Terjerat CEO Cupu

Terjerat CEO Cupu
Tergoda 2


__ADS_3

Mereka makan malam di sebuah restoran Indonesia


pilihan Shakti, dulu saat ia kecil dan keluarganya belum mencurigainya seperti


sekarang, ia dan keluarganya sering sekali makan di restoran ini. April tahu


kalau restoran ini memang terkenal di antara para old money. Para pelayan


mengenal Shakti dengan baik, Shakti bilang ia sering kesini sendirian jika


rindu dengan masa lalu.


“Nania hanya suka dibawa ke tempat Fancy, restoran


baru, hotel dengan chef terkenal, dia anti aku bawa ke tempat humble seperti


ini” jelas Shakti, lalu mereka melanjutkan makan malam.


Setelah makan, rencananya Shakti akan membawa April


ke mall, tapi ternyata sudah terlalu malam.


“Aku rencananya mau set up kamar cadangan di


perpustakaan biar kamu tidur lebih nyaman, dan ada privacy, kita juga bisa beli


perlengkapan untuk kamu kalau kamu mau”kata Shakti sambil menyetir


“ Terima kasih pak”


Walau begitu malam itu mereka tidak menemukan mall


yang masih buka. Jadi mereka kembali ke rumah.


“Kita bisa belanja besok pagi”kata Shakti setelah


memarkirkan mobilnya


“Santai aja pak, aku ngga keberatan dengan semua yang


bapak sediakan di rumah, apalagi sejauh ini aku yang sebetulnya merepotkan


bapak” kata April.


“Sebetulnya bisa dibilang aku menikmati kehadiran kamu


dirumah, walaupun merepotkan” ledek Shakti, lalu keluar dari mobil, April termenung


sesaat mendengar ucapan Shakti, mencerna apa maksudnya, April menebak


kelihatannya di dalam relung hati yang paling dalam Shakti merasa kesepian


karena dijauhi keluarganya.


‘TUK TUK’ kaca jendela diketuk Shakti mengajak April


masuk ke rumah.


April mengambil peralatan mandinya di salah satu dus.


Ia melihat Shakti mengeluarkan pakaian kering dari mesin cuci, termasuk kaus


lusuhnya yang dilipat rapi olehnya. Masalahnya semua Bra April sudah kotor, pakaian


yang ia miliki hanya sedikit, hampir semuanya dijual di loakan beberapa bulan


terakhir ini. Begitu juga dengan semua bra bermereknya yang laris terjual. Sekarang


April kehabisan bra bersih dan April harus mencuci pakaian dalamnya agar bisa


digunakan besok.


“Kamu mau mandi Pril?”tanya Shakti dari laundry room


“Iya pak”jawab April pendek,


“Ini ada handuk fresh masih anget kalau kamu mau


pakai, baju kamu juga udah kering”seru Shakti dari laundry room. April


mendatanginya lalu mengambil handuk dan kaus lusuh miliknya,


“Aku ikut mandi ya pak” Shakti tertawa mendengarnya


“Kamu kayak minta ijin sama Pak RT aja” ujarnya.


April menyadari ia terlalu kaku, tapi mau bagaimanapun, yang dihadapannya ini


adalah bosnya, setidaknya ia harus sopan.


April melucuti pakaiannya lalu menyalakan shower dan


membilas tubuhnya yang lengket karena keringat. Tiba-tiba bayangan tubuh Shakti


di bawah shower kemarin berkelebat lagi di pikirannya saat April menyabuni


tubuhnya. April menggosok rambutnya lebih keras untuk menghilangkan pikiran


itu. Ia menekankan kalau Shakti adalah bosnya, ia sudah berhutang banyak dan


merepotkan bosnya jangan sampai pikiran erotisnya membuatnya kurang ajar.


April mengeringkan diri dan menggunakan kaus


lusuhnya, ia menggunakan ****** ***** bersih, namun karena semua bra nya kotor,


malam ini ia tidak menggunakan bra. April harus mencari cara agar Shakti tidak


menyadarinya. Nanti malam saat Shakti tertidur ia akan sembunyi-sembunyi


mencucinya.


