
Makan siang di rumah Robby Maheswara yang terlihat
seperti istana siang ini sangat mencekam. Padahal biasanya mereka
menunggu-nunggu makan siang keluarga ini. Satu hari dimana anak- anak Robby
Maheswara bisa merasakan makanan buatan ibunya yang semenjak mereka kaya raya
jarang bisa mereka nikmati karena kesibukan masing-masing.
Hari ini semuanya berkumpul, anak, menantu, cucu,
bahkan Nania. Mereka makan siang di meja panjang yang luas, penuh dengan
makanan. Semalaman Kamala Maheswara, istri Robby Maheswara ibu dari Arbi, Juna,
Rezha dan Shakti memasakkan makanan ini untuk mereka. Kegiatan ini tidak sering
dilakukan. Paling hanya hari raya, hari ulang tahun anggota keluarga Maheswara atau
saat Kamala ingin mendiskusikan sesuatu seperti hari ini.
“Makasi Mama, makanannya lezat sekali” Puji Arby saat
para pelayan mengambil piring mereka. Tapi Kamala hanya diam sambil menyesap teh
chamomile panas. Suasana kembali tegang
“Sudah aku bilang berapa kali sih, perempuan itu kan
ngga ada hubungan apa-apa sama keluarga kita, ngapain masih diundang?”ketus
Kamala pada Nania yang duduk di meja panjang. Nania tersentak, hanya Kamala
yang tidak suka dengan keberadaannya di keluarga ini. Nampaknya Kamala bisa
melihat pengaruh buruk Nania pada Shakti, ia juga bisa melihat niat buruknya
pada keluarganya. Selama ini Kamala menahan diri karena Shakti terlihat sangat
mencintai Nania. Tapi semenjak Shakti malah diputuskan oleh Nania sikapnya
berubah.
“Kan setiap kumpul juga diundang Ma, jadi udah
kebiasaan” kata Juna membela
“Kalau memang sudah kebiasaan, kenapa istri dan anak
kamu tidak dibawa juga?”ketus Kamala. Mendengar nada tinggi ibunya, Arbi
menyuruh semua anak-anak, istri-istri termasuk Nania pergi, yang tertinggal
hanya Robby dan ke 3 anaknya.
“Ma, ada apa sih ini, tiba-tiba ngumpul untuk makan
siang, sekarang pake ngusir Nania segala?”tanya Juna
“Iya, aku juga heran padahal baru beberapa hari lalu
kita makan-makan di Diamond”tambah Rezha. Kamala berpaling memandangi Juna
dengan tatapan tajam. Semua anggota keluarga Maheswara sangat takut pada
Kamala, lebih dari mereka takut pada Robby. Kamala bagaikan Ratu yang mengatur
seluruh pergerakan keluarga Maheswara. Ia memang tidak mengurusi perusahaan,
namun tidak ada sedikit pun urusan keluarga Maheswara yang luput dari pemantauannya
“Kamu Juna, Mama ngerti kalau Nania itu Direktur
perusahaan, tapi kalau sampai ada sesuatu di antara kalian, Mama ngga akan
tinggal diam”kata Kamala tajam, Juna menelan ludah ketakutan
“Mama ngomong apa sih, lagian kan dia sering kita
undang ke acara kita karena dulu dia pacarnya Shakti, jadi kebiasaan gitu Ma”
kilahnya gugup
“Kalau gitu mama tanya sekali lagi,mana istri dan
anak-anak kamu, sudah sebulan mereka tidak ikut acara keluarga”tanya Kamala.
