Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Gairah


__ADS_3

April  terbangun merasakan sentuhan di tubuhnya, April membalik tubuhnya ia


melihat Shakti berada di atasnya. Shower cap di kepalanya sudah menghilang,


tapi rambutnya masih terikat rapi. Matanya terbuka lebar, tidak…Shakti tidak


sedang mabuk, ia sedang bergairah….karena April. Shakti lalu mencium April,


menekankan bibirnya yang ranum ke bibir April yang mungil, ********** dan


menikmatinya. April sendiri tidak melawan, ia memejamkan mata, menikmatinya,


April menginginkannya.


Shakti melucuti semua yang tersisa di tubuh April, menyentuhnya


dengan tangannya yang besar dan kekar. April sendiri tak menahan diri. Ia


mendesah menikmati yang dirasakannya saat Shakti menciumi seluruh senti


tubuhnya. Tubuh April memanas, ia tidak ingin kenikmatan ini terhenti. Shakti


yang sudah menahan hasrat ini berhari-hari lamanya tidak menunggu lagi. Ia


ingin menikmati April dengan seutuhnya dan ia pun ingin April menikmati dirinya


dengan sepenuhnya juga. *******-******* panjang kenikmatan saling bersahutan.


Tubuh mereka mulai berkeringat, namun rasa lelah hilang


sama sekali dari tubuh mereka, adrenalin keduanya berpacu membuncah. Dan Shakti


sangat kuat, energy nya seakan tidak ada habisnya. April yang kelelahan namun


Shakti tidak berhenti sama sekali.


Entah berapa jam kemudian pergumulan itu berakhir,


April terkapar kelelahan, Shakti sebetulnya masih ingin melanjutkan, namun


melihat April yang sudah lemas Shakti memilih untuk berhenti dan memeluk April.


Shakti memeluk April dengan erat dari belakang, mereka sama-sama terdiam


merasakan gelombang kenikmatan yang tersisa, juga memang situasinya yang


tadinya penuh gairah, berubah canggung. April bisa merasakan nafas Shakti di


tengkuknya, bibirnya menempel di bahu April, sementara tangannya yang besar


membungkus tubuh April dengan sempurna di bawah duvet. Kulit mereka yang basah


karena keringat saling menempel.


“Sebaiknya bapak jangan berkata apapun yang akan merusak


suasana ini” ucap April lirih, saat ia merasakan bibir Shakti di bahunya


terbuka seperti akan mengatakan sesuatu.


“Baiklah” kata Shakti lalu membenamkan wajahnya ke


punggung April. Sekejap kemudian April tertidur kelelahan, sementara Shakti


menciumi punggungnya dan terus memeluk April.


Beberapa jam kemudian April terbangun. Shakti sedang


duduk di sampingnya sambil membaca text dari ponselnya, wajahnya terlihat


serius, namun melihat April terbangun ia lalu tersenyum


“What do you think about breakfast in bed?”tanyanya


menawarkan. April mengangguk setuju. Shakti lalu mengambil telepon di samping


ranjang dan memesan breakfast. Setengah jam kemudian makanan datang  dengan trolley karena pilihannya yang sangat


banyak. Shakti mengambilnya dari pintu, tidak membiarkan April turun dari


ranjang sedikit pun. Ia lalu menyimpan nampan di atas kasur dan duduk kembali


di samping April. Lalu April dan Shakti sama-sama memakan croissant diolesi


butter sebagai permulaan


“Apa yang akan bapak lakukan selanjutnya?”tanya April


“Tentang?”Shakti balik bertanya


“Tentang bapak yang didepak dari perusahaan bapak


sendiri”lanjut April lalu menenggak orange juice


“Aku perlu lawyer, lawyer yang bagus. Aku perlu


diskusi mengenai keputusan yang mereka ambil kemarin, mengenai legalisasinya”


