
“APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADAKU?” jerit April
histeris sambil memukul dada laki-laki itu, air shower membasahi tubuhnya juga
yang hanya dibalut kemeja putih yang kebesaran, lama-kelamaan lekuk tubuhnya menjiplak sempurna. Laki - laki itu tidak
menjawab, ia menunduk, tangannya yang kekar memegang kedua bahu April,
membuatnya membeku dan mendorongnya ke dinding kaca, April tak bisa berkutik
karena tubuh April hanya setinggi dada laki-laki itu, ia lalu mencondongkan
wajahnya ke wajah April lalu semakin mendekat…
Laki-laki itu lalu menarik handuk dari gagang pintu
di balik tubuh April, ia lalu berjalan cepat keluar dari shower room, mengambil
kacamatanya dari depan cermin washtafel lalu keluar dari kamar mandi. April
hendak mengejarnya namun pintu kamar mandi menutup kencang, terdengar suara
pintu terkunci dari luar. April menggedornya sekuat tenaga.
“BUKA….BUKA DASAR BANGSAT!!!” jeritnya histeris.
April terus menggedor pintu itu sekuat tenaga, sampai tiba-tiba rasa lemas
kembali menyerang, kepalanya kembali pening dan perutnya perih. April
berjongkok di lantai sambil memegangi perutnya yang melilit. Ia merasa akan
pingsan lagi, saat pintu tiba-tiba dibuka, laki-laki yang tadi mandi kini sudah
mengenakan piyama bermotif reinassance, menggunakan kacamata tebal rambut kusut
menutupi sebagian wajahnya
“Ayo bangun” katanya pelan, anehnya dengan penampilan
seaneh itu, suaranya sangat menenangkan. April berusaha untuk bangun, tapi
perutnya yang perih memaksanya untuk tetap berjongkok di lantai.
Laki-laki itu lalu menghilang sejenak dan kembali
membawa selembar throw blanket, ia membungkus April dengan selimut tipis itu
dan menggendongnya dengan mudah. April tidak bisa melawan karena kepalanya yang
pusing dan perutnya yang perih. Laki-laki itu lalu mendudukannya di kursi dapur
yang empuk. Laki-laki itu lalu membuka tutup dus pizza di atas meja dan
menyodorkannya ke hadapan April
“Makan” ujarnya pendek, April menggeleng pelan,
walaupun ia sangat lapar, tapi makan
hanya akan membuatnya muntah lagi…tunggu dulu, lagi? Apakah dia sudah muntah
sebelumnya? Ini dimana? Kenapa ia tidak bisa mengingat apapun.
“Aku perlu obat” kata April lirih. Laki-laki itu
menoleh, masih dengan rambut acak-acakan yang menutupi sebagian wajahnya.
“Obat apa?”tanyanya pendek
“Obat untuk asam lambung” jawab April semakin lirih.
Laki-laki itu berjalan menuju sebuah rak di ujung dapur, lalu mencari-cari
obat, tiba-tiba ia berhenti lalu berjalan menuju April, menggendongnya dan
membawanya ke rak
“Kayanya ada seribu obat lambung di dalam sana, kamu
pilih yang kamu perlu” bisiknya. April tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ia
punya banyak pertanyaan, namun saat ini, lambungnya perlu diobati dulu.
Betul saja di dalam rak penuh dengan vitamin mahal
dan obat-obatan berbagai jenis
“Wow, lengkap banget” Celetuk April begitu saja
“Ya, dokter keluarga selalu stock obat-obatan untuk
emergency” jelas laki-laki itu, herannya ia sama sekali tidak terlihat merasa
berat menggendong April di dadanya.
