
Shakti bangun pukul 6 seperti biasa, walaupun ada
April, ia akan melakukan kegiatannya yang biasa. Ia pun akan membicarakan soal
tempat tinggal April pagi ini. Kemungkinan setelah MOU dikirimkan Andra, ia
akan menyewakan April kamar kostan yang layak, dan memberikannya uang saku yang
kalau April mau bisa dicicil kembali, kalau tidak pun tak masalah.
Tapi saat Shakti membuka pintu kamar, living room
masih gelap, tak ada tanda-tanda April sudah bangun. Ia mendekati sofa tempat
April tidur, hendak membangunkannya, namun Ia melihat wajah April terlihat
kesakitan, wajahnya memerah, keringat mengucur deras di wajahnya. Shakti
pelan-pelan meletakkan telapaknya di dahi April, sangat panas. Shakti melonjak
kaget. Ia lalu mengambil thermometer dari rak obatnya dan meminta April
menggigitnya. Ternyata 39.3 derajat, badannya sangat panas.
Shakti menimbang untuk membawanya ke Rumah Sakit atau
memanggil dokter pribadi keluarganya. Tapi tiba-tiba tangannya disentuh, April memintanya
mendekat, ia meminta air minum
Shakti cepat-cepat membawakan air hangat. Lalu April
didudukkan, dan dibantu minum air hangat. April merasa sangat pusing, badannya
menggigil. Tapi ia tahu jika ia harus ke Rumah Sakit atau Shakti memanggil
dokter pribadinya akan sangat merepotkan belum lagi urusan dengan keluarganya
yang rumit. Ditambah lagi ia menumpang.
"Tidak usah panggil dokter" ucapnya lirih
dengan mata berair dan wajah memerah. Jika tidak sedang panas tinggi wajah
April sangatlah menggoda
"Katakan, apa yang harus aku lakukan?"
Pinta Shakti
"Siapkan kompres, kompres dingin dan hangat.
Mulai dengan kompres hangat, jika aku tidak berkeringat berikan kompres dingin
agar aku tidak kejang" Shakti mengangguk mengerti
"Aku perlu kaus kaki, kakiku terasa sangat
dingin, tapi tidak perlu jaket atau celana panjang, bagian tubuh yang lain
rasanya panas sekali" Shakti mengangguk lagi
"Obat..." tangan April menggapai rak obat
di ujung dapur, dengan sigap Shakti membuka duvet dan menggendong April ke rak
obat. Dengan April di gendongannya Shakti membantu membacakan dan mencarikan
paracetamol dan obat penurun demam untuk April. Setelah mendapat beberapa obat,
Shakti kembali membaringkan April di sofa
"Makanan..."ujar April lirih,
"Aku tak pernah pesan makanan, jadi tak tahu
caranya" jujur Shakti
"Pesan apapun yang kamu mau" Shakti
memberikan ponselnya pada April. April akhirnya menelepon salah satu restoran
cina di dekat rumah Shakti, memesan bubur 3 musim, sekaligus memesankan untuk
Shakti sarapan. Sedetik kemudian semuanya berubah gelap.
-It’s Getting Better-
Saat terbangun satu jam kemudian, terasa kompresan
hangat di keningnya, sementara ada handuk dingin mengelap lehernya yang panas
dan berkeringat. Yang paling pertama April lihat adalah wajah Shakti yang tersenyum
lega karena akhirnya April terbangun.
“Makan dulu ya, habis itu makan obat” katanya lalu
menghangatkan bubur 3 musim di microwave, sambil menunggu ia mengeluarkan
pocari sweat dari kulkas dan gelas dari salah satu lemari
“Tadi aku tanya sama kurir yang antar makanan, kalau
orang sakit panas sebaiknya dikasih apa, dia terus beliin ini, buah jeruk, dan
obat cina” kata Shakti lalu membantu April yang lemas untuk duduk bersandar dan
minum.
“Kurirnya mau pak, kok baik banget?”suara April
terdengar serak dan sangat lemas walaupun sudah dibantu minum oleh Shakti
“Kurirnya ternyata anak yang punya restoran cina
namanya Ricky, Ai nya punya toko obat di pecinan, tadinya dia kasih gratis,
tapi kupaksa bayar”cerita Shakti sambil memaksa April minum lagi sampai habis
“Bapak bayar mahal?”suara April masih terdengar lemas
namun tidak seserak sebelumnya
“Aku kasih sejuta, untuk makanan, obat, pocari, buah
dan ongkos kirim, Ricky bilang itu terlalu banyak, jadinya ia akan mengirimkan
bubur, sup dan sarapan untuk kita 3 hari ke depan”terdengar suara microwave
berdenting, tandanya bubur sudah hangat.
April melirik ke dalam duvet, kakinya berkaus kaki
Kashmir yang hangat, pasti milik Shakti. Di atas meja ada 2 mangkuk, dengan
tumpukan handuk kecil di sampingnya. Satu mangkuk berisi air hangat, satu
mangkuk berisi air dingin dan es, sesuai dengan instruksi April sebelum ia
pingsan.
