Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Warzone


__ADS_3

April terbangun di sofa, jam di dinding menunjukkan


pukul 5 pagi, di sekitarnya banyak kertas-kertas berserakan. Ia pun melihat


Shakti meringkuk di ujung sofa berselimut throw blanket tipis. Semalam mereka


melanjutkan pekerjaan hingga dini hari. Nampaknya April dan Shakti sama-sama


tertidur karena kelelahan. Untungnya semua yang mereka butuhkan sudah terangkum


sempurna.


April mengambil kesempatan ini untuk segera mandi dan


membereskan kertas-kertas yang berserakan.


Pukul 6 Shakti terbangun. Ia melihat April sedang


menyusun summary yang meraka buat semalaman. April pun sudah mandi dan


menggunakan pakaian kerja. Pakaian yang sama yang digunakannya saat interview 3


hari yang lalu.


“Kamu udah mandi Pril, bangun jam berapa?” tanya


Shakti sambil memasang kacamatanya dan menggaruk rambutnya yang kusut


“Sudah pak, tadi bangun jam 5. Bapak mau dibuatkan


sarapan?”April menawarkan


“Kopi dan roti saja, aku agak tengang menuju meeting


hari ini, perutku kurang nyaman” jelas Shakti. April mengerti lalu mulai


membuatkan kopi dan French toast sementara Shakti mandi dan berganti pakaian.


Tak berapa lama Shakti keluar dari kamar, ia


menggunakan kemeja kotak-kotak kuning merah, jaket bomber, celana abu kain


potongan standard dan sepatu coklat bata yang ujungnya panjang berbentuk kotak.


April terbelalak, akhirnya April harus mengakui kalau selera berpakaian Shakti


sangaat buruk. Tapi komentar itu hanya disimpannya dalam hati.


“Kamu bikin French toast?”tanyanya sambil melirik


meja makan


“Iya pak, sudah ada info pak meeting dimulai pukul


berapa?”tanya April


“ Jam 8, Nania benar-benar ngga pengen aku ikut


meeting ini makanya meetingnya dibuat sepagi mungkin” kata Shakti. Sambil


mempersilahkan Shakti makan, April memperlihatkan summary yang mereka buat


semalaman yang sudah diketiknya dengan rapi. Semua report di susun rapi di


dalam map berurut sesuai tanggal.


“Kamu udah makan?”tanya Shakti selesai makan, sambil


memasukkan piringnya ke mesin pencuci piring


“Sudah pak, sudah makan obat juga” jawab April sigap


“Oke, kalau gitu setengan jam lagi kita berangkat ke


kantor” ujar Shakti


April mengangguk lalu membereskan living room.


Merapikan barang-barangnya di sudut ruangan. Menyalakan robot pengepel lantai


dan menyalakan mesin pencuci piring.


“Udah gapapa, nanti kita panggil bibi aja buat


beresin” kata Shakti


“Bapak gapapa memang masih ada barang-barang aku


disini kalau bibi dateng?”tanya April


“Oiya, sini, bawa barang-barang kamu ke kamarku”kata


Shakti, ia pun menenteng 2 dus sekaligus. Barang-barang April dimasukkan salah


satu lemari di sudut yang lumayan lengang, lemari itu pun dikunci, dan kuncinya


diserahkan pada April


“Aman, nanti pulangnya kita cari kost untuk kamu”kata


Shakti


“Makasi banyak Pak”.


Jalanan ibu kota pagi itu macet seperti


biasa,untunglah April dan Shakti berangkat lebih awal. Pukul 7.45 mereka sampai


di gedung PT. Sigma Abadi Sentosa. Gedung dengan 34 lantai yang baru beroperasi


5 tahun ini sangat megah bersandingan dengan gedung-gedung pencakar langit lain


di jantung ibu kota. Shakti memarkirkan mobil tuanya di parkiran khusus direksi


di depan pintu masuk. Sebuah Mercedes Benz E-Class berwarna hitam, Ferrari


berwarna merah terang, Porsche Cayenne GT kuning terang, Lamborghini kuning


terang, dan Roll Royce ghost berwarna hitam metallic berjajar rapi di parkiran.


