Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Indah Setelah Sial


__ADS_3

“APA YANG KAMU LAKUKAN KEPADAKU?” jerit April


histeris sambil memukul dada laki-laki itu, air shower membasahi tubuhnya juga


yang hanya dibalut kemeja putih yang kebesaran,  lama-kelamaan lekuk tubuhnya menjiplak sempurna. Laki - laki itu tidak


menjawab, ia menunduk, tangannya yang kekar memegang kedua bahu April,


membuatnya membeku dan mendorongnya ke dinding kaca, April tak bisa berkutik


karena tubuh April hanya setinggi dada laki-laki itu, ia lalu mencondongkan


wajahnya ke wajah April lalu semakin mendekat…


Laki-laki itu lalu menarik handuk dari gagang pintu


di balik tubuh April, ia lalu berjalan cepat keluar dari shower room, mengambil


kacamatanya dari depan cermin washtafel lalu keluar dari kamar mandi. April


hendak mengejarnya namun pintu kamar mandi menutup kencang, terdengar suara


pintu terkunci dari luar. April menggedornya sekuat tenaga.


“BUKA….BUKA DASAR BANGSAT!!!” jeritnya histeris.


April terus menggedor pintu itu sekuat tenaga, sampai tiba-tiba rasa lemas


kembali menyerang, kepalanya kembali pening dan perutnya perih. April


berjongkok di lantai sambil memegangi perutnya yang melilit. Ia merasa akan


pingsan lagi, saat pintu tiba-tiba dibuka, laki-laki yang tadi mandi kini sudah


mengenakan piyama bermotif reinassance, menggunakan kacamata tebal rambut kusut


menutupi sebagian wajahnya


“Ayo bangun” katanya pelan, anehnya dengan penampilan


seaneh itu, suaranya sangat menenangkan. April berusaha untuk bangun, tapi


perutnya yang perih memaksanya untuk tetap berjongkok di lantai.


Laki-laki itu lalu menghilang sejenak dan kembali


membawa selembar throw blanket, ia membungkus April dengan selimut tipis itu


dan menggendongnya dengan mudah. April tidak bisa melawan karena kepalanya yang


pusing dan perutnya yang perih. Laki-laki itu lalu mendudukannya di kursi dapur


yang empuk. Laki-laki itu lalu membuka tutup dus pizza di atas meja dan


menyodorkannya ke hadapan April


“Makan” ujarnya pendek, April menggeleng pelan,


walaupun ia sangat lapar, tapi  makan


hanya akan membuatnya muntah lagi…tunggu dulu, lagi? Apakah dia sudah muntah


sebelumnya? Ini dimana? Kenapa ia tidak bisa mengingat apapun.


“Aku perlu obat” kata April lirih. Laki-laki itu


menoleh, masih dengan rambut acak-acakan yang menutupi sebagian wajahnya.


“Obat apa?”tanyanya pendek


“Obat untuk asam lambung” jawab April semakin lirih.


Laki-laki itu berjalan menuju sebuah rak di ujung dapur, lalu mencari-cari


obat, tiba-tiba ia berhenti lalu berjalan menuju April, menggendongnya dan


membawanya ke rak


“Kayanya ada seribu obat lambung di dalam sana, kamu


pilih yang kamu perlu” bisiknya. April tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ia


punya banyak pertanyaan, namun saat ini, lambungnya perlu diobati dulu.


Betul saja di dalam rak penuh dengan vitamin mahal


dan obat-obatan berbagai jenis


“Wow, lengkap banget” Celetuk April begitu saja


“Ya, dokter keluarga selalu stock obat-obatan untuk


emergency” jelas laki-laki itu, herannya ia sama sekali tidak terlihat merasa


berat menggendong April di dadanya.