Keluar dari kamar Shakti, April menemukan Shakti


kembali sibuk dengan laptop, jurnal dan buku-bukunya


“Gimana, segar mandinya?”tanya Shakti


“Iya pak, makasi, bapak sedang mengerjakan apa pak,


ada yang bisa aku bantu?”tanya April setelah memasukkan pakaian kotornya ke


dalam keresek pakaiannya


“Aku lagi belajar mining laporan, biasanya aku dapat


laporan yang sudah jadi dan tinggal dibaca kan, nah seperti yang aku bilang

__ADS_1


kemarin, laporan yang sudah jadi itu sudah dikurasi oleh Nania, jadinya tidak


akurat dan tidak bisa kupakai datanya”jelas Shakti


“Bapak butuh data apa pak?”tanya April sambil


mendekat, ia menyambar throw blanket yang menggantung di kursi ruang makan


sambil berjalan


“Aku perlu data total per department, lalu daily


revenue, daily gross, daily nett, nah ini aku liatin contoh hasil akhirnya yang


dikasi Nania, ini tuh ngga tally sama data harian yang ada di system”Shakti


bergeser memperlihatkan layar komputernya. April melihat system yang sedang


dibuka oleh Shakti


“Aku ngga familiar juga sih sama system ini, tapi


bisa aku coba cari tau pak”ujar April, baginya tidak ada yang tidak bisa


dipelajari, asal April mau berusaha


“Oke, aku serahkan sama kamu, wait…” Shakti lalu


mengambil segelas air putih dan obat April


“Minum obat dulu, kalau terasa pusing, pening, badan


kamu ngga enak, berhenti ya, aku tinggal mandi dulu”Shakti lalu menghilang ke


dalam kamar. April bahkan lupa ia harus makan obat setelah makan. Betapa


beruntung ia memiliki bos seperhatian Shakti.


Berpuluh menit kemudian Shakti keluar dari kamarnya,


memang tidak menggunakan piyama reinassance seperti kemarin, tapi ia


menggunakan piyama polkadot kuning hitam dengan lingkaran besar-besar yang


sangat norak dilihat. April yang hanya melihat dari sudut mata pun sangat


terganggu melihat corak piyama bos nya. Ia memilih terus serius dengan


laptopnya


“Gimana Pril, ketemu?”tanya Shakti sambil


mengeluarkan dua mug dari lemari


“Ketemu pak, ini aku lagi coba bikin dummy dengan HR


daily report, soalnya kalau finance banyak banget sub reportnya”jawab April


sambil terus menekan-nekan mouse, matanya terus terpaku pada layar laptop.


Shakti yang kagum langsung mendekati  April yang bisa memecahkan masalahnya hanya


dalam waktu sebentar saja bahkan satu jam saja belum


“Gimana caranya, kamu jenius atau gimana tadi


“Aku cari di youtube pak caranya…”April lalu tertawa


kecil, tapi Shakti tidak tertawa, alih-alih ia kagum, ia saja tidak pernah


kepikiran untuk mencari solusinya dari youtube. Shakti membaca report dan


membandingkan dengan data yang diambil April dari system, hebat datanya tally.


“Kamu hebat Pril, Andra ngga salah nilai”kata Shakti


lagi-lagi merasa kagum


“Kamu bisa ajarin aku Pril?”pinta Shakti


“Boleh pak, tapi aku coba bikin summary report tiap


department dulu ya pak, kalau menurut bapak udah bener, nanti aku ajari bapak”


“Deal, tapi sekiranya memakan waktu lama kita bisa


kerjain besok ya Pril”ujar Shakti lalu menyalakan mesin kopi otomatisnya, lalu


menyimpan 1 cangkir di bawahnya, sementara cangkir satunya disimpan di bawah


mesin nespresso otomatis.


“Iya pak, kalau summary report kayanya ngga akan


makan banyak waktu pak, tinggal download terus di rumusin aja”jawab April


“Oke, kalau gitu” Shakti menyodorkan segelas minuman


coklat pada April


“Kamu minum coklat, espressonya buatku”kata Shakti,


ia tercenung sebentar lalu bergerak menuju perpustakaan


“Aku ngambil laptop lagi, biar bisa sekalian ngecheck


hasil summary kamu”katanya.


Shakti menyalakan lampu perpustakaannya, ruangan


besar itu terang benderang dalam sedetik. Ia lalu mendekati meja kerjanya yang


besar, sambil mengeluarkan kalkulator dari laci, lalu laptop yang sudah 5 bulan


tidak dipakainya karena ia menggunakan seri yang lebih baru. Shakti menenangkan


detak jantungnya yang berpacu, Shakti menerka-nerka apakah April sedang


menggodanya, tapi April begitu serius mengerjakan perintahnya saat ini dan atas


dasar apa ia menggodanya. Tapi Shakti bisa melihat dengan jelas payudara April


yang menyembul dari kaus lusuhnya, tanpa penutup apapun. Shakti menggaruk


rambut kusutnya, menghilangkan pikiran erotis itu dari kepalanya. Ia yakin ini


adalah sebuah kesalah pahaman, dan perempuan yang baru dikenalnya ini tak

__ADS_1


mungkin secara terang-terangan menggodanya.


Shakti menghela nafas panjang dan menyimpulkan jika


ia meneruskan pekerjaannya dengan April malam ini, sesuatu pasti akan terjadi.