Civic hitam milik Shakti sangat menonjol disana,terlihat sangat lusuh di


deretan mobil-mobil luxury nan mahal. Shakti menyadari pandangan takjub April


melihat mobil-mobil yang diparkir di hadapannya


“Seluruh keluarga sudah berkumpul” katanya lalu


berjalan menuju kantor. Security yang melihat Shakti dan April buru-buru


membukakan pintu dan tersenyum lebar


“Selamat pagi Pak Shakti” katanya lantang dan sigap,

__ADS_1


Shakti balik tersenyum lalu mengangguk. Di dalam setiap karyawan yang melintas


menyapa Shakti bergantian sambil tersenyum. Begitu juga dengan karyawan yang


satu lift dengan Shakti dan April. Mereka turun di lantai 30, disitulah ruangan


Shakti berada, lantai itu sendiri sebetulnya adalah lantai khusus ruang


direksi, namun hanya Shakti yang datang kesana, karena Arjuna dan Nania


memiliki ruangan lagi di lantai 33 dekat dengan meeting room. Jadi lantai itu


kosong, bahkan tidak ada security. Meja Sekretaris di foyer pun kosong. Shakti


tidak mengindahkan lalu masuk ke ruangannya. Ia menyalakan AC, membuka tirai


jendelanya yang otomatis lalu duduk di kursi di balik meja besar. April sendiri


duduk di sofa panjang di sisi ruangan. Semua peralatan dan perlengkapan di


ruangan itu terlihat baru, nampaknya karena memang Shakti jarang memakainya,


dan jarang juga orang berkunjung kesini.


“Sekretaris bapak dimana pak?”tanya April


“Pasti di lantai 33 dengan Nania, dia dan Juna punya


ruangan lagi di lantai itu dekat dengan meeting room, practically Cuma aku yang


ada di lantai ini biasanya” jawabnya


“Tapi kan itu sekretaris bapak”tegas April


“Iya, tapi dia boneka nya Nania, kalau Nania ngga


suruh turun kesini, dia ngga akan turun” kata Shakti


“Tapi aku heran, ada apa dengan hari ini, kenapa


semua orang menyapa aku ya, biasanya paling Cuma security atau orang yang


kebetulan satu lift aja, tapi ini semua orang lho nyapa” kata Shakti heran


“Kayanya akibat kiriman pizza bapak semalam pak,


memangnya kantor ngga pernah bagi-bagi makanan sebelumnya, atau outing


karyawan, atau townhall gitu, kumpul karyawan sekantor?”tanya April


“Ngga, aku ingat Andra berkali-kali mengajukan soal


kesejahteraan karyawan ini, tapi selalu ditolak Nania, saat aku coba tekankan


pentingnya hal ini ke dia pun, Nania cuma bilang ini keputusan Board of


directors, keputusan Ayah dan kakak-kakakku katanya begitu”


“Pantes aja mereka seneng banget padahal Cuma dikasih


pizza doang” ujar April. Lalu Shakti mengajak April menuju meeting room di


lantai 33, karena sudah hampir pukul 8. Begitu keluar lift April disambut


dengan lorong dengan dinding kaca di kanan kiri. Lantai 33 ini lantai khusus


untuk meeting, ada 8 ruang meeting berbagai ukuran disekat kaca tebal kedap


melihat Shakti melintas lagi-lagi para karyawan menghentikan pekerjaannya untuk


menyapa. Shakti tersenyum sambil membalas sapaannya. Siapa yang tau berbagi


pizza bisa membuat perubahan sebesar itu bagi karyawannya.