April memilih salah satu merek antasida, lalu obat


maag dari rak. Setelah itu April digendong kembali ke meja makan, didudukan


perlahan di kursi meja makan yang empuk walau begitu karena perutnya masih


melilit April masih duduk dengan berjongkok di kursi, lalu diberikan segelas


air putih hangat. April meminum antasidanya


Rasanya aneh, digendong dengan lembut dan diberi obat


oleh orang yang baru dilihatnya, orang yang entah telah melakukan apa padanya


sehingga ia terbangun tanpa pakaiannya sendiri. Walaupun saat ini selain perih


lambungnya April tidak merasakan apapun lagi di bagian lain tubuhnya.


Mungkinkah ia salah menduga?


“Makan” laki-laki itu kembali menyodorkan pizza,


April lagi-lagi menggeleng, Pizza hanya akan membuat asam lambungnya kembali


naik


“Aku perlu sesuatu yang lembut, bubur atau sup”kata


April. Laki-laki itu mengambil ponsel dari atas meja makan, menariknya


ponselnya bahkan bukan ponsel keluaran terbaru


“Pak Tedi sedang dimana?”tanya laki-laki itu


“Di hotel Diamond tuan, tadi setelah antar tuan


pulang, saya kembali lagi ke hotel menunggu Tuan Besar” jawab orang di sebrang


sambungan


“Coba Pak Tedi naik ke restoran, tanya mereka jual


bubur engga, belikan satu porsi , lalu tolong antar kerumah segera ya”pinta


laki-laki itu


“Nanti billnya saya kasih Nona Nania?” tanya Pak Tedi


“Jangan, Pak Tedi bayar pake uang Pak Tedi saja dulu,


nanti aku ganti dirumah, segera ya Pak Tedi dan jangan sampai ada yang tau soal


ini” laki-laki itu lalu memutus sambungan telepon, mengisi lagi gelas April


dengan air hangat lalu bersandar di meja makan. Hening sejenak


“Kamu siapa? aku ada dimana?, kamu apakan aku?”tanya


April, kini tak setegas sebelumnya, hanya lirih karena perutnya masih terasa


perih.


“Kamu ngga inget apa-apa?”tanya laki-laki itu, kini


berusaha menyapukan rambutnya yang kusut dari wajahnya. April menggeleng pelan,


ia hanya ingat tadi siang dia interview di tempat yang mencurigakan, lalu


pingsan.


Laki-laki itu tertawa renyah, rambut kusutnya tetap


menghalangi wajahnya


“Pantesan kamu bingung, kamu ngga inget apa-apa


ternyata. Kamu pasti pikir aku perkosa kamu atau semacamnya ya?” tanyanya,


April mengetatkan selimut ke tubuhnya, melihat itu laki-laki itu tertawa lagi


“Atau semacamnya” jawab April lirih ketakutan


“Aku Shakti, CEO dari PT Sigma, kantor tempat kamu


melamar kerja. Tadi siang kamu muntah dan pingsan saat hendak interview


denganku. Baju kamu penuh muntahan, jadi digantikan dengan pakaian yang ada


disini.  Tenang aja, yang ganti baju kamu


bibi yang kerja denganku, dia udah pulang sejam yang lalu. Tadinya aku akan


membawa kamu ke Rumah Sakit, tapi Andra sudah kembali ke kantor diantar driver,


sementara dokter keluarga sedang berkumpul dengan keluarga besarku, jadi aku


meminta bibi menjaga kamu dirumah sampai aku pulang”April menggangguk mengerti,


itu menjawab sebagian pertanyaannya. Tapi setelah itu akal sehatnya muncul. Ia,


muntah dan pingsan di tengah-tengah interview di rumah CEO tempat ia melamar


kerja, sudah tamatlah riwayatnya. Shakti membaca perubahan wajah April yang


memucat


“Tenang, kamu pingsan disini tidak merubah nilai


interview dari Andra, aku ngga ngomong apa-apa sama dia” katanya menenangkan


“Maaf ya pak, walau begitu aku tetap merasa malu”


kata April sambil menunduk, Shakti tergelak


“Kita lanjutkan interviewnya setelah kamu sembuh


nanti ya, sekarang kamu makan dulu, Tedi udah sampe, duduk aja disini” Shakti


pergi mengambil makanan dan kembali dengan tote bag Hotel Bintang 5 di


tangannya. Ia mengeluarkan wadah plastic besar dari dalam tote bag,


menyendokkan ke dalam mangkuk lalu menyodorkannya pada April. Wanginya sangat


enak, April yang kelaparan dan lambungnya sudah mulai membaik langsung


mengambilnya dan menikmati bubur seafood terenak yang pernah ia rasakan.