“Bapak mau nuntut PT Sigma?”tanya April


“Aku belum tau, aku harus konsultasi dulu dengan


lawyer, Soalnya nama aku masih tercatat di Akta perusahaan. Yang pasti harus


aku pelajari dulu” kata Shakti, kali ini menyuapkan sesendok omelet ke


mulutnya. Penampilan Shakti tampak berbeda, tubuhnya yang topless terbentuk


sempurna, persis seperti yang April ingat di malam pertama kali mereka bertemu,


kecuali efek air dari shower dan uap air panas yang membingkai tubuhnya seperti


dalam drama korea. Kali ini rambut kusut panjang yang selalu menutupi wajahnya


diikat ke atas, walaupun kacamata tebalnya masih bertengger di tempatnya, tapi


karena April sudah melihat mata coklatnya dari dekat, rahangnya yang tegas,


dagunya yang berjanggut kasar karena belum dicukur, bibirnya yang nikmat, April


merasa selama ini Shakti menutupi potensi dirinya


“Kenapa, yang tadi masih kurang?”tanya Shakti melihat


April menatapnya , April buru-buru menunduk, wajahnya memerah. Shakti tersenyum


senang


“Kamu ngga tau betapa aku menahan diri sekuat tenaga


untuk tidak menjamah kamu di rumah kemarin” jujur Shakti sambil menggaruk


kepalanya yang tidak gatal, ia pun tersipu malu. April tersenyum, itulah


sebabnya tadi begitu intens, nampaknya gairah Shakti membuncah maksimal,


seperti serigala yang dilepaskan dari kandang setelah dikurung bertahun-tahun


lamanya.


“Kamu juga harus berhenti manggil aku Pak, panggil


Shakti aja” pintanya


“Lho, kenapa pak?”April kaget


“Setelah yang terjadi, kamu yakin masih mau manggil


Pak?”tanya Shakti aneh


‘Iya juga sih’ pikir April, ia bahkan masih hanya


berselimut duvet, Shakti hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Apa yang


terjadi pada mereka tidak lazim terjadi pada boss dan karyawannya. Apakah


Shakti memang menginginkan mereka menjadi pasangan yang sebenarnya?


“Baiklah, Shakti” kata April gagap, ia belum terbiasa


memanggil bossnya dengan nama depannya. Tapi Shakti terlihat puas mendengarnya


“Tapi bukan berarti aku dipecat kan Pak…eh Ti?”tanya


April gugup

__ADS_1


“Aku…mecat kamu….sekretaris paling hebat sedunia…gila


kamu” teriaknya marah


“Harus berapa kali sih aku bilang kalau aku itu


beruntung punya kamu”April akhirnya tersenyum senang


April lalu bergerak meraih bathrobe di lantai


“Mau kemana?”tanya Shakti


“Mandi, tadi malam aku jemur pakaian di kamar mandi,


semalam pakaian kita kena muntahan Bapak semuanya…maksudku Kamu…” kata April,


Shakti tergelak mendengar April masih memanggilnya dengan sebutan bapak


“Kita buang aja baju-baju itu, di lantai bawah ada


mall, kita belanja” ajak Shakti


“Tapi aku bahkan ngga pakai pakaian dalam” tolak


April


“Well, sekali-kali kita harus agak nekat kan…aku


minta bathrobe baru untuk kita, terus kita turun ya”ajak Shakti meyakinkan


membuat April yang ragu mengangguk mengiyakan ajakannya.


Beberapa menit kemudian 2 bathrobe baru datang, April


mengikat talinya sekencang mungkin ke pinggangnya agar tidak terbuka, sementara


Shakti mengambil black card nya dan memasukkannya ke saku.


Tempat yang yang pertama mereka datangi adalah La


Perla, Shakti sangat peduli dengan April sehingga memilih toko ini untuk


didatangi pertama agar April merasa nyaman. Tak kurang dari selusin pakaian


dalam Shakti belikan, termasuk gaun tidur, dan lingerie. Seharian mereka keluar


masuk toko-toko di Marina Bay Sands.


April sudah selesai belanja, ia menggunakan summer


dress polos berwarna biru dari Zara, dan sandal Chloe. Shakti memaksanya untuk


membeli beberapa pakaian, dan sepatu bermerek mahal, belum lagi hand bag, dan


koper baru dari Rimowa. Semua barang sudah diantarkan bellboy ke kamar, saatnya


menunggu Shakti yang berbelanja. Setelah membeli pakaian dalam di Hugo, mereka


masuk ke gerai Brunello Cucinelli. Shakti memilih beberapa celana pendek,


celana panjang, kemeja dan cardigan. Ini adalah toko yang bahkan April baru


mendengar namanya disini, sangat elit. Tone warna yang digunakan pun sangat


earthy, sangat berbeda dengan pakaian yang biasanya Shakti pakai sehari-hari.


