peduli dengan kelangsungan keluargaku….ANJING”


teriaknya lagi, menggelegar di kabin kapal. Setelah wine di gelasnya habis, ia


melemparkan gelasnya, lalu meminum wine nya langsung dari botol.


April tidak bertanya apapun lagi, ia duduk di kursi


jet pribadi berlapis kulit sapi nan empuk ini sambil memeluk tas lusuhnya.


Sementara boss nya menenggak wine di kulkas satu per satu.


“Ini…ini Moet & Chandon tahun 2008 buat supir


pesawat…” katanya Shakti sambil menyurungkan 2 botol wine ke tangan April, lalu


melanjutkan menenggak wine seakan-akan April tidak ada disana.


Saat pesawat mendarat langit sudah gelap. Lampu-lampu


yang berjajar di bandara sangat cantik, gedung-gedung bercahaya sangat indah. Kalau


saja April tidak dalam situasi ini, ia mungkin bisa lebih menikmati pemandangan


di luar. Namun kali ini boss nya lebih membutuhkannya, Shakti sudah tergeletak


di kursinya, ada 6 botol wine berserakan di lantai. April takjub dengan

__ADS_1


kemampuan bosnya minum wine, sampai perlu 6 botol untuk membuatnya tidak


sadarkan diri.


Pesawat mendarat dengan sempurna, lalu pilot


mengarahkan pesawat ke hangar yang lebih kecil. Seorang pilot keluar dari


kokpit lalu mendekati April


“Tough day right?”tanyanya pada April, April


mengangguk pelan


“Give me your passport, I’ll handle the customs, you


and driver can help Mr. Maheswara entering the car” April mengeluarkan


passportnya dan memberikannya pada pilot bule itu


“Okay April, see you again in the minute, anyway my


name is Tom, and the other guy is Brad” katanya sambil membaca passport April


“Nice to meet you, and thank you again. Anyway Shakti


told me to give both of you this” April menyerahkan 2 botol Moet & Chandon


pada Tom. Ia tersenyum senang


“Oh Boss, you are such a nice guy, tell him we love


it”katanya


“Absolutely” jawab April sambil mengangguk


Pesawat berhenti sempurna, sebuah mobil sedan hitam


mewah dan mobil golf berisi 2 orang petugas bandara mendekat. Pintu pesawat


lalu dibuka, Tom dan Brad turun duluan dan menemui orang-orang disana. Terlihat


Tom menyerahkan passport April dan Shakti pada petugas bandara, lalu Brad


mengajak driver mobil mewah masuk ke pesawat


“Selamat Malam Nona April, saya Andi driver yang akan


mengantar anda hari ini” kata seorang pria berumur sekitar 40 tahun saat


memasuki pesawat , April mengangguk, ia kaget diajak bicara dengan bahasa


Indonesia dan sudah tahu namanya, nampaknya Tom dan Brad memberitahunya saat


turun tadi


“Malam Pak” jawab April pendek


“Saya dan Pilot Brad akan menggotong Mr. Maheswara ke


mobil ya Nona” katanya meminta izin. April mengangguk mengiyakan lalu mengikuti


mereka dari belakang. Tom membantunya turun dari pesawat sambil memberikan


passport


“Take care of him ya, we will go back to Jakarta, If


you need us Mr. Maheswara know how to reach us”katanya sambil tersenyum


“Thank you again, safe flight” kata April lalu


berjalan menuju mobil.


Mobil lalu berjalan keluar dari bandara


“Mau kemana Nona?”tanya Andi sambil menyetir.


Sejujurnya April tidak tahu harus kemana akan kemana. Ini pertama kalinya ia ke


Singapura, bahkan pertama kalinya ia keluar negri. Melihat Shakti tergeletak di


kursi belakang tak mungkin juga April menanyainya


“Apakah Pak Shakti punya tempat tinggal di


Singapura?”tanya April


“Ya, keluarga Maheswara punya condominium di tengah


ingat perseteruannya dengan keluarganya


“Kita ke hotel aja pak” kata April, ia ingin membuat


Shakti sadar dulu lalu biar Shakti yang memutuskan akan kemana selanjutnya


“Baik Non, ke Hotel mana?”tanya Andi lagi, matanya


terus fokus ke jalanan


“Apa Pak Shakti punya Hotel yang sering ia datangi


disini?”tanya April lagi


“Selain ke Condo Pak Shakti sering menginap di Marina


Bay Sands, kita kesana Non?”