Shakti sendiri mengambil goblet dari kitchen set dan


menarik sebotol wine dari kulkas khusus wine di samping kulkas 3 pintunya. Ia


membaca sekilas label wine yang diambilnya. April tersenyum melihatnya, Shakti


pasti Old Money yang well educated, jarang sekali ada orang yang memperhatikan


tahun dan tempat dibuat wine, kecuali orang itu benar-benar penikmat wine.


Shakti menuangkan winenya, memutar nya di goblet, menghirup aromanya, lalu


menyicipnya. Shakti mengangguk puas lalu mengambil satu slice New York Style


pizza dari dus.


“Kenapa kita interview di rumah bapak, tidak di


office pak?” tanya April sambil menikmati buburnya


“Lho, Andra ngga ngasih tau?”tanya Shakti sambil


mengambil tissue, dan mengelap sudut bibirnya, rambut kusutnya sangat


mengganggu, bahkan saat ia makan, menghalangi sebagian wajahnya.


“Kata Pak Andra, aku akan dikasih tahu kalau aku


lolos interview dengan bapak” jawab April, Shakti tersenyum


“Kalau gitu nanti saya kasih tau setelah interview,


besok?”April mengangguk setuju, lebih cepat lebih baik, toh ia pun sudah tidak


ada uang untuk makan.


“Sisa buburnya bawa pulang aja ya, baju kamu sudah


dicuci bibi, digantung di ruang laundry itu pintunya di samping, nanti aku


anter kamu pulang” kata Shakti lagi. April mengangguk lalu berterima kasih.


April lalu memakan obat maag nya, Shakti kembali


menuangkan air hangat ke gelas April. April merasa semakin membaik. Ia mencoba


meluruskan tubuhnya dari posisi jongkok di atas kursi dan perutnya sudah tidak


terasa sakit.


“Kayanya aku udah bisa pulang pak” kata April lalu


berusaha duduk dengan normal di kursi, walaupun perutnya masih terasa ngilu,


tapi bisa ditahannya. April merapikan selimut dan kemeja basahnya agar menutupi


bagian atas lututnya.


“You sure, secepat ini?”tanya Shakti

__ADS_1


“Iya pak, lagi pula aku malu berlama-lama di rumah


bapak” ujar April. Shakti menyadari keseganan April. Ia lalu menyilakan April


berganti pakaian sementara dirinya sendiri meminum air putih banyak-banyak,


beruntung ia baru meminum wine nya seteguk, jadi tidak terasa efek apapun.


Walaupun pakaian dalamnya lembab, April memaksakan


diri menggunakan bajunya, ia hanya ingin pulang. Sambil memeluk tote berisi CV


dan tas kulit sederhana nya April menunggu Shakti mengambil kunci mobilnya.


“Ayo” ajaknya, Shakti bahkan tidak mengganti piyama


reinassancenya. April mengikutinya dari belakang.


Sebuah mobil sedan civic hitam terparkir di halaman.


Dengan rumah semewah dan sebesar ini, April agak kaget Shakti tidak mengendarai


mobil berpintu dua seperti Lamborghini atau Ferrari. Shakti membukakan pintu


untuk April, menutupnya lalu membuka pintunya sendiri. April kaget, seumur


hidup tidak pernah ada yang membukakan pintu mobil untuknya, apalagi laki-laki,


ini bahkan bosnya. Tapi nampaknya Shakti yang berambut kusut dan berkacamata


tebal ini memang gentleman.