April memilih salah satu merek antasida, lalu obat
maag dari rak. Setelah itu April digendong kembali ke meja makan, didudukan
perlahan di kursi meja makan yang empuk walau begitu karena perutnya masih
melilit April masih duduk dengan berjongkok di kursi, lalu diberikan segelas
air putih hangat. April meminum antasidanya
Rasanya aneh, digendong dengan lembut dan diberi obat
oleh orang yang baru dilihatnya, orang yang entah telah melakukan apa padanya
sehingga ia terbangun tanpa pakaiannya sendiri. Walaupun saat ini selain perih
lambungnya April tidak merasakan apapun lagi di bagian lain tubuhnya.
Mungkinkah ia salah menduga?
“Makan” laki-laki itu kembali menyodorkan pizza,
April lagi-lagi menggeleng, Pizza hanya akan membuat asam lambungnya kembali
naik
“Aku perlu sesuatu yang lembut, bubur atau sup”kata
April. Laki-laki itu mengambil ponsel dari atas meja makan, menariknya
ponselnya bahkan bukan ponsel keluaran terbaru
“Pak Tedi sedang dimana?”tanya laki-laki itu
“Di hotel Diamond tuan, tadi setelah antar tuan
pulang, saya kembali lagi ke hotel menunggu Tuan Besar” jawab orang di sebrang
sambungan
“Coba Pak Tedi naik ke restoran, tanya mereka jual
bubur engga, belikan satu porsi , lalu tolong antar kerumah segera ya”pinta
laki-laki itu
“Nanti billnya saya kasih Nona Nania?” tanya Pak Tedi
“Jangan, Pak Tedi bayar pake uang Pak Tedi saja dulu,
nanti aku ganti dirumah, segera ya Pak Tedi dan jangan sampai ada yang tau soal
ini” laki-laki itu lalu memutus sambungan telepon, mengisi lagi gelas April
dengan air hangat lalu bersandar di meja makan. Hening sejenak
“Kamu siapa? aku ada dimana?, kamu apakan aku?”tanya
April, kini tak setegas sebelumnya, hanya lirih karena perutnya masih terasa
perih.
“Kamu ngga inget apa-apa?”tanya laki-laki itu, kini
berusaha menyapukan rambutnya yang kusut dari wajahnya. April menggeleng pelan,
ia hanya ingat tadi siang dia interview di tempat yang mencurigakan, lalu
pingsan.
Laki-laki itu tertawa renyah, rambut kusutnya tetap
menghalangi wajahnya
“Pantesan kamu bingung, kamu ngga inget apa-apa
ternyata. Kamu pasti pikir aku perkosa kamu atau semacamnya ya?” tanyanya,
April mengetatkan selimut ke tubuhnya, melihat itu laki-laki itu tertawa lagi
“Atau semacamnya” jawab April lirih ketakutan
“Aku Shakti, CEO dari PT Sigma, kantor tempat kamu
melamar kerja. Tadi siang kamu muntah dan pingsan saat hendak interview
denganku. Baju kamu penuh muntahan, jadi digantikan dengan pakaian yang ada
disini. Tenang aja, yang ganti baju kamu
bibi yang kerja denganku, dia udah pulang sejam yang lalu. Tadinya aku akan
membawa kamu ke Rumah Sakit, tapi Andra sudah kembali ke kantor diantar driver,
sementara dokter keluarga sedang berkumpul dengan keluarga besarku, jadi aku
meminta bibi menjaga kamu dirumah sampai aku pulang”April menggangguk mengerti,
itu menjawab sebagian pertanyaannya. Tapi setelah itu akal sehatnya muncul. Ia,
muntah dan pingsan di tengah-tengah interview di rumah CEO tempat ia melamar
kerja, sudah tamatlah riwayatnya. Shakti membaca perubahan wajah April yang
memucat
“Tenang, kamu pingsan disini tidak merubah nilai
interview dari Andra, aku ngga ngomong apa-apa sama dia” katanya menenangkan
“Maaf ya pak, walau begitu aku tetap merasa malu”
kata April sambil menunduk, Shakti tergelak
“Kita lanjutkan interviewnya setelah kamu sembuh
nanti ya, sekarang kamu makan dulu, Tedi udah sampe, duduk aja disini” Shakti
pergi mengambil makanan dan kembali dengan tote bag Hotel Bintang 5 di
tangannya. Ia mengeluarkan wadah plastic besar dari dalam tote bag,
menyendokkan ke dalam mangkuk lalu menyodorkannya pada April. Wanginya sangat
enak, April yang kelaparan dan lambungnya sudah mulai membaik langsung
mengambilnya dan menikmati bubur seafood terenak yang pernah ia rasakan.
