Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
CEO Baik Hati


__ADS_3

Shakti bangun pukul 6 seperti biasa, walaupun ada


April, ia akan melakukan kegiatannya yang biasa. Ia pun akan membicarakan soal


tempat tinggal April pagi ini. Kemungkinan setelah MOU dikirimkan Andra, ia


akan menyewakan April kamar kostan yang layak, dan memberikannya uang saku yang


kalau April mau bisa dicicil kembali, kalau tidak pun tak masalah.


Tapi saat Shakti membuka pintu kamar, living room


masih gelap, tak ada tanda-tanda April sudah bangun. Ia mendekati sofa tempat


April tidur, hendak membangunkannya, namun Ia melihat wajah April terlihat


kesakitan, wajahnya memerah, keringat mengucur deras di wajahnya. Shakti


pelan-pelan meletakkan telapaknya di dahi April, sangat panas. Shakti melonjak


kaget. Ia lalu mengambil thermometer dari rak obatnya dan meminta April


menggigitnya. Ternyata 39.3 derajat, badannya sangat panas.


Shakti menimbang untuk membawanya ke Rumah Sakit atau


memanggil dokter pribadi keluarganya. Tapi tiba-tiba tangannya disentuh, April memintanya


mendekat, ia meminta air minum


Shakti cepat-cepat membawakan air hangat. Lalu April


didudukkan, dan dibantu minum air hangat. April merasa sangat pusing, badannya


menggigil. Tapi ia tahu jika ia harus ke Rumah Sakit atau Shakti memanggil


dokter pribadinya akan sangat merepotkan belum lagi urusan dengan keluarganya


yang rumit. Ditambah lagi ia menumpang.


"Tidak usah panggil dokter" ucapnya lirih


dengan mata berair dan wajah memerah. Jika tidak sedang panas tinggi wajah


April sangatlah menggoda


"Katakan, apa yang harus aku lakukan?"


Pinta Shakti


"Siapkan kompres, kompres dingin dan hangat.


Mulai dengan kompres hangat, jika aku tidak berkeringat berikan kompres dingin


agar aku tidak kejang" Shakti mengangguk mengerti


"Aku perlu kaus kaki, kakiku terasa sangat


dingin, tapi tidak perlu jaket atau celana panjang, bagian tubuh yang lain


rasanya panas sekali" Shakti mengangguk lagi


"Obat..." tangan April menggapai rak obat


di ujung dapur, dengan sigap Shakti membuka duvet dan menggendong April ke rak


obat. Dengan April di gendongannya Shakti membantu membacakan dan mencarikan


paracetamol dan obat penurun demam untuk April. Setelah mendapat beberapa obat,


Shakti kembali membaringkan April di sofa


"Makanan..."ujar April lirih,


"Aku tak pernah pesan makanan, jadi tak tahu


caranya" jujur Shakti


"Pesan apapun yang kamu mau" Shakti


memberikan ponselnya pada April. April akhirnya menelepon salah satu restoran


cina di dekat rumah Shakti, memesan bubur 3 musim, sekaligus memesankan untuk


Shakti sarapan. Sedetik kemudian semuanya berubah gelap.


-It’s Getting Better-


Saat terbangun satu jam kemudian, terasa kompresan


hangat di keningnya, sementara ada handuk dingin mengelap lehernya yang panas


dan berkeringat. Yang paling pertama April lihat adalah wajah Shakti yang tersenyum


lega karena akhirnya April terbangun.


“Makan dulu ya, habis itu makan obat” katanya lalu


menghangatkan bubur 3 musim di microwave, sambil menunggu ia mengeluarkan


pocari sweat dari kulkas dan gelas dari salah satu lemari


“Tadi aku tanya sama kurir yang antar makanan, kalau


orang sakit panas sebaiknya dikasih apa, dia terus beliin ini, buah jeruk, dan


obat cina” kata Shakti lalu membantu April yang lemas untuk duduk bersandar dan


minum.