“Makan bubur dulu” Shakti membawa nampan dengan
__ADS_1
semangkuk bubur dan segelas air hangat. April mengangkat tangan untuk
menerimanya, namun ia keheranan sendiri tangannya bahkan terlalu lemas untuk
digerakkan. Shakti lalu tergelak
“Sekretaris macam apa ini, disuapin sama bosnya”
katanya lalu duduk di samping April dan mulai menyuapi
“Maaf ya pak”ujar April lalu makan dari suapan
Shakti, Shakti sangat lembut dan telaten.Ia mengelap yang berceceran,
memperhatikan setiap kunyahan April dan bersiap menyuapinya lagi begitu
mulutnya kosong
“Awas aja kalau abis ini kamu kerjanya ngga
bener”canda Shakti sambil menyuapkan sesendok bubur
“Aku janji pak, sampai umur 100 tahun pun aku akan
terus kerja sama bapak” ujar April setelah menelan buburnya. Shakti tergelak
lagi
“Kalau soal itu aku ngga mau Pril, aku ngga mau punya
sekretaris nenek-nenek” katanya, April tertawa lalu tersedak, Shakti buru-buru
meminumkan air hangat pada April. Setelah tenang ia melanjutkan menyuapi sampai
buburnya habis.
Shakti lalu meminta April meminum paracetamol dan
tablet penurun panas. Lalu membiarkan April bersandar dengan nyaman di sofa,
sementara ia mengupas jeruk untuk April
“Bapak sendiri sudah makan?”tanya April sambil
menerima suapan jeruk dari Shakti
“Udah, kamu kan sekalian pesan sarapan, kok kamu bisa
tahu saya suka nasi goreng seafood dan ayam kungpau?”tanyanya
“Lucky guess pak, untung bapak suka, saya ngga pake
mikir tadi pas pesen” jawab April sambil nyengir, Shakti tergelak lalu terus
menyuapi April jeruk
“Bapak selalu seperti ini?”tanya April lagi
“Hah, seperti ini gimana?”tanyanya lalu menyuapkan
potongan jeruk terakhir ke mulutnya sendiri
“Sangat baik sama orang, jujur aku ngga pernah
bermimpi akan disuapi oleh bosku sendiri yang bahkan baru bertemu satu hari,
aku merasa bingung tapi sekaligus beruntung, karena kalau aku saat ini ada di
kost, sakit dan tanpa makanan dan uang, aku pasti sudah mati pak” jujur April dengan
suara lirih, Shakti memandanginya terharu
“Aku tuh anak bungsu, dan di keluargaku semuanya
aku juga selalu melakukan ini, tapi sayangnya mereka mengartikan hal tulus
seperti ini sebagai ancaman, udang dibalik batu, jadi alih-alih menerima,
mereka semakin curiga”jawab Shakti
“Tapi bapak sama sekali ngga ada tampilan orang
jahat”jujur April
“Justru itu, aku introvert, pendiam, ngga banyak
melawan karena tidak suka konflik dan itu yang mereka manfaatkan. Selama
belasan tahun ini pun aku ngga pernah minta hak lebih dari gaji dan share aku
dari perusahaan, padahal kalau aku mau aku bisa mengakui semua usahaku untuk
memajukan perusahaan, mungkin 80% share ada di tanganku kalau aku melakukan
itu”
“Pantes aja ayah dan kakak-kakak bapak begitu
ketakutan, karena bapak sebrilian itu” cetus April
“Oke, kontrak 100 tahun” kelakarnya sambil membawa
mangkuk kosong dan sampah jeruk ke dapur. April tersenyum mendengarnya
“Bapak ngga kerja?”tanya April masih dengan suara
lemas
“Semenjak Nania jadi direktur, sedikit sekali yang
bisa kukerjakan, kalaupun aku berangkat ke kantor, aku hanya akan membaca
laporan yang sudah dikurasi oleh Nania, kalau aku meminta data semisal dari
finance harus approval dari Nania dulu yang memakan waktu beberapa hari, jadi
sudah tidak update, useless, mau marah nanti malah aku yang disingkirkan Nania,
dia didukung satu Monarki keluargaku”
“Rencananya hari ini aku akan mengurusi kontrak dan
re-housing kamu. Aku akan minta Andra untuk pinjamkan deposit dari kantor untuk
sewa kost dan biaya sebulan sampai kamu dapat gaji. Nantinya bisa kamu
kembalikan dengan cara mencicil. Tapi ngeliat kamu sakitnya parah begini, aku
ngga bisa ngebiarin kamu sakit sendirian di kost” jelas Shakti sambil
memasukkan mangkok dan sendok yang sudah dibilas ke mesin pencuci piring
“Kamu sakit panas begini karena muntah kemarin itu?”
lanjut Shakti sambil memasukkan sisa bubur di wadah ke dalam kulkas
“Kemarin itu waktu aku nyerang bapak, aku ikut kesiram
shower, pakaian dalamku basah sampai malam, baru kuganti sebelum tidur, kayanya
aku demam karena masuk angin pak” jawab April sambil menunduk malu
“Astaga April…”
__ADS_1
Shakti kembali membawa segelas air hangat, April
merasa ia harus meminum juga obat cina yang diberikan Ricky agar ia cepat
sembuh dan tidak merepotkan bosnya.
menyimpan gelas di atas meja setelah April meminum
obat cinanya. Mereka sengaja menjeda waktu meminum obat cinanya 1 jam setelah
makan paracetamol tadi.