Shakti sendiri mengambil goblet dari kitchen set dan
menarik sebotol wine dari kulkas khusus wine di samping kulkas 3 pintunya. Ia
membaca sekilas label wine yang diambilnya. April tersenyum melihatnya, Shakti
pasti Old Money yang well educated, jarang sekali ada orang yang memperhatikan
tahun dan tempat dibuat wine, kecuali orang itu benar-benar penikmat wine.
Shakti menuangkan winenya, memutar nya di goblet, menghirup aromanya, lalu
menyicipnya. Shakti mengangguk puas lalu mengambil satu slice New York Style
pizza dari dus.
“Kenapa kita interview di rumah bapak, tidak di
office pak?” tanya April sambil menikmati buburnya
“Lho, Andra ngga ngasih tau?”tanya Shakti sambil
mengambil tissue, dan mengelap sudut bibirnya, rambut kusutnya sangat
mengganggu, bahkan saat ia makan, menghalangi sebagian wajahnya.
“Kata Pak Andra, aku akan dikasih tahu kalau aku
lolos interview dengan bapak” jawab April, Shakti tersenyum
“Kalau gitu nanti saya kasih tau setelah interview,
besok?”April mengangguk setuju, lebih cepat lebih baik, toh ia pun sudah tidak
ada uang untuk makan.
“Sisa buburnya bawa pulang aja ya, baju kamu sudah
dicuci bibi, digantung di ruang laundry itu pintunya di samping, nanti aku
anter kamu pulang” kata Shakti lagi. April mengangguk lalu berterima kasih.
April lalu memakan obat maag nya, Shakti kembali
menuangkan air hangat ke gelas April. April merasa semakin membaik. Ia mencoba
meluruskan tubuhnya dari posisi jongkok di atas kursi dan perutnya sudah tidak
terasa sakit.
“Kayanya aku udah bisa pulang pak” kata April lalu
berusaha duduk dengan normal di kursi, walaupun perutnya masih terasa ngilu,
tapi bisa ditahannya. April merapikan selimut dan kemeja basahnya agar menutupi
bagian atas lututnya.
“You sure, secepat ini?”tanya Shakti
__ADS_1
“Iya pak, lagi pula aku malu berlama-lama di rumah
bapak” ujar April. Shakti menyadari keseganan April. Ia lalu menyilakan April
berganti pakaian sementara dirinya sendiri meminum air putih banyak-banyak,
beruntung ia baru meminum wine nya seteguk, jadi tidak terasa efek apapun.
Walaupun pakaian dalamnya lembab, April memaksakan
diri menggunakan bajunya, ia hanya ingin pulang. Sambil memeluk tote berisi CV
dan tas kulit sederhana nya April menunggu Shakti mengambil kunci mobilnya.
“Ayo” ajaknya, Shakti bahkan tidak mengganti piyama
reinassancenya. April mengikutinya dari belakang.
Sebuah mobil sedan civic hitam terparkir di halaman.
Dengan rumah semewah dan sebesar ini, April agak kaget Shakti tidak mengendarai
mobil berpintu dua seperti Lamborghini atau Ferrari. Shakti membukakan pintu
untuk April, menutupnya lalu membuka pintunya sendiri. April kaget, seumur
hidup tidak pernah ada yang membukakan pintu mobil untuknya, apalagi laki-laki,
ini bahkan bosnya. Tapi nampaknya Shakti yang berambut kusut dan berkacamata
tebal ini memang gentleman.