“Iya, kita ke sana ya Pak” pinta April. Pak Andi


mengangguk mengerti lalu mengarahkan mobilnya ke Marina Bay Sands.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di Hotel yang


sangat besar dengan bentuk kapal pesiar di puncaknya


“Aku check in dulu, Pak Andi bisa bantu cari


concierge untuk bawakan kursi roda untuk Pak Shakti?”pinta April


“Oke Non, saya parkir dulu di drop off depan” kata


Andi.


Sebelum masuk ke hotel April menggeledah jaket yang


digunakan Shakti dan mengambil dompet panjang milik Shakti. Ia pikir pasti akan


berguna di dalam nanti.


Bellboy menunjukkan arah receptionist, suasana lobby


sangat ramai seperti mall, para pengunjung baik yang menginap ataupun hanya


mengunjungi skypark observation decknya yang terkenal, lalu lalang di lobby.


Saat April mendekati receptionist, receptionist itu melihat April dari ujung


kaki hingga kepala


“Good evening, how may I help you?” tanya perempuan


berseragam receptionist dengan bahasa inggris yang fasih


“I would like to checked in” kata April pelan, masih


memeluk tas lusuhnya. Receptionist itu sama sekali tidak menutupi wajah tidak


percayanya pada April. Tentu saja dengan penampilan April yang lusuh, wajahnya


yang tanpa riasan, belum lagi berminyak setelah seharian kesana kemari. Kalau April


ada di posisi perempuan ini pun, ia akan berpikiran yang sama, gembel dari mana


yang berani-berani check ini di hotel semahal ini. Tapi April tidak kehabisan


akal


“I need one room for Mr. Maheswara” kata April sambil


menyodorkan passport dan black card milik Shakti yang diambilnya dari dompet


Shakti. Melihat black card dan nama Maheswara yang disebutkan April raut


receptionist itu berubah total


“Mr. Maheswara…of course…” ujarnya ceria, ia lalu


memanggil salah satu concierge dan mengantarkan April ke ruangan khusus untuk


registrasi tamu yang menginap di Club Room


“He is one of our beloved guest, his preferred room


always in Club room facing City, Mr. Maheswara loved citylights” kata Concierge

__ADS_1


yang mengantarkan


“Anyway, Mr. Maheswara kinda passed out right now, so


if he is regular in this hotel, could you give us the room first and we finish


the registration tomorrow when he wakes up?”pinta April


“Absolutely….let me grab the key and escort you to


the room” ujar pria bertubuh tinggi dengan seragam biru rapi itu, April sekilas


membaca name tag di dadanya ‘Brian’. Tak lama Pak Andi dan seorang bellboy


datang sambil mendorong Shakti di kursi roda, keadaannya sangat


mengkhawatirkan.


“Saya ngga bisa lama-lama non, mobil masih diparkir


di drop off” kata Pak Andi


“Oh iya Pak gapapa, bapak kembali aja, nanti kita


telepon kalau perlu bapak” ujar April. Pak Andi lalu pamit dan pergi. Brian


lalu kembali membawakan kunci kamar lalu mereka berangkat ke lantai 24. Brian


menjelaskan lantai mana saja untuk lifestyle dan belanja, lift mana untuk ke


skypool, dimana casino, club, restaurant, museum lalu mereka sampai ke kamar.


Kamar itu cukup besar dengan bed ukuran kingsize,


sofa, bathroom dengan bathtub dan shower dan free minibar. Brian dan Ali


membantu menggendong Shakti ke ranjang. April yang sempat menggeledah dompet


Shakti menemukan uang dollar Singapore didalamnya.


“Please call concierge if you need further assistant”


kata Brian sebelum menutup pintu. April memberi masing-masing 10 dollar


Singapore pada Ali dan Brian.


April duduk menggelosor di lantai. Ia tidak percaya


dengan apa yang terjadi hari ini. Ia terbangun di ibukota, dan sorenya sudah


berada di negara lain. Hidupnya selama beberapa hari ini sangat mengagetkan,


pertemuannya dengan Shakti merubah semuanya. Dari April yang hanya makan nasi


rames 2 hari sekali, menjadi April yang makan siang all you can eat seharga


600.000 rupiah di hotel mewah ibukota. Tapi dibandingkan April yang


menyedihkan, yang menangis karena ditinggal mati Ayahnya, lalu ibunya. April


yang keluar masuk pasar loak menjual barang-barang di rumahnya. Lalu April yang


ditipu kekasihnya dan sahabatnya sendiri sampai hanya memiliki sekeresek


pakaian. April memilih mengikuti Shakti, pria pintar yang dikhianati keluarganya.


Yang sudah mati-matian membela keluarganya dan malah didepak begitu saja. April


tahu rasanya dikhianati, dan karena Shakti sudah menolong April, April pun


ingin membantu Shakti.