Shakti keluar dari tempat ganti baju menggunakan


celana pendek warna khaki dan t-shirt putih. Ia membayar pakaiannya lalu


mendekati April yang menunggu di sofa toko


“Kita makan siang dulu yuk, aku lapar, mau makan di


hotel atau diluar?”tanyanya


“Diluar” jawab April senang, akhirnya ia bisa


jalan-jalan di luar negri


“Tapi kamu ngga akan beli sandal dulu?”tanya April


mengingatkan Shakti yang masih menggunakan sandal hotel


“Nanti kita mampir ke Armani sambil lewat”katanya


“Kemarin juga aku belum registrasi kamar” kata April


saat mereka keluar toko


“Kebetulan, aku mau sekalian sewa mobil dan paid out,


aku ngga ada uang cash”  ujar Shakti lalu


mereka berbelok ke gerai Armani.


Selesai Shakti memesan mobil dan memberikan kantung


belanjanya pada bellboy untuk diantarkan ke kamar, ia duduk di samping April


yang sedang minum welcome drink. Karena Shakti adalah repeater guest di Marina


Bay Sands terutama untuk kamar Club, ia hanya perlu tanda tangan untuk


menyelesaikan administrasi, sekaligus memastikan berapa lama kira-kiranya


mereka akan tinggal disana.


“Kita mau menginap berapa lama?”tanya April


“Aku baru bilang kita akan menginap 2 malam dulu”


jawab Shakti sambil mengambil welcome drink nya


“Terus pulang ke Indonesia, atau menginap di condo


keluarga?”tanya April


“Hmmm, kita akan tinggal lebih lama disini, dan tidak


kita ngga akan ke condo keluargaku”jawab Shakti


“Kamu tau dari mana keluargaku ada condo


disini?”Shakti balas bertanya


“Oh, Pak Andi cerita kemarin waktu nganterin kita ke


Hotel, kamu kan pingsan sejak dari pesawat. Kita engga manggil Pak Andi aja


buat jalan-jalan?”


“Ah, kita dijemput Pak Andi kemarin, cerita apa aja


dia?”tanya Shakti


“Cuma cerita kalau keluarga Maheswara punya condo


disini, nawarin buat nganter ke Condo sebelum kesini. Hotel ini juga referensi


dia”jelas April. Shakti lalu menyandar ke sofa


“Berarti keluarga udah tau aku kabur ke Singapore.


Besok kita pindah hotel ya” kata Shakti, April hanya mengangguk


“Sebisa mungkin kita menjauh dari radar keluargaku,


jadi kita jangan menggunakan fasilitas mereka. Karena mereka pasti melapor pada


Ayah dan Ibu. Apalagi dengan keadaan aku yang baru dipecat” April mengangguk


mengerti


Tak lama ada resepsionis datang membawakan amplop


berisi uang dollar Singapore


“Here is your cash, your rental waiting in the lobby”


katanya sambil tersenyum


April dan Shakti lalu berdiri dan berjalan menuju


lobby. Sebuah sedan hitam bermerek Mercedes sudah siap digunakan, Brian sudah

__ADS_1


menunggu di samping pintu mobil yang terbuka sambil tersenyum.


“Have a good day” katanya saat April dan Shakti masuk


ke mobil.


“Tolong masukkan ke dompet Pril” kata Shakti sambil


memberikan amplop dan dompetnya pada April, sementara ia sendiri sibuk menyetir


“Kemarin aku ambil uang dari dompet ini untuk kasih


tips buat Brian sama bellboy” kata April dengan suara pelan, ia merasa bersalah


karena mengambil uang Shakti tanpa izin


“Kamu ngga pelit-pelit kan ngasih tipsnya, jangan


malu-maluin”ujar Shakti alih-alih marah karena April mengambil uangnya tanpa


izin. April memasukkan uang ke dalam dompet tidak trendy milik Shakti


“Ti, sebelumnya maaf kalau aku tidak sopan…”


“Udah deh, kamu tiap ngomong sama aku kaya lagi


ngomong sama Pak RT, drop it off…”ujar Shakti


“Oke, oke….Ti, ngeliat kamu yang sekarang kok beda


banget dengan kamu yang di Jakarta?”tanya April


“Maksudnya?”Shakti tidak mengerti


“Ini contohnya, dompet kamu yang ngga trendy ini. Oke


mungkin ini merek terkenal tapi kelihatannya sangat OKB” alih-alih marah


mendengar penjelasan April, Shakti malah tertawa terbahak-bahak


“Terus pakaian-pakaian kamu di Jakarta, snagat


bertolak belakang dengan baju yang kamu pilih dan pakai sekarang ini,


jangan-jangan kamu berkepribadian ganda ya Ti?”tanya April curiga, Shakti


semakin keras tertawa


“Emang separah itu ya penampilanku?”tanya Shakti


sambil terus tertawa


“Kalau kamu rapper, terus bergigi emas, kemana-mana


pakai rantai gelang dan rantai kalung emas mungkin sesuai Ti, ini sih polusi


mata menurutku” Shakti lagi-lagi tergelak mendengarnya


“Kamu lucu….Prilll” katanya sambil mengusap rambut


April. April yang diusap langsung tersentak, dadanya bergemuruh, perasaannya


melayang


“Penampilanku ngga kaya gitu awalnya, aku ya kaya


gini aja. Aku berubah saat jatuh cinta pada Nania…”


