
Mereka makan malam di sebuah restoran Indonesia
pilihan Shakti, dulu saat ia kecil dan keluarganya belum mencurigainya seperti
sekarang, ia dan keluarganya sering sekali makan di restoran ini. April tahu
kalau restoran ini memang terkenal di antara para old money. Para pelayan
mengenal Shakti dengan baik, Shakti bilang ia sering kesini sendirian jika
rindu dengan masa lalu.
“Nania hanya suka dibawa ke tempat Fancy, restoran
baru, hotel dengan chef terkenal, dia anti aku bawa ke tempat humble seperti
ini” jelas Shakti, lalu mereka melanjutkan makan malam.
Setelah makan, rencananya Shakti akan membawa April
ke mall, tapi ternyata sudah terlalu malam.
“Aku rencananya mau set up kamar cadangan di
perpustakaan biar kamu tidur lebih nyaman, dan ada privacy, kita juga bisa beli
perlengkapan untuk kamu kalau kamu mau”kata Shakti sambil menyetir
“ Terima kasih pak”
Walau begitu malam itu mereka tidak menemukan mall
yang masih buka. Jadi mereka kembali ke rumah.
“Kita bisa belanja besok pagi”kata Shakti setelah
memarkirkan mobilnya
“Santai aja pak, aku ngga keberatan dengan semua yang
bapak sediakan di rumah, apalagi sejauh ini aku yang sebetulnya merepotkan
bapak” kata April.
“Sebetulnya bisa dibilang aku menikmati kehadiran kamu
dirumah, walaupun merepotkan” ledek Shakti, lalu keluar dari mobil, April termenung
sesaat mendengar ucapan Shakti, mencerna apa maksudnya, April menebak
kelihatannya di dalam relung hati yang paling dalam Shakti merasa kesepian
karena dijauhi keluarganya.
‘TUK TUK’ kaca jendela diketuk Shakti mengajak April
masuk ke rumah.
April mengambil peralatan mandinya di salah satu dus.
Ia melihat Shakti mengeluarkan pakaian kering dari mesin cuci, termasuk kaus
lusuhnya yang dilipat rapi olehnya. Masalahnya semua Bra April sudah kotor, pakaian
yang ia miliki hanya sedikit, hampir semuanya dijual di loakan beberapa bulan
terakhir ini. Begitu juga dengan semua bra bermereknya yang laris terjual. Sekarang
April kehabisan bra bersih dan April harus mencuci pakaian dalamnya agar bisa
digunakan besok.
“Kamu mau mandi Pril?”tanya Shakti dari laundry room
“Iya pak”jawab April pendek,
“Ini ada handuk fresh masih anget kalau kamu mau
pakai, baju kamu juga udah kering”seru Shakti dari laundry room. April
mendatanginya lalu mengambil handuk dan kaus lusuh miliknya,
“Aku ikut mandi ya pak” Shakti tertawa mendengarnya
“Kamu kayak minta ijin sama Pak RT aja” ujarnya.
April menyadari ia terlalu kaku, tapi mau bagaimanapun, yang dihadapannya ini
adalah bosnya, setidaknya ia harus sopan.
April melucuti pakaiannya lalu menyalakan shower dan
membilas tubuhnya yang lengket karena keringat. Tiba-tiba bayangan tubuh Shakti
di bawah shower kemarin berkelebat lagi di pikirannya saat April menyabuni
tubuhnya. April menggosok rambutnya lebih keras untuk menghilangkan pikiran
itu. Ia menekankan kalau Shakti adalah bosnya, ia sudah berhutang banyak dan
merepotkan bosnya jangan sampai pikiran erotisnya membuatnya kurang ajar.
April mengeringkan diri dan menggunakan kaus
lusuhnya, ia menggunakan ****** ***** bersih, namun karena semua bra nya kotor,
malam ini ia tidak menggunakan bra. April harus mencari cara agar Shakti tidak
menyadarinya. Nanti malam saat Shakti tertidur ia akan sembunyi-sembunyi
mencucinya.