Setelah mobilnya menyala dan mobil maju, lalu pintu
gerbang otomatis terbuka. April mengatakan alamat kostannya lalu Shakti
menyetir kesana. Di depan kostannya April terhenyak, ia melihat
barang-barangnya sudah berada diluar. Ibu kost yang mendengar suara mobil
mendekat keluar dari kamarnya dan berkacak pinggang
“Ibu, ini kenapa barang-barang saya ada diluar?”tanya
April panik
“Saya sudah berkali-kali bilang sama kamu, kalau kamu
ngga bisa bayar kost sampai hari ini kamu harus keluar. Kamarnya juga sudah ada
yang menyewa”ketus Ibu kost
“Tapi bu, saya harus tinggal dimana, saya belum ada
uang”ucap April putus asa
“Kamu sudah menunggak 3 bulan April, kamarnya sudah
ada yang isi juga. Pokonya saya udah ngga bisa bantu” Ibu kost lalu masuk
kembali ke kamarnya.
April
berjongkok diantara barang-barangnya yang dimasukkan ke plastic dan dus di
koridor kostan. Memang tidak terlalu banyak, tapi tetap saja April tidak tahu
harus berbuat apa, terlebih ia sekarang tidak memiliki uang.
Shakti memperhatikan dari jauh, tadinya ia akan
langsung berangkat saat April turun dari mobil, tapi melihatnya berlari panik
ke kostannya Shakti memutuskan untuk menunggu sejenak memperhatikan. Shakti
mendegar percakapan April dan Ibu kost, ia pun mengerti alasan April pingsan
tadi siang pun karena April belum makan apapun. Shakti menimbang-nimbang
sejenak, tapi melihat April berjongkok mengais barang-barangnya Shakti tak tega,
ia keluar dari mobil dan membantu April membawa barangnya yang hanya 2 dus
kecil dan sekeresek pakaian.
“Lho, Pak Shakti, pak Shakti masih disini?” April
kaget
“Ayo, mana lagi barang kamu?”tanya Shakti sambil
mengangkut dus April
“Pak, jangan pak, udah gapapa” kata April, ia merasa
sangat malu
“Kamu mau kerja sama aku kan, ayo ikut aja dulu, udah
malem masuk ke mobil sana, ada lagi barangnya?”tegas Shakti. April takut
mendengarnya, ia lalu menggeleng dan melihat ke sekitar, memang barangnya hanya
segitu saja, tidak ada lagi.
Shakti lalu membawanya ke mobil, April diminta duduk
saja, sementara Shakti memasuk-masukkan barang ke bagasi
“Kita kemana pak?”tanya April setelah Shakti masuk ke
mobil dan memasang seat belt
“Pulang” jawab Shakti pelan.
Mobil melaju lambat, April dan Shakti terus berdiam
diri, memang dari tadi pun mereka tidak bicara banyak karena canggung
“Maaf ya tadi aku bentak kamu”kata Shakti sambil
menyetir, matanya terus memandang lurus ke jalanan
“Aku liat tetangga-tetangga kost kamu udah mengintip,
kamu keliatan bingung, jadi aku kasih sedikit shock therapy, sorry” lanjutnya
“Iya pak, maaf ya saya jadi merepotkan bapak, tapi
kita ini mau kemana pak?”tanya April kuatir
“Kita pulang ke rumahku”jawab Shakti pendek
“Tapi pak..”
“Setidaknya untuk malam ini. Aku ngga bisa ninggalin
kamu di jalanan malam-malam, kamu juga ngga akan bisa nemu kost baru
malam-malam gini, aku juga ngga bisa ngebiarin kamu jalan sendirian bawa barang
sebanyak ini, lagi pula kamu juga ngga ada uang kan. Don’t get me wrong, kita
mendiamkan April dan membuatnya tidak terlalu banyak berfikir.
