
April terbangun di sofa, jam di dinding menunjukkan
pukul 5 pagi, di sekitarnya banyak kertas-kertas berserakan. Ia pun melihat
Shakti meringkuk di ujung sofa berselimut throw blanket tipis. Semalam mereka
melanjutkan pekerjaan hingga dini hari. Nampaknya April dan Shakti sama-sama
tertidur karena kelelahan. Untungnya semua yang mereka butuhkan sudah terangkum
sempurna.
April mengambil kesempatan ini untuk segera mandi dan
membereskan kertas-kertas yang berserakan.
Pukul 6 Shakti terbangun. Ia melihat April sedang
menyusun summary yang meraka buat semalaman. April pun sudah mandi dan
menggunakan pakaian kerja. Pakaian yang sama yang digunakannya saat interview 3
hari yang lalu.
“Kamu udah mandi Pril, bangun jam berapa?” tanya
Shakti sambil memasang kacamatanya dan menggaruk rambutnya yang kusut
“Sudah pak, tadi bangun jam 5. Bapak mau dibuatkan
sarapan?”April menawarkan
“Kopi dan roti saja, aku agak tengang menuju meeting
hari ini, perutku kurang nyaman” jelas Shakti. April mengerti lalu mulai
membuatkan kopi dan French toast sementara Shakti mandi dan berganti pakaian.
Tak berapa lama Shakti keluar dari kamar, ia
menggunakan kemeja kotak-kotak kuning merah, jaket bomber, celana abu kain
potongan standard dan sepatu coklat bata yang ujungnya panjang berbentuk kotak.
April terbelalak, akhirnya April harus mengakui kalau selera berpakaian Shakti
sangaat buruk. Tapi komentar itu hanya disimpannya dalam hati.
“Kamu bikin French toast?”tanyanya sambil melirik
meja makan
“Iya pak, sudah ada info pak meeting dimulai pukul
berapa?”tanya April
“ Jam 8, Nania benar-benar ngga pengen aku ikut
meeting ini makanya meetingnya dibuat sepagi mungkin” kata Shakti. Sambil
mempersilahkan Shakti makan, April memperlihatkan summary yang mereka buat
semalaman yang sudah diketiknya dengan rapi. Semua report di susun rapi di
dalam map berurut sesuai tanggal.
“Kamu udah makan?”tanya Shakti selesai makan, sambil
memasukkan piringnya ke mesin pencuci piring
“Sudah pak, sudah makan obat juga” jawab April sigap
“Oke, kalau gitu setengan jam lagi kita berangkat ke
kantor” ujar Shakti
April mengangguk lalu membereskan living room.
Merapikan barang-barangnya di sudut ruangan. Menyalakan robot pengepel lantai
dan menyalakan mesin pencuci piring.
“Udah gapapa, nanti kita panggil bibi aja buat
beresin” kata Shakti
“Bapak gapapa memang masih ada barang-barang aku
disini kalau bibi dateng?”tanya April
“Oiya, sini, bawa barang-barang kamu ke kamarku”kata
Shakti, ia pun menenteng 2 dus sekaligus. Barang-barang April dimasukkan salah
satu lemari di sudut yang lumayan lengang, lemari itu pun dikunci, dan kuncinya
diserahkan pada April
“Aman, nanti pulangnya kita cari kost untuk kamu”kata
Shakti
“Makasi banyak Pak”.
Jalanan ibu kota pagi itu macet seperti
biasa,untunglah April dan Shakti berangkat lebih awal. Pukul 7.45 mereka sampai
di gedung PT. Sigma Abadi Sentosa. Gedung dengan 34 lantai yang baru beroperasi
5 tahun ini sangat megah bersandingan dengan gedung-gedung pencakar langit lain
di jantung ibu kota. Shakti memarkirkan mobil tuanya di parkiran khusus direksi
di depan pintu masuk. Sebuah Mercedes Benz E-Class berwarna hitam, Ferrari
berwarna merah terang, Porsche Cayenne GT kuning terang, Lamborghini kuning
terang, dan Roll Royce ghost berwarna hitam metallic berjajar rapi di parkiran.
Civic hitam milik Shakti sangat menonjol disana,terlihat sangat lusuh di
deretan mobil-mobil luxury nan mahal. Shakti menyadari pandangan takjub April
melihat mobil-mobil yang diparkir di hadapannya
“Seluruh keluarga sudah berkumpul” katanya lalu
berjalan menuju kantor. Security yang melihat Shakti dan April buru-buru
membukakan pintu dan tersenyum lebar
“Selamat pagi Pak Shakti” katanya lantang dan sigap,
__ADS_1
Shakti balik tersenyum lalu mengangguk. Di dalam setiap karyawan yang melintas
menyapa Shakti bergantian sambil tersenyum. Begitu juga dengan karyawan yang
satu lift dengan Shakti dan April. Mereka turun di lantai 30, disitulah ruangan
Shakti berada, lantai itu sendiri sebetulnya adalah lantai khusus ruang
direksi, namun hanya Shakti yang datang kesana, karena Arjuna dan Nania
memiliki ruangan lagi di lantai 33 dekat dengan meeting room. Jadi lantai itu
kosong, bahkan tidak ada security. Meja Sekretaris di foyer pun kosong. Shakti
tidak mengindahkan lalu masuk ke ruangannya. Ia menyalakan AC, membuka tirai
jendelanya yang otomatis lalu duduk di kursi di balik meja besar. April sendiri
duduk di sofa panjang di sisi ruangan. Semua peralatan dan perlengkapan di
ruangan itu terlihat baru, nampaknya karena memang Shakti jarang memakainya,
dan jarang juga orang berkunjung kesini.