Juna memalingkan muka lalu minum dari gelasnya sambil gemetar
“Mereka sibuk Ma, Grace kan sibuk sama butiknya,
anak-anak sibuk sekolah” jawabnya setelah menelan minumannya
“BOHONG… Grace sendiri yang bilang sama mama kamu
udah ngga pulang 2 bulan, mentang-mentang kamu dikasi fasilitas apartemen sama
papa kamu, kamu bisa seenaknya kaya gitu?”teriak Kamala, Juna kaget mamanya
bisa mengetahui hal itu, semua mata kini tertuju padanya
“Udahlah Ma, mereka kan punya masalah rumah tangganya
masing-masing, ngga perlu kita ikut campur”bela Robby
“Kamu juga papa, apa-apaan pake mecat Shakti segala,
__ADS_1
kamu lupa dia yang bantu kamu saat kamu ditinggalin anak-anak kamu sendiri…”
“MA...”teriak Arbi berusaha menghentikan Mamanya
“Kalian bertiga taunya Cuma main dan ngabisin uang
Papa. Ngga pernah belajar kerja, ngga pernah mau disuruh megang cabang atau
kantor pusat, tiba-tiba minta modal buat bikin mall, tempat hiburan, taman
hiburan, sama yang paling parah, minta buat bikin pabrik otomotif, enak aja
kaya mau jajan pizza” ketiga anaknya menunduk
“Semuanya ngga berkembang, Mall bahkan ngga sampai
grand opening karena ngga ada tenant yang mau mengisi Mall mu, Taman hiburan
bermasalah dengan vendor, tempat hiburan malam bermasalah dengan perizinan,
pabrik otomotif bahkan ngga bisa memenuhi kuota yang sudah dibayar pelanggan…”Ketiga
anaknya menunduk semakin dalam
“Ngga semua anak punya kemampuan bisnis ma”bela Robby
lagi
“Iya tapi kamu malah mendepak satu-satunya yang
membantu kamu waktu bisnis kamu hancur”
“Shakti terlalu ambisius Ma”Robby beralasan
“Shakti ambisius?, kalau dia ngga ambisius dia ngga
akan bisa membangun 4 perusahaan sambil menyelamatkan perusahaan kamu sekaligus
dalam waktu 10 tahun Pa. Mana anak-anak kesayangan kamu waktu uang kamu habis, Juna
kabur ke Kamboja sama Pacarnya, Arby sama Rezha sembunyi di Singapore, Aku Pa,
aku yang pontang panting jualin asset-aset, jual semua perhiasan aku,
berlian-berlianku, jual rumah, mobil, pabrik, kantor cabang karena kamu ngga
mau ketauan sedang bangkrut sama partner bisnis kamu. Aku yang hancur
reputasinya di semua teman-temanku” Robby terdiam, Arbi, Juna dan Rezha tidak
bisa melawan karena semua yang ibunya katakan benar
“Aku yang minta Shakti pulang untuk bantu kamu Pa,
karena kakak-kakaknya yang manja ngga ada satupun yang bisa diandalkan, bahkan
membereskan masalah PT Sigma lalu ia membangun anak perusahaan dengan
kemampuannya sendiri”Kamala murka, nada bicaranya masih tinggi, tak ada seorang
pun yang berani menatapnya
“Setelah perusahaan kembali maju apa yang kamu
lakukan pa, kamu bilang sama Shakti ‘Shakti berikan Sigma Cahaya Abadi pada
Arbi dan Rezha karena mereka baru menikah dan punya anak’ dan saat itu Shakti
memberikannya dengan sukarela itu yang papa bilang ambisius?”