Sekembalinya di rumah Shakti, April ditempatkan di
living room yang masih seruangan dengan dapur, ada sofa besar yang nyaman
dengan karpet dan TV besar disana, hanya 3 langkah dari dapur yang besar.
April lalu duduk di lantai tubuhnya lemas, energy
dari semangkuk bubur yang dimakannya nampaknya sudah habis.
“Aku mau ngangetin pizza nih, sini aku hangatkan
bubur kamu” kata Shakti. April memberikan tote hotel bintang 5 berisi sewadah
besar bubur untuk dihangatkan. Shakti memasukkannya ke dalam microwave. Saat
turun dari mobil April dan Shakti sempat berdebat siapa yang tidur dimana,
akhirnya Shakti tidak jadi mengalah, ia tetap tidur di kamar dan April tidur di
living room. Shakti mengambil beberapa bantal, duvet dan seprai untuk April.
April berkeras menata sofa nya sendiri tanpa bantuan Shakti, Shakti lagi-lagi
mengalah, ia memilih menghidangkan bubur dan pizza di atas meja di living room,
alih-alih di meja makan
“Kamu mau wine?”Shakti menawarkan, April menolak
halus, selain ia segan, kepalanya pun masih terasa pusing
“Air hangat saja pak” katanya pelan, Shakti akhirnya
membawakan segelas air hangat, dan ia mengurungkan minum wine, alih-alih ia
membawa sekaleng soda dari kulkas. Mereka berdua lalu duduk di lantai beralas
karpet, dan melanjutkan makan malam sambil mengobrol
“Maaf ya pak, aku jadi merepotkan, aku janji aku akan
cari kostan besok” kata April sambil menyendok bubur seafoodnya yang hangat
“Santai aja, lagian kalau besok mau pergi pun kamu
belum punya uang, kamu belum aku kontrak juga jadi sekretaris”, ah iya April
kan belum diterima jadi sekretaris Shakti,gimana ini
“Kamu pasti bertanya-tanya ya, kenapa di rumah
sebesar ini kamar tidurnya hanya ada satu?”tebak Shakti saat melihat April
merenung, April bingung menjawab apa karena bukan itu yang sedang ia pikirkan
“Tadinya rumah ini ada 6 kamar tidur, 7 kamar mandi,
dari dapur sana sampai sini adalah ruang makan, tapi aku mengubah 3 kamar dan
kamar mandi di depan menjadi perpustakaan dan ruang kerja, lalu 2 kamar dan kamar mandi di lantai atas menjadi gudang
lukisan, kamu pasti lihat lukisan waktu masuk ke sini kan?” lanjutnya
“Iya, aku mengenali lukisan Barli dan aku juga
diinterview Pak Andra di ruang kerja Bapak” Shakti kagum mendengar April
mengenali pelukis yang melukis lukisannya.
“Bapak memang tinggal sendirian disini?”tanya April,
ia menyendok lagi bubur seafoodnya karena masih merasa lapar.