Keluar dari kamar Shakti, April menemukan Shakti
kembali sibuk dengan laptop, jurnal dan buku-bukunya
“Gimana, segar mandinya?”tanya Shakti
“Iya pak, makasi, bapak sedang mengerjakan apa pak,
ada yang bisa aku bantu?”tanya April setelah memasukkan pakaian kotornya ke
dalam keresek pakaiannya
“Aku lagi belajar mining laporan, biasanya aku dapat
laporan yang sudah jadi dan tinggal dibaca kan, nah seperti yang aku bilang
__ADS_1
kemarin, laporan yang sudah jadi itu sudah dikurasi oleh Nania, jadinya tidak
akurat dan tidak bisa kupakai datanya”jelas Shakti
“Bapak butuh data apa pak?”tanya April sambil
mendekat, ia menyambar throw blanket yang menggantung di kursi ruang makan
sambil berjalan
“Aku perlu data total per department, lalu daily
revenue, daily gross, daily nett, nah ini aku liatin contoh hasil akhirnya yang
dikasi Nania, ini tuh ngga tally sama data harian yang ada di system”Shakti
bergeser memperlihatkan layar komputernya. April melihat system yang sedang
dibuka oleh Shakti
“Aku ngga familiar juga sih sama system ini, tapi
bisa aku coba cari tau pak”ujar April, baginya tidak ada yang tidak bisa
dipelajari, asal April mau berusaha
“Oke, aku serahkan sama kamu, wait…” Shakti lalu
mengambil segelas air putih dan obat April
“Minum obat dulu, kalau terasa pusing, pening, badan
kamu ngga enak, berhenti ya, aku tinggal mandi dulu”Shakti lalu menghilang ke
dalam kamar. April bahkan lupa ia harus makan obat setelah makan. Betapa
beruntung ia memiliki bos seperhatian Shakti.
Berpuluh menit kemudian Shakti keluar dari kamarnya,
memang tidak menggunakan piyama reinassance seperti kemarin, tapi ia
menggunakan piyama polkadot kuning hitam dengan lingkaran besar-besar yang
sangat norak dilihat. April yang hanya melihat dari sudut mata pun sangat
terganggu melihat corak piyama bos nya. Ia memilih terus serius dengan
laptopnya
“Gimana Pril, ketemu?”tanya Shakti sambil
mengeluarkan dua mug dari lemari
“Ketemu pak, ini aku lagi coba bikin dummy dengan HR
daily report, soalnya kalau finance banyak banget sub reportnya”jawab April
sambil terus menekan-nekan mouse, matanya terus terpaku pada layar laptop.
Shakti yang kagum langsung mendekati April yang bisa memecahkan masalahnya hanya
dalam waktu sebentar saja bahkan satu jam saja belum
“Gimana caranya, kamu jenius atau gimana tadi
“Aku cari di youtube pak caranya…”April lalu tertawa
kecil, tapi Shakti tidak tertawa, alih-alih ia kagum, ia saja tidak pernah
kepikiran untuk mencari solusinya dari youtube. Shakti membaca report dan
membandingkan dengan data yang diambil April dari system, hebat datanya tally.
“Kamu hebat Pril, Andra ngga salah nilai”kata Shakti
lagi-lagi merasa kagum
“Kamu bisa ajarin aku Pril?”pinta Shakti
“Boleh pak, tapi aku coba bikin summary report tiap
department dulu ya pak, kalau menurut bapak udah bener, nanti aku ajari bapak”
“Deal, tapi sekiranya memakan waktu lama kita bisa
kerjain besok ya Pril”ujar Shakti lalu menyalakan mesin kopi otomatisnya, lalu
menyimpan 1 cangkir di bawahnya, sementara cangkir satunya disimpan di bawah
mesin nespresso otomatis.
“Iya pak, kalau summary report kayanya ngga akan
makan banyak waktu pak, tinggal download terus di rumusin aja”jawab April
“Oke, kalau gitu” Shakti menyodorkan segelas minuman
coklat pada April
“Kamu minum coklat, espressonya buatku”kata Shakti,
ia tercenung sebentar lalu bergerak menuju perpustakaan
“Aku ngambil laptop lagi, biar bisa sekalian ngecheck
hasil summary kamu”katanya.
Shakti menyalakan lampu perpustakaannya, ruangan
besar itu terang benderang dalam sedetik. Ia lalu mendekati meja kerjanya yang
besar, sambil mengeluarkan kalkulator dari laci, lalu laptop yang sudah 5 bulan
tidak dipakainya karena ia menggunakan seri yang lebih baru. Shakti menenangkan
detak jantungnya yang berpacu, Shakti menerka-nerka apakah April sedang
menggodanya, tapi April begitu serius mengerjakan perintahnya saat ini dan atas
dasar apa ia menggodanya. Tapi Shakti bisa melihat dengan jelas payudara April
yang menyembul dari kaus lusuhnya, tanpa penutup apapun. Shakti menggaruk
rambut kusutnya, menghilangkan pikiran erotis itu dari kepalanya. Ia yakin ini
adalah sebuah kesalah pahaman, dan perempuan yang baru dikenalnya ini tak
__ADS_1
mungkin secara terang-terangan menggodanya.
Shakti menghela nafas panjang dan menyimpulkan jika
ia meneruskan pekerjaannya dengan April malam ini, sesuatu pasti akan terjadi.