“Kurirnya mau pak, kok baik banget?”suara April


terdengar serak dan sangat lemas walaupun sudah dibantu minum oleh Shakti


“Kurirnya ternyata anak yang punya restoran cina


namanya Ricky, Ai nya punya toko obat di pecinan, tadinya dia kasih gratis,


tapi kupaksa bayar”cerita Shakti sambil memaksa April minum lagi sampai habis


“Bapak bayar mahal?”suara April masih terdengar lemas


namun tidak seserak sebelumnya


“Aku kasih sejuta, untuk makanan, obat, pocari, buah


dan ongkos kirim, Ricky bilang itu terlalu banyak, jadinya ia akan mengirimkan


bubur, sup dan sarapan untuk kita 3 hari ke depan”terdengar suara microwave


berdenting, tandanya bubur sudah hangat.


April melirik ke dalam duvet, kakinya berkaus kaki


Kashmir yang hangat, pasti milik Shakti. Di atas meja ada 2 mangkuk, dengan


tumpukan handuk kecil di sampingnya. Satu mangkuk berisi air hangat, satu


mangkuk berisi air dingin dan es, sesuai dengan instruksi April sebelum ia


pingsan.


“Makan bubur dulu” Shakti membawa nampan dengan

__ADS_1


semangkuk bubur dan segelas air hangat. April mengangkat tangan untuk


menerimanya, namun ia keheranan sendiri tangannya bahkan terlalu lemas untuk


digerakkan. Shakti lalu tergelak


“Sekretaris macam apa ini, disuapin sama bosnya”


katanya lalu duduk di samping April dan mulai menyuapi


“Maaf ya pak”ujar April lalu makan dari suapan


Shakti, Shakti sangat lembut dan telaten.Ia mengelap yang berceceran,


memperhatikan setiap kunyahan April dan bersiap menyuapinya lagi begitu


mulutnya kosong


“Awas aja kalau abis ini kamu kerjanya ngga


bener”canda Shakti sambil menyuapkan sesendok bubur


“Aku janji pak, sampai umur 100 tahun pun aku akan


terus kerja sama bapak” ujar April setelah menelan buburnya. Shakti tergelak


lagi


“Kalau soal itu aku ngga mau Pril, aku ngga mau punya


sekretaris nenek-nenek” katanya, April tertawa lalu tersedak, Shakti buru-buru


meminumkan air hangat pada April. Setelah tenang ia melanjutkan menyuapi sampai


buburnya habis.


Shakti lalu meminta April meminum paracetamol dan


tablet penurun panas. Lalu membiarkan April bersandar dengan nyaman di sofa,


sementara ia mengupas jeruk untuk April


“Bapak sendiri sudah makan?”tanya April sambil


menerima suapan jeruk dari Shakti


“Udah, kamu kan sekalian pesan sarapan, kok kamu bisa


tahu saya suka nasi goreng seafood dan ayam kungpau?”tanyanya


“Lucky guess pak, untung bapak suka, saya ngga pake


mikir tadi pas pesen” jawab April sambil nyengir, Shakti tergelak lalu terus


menyuapi April jeruk


“Bapak selalu seperti ini?”tanya April lagi


“Hah, seperti ini gimana?”tanyanya lalu menyuapkan


potongan jeruk terakhir ke mulutnya sendiri


“Sangat baik sama orang, jujur aku ngga pernah


bermimpi akan disuapi oleh bosku sendiri yang bahkan baru bertemu satu hari,


aku merasa bingung tapi sekaligus beruntung, karena kalau aku saat ini ada di


kost, sakit dan tanpa makanan dan uang, aku pasti sudah mati pak” jujur April dengan