“Iya, aku membeli rumah ini saat mendapat bonus
karena berhasil meng IPO kan PT utama, saat kakak-kakakku membeli mobil dari
uang bonus mereka, aku menego pemilik rumah dan memintanya untuk menjual
rumahnya padaku. Ini aku beli dari hasil keringatku sendiri, jadi keluargaku
tidak ada kendali apapun atas rumah ini” Shakti menatap April yang melihatnya
kagum
“Maaf ya, aku bukannya sombong, tapi aku bangga pada
diriku sendiri saat itu” katanya sambil tersenyum, April ikut tersenyum
melihatnya. Tentu saja Shakti adalah salah seorang orang yang memiliki
privilege karena lahir di keluarga berada, namun mendengarnya bangga dengan
pencapaiannya memiliki rumah membuat April merasa ia juga manusia biasa
sepertinya
“Aku sengaja hanya menyisakan satu kamar untuk diriku
sendiri, di rumah ini bahkan tidak ada ruang tamu, jadi tidak pernah ada yang
datang kerumah”lanjut Shakti, ia mengambil potongan kedua pizzanya
“Tadi bapak cerita soal bibi”
“Ah iya, itu bibi yang datang di siang hari, dia
bantu masak, kadang-kadang mencuci tapi biasanya aku kerjakan sendiri, atau
melap-lap debu, seringnya sih bibi datang untuk tidur siang di taman depan”
ceritanya lalu tergelak, membuat April ikut tertawa
“Aku terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, ada robot
vacuum, mesin cuci tinggal pencet, cuci piring tinggal pencet”Shakti membuka
kaleng sodanya lalu meminumnya
“Anyway toilet ada di dekat ruang kerja, tapi untuk
bath and shower, kita harus berbagi di kamarku, we will find a way”katanya
enteng lalu mengambil potongan pizza ketiganya
“Makasi ya pak, mau nampung aku disini” April
menunduk mengaduk mangkuknya yang kosong
“No problem” Shakti lalu menyendok lagi bubur ke
mangkuk April, memintanya melanjutkan makan
“Ngomong-ngomong bibi, aku harus cancel dia masuk
besok selama kamu ada disini” Shakti lalu mengambil ponselnya dan mengetik
__ADS_1
pesan
“Kenapa pak?”April heran,
“Keluargaku tuh…”Shakti menjeda kata-katanya sebentar
menimbang apakah ia akan bercerita pada April atau tidak, ia menatap mata April
dan sedetik kemudian memutuskan untuk bercerita,
Shakti mengambil posisi nyaman di atas karpet,
mengambil bantal di atas sofa dan bersandar ke kaki sofa dengan bantal di
punggungnya
“Alasan kenapa kamu aku interview disini bukan di
office adalah karena keluargaku, dan mantan pacarku yang sekarang menjadi
direktur di PT. Sigma. Sejak aku meng-IPO kan PT utama dan mengembangkan
perusahaan, mereka tidak membiarkanku bebas bergerak. Ayah dan kakak-kakak-ku
takut aku mengambil alih perusahaan. Mereka tidak percaya saat aku bilang aku
hanya ingin perusahaan berkembang, karena pikirku semua yang aku usahakan,
keuntungan dan yang lainnya akan kembali ke keluarga juga kan, tapi mereka
pikir aku punya hidden agenda di balik rencana-rencanaku” Shakti berhenti sebentar lalu menyesap soda nya
“Ruang gerak ku dipersempit, walaupun pembagian saham
tidak berubah, tapi aku hanya dibagi project yang kecil. Semua ide-ideku
diambil alih kakak-kakakku, jadwalku penuh dengan mengunjungi satu art
exhibition ke art exhibition lain, dalam dan luar negri. Awalnya aku menikmatinya,
lalu aku sadar mereka menekan eksistensiku di perusahaan”Shakti meraih lagi
sepotong pizza
“Sebelum pindah kesini, aku dan kakak-kakakku
masing-masing diberi rumah dan apartment oleh ayah, tapi kami betul-betul
didikte oleh ayah. Perusahaan mana yang bisa kami atur, langkah apa saja yang
bisa kami ambil untuk perusahaan, kami harus makan dengan siapa, berhubungan
dengan siapa, pacaran dengan siapa. Terlebih ayah sangat curiga aku akan
mengambil alih kekuasaannya, ia jadi extra hati-hati denganku, kakak-kakakku
senang dengan kendaraan, makin langka makin mahal makin cepat makin mereka
suka, aku sendiri senang dengan kebebasan. Maka aku memilih keluar dari
pengaruh keluargaku dan memilih dibenci oleh mereka, tapi dengan aku keluar
rumah mereka merasa lebih aman, mereka berfikir aku akan bisa lebih mudah
dijauhkan”
“Tapi ternyata tidak, aku masih bisa mengembangkan
perusahaan, expansi, dan anak perusahaan yang kuurus semua berkembang dengan
baik”
“Tapi menurutku aneh pak, bukankah kalau perusahaan berkembang artinya baik, laba
bertambah, keuntungan bertambah?”tanya April aneh, keluarga Shakti ini sungguh
aneh
“Mereka senang dengan keuntungannya, ekspansinya,
tapi dia takut padaku dan ide-ideku tidak bisa mereka tebak, aku sulit diatur,
makanya mereka memilih untuk mengerdilkan ruang lingkupku, mereka takut aku
mengambil kekayaan dan kekuasaan mereka”jawab Shakti
“Tapi bapak tidak berniat seperti itu kan?”