Setelah mobilnya menyala dan mobil maju, lalu pintu


gerbang otomatis terbuka. April mengatakan alamat kostannya lalu Shakti


menyetir kesana. Di depan kostannya April terhenyak, ia melihat


barang-barangnya sudah berada diluar. Ibu kost yang mendengar suara mobil


mendekat keluar dari kamarnya dan berkacak pinggang


“Ibu, ini kenapa barang-barang saya ada diluar?”tanya


April panik


“Saya sudah berkali-kali bilang sama kamu, kalau kamu


ngga bisa bayar kost sampai hari ini kamu harus keluar. Kamarnya juga sudah ada


yang menyewa”ketus Ibu kost


“Tapi bu, saya harus tinggal dimana, saya belum ada


uang”ucap April putus asa


“Kamu sudah menunggak 3 bulan April, kamarnya sudah


ada yang isi juga. Pokonya saya udah ngga bisa bantu” Ibu kost lalu masuk


kembali ke kamarnya.


April


berjongkok diantara barang-barangnya yang dimasukkan ke plastic dan dus di


koridor kostan. Memang tidak terlalu banyak, tapi tetap saja April tidak tahu


harus berbuat apa, terlebih ia sekarang tidak memiliki uang.


Shakti memperhatikan dari jauh, tadinya ia akan


langsung berangkat saat April turun dari mobil, tapi melihatnya berlari panik


ke kostannya Shakti memutuskan untuk menunggu sejenak memperhatikan. Shakti


mendegar percakapan April dan Ibu kost, ia pun mengerti alasan April pingsan


tadi siang pun karena April belum makan apapun. Shakti menimbang-nimbang


sejenak, tapi melihat April berjongkok mengais barang-barangnya Shakti tak tega,


ia keluar dari mobil dan membantu April membawa barangnya yang hanya 2 dus


kecil dan sekeresek pakaian.


“Lho, Pak Shakti, pak Shakti masih disini?” April


kaget


“Ayo, mana lagi barang kamu?”tanya Shakti sambil


mengangkut dus April


“Pak, jangan pak, udah gapapa” kata April, ia merasa


sangat malu


“Kamu mau kerja sama aku kan, ayo ikut aja dulu, udah


malem masuk ke mobil sana, ada lagi barangnya?”tegas Shakti. April takut


mendengarnya, ia lalu menggeleng dan melihat ke sekitar, memang barangnya hanya


segitu saja, tidak ada lagi.


Shakti lalu membawanya ke mobil, April diminta duduk


saja, sementara Shakti memasuk-masukkan barang ke bagasi


“Kita kemana pak?”tanya April setelah Shakti masuk ke


mobil dan memasang seat belt


“Pulang” jawab Shakti pelan.


Mobil melaju lambat, April dan Shakti terus berdiam


diri, memang dari tadi pun mereka tidak bicara banyak karena canggung


“Maaf ya tadi aku bentak kamu”kata Shakti sambil


menyetir, matanya terus memandang lurus ke jalanan


“Aku liat tetangga-tetangga kost kamu udah mengintip,


kamu keliatan bingung, jadi aku kasih sedikit shock therapy, sorry” lanjutnya


“Iya pak, maaf ya saya jadi merepotkan bapak, tapi


kita ini mau kemana pak?”tanya April kuatir


“Kita pulang ke rumahku”jawab Shakti pendek


“Tapi pak..”


“Setidaknya untuk malam ini. Aku ngga bisa ninggalin


kamu di jalanan malam-malam, kamu juga ngga akan bisa nemu kost baru


malam-malam gini, aku juga ngga bisa ngebiarin kamu jalan sendirian bawa barang


sebanyak ini, lagi pula kamu juga ngga ada uang kan. Don’t get me wrong, kita


mendiamkan April dan membuatnya tidak terlalu banyak berfikir.