‘Dhegg’ April yang baru saja melayang langsung terjun


bebas lagi mendengar ucapan Shakti


Saat itu gedung PT. Sigma Abadi Sentosa baru saja


diresmikan. Shakti meminta Andra untuk mengadakan mega recruitment, karena


perusahaannya ini akan membutuhkan banyak karyawan. Shakti sendiri mendapatkan


tender dari pemerintah dan beberapa corporate untuk mengerjakan proyek internet


dan komputerisasi gedung-gedung perkantoran mereka. Disitulah Nania melamar


menjadi financial administrator. Awalnya Andra menolak karena kemampuannya


tidak sesuai dengan posisi yang dilamar, ditambah lagi umurnya terlalu tua


untuk posisi admin. Tapi saat itu Juna yang diminta ayahnya ‘membantu’ meminta


untuk Andra memberikan kesempatan. Tapi benar saja, performance nya sangat


buruk sehingga Nania dipindahkan ke bagian marketing. Disanalah ia bertemu


Shakti.


Di awal perusahaan Shakti memang sangat menge-push pemasaran


dan kualitas service perusahaannya untuk mendapatkan penilaian baik konsumen.


Jadi ia turun langsung, untuk membantu pekerjaan anak buahnya. Nania yang saat


itu performanya masih buruk sering ia training one on one. Untuk Shakti, cinta


datang karena terbiasa. Karena hampir setiap hari dibayang-bayangi Nania,


akhirnya ia jatuh cinta, jatuh yang sejatuh-jatuhnya. Apapun yang Nania minta


dikabulkan, apapun yang Nania mau adalah titah untuknya.


Selera Nania tinggi, namun dengan semua kekayaan


Shakti semuanya mudah saja. Pakaian, perhiasan, mobil, jalan-jalan, makan enak,


setiap weekend mereka pasti ada di objek wisata. Entah itu Bali atau Paris.


Nania juga sangat pengatur dan pencemburu. Jangankan


melihat Shakti ngobrol berdua dengan perempuan, Shakti punya nomor karyawan


perempuan pun dihapusnya. Shakti malah senang dibegitukan, menurutnya itu


tandanya Nania cinta padanya.


Tapi karena Nania sudah terlanjur cemburu, Shakti


berusaha keras menebusnya. Ia menurut dengan semua yang Nania minta.


Transformasi pun dimulai. Nania melarang Shakti memotong atau styling


rambutnya. Kacamatanya pun dipilihkan yang tidak menarik. Setelah itu semua


pakaian Shakti diganti dengan pilihan Nania. Shakti tidak menolak ataupun


melawan. Toh ia memiliki Nania, dan menurutnya kemampuan memimpin perusahaannya


tidak terganggu apapun yang digunakannya.


Lalu Shakti mulai mengajari Nania memimpin


perusahaan, karirnya naik drastic, Shakti bahkan tidak peduli dengan gossip


disekelilingnya tentang bagaimana tidak adilnya dia pilih kasih menaikkan Nania


di kantor. Tapi karena cinta sudah membutakannya, Shakti tidak peduli.


Nania sendiri sangat ahli mengambil hati


kakak-kakaknya dan Ayah Shakti. Sehingga untuk berada di posisi Direktur ia


mendapatkan rekomendasi yang kuat dari mereka semua.


“Tapi pada akhirnya kamu dan Nania putus juga”kata


April, entah kenapa ada rasa marah dan tak terima di dadanya, apakah ini


cemburu?


“Ya, Nania merasa terganggu dengan aku yang selalu


menanyakan soal perusahaan padanya, kami lalu berpisah dan ia mulai mengirimkan


aku ke exhibition” SHakti lalu melirik ke spion, ia menyadari perubahan di


wajah April. Reflek tangannya lagi-lagi mengelus rambut April menenangkannya.


Dalam hatinya Shakti senang melihat perubahan wajah april, ia senang April

__ADS_1


terlihat cemburu.


-It’s Getting Better-


__ADS_2