“Sayangnya, apapun yang aku katakan tidak membuat
mereka percaya kalau aku melakukannya bukan untuk mengambil takhta mereka”
wajah Shakti terlihat sedih
“Lalu datanglah perempuan ini, mantan pacarku Nania
yang memanfaatkan aku agar menjadi Direktur perusahaan, aku yang bodoh tidak
melihat bahwa aku dimanfaatkan. Nania melihat kesempatan untuk mendapatkan
jabatan itu setelah tau keluargaku berusaha menyingkirkanku. Nania dan Kakak
keduaku Juna membuat kesepakatan, kalau ia menjadi direktur di PT. Sigma, Nania
akan membuat jadwalku sangat padat untuk mengunjungi art exhibition di seluruh
dunia, dan saat itu bodohnya aku…”
“Menikmatinya…Bapak terlalu baik kayanya pak” April
menyelesaikan kata-kata Shakti, Shakti tergelak
“Iya kayanya” Shakti setuju
“Di kantor aku tidak bisa tertawa seperti ini, saat
aku terlihat senang mereka pasti akan melakukan sesuatu, jadi aku pergi ke
kantor dengan wajah murung dan tertekan, yaaaa walaupun itu mudah saja
kulakukan karena aku memang tertekan disana tidak bebas sama sekali. Nania
betul-betul mengambil alih semua operasional. Sekretaris yang dipilih olehnya
akan melaporkan pergerakanku sekecil apapun. Dan semua Departemen head juga
karyawan, sangat takut dan tunduk pada Nania. Aku tidak bisa mengecek laporan,
membuat plan, mengecek operasional tanpa dipersulit oleh Nania”lanjutnya
“Lalu aku berfikir apa aku membuat rumahku menjadi
kantor aja, aku bisa bekerja remote, mengembangkan perusahaan atau bahkan
membuat PT baru jika lagi-lagi ruang lingkupku dipersempit, toh jika disini tak
ada satupun yang bisa mengganggu atau menyabotase”April mengangguk terus
mendengarkan
"Bibi, dan pak Tedi adalah orang pilihan
keluargaku, jadi kalau aku ketauan menginapkan kamu dirumah, bisa bahaya, kamu
bisa disabotase. Tadi pun pun Andra bilang pada bibi, interview di rumah karena
jadwalku padat, dan harus ke acara keluarga di sore hari. Aku pulang lebih awal
dari acara, dengan alasan ada acara lain, mereka sih senang bisa membicarakan
akau. Untungnya setelah mengantarku pulang Tedi balik lagi ke hotel menunggu
perintah Ayah selanjutnya, jadi bisa kutitipi bubur yang kamu makan ini” Shakti
mengendik pada bubur seafood yang sedang dinikmati April
“Andra setuju membantuku, tapi tidak di lingkungan
kantor, kebetulan aku satu sekolah dengannya saat SMA, hanya dia yang bisa aku
percayai di kantor, itupun ia dengan terpaksa tidak bisa terang-terangan membantuku,
Nania memecat semua orang yang mendukungku, walaupun Andra sangat loyal, aku
masih perlu dia terlihat loyal pada Nania juga”
“Jadi kaya double agent ya pak?” Shakti mengangguk
mengiyakan
“Jadinya kalau kamu disini, Nania ataupun keluargaku
tidak bisa mempengaruhimu”kata Shakti, kini April akhirnya mengerti sepenuhnya,
alasan ia interview di rumah Shakti, dan latar belakang keluarganya. Ternyata
keluarga kaya dengan segala privilegenya masalahnya lebih rumit daripada
keluarga pada umumnya.