Sekembalinya di rumah Shakti, April ditempatkan di


living room yang masih seruangan dengan dapur, ada sofa besar yang nyaman


dengan karpet dan TV besar disana, hanya 3 langkah dari dapur yang besar.


April lalu duduk di lantai tubuhnya lemas, energy


dari semangkuk bubur yang dimakannya nampaknya sudah habis.


“Aku mau ngangetin pizza nih, sini aku hangatkan


bubur kamu” kata Shakti. April memberikan tote hotel bintang 5 berisi sewadah


besar bubur untuk dihangatkan. Shakti memasukkannya ke dalam microwave. Saat


turun dari mobil April dan Shakti sempat berdebat siapa yang tidur dimana,


akhirnya Shakti tidak jadi mengalah, ia tetap tidur di kamar dan April tidur di


living room. Shakti mengambil beberapa bantal, duvet dan seprai untuk April.


April berkeras menata sofa nya sendiri tanpa bantuan Shakti, Shakti lagi-lagi


mengalah, ia memilih menghidangkan bubur dan pizza di atas meja di living room,


alih-alih di meja makan


“Kamu mau wine?”Shakti menawarkan, April menolak


halus, selain ia segan, kepalanya pun masih terasa pusing


“Air hangat saja pak” katanya pelan, Shakti akhirnya


membawakan segelas air hangat, dan ia mengurungkan minum wine, alih-alih ia


membawa sekaleng soda dari kulkas. Mereka berdua lalu duduk di lantai beralas


karpet, dan melanjutkan makan malam sambil mengobrol


“Maaf ya pak, aku jadi merepotkan, aku janji aku akan


cari kostan besok” kata April sambil menyendok bubur seafoodnya yang hangat


“Santai aja, lagian kalau besok mau pergi pun kamu


belum punya uang, kamu belum aku kontrak juga jadi sekretaris”, ah iya April


kan belum diterima jadi sekretaris Shakti,gimana ini


“Kamu pasti bertanya-tanya ya, kenapa di rumah


sebesar ini kamar tidurnya hanya ada satu?”tebak Shakti saat melihat April


merenung, April bingung menjawab apa karena bukan itu yang sedang ia pikirkan


“Tadinya rumah ini ada 6 kamar tidur, 7 kamar mandi,


dari dapur sana sampai sini adalah ruang makan, tapi aku mengubah 3 kamar dan


kamar mandi di depan menjadi perpustakaan dan ruang kerja, lalu 2 kamar  dan kamar mandi di lantai atas menjadi gudang


lukisan, kamu pasti lihat lukisan waktu masuk ke sini kan?” lanjutnya


“Iya, aku mengenali lukisan Barli dan aku juga


diinterview Pak Andra di ruang kerja Bapak” Shakti kagum mendengar April


mengenali pelukis yang melukis lukisannya.


“Bapak memang tinggal sendirian disini?”tanya April,


ia menyendok lagi bubur seafoodnya karena masih merasa lapar.


“Iya, aku membeli rumah ini saat mendapat bonus


karena berhasil meng IPO kan PT utama, saat kakak-kakakku membeli mobil dari


uang bonus mereka, aku menego pemilik rumah dan memintanya untuk menjual


rumahnya padaku. Ini aku beli dari hasil keringatku sendiri, jadi keluargaku


tidak ada kendali apapun atas rumah ini” Shakti menatap April yang melihatnya


kagum


“Maaf ya, aku bukannya sombong, tapi aku bangga pada


diriku sendiri saat itu” katanya sambil tersenyum, April ikut tersenyum


melihatnya. Tentu saja Shakti adalah salah seorang orang yang memiliki


privilege karena lahir di keluarga berada, namun mendengarnya bangga dengan


pencapaiannya memiliki rumah membuat April merasa ia juga manusia biasa


sepertinya


“Aku sengaja hanya menyisakan satu kamar untuk diriku


sendiri, di rumah ini bahkan tidak ada ruang tamu, jadi tidak pernah ada yang


datang kerumah”lanjut Shakti, ia mengambil potongan kedua pizzanya


“Tadi bapak cerita soal bibi”