“Sekretaris bapak dimana pak?”tanya April
“Pasti di lantai 33 dengan Nania, dia dan Juna punya
ruangan lagi di lantai itu dekat dengan meeting room, practically Cuma aku yang
ada di lantai ini biasanya” jawabnya
“Tapi kan itu sekretaris bapak”tegas April
“Iya, tapi dia boneka nya Nania, kalau Nania ngga
suruh turun kesini, dia ngga akan turun” kata Shakti
“Tapi aku heran, ada apa dengan hari ini, kenapa
semua orang menyapa aku ya, biasanya paling Cuma security atau orang yang
kebetulan satu lift aja, tapi ini semua orang lho nyapa” kata Shakti heran
“Kayanya akibat kiriman pizza bapak semalam pak,
memangnya kantor ngga pernah bagi-bagi makanan sebelumnya, atau outing
karyawan, atau townhall gitu, kumpul karyawan sekantor?”tanya April
“Ngga, aku ingat Andra berkali-kali mengajukan soal
kesejahteraan karyawan ini, tapi selalu ditolak Nania, saat aku coba tekankan
pentingnya hal ini ke dia pun, Nania cuma bilang ini keputusan Board of
directors, keputusan Ayah dan kakak-kakakku katanya begitu”
“Pantes aja mereka seneng banget padahal Cuma dikasih
pizza doang” ujar April. Lalu Shakti mengajak April menuju meeting room di
lantai 33, karena sudah hampir pukul 8. Begitu keluar lift April disambut
dengan lorong dengan dinding kaca di kanan kiri. Lantai 33 ini lantai khusus
untuk meeting, ada 8 ruang meeting berbagai ukuran disekat kaca tebal kedap
melihat Shakti melintas lagi-lagi para karyawan menghentikan pekerjaannya untuk
menyapa. Shakti tersenyum sambil membalas sapaannya. Siapa yang tau berbagi
pizza bisa membuat perubahan sebesar itu bagi karyawannya.
Di bagian sebelah utara terdapat ruangan yang
terpisah dari meeting room lain menggunakan pintu otomatis, itu adalah ruangan
Nania dan Juna. 2 resepsionis cantik berpakaian rapi dan modis menyambut Shakti sambil tersenyum, Shakti dan April lalu
berbelok ke kiri masuk ke ruangan yang lebih besar dimana ada 3 sekretaris yang
sedang kalang kabut merapikan berkas di mejanya untuk meeting di hari itu. Dari
dinding kaca terlihat seorang pria sedang berdebat dengan seorang wanita. Di
pintu ruangan itu tertulis nama Nania Ecclessia Tanue – Direktur. Saat
berpaling ke ruangan seberangnya terdapat tulisan Arjuna Nayaka Maheswara –
CEO. April lalu melihat beberapa orang
keluar dari service lift sambil mendorong setrolley penuh makanan dan minuman
untuk coffee break, dari dus nya April bisa melihat kue-kuenya dibeli di salah
satu hotel chain internasional
“Kalau aku sih bakalan beli di bakery, lebih unik dan
enak” tiba-tiba terbersit di pikiran April.
Makanan itu
lalu didorong ke sebuah ruangan cukup besar, dengan meja besar panjang di
tengahnya, proyektor canggih di salah satu sisi, berderet-deret kursi direktur
yang nyaman mengelilingi meja itu dan sudah ada banyak orang di dalamnya.
Shakti mengajak April memasuki ruangan itu
“Siapa itu?” tersengar suara lantang dari seberang
ruangan saat April hendak memasuki meeting room. Shakti dan April berputar
mencari sumber suara. Nania berdiri di depan pintu ruangannya sambil berkacak
pinggang. Nania, perempuan ambisius berumur 34 tahun lulusan salah satu
perguruan tinggi swasta elit di Indonesia. Tubuhnya tinggi jenjang, seperti
model, jika disandingkan dengan April yang mungil pasti terlihat sangat mencolok.
Rambutnya panjang sepunggung berwarna coklat keemasan, hasil cat di salah satu
salon ternama di Thailand. Wajahnya cantik, blasteran Indonesia, Belanda dan
China. Matanya bulat tajam, hidungnya mancung, bibirnya merekah ranum, terpoles
make up dengan sempurna. Kulitnya putih tanpa cela dengan balutan setelan Gucci
berwarna pink terang. Setelan Gucci itu booming karena dipakai salah satu tokoh
__ADS_1
antagonis drama korea yang sedang tayang di Indonesia. Dilengkapi Dior
slingback pump berwarna putih sungguh tampilan yang sangat sempurna.