Shakti mematikan lampu perpustakaan lalu berjalan


menuju dapur. Siluet punggung April terlihat cantik di temaram lampu dapur,


karena yang dinyalakan hanya lampu di atas meja makan, sementara throw blanket


yang tadi menyelimuti tubuh April sudah jatuh ke lantai, nampaknya April tidak


menyadarinya karena terlalu serius bekerja


“Pril, kayanya kita lanjutkan besok pagi aja,


habiskan coklat kamu”pinta Shakti sambil menyimpan laptop dan kalkulator di


meja makan


“Tapi pak, ini kayanya kekejar kok, sebentar lagi,


aku juga belum ngantuk”jawab April, karena memang pekerjaannya sebentar lagi


selesai, lagi pula kopi Shakti belum diminum, kenapa ia sangat terburu-buru.


“Besok aja” Shakti lalu membuang kopinya ke


washtafel, membilasnya lalu memasukkannya ke mesin pencuci piring, semuanya ia


lakukan tanpa melirik April sama sekali. April ketakutan, nampaknya ia telah


melakukan kesalahan yang membuat Shakti marah. Ia pun lalu menghabiskan


coklatnya, menyimpan hasil pekerjaannya di laptop lalu mematikannya. Sementara


Shakti mengambil gelas kosong April, membilasnya dan memasukkannya ke dalam


mesin pencuci piring. April semakin takut, walaupun ia tidak tahu apa


kesalahannya. April lalu segera berjalan menuju sofa tempatnya tidur malam ini


“Ada seprai baru di laundry room, biar tidur kamu


lebih nyaman” ujar Shakti, April berlari ke laundry room seperti yang


diperintahkan Shakti, sementara Shakti mengambil gelas dan meminum air putih


banyak-banyak menghilangkan bayangan payudara April yang naik turun saat ia


berlari. Oh betapa pikiran erotis ini mengganggunya.


April membawa seprai baru dan sarung bantal baru dari


laundry room, dengan cepat mengganti seprainya dan mengembalikan seprai kotor


ke laundry room, memasukkannya ke keranjang dan kembali ke living room untuk


berbaring. Shakti sendiri sudah menghilang dari dapur, nampaknya sudah masuk ke


kamar. April sangat takut dengan Shakti yang tiba-tiba berubah sikap. Ia akan


menunggu beberapa menit lagi lalu mencuci pakaian dalamnya.


Shakti sendiri berbaring terlentang di ranjangnya,


menenangkan diri. Gairahnya membuncah, ia tidak pernah tidur dengan Nania,


pacarnya selama bertahun-tahun. Nania selalu memiliki alasan untuk


menghindarinya, menghindari bermesraan dengannya. Padahal Shakti selalu


melakukan apapun yang diminta Nania, apapun…bahkan Shakti yang sekarang ini


adalah Shakti buatan Nania, mulai dari tempat makan, sampai ****** ***** semua


Nania yang mengatur. Shakti bukan terlalu baik seperti yang April katakan


padanya, ia hanya tulus sayang pada Nania. Sayangnya untuk Nania, ia hanya batu


loncatan untuk menjadi Direktur. Kini bahkan Shakti ragu apakah sejak awal


Nania memang pernah menyukainya.


Terdengar suara dari laundry room, Shakti


menebak-nebak apakah April mencuci seprainya malam-malam seperti ini. Atau


April mencuci untuk mengaburkan suara tangisnya. Shakti sangat sadar tadi ia


terlalu ketus pada April, semata-mata Shakti menahan diri agar tidak menarik


April ke pelukannya dan menjamahnya. Shakti berjanji ia akan meminta maaf besok


pagi.


Shakti tiba-tiba terbangun sambil terbatuk-batuk, ia


tak sadar tertidur pulas. Shakti berjalan keluar kamar. Ruangan temaram, lampu


yang menyala hanya di atas meja makan dan di laundry room, Shakti melirik April


yang tidur lelap di sofa, duvetnya lagi-lagi tersingkap, di penerangan minimum


ini Shakti bisa melihat lekukan tubuh April di balik kaus lapuknya yang tipis.


Shakti buru-buru menuju dapur mengambil segelas air untuk membasahi


kerongkongannya yang kering. Sambil menggenggam gelasnya yang kosong Shakti


berjalan menuju laundry room, disana ia melihat bukan seprai yang dicuci, tapi


beberapa pasang pakaian dalam lusuh milik April yang dicuci dengan tangan


karena rapuh sedang dijemur. Shakti tersenyum lalu bersandar ke dinding


laundry. Pikiran kotornya dan syahwatnya yang tak terbendung membuatnya


berfikir April sedang menggodanya. Padahal April kehabisan pakaian dalam.


Shakti menggaruk rambutnya yang kusut lalu berjalan memasuki kamar, dan kembali


berbaring di ranjang.


-It’s Getting Better-

__ADS_1


__ADS_2