“Sekarang kamu kembali tidur, aku mau olahraga lalu
mandi, nanti kubangunkan saat makan siang”
Mendengar itu April mengangguk, seluruh tibuhnya
tiba-tiba melemas ia lalu tertidur pulas.
Lain hal dengan Shakti, pikiran tentang April
mengganggunya. Tadi saat April tertidur, Shakti sempat panik karena bingung
harus melakukan apa, ia lalu mulai melakukan yang April suruh, menyiapkan
kompres. Tak lama bel berbunyi, karena tidak ada bibi, Shakti berlari ke
halaman depan. Kurir yang mengantar makanan sangat tampan seperti artis Taiwan
“Pak Shakti ya, sorry lama ya pak, kurir yang biasa
ngga masuk, jadi aku diminta mami nganter makanan dan aku ngga kenal jalan
daerah sini, aku Ricky anak yang punya resto”tanyanya sambil menyodorkan
sekeresek makanan, Shakti tersenyum sambil mengangguk
“Iya gapapa anaknya juga masih tidur kok, terima QR?”
tanya Shakti, Ricky mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya
“Besok bisa kirim yang sama ko?”tanya Shakti sambil
menunggu QR nya diperlihatkan
“Ada yang sakit pak dirumah?”tanya Ricky sambil
membuka aplikasi di ponselnya
“Iya, tadi aku check 39 derajat panasnya” keluh
Shakti
“Wah, panas banget pak, ngga dibawa ke rumah
sakit?”akhirnya mereka berdua malah asik berdiskusi dan melupakan QR
“Anaknya ngga mau” jawab Shakti pendek
“Kebetulan Ai ku punya toko obat di pecinan, aku
sekalian mau anter makanan kesana, mau kutanyain sekalian ngga?”tanya Ricky
menawarkan
“Wah boleh kalau ngga merepotkan, aku bayar berapa
jadinya ko?” Ricky memperlihatkan QR nya pada Shakti
“Buat makanannya aja ya Pak, obatnya cincai” kata
Ricky
“Eh jangan” Shakti lalu mengirimkan 1 juta rupiah
melalui QR
“Kebanyakan ini pak, udah gini deh besok besok aku
kirim bubur dan breakfast juga ya” saran Ricky, Shakti setuju.
Setengah jam kemudian Ricky kembali membawa sekilo
jeruk wokam , 3 botol besar pocari sweat dan obat cina dari Ai nya
“Kata Ai suhu badannya dicek tiap jam, soalnya dia
panas banget itu, terus ini diminum sebanyak-banyaknya, besok kukirim lagi
sekalian bubur sama breakfast ya pak”
Shakti berterima kasih lalu kembali ke rumah, ia meletakkan
obat dan jeruk di meja dekat April yang masih terpejam dan gelisah, ia lalu
memasukkan botol-botol pocari sweat ke kulkas karena akan terasa lebih enak
saat diminum dingin.
Shakti lalu mengganti kompres hangat di kening April,
dan mengusap keringatnya dengan kompres dingin, dengan begitu April terlihat
lebih nyaman. Shakti hendak mengukur suhu badan April namun untuk membuatnya
mengigit thermometer sangat sulit karena ia sedang tidak sadar. Shakti
berinisiatif untuk menjepitkannya di ketiak April. Dengan perlahan ia
menyingkapkan duvet April , April terdengar mendesah, tentu karena gelisah dan mengigau, Shakti melihat kaus
besar lusuh yang digunakan april basah karena keringat, menjiplak di tubuhnya
memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kulit
April yang putih, berkeringat, dadanya yang besar dan montok menyembul dari
kausnya yang tipis dan basah karena keringat. Shakti menelan ludah dan
membulatkan tekadnya, ia mengepitkan thermometer di ketiak April lalu sambil
menunggu thermometer itu berbunyi Shakti menyingkap duvet dan memasangkan kaus
kaki Kashmir miliknya. Shakti tidak bersusah payah mencari tahu apakah April
memiliki kaus kaki di keresek pakaiannya, ia tidak mau menggeledah barang orang
tanpa izin. Tapi, walau begitu Shakti tidak bisa menahan diri untuk mengelus
kaki April yang lembut, semakin atas ia menyadari kaus yang digunakan April
menyingkap hingga pinggang. Sebelum tangannya meraba lebih jauh thermometer
berbunyi, Shakti tersentak dan kembali ke kenyataan. Ia memasangkan kaus kaki,
merapikan duvet, mengambil thermometer dan mengecek suhunya. Masih tinggi.
April terus menerus berkeringat, walau begitu Shakti kuatir April akan
kejang-kejang, sehingga ia terus mengelap keringat April dengan handuk dingin.
Beberapa menit kemudian April terbangun.
__ADS_1
-It’s Getting Better-