“Sekretaris baruku” jawab Shakti, mendengar jawaban
Shakti, April bisa merasakan keseganannya terhadap Nania. Padahal kenapa harus
segan, Nania bisa dibilang posisinya adalah bawahannya di perusahaan
“Kenapa bisa kamu dapat sekretaris baru?”suaranya
menggelegar. Ketiga sekretaris yang sedang sibuk bekerja menatap mereka berdua
bergantian, terutama satu sekretaris berambut pirang yang wajahnya memucat,
April menebak, itulah sekretaris Shakti yang sebenarnya. Belum sempat menjawab
terdengar suara keras dari dalam meeting room
“Ayo mulai, jadwal kita padat ini” suaranya keras dan
serak, April menebak itu suara Robby Maheswara, ayah Shakti
Nania dan 3 sekretaris di ruangan buru-buru masuk ke
meeting room
“Pokonya kamu ngga boleh masuk!” tegas Nania sambil
mendorong April menjauh dari pintu meeting room. Shakti hanya mengangguk, ia
meminta April menunggu di kursi yang menghadap ke meeting room. Lalu pengantar
makanan yang tadi membawa trolley berlarian keluar dan pintu meeting room pun
ditutup.
Walau begitu karena dinding meeting room seluruhnya
terbuat dari kaca, dari tempat April duduk ia bisa melihat dengan jelas apa
yang terjadi didalam meeting room. Walaupun ia tidak bisa mendengar suaranya
dengan jelas, tapi April bisa mengira-ngira apa yang orang-orang di dalam
katakan. Meeting dimulai dengan laporan dari setiap departemen. Karena sudah
membuat summary tadi malam, April tahu persis isi laporan itu. Jadi ia memilih
memperhatikan orang-orang di dalam ruang Meeting.
Orang yang duduk persis di pucuk meja, bersebrangan
dengan layar proyektor adalah Robby Maheswara, April mengenalinya dari foto
yang dipasang di memoir nya. Sambil menggoogle nama-nama kakak Shakti ia
mencocokkan wajah-wajah mereka dengan orang-orang yang duduk di meeting room.
Arby sebagai kakak pertama duduk di sisi kanan Robby, lalu Rezha di samping
Arby. Di sisi kirinya ada Juna anak ke dua Robby tapi di sampingnya bukannya
Shakti, melainkan Nania. Shakti duduk bergabung dengan para Manager. Pakaian
mereka pun mencolok. Robby, Arby, Rezha, dan Juna semuanya menggunakan batik.
Para managers menggunakan jas rapi, hanya Shakti saja yang penampilannya
berbeda dengan yang lainnya. Apakah itu karena ia memang berjiwa rebellious?
Sesekali para sekertaris yang menjadi moderator
bergantian membantu para managers menjelaskan laporan mereka. Hanya satu
sekretaris berambut pirang yang berkali-kali mencuri pandang pada April.
Nampaknya ia takut posisinya diambil alih oleh April. April memandangi ketiga
sekretaris itu cukup lama. Pakaian mereka sangat fashionable, April mengenali
blazer keluaran Zara dan The Executive yang mereka pakai. Sekilas April juga
melihat tas branded Coach, Michael Kors dan Fossil di meja mereka saat mereka
sedang bekerja tadi. April memeluk tas kulit lusuhnya. Tas 50 ribuan yang
dibelinya di Pasar Senen setelah menjual 8 tas brandednya untuk membayar ke
kantor lamanya. Pakaiannya yang ia pakai sekarang pun hasil thrift di pasar
senen. Kemeja Crocodile seharga 20.000 rupiah, Celana tom ford 25.000 rupiah yang
mulai bladus karena terlalu sering dipakai, dan blazer zara woman seharga
40.000 rupiah yang sebetulnya ukurannya kebesaran 2 nomor. Hanya sepatunya saja
yang tidak dibeli di thrift shop. Ini sepatu buccheri yang menemaninya dari
awal bekerja, satu-satunya yang tahan banting dan tidak bisa dijual juga karena
merek local.
Meeting lalu berlanjut ke pembahasan untung rugi
perusahaan, April mencatat beberapa poin penting yang dijelaskan di layar
proyektor. Lalu suasana memanas, karena Shaki menanyakan beberapa hal. Terjadi
perdebatan antara Shakti, Nania dan Juna. April melihat Andra yang duduk di
ujung meja tersenyum sedikit. Nampaknya Shakti menang dalam perdebatan
ini. Lalu terlihat Robby berbicara yang
disambut lagi-lagi oleh Nania, Juna dan Shakti. Nania terlihat marah sampai ia
berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Juna. Shakti terus membalas sambil
duduk di kursinya menghadap mereka berdua sambil terlihat tersenyum. April bisa
melihat Nania dan Juna semakin berang, lalu menunjukki Shakti. Robby akhirnya
menggebrak meja, menghentikan perdebatan. Mereka lalu satu per satu keluar dari ruangan. Shakti mendekati April
dengan wajah sumringah
“Ayo kita makan siang, aku traktir makanan yang
paling enak” katanya sambil mengajak April turun ke lantai dasar.
-It’s Getting Better-
__ADS_1