Di bagian sebelah utara terdapat ruangan yang


terpisah dari meeting room lain menggunakan pintu otomatis, itu adalah ruangan


Nania dan Juna. 2 resepsionis cantik berpakaian rapi dan modis menyambut  Shakti sambil tersenyum, Shakti dan April lalu


berbelok ke kiri masuk ke ruangan yang lebih besar dimana ada 3 sekretaris yang


sedang kalang kabut merapikan berkas di mejanya untuk meeting di hari itu. Dari


dinding kaca terlihat seorang pria sedang berdebat dengan seorang wanita. Di


pintu ruangan itu tertulis nama Nania Ecclessia Tanue – Direktur. Saat


berpaling ke ruangan seberangnya terdapat tulisan Arjuna Nayaka Maheswara –


CEO.  April lalu melihat beberapa orang


keluar dari service lift sambil mendorong setrolley penuh makanan dan minuman


untuk coffee break, dari dus nya April bisa melihat kue-kuenya dibeli di salah


satu hotel chain internasional


“Kalau aku sih bakalan beli di bakery, lebih unik dan


enak” tiba-tiba terbersit di pikiran April.


 Makanan itu


lalu didorong ke sebuah ruangan cukup besar, dengan meja besar panjang di


tengahnya, proyektor canggih di salah satu sisi, berderet-deret kursi direktur


yang nyaman mengelilingi meja itu dan sudah ada banyak orang di dalamnya.


Shakti mengajak April memasuki ruangan itu


“Siapa itu?” tersengar suara lantang dari seberang


ruangan saat April hendak memasuki meeting room. Shakti dan April berputar


mencari sumber suara. Nania berdiri di depan pintu ruangannya sambil berkacak


pinggang. Nania, perempuan ambisius berumur 34 tahun lulusan salah satu


perguruan tinggi swasta elit di Indonesia. Tubuhnya tinggi jenjang, seperti


model, jika disandingkan dengan April yang mungil pasti terlihat sangat mencolok.


Rambutnya panjang sepunggung berwarna coklat keemasan, hasil cat di salah satu


salon ternama di Thailand. Wajahnya cantik, blasteran Indonesia, Belanda dan


China. Matanya bulat tajam, hidungnya mancung, bibirnya merekah ranum, terpoles


make up dengan sempurna. Kulitnya putih tanpa cela dengan balutan setelan Gucci


berwarna pink terang. Setelan Gucci itu booming karena dipakai salah satu tokoh

__ADS_1


antagonis drama korea yang sedang tayang di Indonesia. Dilengkapi Dior


slingback pump berwarna putih sungguh tampilan yang sangat sempurna.


“Sekretaris baruku” jawab Shakti, mendengar jawaban


Shakti, April bisa merasakan keseganannya terhadap Nania. Padahal kenapa harus


segan, Nania bisa dibilang posisinya adalah bawahannya di perusahaan


“Kenapa bisa kamu dapat sekretaris baru?”suaranya


menggelegar. Ketiga sekretaris yang sedang sibuk bekerja menatap mereka berdua


bergantian, terutama satu sekretaris berambut pirang yang wajahnya memucat,


April menebak, itulah sekretaris Shakti yang sebenarnya. Belum sempat menjawab


terdengar suara keras dari dalam meeting room


“Ayo mulai, jadwal kita padat ini” suaranya keras dan


serak, April menebak itu suara Robby Maheswara, ayah Shakti


Nania dan 3 sekretaris di ruangan buru-buru masuk ke


meeting room


“Pokonya kamu ngga boleh masuk!” tegas Nania sambil


mendorong April menjauh dari pintu meeting room. Shakti hanya mengangguk, ia


meminta April menunggu di kursi yang menghadap ke meeting room. Lalu pengantar


makanan yang tadi membawa trolley berlarian keluar dan pintu meeting room pun


ditutup.