April berdiri dari duduknya. Membuka jasnya lalu


menghampiri Shakti di ranjang, membuka kacamatanya, jaket bombernya, sepatu dan


kaus kakinya juga ikat pinggangnya. April lalu mengambil air mineral lalu


memandangi jendela besar, Citylight Singapore memang sangat indah. April


membuka-buka laci lalu menemukan ramen, dan potato chips. Melihat bosnya masih


pingsan dan perutnya terasa lapar, ia lalu menyeduh ramennya memakannya dengan


potato chips sambil menonton acara di TV kabel.


Tiba-tiba terdengar ******* dan erangan keras, April


yang sudah selesai makan dan sedang asyik menonton buru-buru menoleh pada


bosnya yang sudah duduk di ranjang, April tahu apa yang akan terjadi


selanjutnya, Shakti pasti akan muntah. April membopongnya ke kamar mandi, dan


sebelum mencapai toilet Shakti sudah keburu muntah, di pakaiannya dan di pakaian


April. April sekuat tenaga menyetir tubuh Shakti yang besar ke toilet, mengikat


rambut kusutnya dengan ikat rambutnya lalu membiarkan Shakti mengeluarkan isi


perutnya. 15 menit berlalu, nampaknya perut Shakti sudah kosong, tubuhnya sudah


tidak gemetar dan yang keluar hanya cairan lambung saja. April lalu melepas


kemeja kotak-kotak dan celana panjang Shakti, lalu membawanya ke shower,


memasangkan shower cap, mengatur air shower hingga hangat lalu membilas Shakti


dengan air hangat dan menyabuninya. Ia sendiri melepas pakaiannya yang penuh


dengan muntahan Shakti. April berani melakukan itu karena melihat Shakti yang


masih tidak sadar, jangankan untuk menyadari April yang setengah bugil di


hadapannya, untuk berdiri saja ia tidak bisa. April harus menyandarkan tubuh


Shakti yang tinggi kekar setinggi 180 cm ke tubuh mungilnya yang hanya 150 cm.


Setelah dirasa cukup bersih, April setengah membopong Shakti ke kasur


menyelimutinya dengan handuk, memakaikan bathrobe, lalu ia sendiri menjerang


air sambil memakai bathrobe, dari cermin April melihat pantulan wajah Shakti.


Kali ini karena rambutnya diikatkan ke belakang oleh April, dan ditutupi shower


cap untuk pertama kalinya April bisa melihat wajah Shakti dengan jelas.


Rahangnya yang tegas, alisnya yang hitam lebat, hidungnya mancung, bibirnya


yang berwarna pink, tulang pipi yang menonjol menegaskan wajahnya yang tampan.


Ya, dibalik kacamatanya yang supertebal dan rambut kusutnya yang  menutupi sebagian wajahnya Shakti sangat


tampan, amat sangat tampan. Jangankan dengan model ataupun artis di Indonesia,


dengan model dan artis luar negri pun nampaknya Shakti tidak kalah tampan.


Kenapa ia menutupinya selama ini?


Kettel air lalu berbunyi, tandanya air sudah


mendidih. April menyeduh the twinnings aroma mint untuk Shakti, selain


menyegarkan, juga menghilangkan aroma muntah di mulut Shakti.


April lalu membantu Shakti untuk minum, ia teringat


beberapa hari yang lalu Shakti yang melakukan ini untuknya. Walaupun tanpa


membuka matanya, Shakti bisa menghabiskan tehnya. April menyeduhkan sekali


lagi, kali ini agar perut Shakti terasa hangat, ia juga menambahkan gula. Setelah


gelas kedua April membantu Shakti agar nyaman di tempat tidur, dan


membiarkannya tidur dengan tenang. Sementara April masuk kembali ke kamar mandi


membersihkan pakaiannya, lalu pakaian Shakti yang terkena muntah,


menggantungnya dengan gantungan baju, dan ia pun mandi. April mengeringkan


tubuhnya, membalut tubuhnya dengan bathrobe, lagi-lagi ia tidak tidur


menggunakan pakaian dalam karena basah saat memandikan Shakti tadi. Tapi April


sudah tidak peduli, ia lelah dan mengantuk. April mencoba berbaring di sofa,


namun sayangnya sofa itu terlalu kecil bahkan untuk tubuhnya yang mungil. Karena


sudah lelah April tidak peduli lagi, ia lalu naik ke ranjang, berguling di sisi


sebrang Shakti, lalu memejamkan matanya.


-It’s Getting Better-

__ADS_1


__ADS_2