suara lirih, Shakti memandanginya terharu


“Aku tuh anak bungsu, dan di keluargaku semuanya


aku juga selalu melakukan ini, tapi sayangnya mereka mengartikan hal tulus


seperti ini sebagai ancaman, udang dibalik batu, jadi alih-alih menerima,


mereka semakin curiga”jawab Shakti


“Tapi bapak sama sekali ngga ada tampilan orang


jahat”jujur April


“Justru itu, aku introvert, pendiam, ngga banyak


melawan karena tidak suka konflik dan itu yang mereka manfaatkan. Selama


belasan tahun ini pun aku ngga pernah minta hak lebih dari gaji dan share aku


dari perusahaan, padahal kalau aku mau aku bisa mengakui semua usahaku untuk


memajukan perusahaan, mungkin 80% share ada di tanganku kalau aku melakukan


itu”


“Pantes aja ayah dan kakak-kakak bapak begitu


ketakutan, karena bapak sebrilian itu” cetus April


“Oke, kontrak 100 tahun” kelakarnya sambil membawa


mangkuk kosong dan sampah jeruk ke dapur. April tersenyum mendengarnya


“Bapak ngga kerja?”tanya April masih dengan suara


lemas


“Semenjak Nania jadi direktur, sedikit sekali yang


bisa kukerjakan, kalaupun aku berangkat ke kantor, aku hanya akan membaca


laporan yang sudah dikurasi oleh Nania, kalau aku meminta data semisal dari


finance harus approval dari Nania dulu yang memakan waktu beberapa hari, jadi


sudah tidak update, useless, mau marah nanti malah aku yang disingkirkan Nania,


dia didukung satu Monarki keluargaku”


“Rencananya hari ini aku akan mengurusi kontrak dan


re-housing kamu. Aku akan minta Andra untuk pinjamkan deposit dari kantor untuk


sewa kost dan biaya sebulan sampai kamu dapat gaji. Nantinya bisa kamu


kembalikan dengan cara mencicil. Tapi ngeliat kamu sakitnya parah begini, aku


ngga bisa ngebiarin kamu sakit sendirian di kost” jelas Shakti sambil


memasukkan mangkok dan sendok yang sudah dibilas ke mesin pencuci piring


“Kamu sakit panas begini karena muntah kemarin itu?”


lanjut Shakti sambil memasukkan sisa bubur di wadah ke dalam kulkas


“Kemarin itu waktu aku nyerang bapak, aku ikut kesiram


shower, pakaian dalamku basah sampai malam, baru kuganti sebelum tidur, kayanya


aku demam karena masuk angin pak” jawab April sambil menunduk malu


“Astaga April…”

__ADS_1


Shakti kembali membawa segelas air hangat, April


merasa ia harus meminum juga obat cina yang diberikan Ricky agar ia cepat


sembuh dan tidak merepotkan bosnya.


menyimpan gelas di atas meja setelah April meminum


obat cinanya. Mereka sengaja menjeda waktu meminum obat cinanya 1 jam setelah


makan paracetamol tadi.


“Sekarang kamu kembali tidur, aku mau olahraga lalu


mandi, nanti kubangunkan saat makan siang”


Mendengar itu April mengangguk, seluruh tibuhnya


tiba-tiba melemas ia lalu tertidur pulas.


Lain hal dengan Shakti, pikiran tentang April


mengganggunya. Tadi saat April tertidur, Shakti sempat panik karena bingung


harus melakukan apa, ia lalu mulai melakukan yang April suruh, menyiapkan


kompres. Tak lama bel berbunyi, karena tidak ada bibi, Shakti berlari ke


halaman depan. Kurir yang mengantar makanan sangat tampan seperti artis Taiwan


“Pak Shakti ya, sorry lama ya pak, kurir yang biasa


ngga masuk, jadi aku diminta mami nganter makanan dan aku ngga kenal jalan


daerah sini, aku Ricky anak yang punya resto”tanyanya sambil menyodorkan


sekeresek makanan, Shakti tersenyum sambil mengangguk


“Iya gapapa anaknya juga masih tidur kok, terima QR?”