“Ah iya, itu bibi yang datang di siang hari, dia


bantu masak, kadang-kadang mencuci tapi biasanya aku kerjakan sendiri, atau


melap-lap debu, seringnya sih bibi datang untuk tidur siang di taman depan”


ceritanya lalu tergelak, membuat April ikut tertawa


“Aku terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, ada robot


vacuum, mesin cuci tinggal pencet, cuci piring tinggal pencet”Shakti membuka


kaleng sodanya lalu meminumnya


“Anyway toilet ada di dekat ruang kerja, tapi untuk


bath and shower, kita harus berbagi di kamarku, we will find a way”katanya


enteng lalu mengambil potongan pizza ketiganya


“Makasi ya pak, mau nampung aku disini” April


menunduk mengaduk mangkuknya yang kosong


“No problem” Shakti lalu menyendok lagi bubur ke


mangkuk April, memintanya melanjutkan makan


“Ngomong-ngomong bibi, aku harus cancel dia masuk


besok selama kamu ada disini” Shakti lalu mengambil ponselnya dan mengetik

__ADS_1


pesan


“Kenapa pak?”April heran,


“Keluargaku tuh…”Shakti menjeda kata-katanya sebentar


menimbang apakah ia akan bercerita pada April atau tidak, ia menatap mata April


dan sedetik kemudian memutuskan untuk bercerita,


Shakti mengambil posisi nyaman di atas karpet,


mengambil bantal di atas sofa dan bersandar ke kaki sofa dengan bantal di


punggungnya


“Alasan kenapa kamu aku interview disini bukan di


office adalah karena keluargaku, dan mantan pacarku yang sekarang menjadi


direktur di PT. Sigma. Sejak aku meng-IPO kan PT utama dan mengembangkan


perusahaan, mereka tidak membiarkanku bebas bergerak. Ayah dan kakak-kakak-ku


takut aku mengambil alih perusahaan. Mereka tidak percaya saat aku bilang aku


hanya ingin perusahaan berkembang, karena pikirku semua yang aku usahakan,


keuntungan dan yang lainnya akan kembali ke keluarga juga kan, tapi mereka


pikir aku punya hidden agenda di balik  rencana-rencanaku” Shakti berhenti sebentar lalu menyesap soda nya


“Ruang gerak ku dipersempit, walaupun pembagian saham


tidak berubah, tapi aku hanya dibagi project yang kecil. Semua ide-ideku


diambil alih kakak-kakakku, jadwalku penuh dengan mengunjungi satu art


exhibition ke art exhibition lain, dalam dan luar negri. Awalnya aku menikmatinya,


lalu aku sadar mereka menekan eksistensiku di perusahaan”Shakti meraih lagi


sepotong pizza


“Sebelum pindah kesini, aku dan kakak-kakakku


masing-masing diberi rumah dan apartment oleh ayah, tapi kami betul-betul


didikte oleh ayah. Perusahaan mana yang bisa kami atur, langkah apa saja yang


bisa kami ambil untuk perusahaan, kami harus makan dengan siapa, berhubungan


dengan siapa, pacaran dengan siapa. Terlebih ayah sangat curiga aku akan


mengambil alih kekuasaannya, ia jadi extra hati-hati denganku, kakak-kakakku


senang dengan kendaraan, makin langka makin mahal makin cepat makin mereka


suka, aku sendiri senang dengan kebebasan. Maka aku memilih keluar dari


pengaruh keluargaku dan memilih dibenci oleh mereka, tapi dengan aku keluar


rumah mereka merasa lebih aman, mereka berfikir aku akan bisa lebih mudah


dijauhkan”


“Tapi ternyata tidak, aku masih bisa mengembangkan


perusahaan, expansi, dan anak perusahaan yang kuurus semua berkembang dengan


baik”


“Tapi menurutku aneh pak, bukankah kalau  perusahaan berkembang artinya baik, laba


bertambah, keuntungan bertambah?”tanya April aneh, keluarga Shakti ini sungguh


aneh


“Mereka senang dengan keuntungannya, ekspansinya,


tapi dia takut padaku dan ide-ideku tidak bisa mereka tebak, aku sulit diatur,


makanya mereka memilih untuk mengerdilkan ruang lingkupku, mereka takut aku


mengambil kekayaan dan kekuasaan mereka”jawab Shakti


“Tapi bapak tidak berniat seperti itu kan?”