Walau begitu karena dinding meeting room seluruhnya


terbuat dari kaca, dari tempat April duduk ia bisa melihat dengan jelas apa


yang terjadi didalam meeting room. Walaupun ia tidak bisa mendengar suaranya


dengan jelas, tapi April bisa mengira-ngira apa yang orang-orang di dalam


katakan. Meeting dimulai dengan laporan dari setiap departemen. Karena sudah


membuat summary tadi malam, April tahu persis isi laporan itu. Jadi ia memilih


memperhatikan orang-orang di dalam ruang Meeting.


Orang yang duduk persis di pucuk meja, bersebrangan


dengan layar proyektor adalah Robby Maheswara, April mengenalinya dari foto


yang dipasang di memoir nya. Sambil menggoogle nama-nama kakak Shakti ia


mencocokkan wajah-wajah mereka dengan orang-orang yang duduk di meeting room.


Arby sebagai kakak pertama duduk di sisi kanan Robby, lalu Rezha di samping


Arby. Di sisi kirinya ada Juna anak ke dua Robby tapi di sampingnya bukannya


Shakti, melainkan Nania. Shakti duduk bergabung dengan para Manager. Pakaian


mereka pun mencolok. Robby, Arby, Rezha, dan Juna semuanya menggunakan batik.


Para managers menggunakan jas rapi, hanya Shakti saja yang penampilannya


berbeda dengan yang lainnya. Apakah itu karena ia memang berjiwa rebellious?


Sesekali para sekertaris yang menjadi moderator


bergantian membantu para managers menjelaskan laporan mereka. Hanya satu


sekretaris berambut pirang yang berkali-kali mencuri pandang pada April.


Nampaknya ia takut posisinya diambil alih oleh April. April memandangi ketiga


sekretaris itu cukup lama. Pakaian mereka sangat fashionable, April mengenali


blazer keluaran Zara dan The Executive yang mereka pakai. Sekilas April juga


melihat tas branded Coach, Michael Kors dan Fossil di meja mereka saat mereka


sedang bekerja tadi. April memeluk tas kulit lusuhnya. Tas 50 ribuan yang


dibelinya di Pasar Senen setelah menjual 8 tas brandednya untuk membayar ke


kantor lamanya. Pakaiannya yang ia pakai sekarang pun hasil thrift di pasar


senen. Kemeja Crocodile seharga 20.000 rupiah, Celana tom ford 25.000 rupiah yang


mulai bladus karena terlalu sering dipakai, dan blazer zara woman seharga


40.000 rupiah yang sebetulnya ukurannya kebesaran 2 nomor. Hanya sepatunya saja


yang tidak dibeli di thrift shop. Ini sepatu buccheri yang menemaninya dari


awal bekerja, satu-satunya yang tahan banting dan tidak bisa dijual juga karena


merek local.


Meeting lalu berlanjut ke pembahasan untung rugi


perusahaan, April mencatat beberapa poin penting yang dijelaskan di layar


proyektor. Lalu suasana memanas, karena Shaki menanyakan beberapa hal. Terjadi


perdebatan antara Shakti, Nania dan Juna. April melihat Andra yang duduk di


ujung meja tersenyum sedikit. Nampaknya Shakti menang dalam perdebatan


ini.  Lalu terlihat Robby berbicara yang


disambut lagi-lagi oleh Nania, Juna dan Shakti. Nania terlihat marah sampai ia


berdiri dari duduknya, begitu juga dengan Juna. Shakti terus membalas sambil


duduk di kursinya menghadap mereka berdua sambil terlihat tersenyum. April bisa


melihat Nania dan Juna semakin berang, lalu menunjukki Shakti. Robby akhirnya


menggebrak meja, menghentikan perdebatan. Mereka lalu satu per satu  keluar dari ruangan. Shakti mendekati April


dengan wajah sumringah


“Ayo kita makan siang, aku traktir makanan yang


paling enak” katanya sambil mengajak April turun ke lantai dasar.


-It’s Getting Better-

__ADS_1


__ADS_2