tanya Shakti, Ricky mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya


“Besok bisa kirim yang sama ko?”tanya Shakti sambil


menunggu QR nya diperlihatkan


“Ada yang sakit pak dirumah?”tanya Ricky sambil


membuka aplikasi di ponselnya


“Iya, tadi aku check 39 derajat panasnya” keluh


Shakti


“Wah, panas banget pak, ngga dibawa ke rumah


sakit?”akhirnya mereka berdua malah asik berdiskusi dan melupakan QR


“Anaknya ngga mau” jawab Shakti pendek


“Kebetulan Ai ku punya toko obat di pecinan, aku


sekalian mau anter makanan kesana, mau kutanyain sekalian ngga?”tanya Ricky


menawarkan


“Wah boleh kalau ngga merepotkan, aku bayar berapa


jadinya ko?” Ricky memperlihatkan QR nya pada Shakti


“Buat makanannya aja ya Pak, obatnya cincai” kata


Ricky


“Eh jangan” Shakti lalu mengirimkan 1 juta rupiah


melalui QR


“Kebanyakan ini pak, udah gini deh besok besok aku


kirim bubur dan breakfast juga ya” saran Ricky, Shakti setuju.


Setengah jam kemudian Ricky kembali membawa sekilo


jeruk wokam , 3 botol besar pocari sweat dan obat cina dari Ai nya


“Kata Ai suhu badannya dicek tiap jam, soalnya dia


panas banget itu, terus ini diminum sebanyak-banyaknya, besok kukirim lagi


sekalian bubur sama breakfast ya pak”


Shakti berterima kasih lalu kembali ke rumah, ia meletakkan


obat dan jeruk di meja dekat April yang masih terpejam dan gelisah, ia lalu


memasukkan botol-botol pocari sweat ke kulkas karena akan terasa lebih enak


saat diminum dingin.


Shakti lalu mengganti kompres hangat di kening April,


dan mengusap keringatnya dengan kompres dingin, dengan begitu April terlihat


lebih nyaman. Shakti hendak mengukur suhu badan April namun untuk membuatnya


mengigit thermometer sangat sulit karena ia sedang tidak sadar. Shakti


berinisiatif untuk menjepitkannya di ketiak April. Dengan perlahan ia


menyingkapkan duvet April , April terdengar mendesah, tentu karena  gelisah dan mengigau, Shakti melihat kaus


besar lusuh yang digunakan april basah karena keringat, menjiplak di tubuhnya


memperlihatkan lekuk tubuhnya.  Kulit


April yang putih, berkeringat, dadanya yang besar dan montok menyembul dari


kausnya yang tipis dan basah karena keringat. Shakti menelan ludah dan


membulatkan tekadnya, ia mengepitkan thermometer di ketiak April lalu sambil


menunggu thermometer itu berbunyi Shakti menyingkap duvet dan memasangkan kaus


kaki Kashmir miliknya. Shakti tidak bersusah payah mencari tahu apakah April


memiliki kaus kaki di keresek pakaiannya, ia tidak mau menggeledah barang orang


tanpa izin. Tapi, walau begitu Shakti tidak bisa menahan diri untuk mengelus


kaki April yang lembut, semakin atas ia menyadari kaus yang digunakan April


menyingkap hingga pinggang. Sebelum tangannya meraba lebih jauh thermometer


berbunyi, Shakti tersentak dan kembali ke kenyataan. Ia memasangkan kaus kaki,


merapikan duvet, mengambil thermometer dan mengecek suhunya. Masih tinggi.


April terus menerus berkeringat, walau begitu Shakti kuatir April akan


kejang-kejang, sehingga ia terus mengelap keringat April dengan handuk dingin.


Beberapa menit kemudian April terbangun.

__ADS_1


-It’s Getting Better-


__ADS_2