“Sayangnya, apapun yang aku katakan tidak membuat


mereka percaya kalau aku melakukannya bukan untuk mengambil takhta mereka”


wajah Shakti terlihat sedih


“Lalu datanglah perempuan ini, mantan pacarku Nania


yang memanfaatkan aku agar menjadi Direktur perusahaan, aku yang bodoh tidak


melihat bahwa aku dimanfaatkan. Nania melihat kesempatan untuk mendapatkan


jabatan itu setelah tau keluargaku berusaha menyingkirkanku. Nania dan Kakak


keduaku Juna membuat kesepakatan, kalau ia menjadi direktur di PT. Sigma, Nania


akan membuat jadwalku sangat padat untuk mengunjungi art exhibition di seluruh


dunia, dan saat itu bodohnya aku…”


“Menikmatinya…Bapak terlalu baik kayanya pak” April


menyelesaikan kata-kata Shakti, Shakti tergelak


“Iya kayanya” Shakti setuju


“Di kantor aku tidak bisa tertawa seperti ini, saat


aku terlihat senang mereka pasti akan melakukan sesuatu, jadi aku pergi ke


kantor dengan wajah murung dan tertekan, yaaaa walaupun itu mudah saja


kulakukan karena aku memang tertekan disana tidak bebas sama sekali. Nania


betul-betul mengambil alih semua operasional. Sekretaris yang dipilih olehnya


akan melaporkan pergerakanku sekecil apapun. Dan semua Departemen head juga


karyawan, sangat takut dan tunduk pada Nania. Aku tidak bisa mengecek laporan,


membuat plan, mengecek operasional tanpa dipersulit oleh Nania”lanjutnya


“Lalu aku berfikir apa aku membuat rumahku menjadi


kantor aja, aku bisa bekerja remote, mengembangkan perusahaan atau bahkan


membuat PT baru jika lagi-lagi ruang lingkupku dipersempit, toh jika disini tak


ada satupun yang bisa mengganggu atau menyabotase”April mengangguk terus


mendengarkan


"Bibi, dan pak Tedi adalah orang pilihan


keluargaku, jadi kalau aku ketauan menginapkan kamu dirumah, bisa bahaya, kamu


bisa disabotase. Tadi pun pun Andra bilang pada bibi, interview di rumah karena


jadwalku padat, dan harus ke acara keluarga di sore hari. Aku pulang lebih awal


dari acara, dengan alasan ada acara lain, mereka sih senang bisa membicarakan


akau. Untungnya setelah mengantarku pulang Tedi balik lagi ke hotel menunggu


perintah Ayah selanjutnya, jadi bisa kutitipi bubur yang kamu makan ini” Shakti


mengendik pada bubur seafood yang sedang dinikmati April


“Andra setuju membantuku, tapi tidak di lingkungan


kantor, kebetulan aku satu sekolah dengannya saat SMA, hanya dia yang bisa aku


percayai di kantor, itupun ia dengan terpaksa tidak bisa terang-terangan membantuku,


Nania memecat semua orang yang mendukungku, walaupun Andra sangat loyal, aku


masih perlu dia terlihat loyal pada Nania juga”


“Jadi kaya double agent ya pak?” Shakti mengangguk


mengiyakan


“Jadinya kalau kamu disini, Nania ataupun keluargaku


tidak bisa mempengaruhimu”kata Shakti, kini April akhirnya mengerti sepenuhnya,


alasan ia interview di rumah Shakti, dan latar belakang keluarganya. Ternyata


keluarga kaya dengan segala privilegenya masalahnya lebih rumit daripada


keluarga pada umumnya.