Shakti mematikan lampu perpustakaan lalu berjalan
menuju dapur. Siluet punggung April terlihat cantik di temaram lampu dapur,
karena yang dinyalakan hanya lampu di atas meja makan, sementara throw blanket
yang tadi menyelimuti tubuh April sudah jatuh ke lantai, nampaknya April tidak
menyadarinya karena terlalu serius bekerja
“Pril, kayanya kita lanjutkan besok pagi aja,
habiskan coklat kamu”pinta Shakti sambil menyimpan laptop dan kalkulator di
meja makan
“Tapi pak, ini kayanya kekejar kok, sebentar lagi,
aku juga belum ngantuk”jawab April, karena memang pekerjaannya sebentar lagi
selesai, lagi pula kopi Shakti belum diminum, kenapa ia sangat terburu-buru.
“Besok aja” Shakti lalu membuang kopinya ke
washtafel, membilasnya lalu memasukkannya ke mesin pencuci piring, semuanya ia
lakukan tanpa melirik April sama sekali. April ketakutan, nampaknya ia telah
melakukan kesalahan yang membuat Shakti marah. Ia pun lalu menghabiskan
coklatnya, menyimpan hasil pekerjaannya di laptop lalu mematikannya. Sementara
Shakti mengambil gelas kosong April, membilasnya dan memasukkannya ke dalam
mesin pencuci piring. April semakin takut, walaupun ia tidak tahu apa
kesalahannya. April lalu segera berjalan menuju sofa tempatnya tidur malam ini
“Ada seprai baru di laundry room, biar tidur kamu
lebih nyaman” ujar Shakti, April berlari ke laundry room seperti yang
diperintahkan Shakti, sementara Shakti mengambil gelas dan meminum air putih
banyak-banyak menghilangkan bayangan payudara April yang naik turun saat ia
berlari. Oh betapa pikiran erotis ini mengganggunya.
April membawa seprai baru dan sarung bantal baru dari
laundry room, dengan cepat mengganti seprainya dan mengembalikan seprai kotor
ke laundry room, memasukkannya ke keranjang dan kembali ke living room untuk
berbaring. Shakti sendiri sudah menghilang dari dapur, nampaknya sudah masuk ke
kamar. April sangat takut dengan Shakti yang tiba-tiba berubah sikap. Ia akan
menunggu beberapa menit lagi lalu mencuci pakaian dalamnya.
Shakti sendiri berbaring terlentang di ranjangnya,
menenangkan diri. Gairahnya membuncah, ia tidak pernah tidur dengan Nania,
pacarnya selama bertahun-tahun. Nania selalu memiliki alasan untuk
menghindarinya, menghindari bermesraan dengannya. Padahal Shakti selalu
melakukan apapun yang diminta Nania, apapun…bahkan Shakti yang sekarang ini
adalah Shakti buatan Nania, mulai dari tempat makan, sampai ****** ***** semua
Nania yang mengatur. Shakti bukan terlalu baik seperti yang April katakan
padanya, ia hanya tulus sayang pada Nania. Sayangnya untuk Nania, ia hanya batu
loncatan untuk menjadi Direktur. Kini bahkan Shakti ragu apakah sejak awal
Nania memang pernah menyukainya.
Terdengar suara dari laundry room, Shakti
menebak-nebak apakah April mencuci seprainya malam-malam seperti ini. Atau
April mencuci untuk mengaburkan suara tangisnya. Shakti sangat sadar tadi ia
terlalu ketus pada April, semata-mata Shakti menahan diri agar tidak menarik
April ke pelukannya dan menjamahnya. Shakti berjanji ia akan meminta maaf besok
pagi.
Shakti tiba-tiba terbangun sambil terbatuk-batuk, ia
tak sadar tertidur pulas. Shakti berjalan keluar kamar. Ruangan temaram, lampu
yang menyala hanya di atas meja makan dan di laundry room, Shakti melirik April
yang tidur lelap di sofa, duvetnya lagi-lagi tersingkap, di penerangan minimum
ini Shakti bisa melihat lekukan tubuh April di balik kaus lapuknya yang tipis.
Shakti buru-buru menuju dapur mengambil segelas air untuk membasahi
kerongkongannya yang kering. Sambil menggenggam gelasnya yang kosong Shakti
berjalan menuju laundry room, disana ia melihat bukan seprai yang dicuci, tapi
beberapa pasang pakaian dalam lusuh milik April yang dicuci dengan tangan
karena rapuh sedang dijemur. Shakti tersenyum lalu bersandar ke dinding
laundry. Pikiran kotornya dan syahwatnya yang tak terbendung membuatnya
berfikir April sedang menggodanya. Padahal April kehabisan pakaian dalam.
Shakti menggaruk rambutnya yang kusut lalu berjalan memasuki kamar, dan kembali
berbaring di ranjang.
-It’s Getting Better-
__ADS_1