“Aku ditipu mantan pacar dan sahabatku” April
tiba-tiba bercerita tanpa diminta, ia merasa memiliki keharusan menceritakan
kisahnya pada Shakti yang membantunya. Walau Shakti sebetulnya tidak perlu
penjelasan apapun tentang apa yang terjadi pada hidup April hingga jadi seperti
ini, ia mendengarkan dengan seksama.
"Aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah kantor
berbasis perbankan, 3 tahun lamanya aku memulai karir dari admin sampai menjadi
sekretaris, mendapatkan pacar seorang manager, dan sahabatku waktu itu posisinya
sebagai brand development manager. Singkatnya mereka berdua ternyata pacaran di
belakangku, saat aku mengetahuinya mereka sedang mempersiapkan pernikahan. Uang
yang mereka gunakan untuk menikah ternyata berasal dari dana perusahaan yang
sahabatku gelapkan. Aku mengetahuinya dan melaporkannya ke perusahaan. Namun
kondisi malah berbalik, mereka membuat seolah-olah aku yang melakukan
penggelapan, mereka memalsukan tanda tangan, dan data diriku yang tentu saja
sahabat dan pacarku tahu. Aku kalah di hadapan polisi, perusahaan memintaku
untuk mengembalikan semua uang yang katanya aku gelapkan, atau aku dipenjara 8
tahun. Motor, alat elektronik, tas, pakaian bermerek sampai catokan rambut
semuanya kujual. Hanya ini yang kupunya pak” April menunjuk dus berisi buku,
dokumen, pernak pernik, dan satunya
berisi piring dan gelas plastic, yang terlihat dari restoran pesan antar, juga
sekeresek pakaian.
“Berbulan-bulan aku mencari pekerjaan, nampaknya
status buruk-ku menyebar di kantor-kantor tempatku melamar, walalupun berusaha
mengirit hanya makan dua hari sekali, tapi uangku akhirnya benar-benar habis
beberapa hari yang lalu, aku hanya punya sebotol air mineral, itu pun minta
dari gallon ibu kost”kata April sambil
menunduk, ia ingin menangis namun kepalanya terasa sangat pening
“Aku menebak Pak Andra tidak menelepon HR kantorku
sebelumnya untuk background checking, makanya aku dipanggil interview” ujar
April
“Andra selalu melakukan background check paling
akhir, agar tidak mengganggu penilaiannya. Dan menurutnya, kamu kandidat
terbaik yang ia interview sejauh ini” jelas Shakti.
“Syukurlah” kata April
“Terus, mantan pacar dan sahabat kamu ada beritanya
lagi?”
“Entah pak, aku tidak bisa melawan, balas dendam juga
tidak bisa, aku tidak ada keluarga juga yang bisa menampung, Orang tuaku sudah
meninggal, aku tidak kenal keluarga ayah ataupun ibu jadi ya, inilah”April
berusaha tersenyum. Shakti juga tersenyum
“Kamu perempuan kuat Pril…kamu aku terima jadi
sekretarisku ya”Shakti lalu menyodorkan tangannya yang disambut oleh April,
mereka lalu berjabat tangan.
“Terima kasih pak” ucap April tulus.
“Sekarang kamu istirahat, besok kita urus
dokumen-dokumen kamu” pinta Shakti.
Mereka lalu membereskan bekas makanan, Shakti lalu
membiarkan April agar merasa nyaman. Setelah Shakti masuk ke kamar, April
mengganti pakaiannya dengan kaus longgar besarnya yang biasa dipakainya untuk
tidur, mematikan beberapa lampu, menyelinap di bawah duvet yang hangat dan sofa
yang empuk lalu terlelap.
-It’s Getting Better-
__ADS_1