“Aku ditipu mantan pacar dan sahabatku” April


tiba-tiba bercerita tanpa diminta, ia merasa memiliki keharusan menceritakan


kisahnya pada Shakti yang membantunya. Walau Shakti sebetulnya tidak perlu


penjelasan apapun tentang apa yang terjadi pada hidup April hingga jadi seperti


ini, ia mendengarkan dengan seksama.


"Aku bekerja sebagai sekretaris di sebuah kantor


berbasis perbankan, 3 tahun lamanya aku memulai karir dari admin sampai menjadi


sekretaris, mendapatkan pacar seorang manager, dan sahabatku waktu itu posisinya


sebagai brand development manager. Singkatnya mereka berdua ternyata pacaran di


belakangku, saat aku mengetahuinya mereka sedang mempersiapkan pernikahan. Uang


yang mereka gunakan untuk menikah ternyata berasal dari dana perusahaan yang


sahabatku gelapkan. Aku mengetahuinya dan melaporkannya ke perusahaan. Namun


kondisi malah berbalik, mereka membuat seolah-olah aku yang melakukan


penggelapan, mereka memalsukan tanda tangan, dan data diriku yang tentu saja


sahabat dan pacarku tahu. Aku kalah di hadapan polisi, perusahaan memintaku


untuk mengembalikan semua uang yang katanya aku gelapkan, atau aku dipenjara 8


tahun. Motor, alat elektronik, tas, pakaian bermerek sampai catokan rambut


semuanya kujual. Hanya ini yang kupunya pak” April menunjuk dus berisi buku,


dokumen, pernak pernik, dan  satunya


berisi piring dan gelas plastic, yang terlihat dari restoran pesan antar, juga


sekeresek pakaian.


“Berbulan-bulan aku mencari pekerjaan, nampaknya


status buruk-ku menyebar di kantor-kantor tempatku melamar, walalupun berusaha


mengirit hanya makan dua hari sekali, tapi uangku akhirnya benar-benar habis


beberapa hari yang lalu, aku hanya punya sebotol air mineral, itu pun minta


dari gallon ibu kost”kata April  sambil


menunduk, ia ingin menangis namun kepalanya terasa sangat pening


“Aku menebak Pak Andra tidak menelepon HR kantorku


sebelumnya untuk background checking, makanya aku dipanggil interview” ujar


April


“Andra selalu melakukan background check paling


akhir, agar tidak mengganggu penilaiannya. Dan menurutnya, kamu kandidat


terbaik yang ia interview sejauh ini” jelas Shakti.


“Syukurlah” kata April


“Terus, mantan pacar dan sahabat kamu ada beritanya


lagi?”


“Entah pak, aku tidak bisa melawan, balas dendam juga


tidak bisa, aku tidak ada keluarga juga yang bisa menampung, Orang tuaku sudah


meninggal, aku tidak kenal keluarga ayah ataupun ibu jadi ya, inilah”April


berusaha tersenyum. Shakti juga tersenyum


“Kamu perempuan kuat Pril…kamu aku terima jadi


sekretarisku ya”Shakti lalu menyodorkan tangannya yang disambut oleh April,


mereka lalu berjabat tangan.


“Terima kasih pak” ucap April tulus.


“Sekarang kamu istirahat, besok kita urus


dokumen-dokumen kamu” pinta Shakti.


Mereka lalu membereskan bekas makanan, Shakti lalu


membiarkan April agar merasa nyaman. Setelah Shakti masuk ke kamar, April


mengganti pakaiannya dengan kaus longgar besarnya yang biasa dipakainya untuk


tidur, mematikan beberapa lampu, menyelinap di bawah duvet yang hangat dan sofa


yang empuk lalu terlelap.


-It’s Getting Better-

__ADS_1


__ADS_2