“Apa papa takut bisnis papa diambil alih anak bungsu
papa, karena dia lebih mumpuni memimpin perusahaan daripada kakak-kakaknya
bahkan dari papanya sendiri?” tanya Kamala, Robby hanya menatapnya tidak
menjawab
“Kalau memang ia mau begitu, sejak awal dia pasti
menolak untuk membantu perusahaan mu Pa, karena dia tau hanya dia yang bisa
bekerja di antara kalian, dan perusahaan kalian tanpa dia pasti akan bangkrut”
kritik Kamala pedas
“Ma…”Rezha berusaha menyela, tidak tahan dengan
kata-kata ibunya
“Atau kalian lebih suka perusahaan kalian diambil
alih oleh orang lain seperti Nania. Shakti itu hanya ingin kalian mengakui dia
sebagai keluarga, sebagai anak, sebagai adik, karena sejak dia lahir kalian
sudah sibuk sendiri. Papa sibuk dengan pabrik elektronik dan kalian sebagai
kakak-kakaknya lebih senang membully adik kalian daripada bermain dengan dia”
“Ma, udah ma, jangan terus belain Shakti” potong Juna
kesal
“Oh, mama akan terus membela Shakti, karena kalian
semena-mena dan tidak ada satupun dari kalian yang membela Shakti”
__ADS_1
“Aku sudah bilang akan memberinya modal untuk membuat
perusahaan baru di bawah PT Sigma Internasional”
“Sampai kapan papa akan buat dia jadi sapi perah, dia
yang membesarkan anak perusahaan, lalu dihancurkan oleh kalian, terus dia buat
perusahaan baru, kalian hancurkan lagi, gitu terus…aku yakin dengan kalian
mendepak Shakti perusahaan yang kalian pegang akan hancur satu per satu” kata
Kamala
“Ma, jangan ngomong gitu dong, mama nyepelein kita”
tukas Arbi tidak terima
“Ya, karena kalian memang tidak mampu, kita lihat
sejauh mana kalian bisa buktikan untuk bertahan, pokonya sejak hari ini mama
minta semua asset dan harta kekayaan mama dipisah dari kalian, mama ngga mau
lagi disuruh jual-jual asset mama” tutup Kamala
“Dan singkirkan Nania dari pertemuan keluarga, dia
bukan keluarga. Kamu juga Juna, kalau kamu main gila sama perempuan itu, mama
tidak akan tinggal diam. Pulang ke rumah dan berbaikan dengan Grace, dia
perempuan baik-baik yang sudah memberikan mama cucu yang pintar-pintar, kalau
kamu menyakiti dia, mama habisi kamu” ancam Kamala
“Yang anak mama aku lho Ma” kata Juna
“Biarpun kamu anakku, darah dagingku, lahir dari
rahimku, kalau kamu salah tetap saja salah, harus kubuat benar dan lurus, tidak
dimanjakan seperti yang papa kalian buat, bikin kalian jadi seperti ini” Kamala
lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari ruang makan yang lantainya
berlapis marmer itu.
“Kamu sih Jun, pake ngundang Nania segala, kacau kan”
keluh Rezha saat suara sepatu Kamala sudah tidak terdengar lagi
“Iya, pake ngga pulang segala sih, kalaupun ada
masalah kalau ada acara gini Grace sama anak-anak bawa aja padahal, aku juga
gitu kalau lagi ada masalah sama istriku” kata Arbi
“Pa, ini gimana pa, papa ngga apa-apa mama ngasih
pernyataan kaya gitu?” Juna tidak mengomentari saudaranya, dan malah
mengalihkan topic pada ayahnya
“Ya kalian dengarlah apa kata mama kalian, kalian
sekarang sudah pegang perusahaan, kalau sampai hancur dan kalian ngga bisa
pertahanin, kalian ngga akan ada bantuan lagi” kata Robby sambil menghabiskan tehnya
“Tapi Pa, papa masih bisa ngasih bantuan kan?” tanya
Arbi
“Papa juga harus fokus sama perusahaan yang papa
pegang, jadi kalian jalan sendiri-sendiri dulu”Robby lalu berdiri dan berjalan
menjauhi meja makan
“Aaahhhh kacau semuanya”teriak Arbi saat melihat
Robby juga pergi
“Kamu sih Jun, ada-ada aja pake mecat Shakti” tuduh
Rezha kesal
“Kan kalian sendiri juga setuju kalau dia terlalu
ikut campur”kilah Juna
“Aku malah senang Shakti ikut campur, aku selalu
minta dia ikut me-review kemajuan perusahaan, apalagi kalau sedang ada masalah,
kami selalu minta bantuan Shakti, apalagi dia kan yang membangun perusahaan
yang kami ambil alih”kata Arbi yang disambut dengan anggukan Rezha
“Kita berdua mengakui kalau kita ngga bisa jalan
sendiri tanpa Shakti…sekarang papa juga angkat tangan, udah kacau semuanya” Arbi
dan Rezha lalu bangkit juga dari duduknya dan meninggalkan ruang makan keluarga
Maheswara yang mewah.
__ADS_1
-It’s Getting Better-